Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Januari 2019

Apa Rasanya Menjadi Orang Lain?



Apa rasanya menjadi orang lain? Pertanyaan ini tiba-tiba muncul dalam kepalaku. Apakah orang lain merasakan apa yang kurasakan?

Pertanyaan kedua di atas pun kutujukan kepada diriku sendiri; apakah aku bisa merasakan apa yang orang lain rasakan? Seperti kesedihan, patah hati, kecemasan, atau kegembiraan yang mereka rasakan? Jawabannya adalah tidak.

Nyatanya aku hanya bisa mengamati raut muka atau perilaku orang lain. Ini pun terkadang menipu. Ada orang yang mampu tersenyum, bahkan tertawa, untuk menutupi kesedihannya. Sehingga kita menganggapnya sedang bersukacita. Dengan kata lain, perilaku seseorang sesungguhnya tidak bisa dijadikan dasar untuk melihat apa yang dia sedang rasakan.

Lalu, apa rasanya menjadi orang lain? Menurutku, jawabannya adalah biasa saja. Masalahnya, kita tidak bisa menduplikat diri kita sendiri atau berpindah ke tubuh orang lain.

Pernah ada satu film yang kutonton yang menceritakan kisah pasangan suami istri. Kehidupan keluarga mereka sedang retak. Sang istri menyalahkan suami yang tidak peduli dengan keluarga dan hanya sibuk dengan urusan kerja sebagai aparat keamanan negara. Sementara, sang suami menyalahkan sang istri karena menyibukkan diri dengan hal yang tidak penting yaitu bisnis fashion.

Di film itu, menurut suami pekerjaan yang nyata adalah pekerjaannya sebagai aparat karena berhadapan langsung dengan kejahatan. Menggeluti dunia fashion adalah kegiatan yang sia-sia dan buang-buang waktu. Padahal pekerjaan tersebut sangat berarti bagi sang istri.

Masalah keluarga di atas menurutku adalah mereka tidak memahami satu sama lain. Andai mereka mampu merasakan apa yang dirasakan pasangannya, mungkin mereka tidak bertengkar terus. Tapi, nyatanya mereka selalu bertengkar saat bertemu di rumah. Tempat kerja merupakan tempat yang sangat mereka sukai. Hingga suatu pagi, pada puncak pertengkaran, mereka terbangun dengan kepribadian yang tertukar. Tiba-tiba sang istri bangun, namun ia sangat kaget karena tubuhnya adalah tubuh suaminya. Begitu sebaliknya dengan sang suami yang tiba-tiba menjadi gemulai bak perempuan.

Andai hidup ini bisa seperti film di atas, barangkali kita bisa sedikit membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain.

Rabu, 23 Januari 2019

Cerita Pulang Desember 2018


Dengarkanlah ceritaku. Siapkanlah telinga membacanya.

Tanggal 5. Rabu.
Aku menaiki bus setelah menunggu beberapa menit. Kemudian kulihat jam di handphoneku sesaat setelah aku duduk di dalam bus. Pukul 6 lewat 11 menit. Gelap mulai menggantung di langit Jakarta.. Aku hanya membawa dua tas yang berisi pakaian dan camilan selama di perjalanan. Bus melaju pelan mengikuti arus lalu lintas yang macet.

Enam jam sebelumnya aku masih berada di kontrakan mengemasi keperluanku. Pakaianku sudah tersusun rapi dalam sebuah tas jinjing berwarna merah. Sementara tas ranselku berisi perlengkapan mandi, camilan dan pakaian ganti. Sudah beberapa kali kuperiksa ulang semuanya untuk memastikan tidak ada yang terlupa.

Tiba-tiba suasana berubah. Udara begitu berat. Aku tidak tahu apakah memang lingkungan yang berubah atau sumbernya ada di dalam hatiku. Bagaimana tidak, aku akan melakukan perjalanan jauh. Aku harus meninggalkan kamar kontrakan ini untuk waktu yang lama (tepatnya sebulan). Kupandangi dinding kamarku dan kulayangkan pandangku ke luar; betapa aku telah menyatu dengan semua ini. Hingga saat beranjak, aku berkata pada kamarku untuk menjaga diri selama aku pergi.

Tepat jam tiga aku berangkat menuju terminal di Jakarta.

Bus melaju. Tersisa lima tempat duduk kosong di bagian belakang termasuk di sampingku. Kursi di sebelahku nantinya akan diisi oleh seorang penumpang dari Merak menuju Kotabumi, Lampung. Sebelum memasuki pelabuhan untuk menyeberang, bus menepi di suatu tempat. Sepertinya ada paket barang yang hendak diambil. Di situ penumpang dan aku menggunakan kesempatan untuk makan malam. Aku membawa makanan sendiri yang kubeli di warung depan kos.

Sekitar pukul 10.28 malam, aku sudah berada dalam kapal penyeberangan. Sekarang kapal penyeberangan terlihat lebih bagus ketimbang tahun sebelumnya. Kursi penumpang terasa nyaman dan sudah tidak terlihat lagi ada penumpang yang menguasai tempat duduk hanya untuk tidur. Intinya, sudah lebih baik dan nyaman.
Pelabuhan Merak dari atas kapal. Dokpri

Tanggal 6.
Tiba di Bakaheuni 00.28 WIB. Bus kembali melaju membelah malam. Yang terlihat di luar sana hanya titik-titik cahaya dari rumah-rumah warga. Saat itu aku tidak bisa tidur. Mungkin karena aku sempat minum kopi saat di kapal. Penumpang yang duduk di sebelahku, seorang kakek, kuperhatikan sulit tertidur juga. Kami tidak banyak bicara. Malam itu sebenarnya tidak terasa sudah masuk hari Kamis, tanggal enam, karena perjalanan terus berlanjut seolah tanpa mengenal perubahan waktu hingga pagi datang.

Kami makan pagi di Kotabumi, Lampung, pada pukul 5.38 - 6.30. Supir dan kru-nya rasanya tidak mau berlama-lama di rumah makan, seolah dikejar waktu. Bayangkan saja, waktu berhenti kurang dari satu jam. Untungnya perutku tidak bermasalah pagi itu. Aku hanya makan sebuah apel yang sengaja kubawa untuk sarapan. Katanya, entah kata siapa, apel sangat cocok untuk sarapan saat bepergian. Aku sudah membuktikannya dan ternyata benar adanya. 
Dokpri. RM Taruko II, Lampung.

 
Aku melihat peresmian RS Santo Antonius saat melewati daerah Baturaja pada pukul pukul 10 lewat 15 menit. Ucapan selamat dalam bentuk karangan bunga berjejer di pinggir jalan. Sekelompok orang, mungkin karyawan di sana, berbaris di halaman rumah sakit. Bus melambat, tidak seperti biasanya, karena sedang dalam keramaian.
  
Sekitar jam 11 sampai jam 1 siang, kami melewati daerah dataran tinggi. Kanan kiri terlihat banyak pohon durian. Ada pula terlihat pohon duku. Di pinggir-pinggir jalan sesekali terlihat penjual durian atau duku. Ada yang sendirian, ada yang berkelompok. Jalan berkelok-kelok dan sempit sehingga tiap dua kendaraan berpapasan harus ekstra hati-hati. Beberapa kali bus benar-benar berhenti sesaat untuk menghindari gesekan dengan kendaraan yang berpapasan, Kalau tidak salah nama daerah itu adalah Kabupaten Muara Enim. Aku sempat melihat sebuah kantor pemerintahan dan di sana tertulis nama daerahnya.

Berada di dalam bus yang sedang melaju seharian seolah tanpa berhenti merupakan pengalaman yang sangat kunikmati. Terlebih saat itu posisiku tepat di dekat kaca sisi kanan bus. Banyak hal yang bisa kita lihat. Mulai dari pemandangan alam yang indah, perumahan penduduk, sawah, hingga aktivitas masyarakat yang kita lewati. Semua berubah, berganti dengan pemandangan baru, sehingga tidak membosankan. Lagipula, bus yang kutumpangi adalah bus eksekutif jenis baru. Sangat nyaman. Kursinya 2-2. Maksudnya dua di kiri dan dua di kanan. Jarak antar kursi juga lumayan nyaman sehingga kaki lebih luwes. Dan, ini bagian pentingnya, ada port untuk mengecas handphone di setiap kursi.
Dokpri. Bus yang kutumpangi. Bukan Tayo. Aku duduk di baris belakang yg bantalnya terlihat dari kaca.

Bus yang melaju membuat kita tidak sadar bahwa waktu juga sedang berjalan. Semua yang terlihat akan tertinggal di belakang kita. Sementara tubuh ini terus berjalan menjauh – berpindah dan terus berpindah menjauhi titik lokasi yang di belakang (saat itu aku memantau terus google maps/GPS untuk mengetahui posisiku). Ini menciptakan kesan melankolis di dalam benakku. Pukul 14.00 - 14.48 makan siang di Lahat. Lagi-lagi waktu istirahat dan makan siang kurang dari satu jam. Aku makan siang dengan nasi bungkus yang kubawa. Lauknya saat itu ayam goreng. Awalnya kupikir basi, ternyata tidak. Itulah bekal makanan yang tersisa. Artinya, untuk perhentian berikutnya, aku harus membeli makanan.

Bus berjalan terus. Kadang melaju cepat kadang melambat. Meskipun demikian, ini bukan bis kecil ramah. Waktu pun berjalan sampai gelap datang. Waktu gelap datang, hujan turun. Malam itu bus tidak berhenti sama sekali sehingga tidak ada waktu untuk makan malam. Tapi, aku tidak kelaparan karena camilanku masih ada. Apel juga masih ada. Semalaman ternyata hujan mengguyur seolah-olah mengetahui ke mana kami pergi.
  
Tahun sebelumnya aku juga naik bus ke Medan untuk perjalanan pulang kampung. Kisah perjalanan pulang itu aku posting di kompasiana. Waktu pulang tahun sebelumnya, aku lewat jalur lintas timur Sumatera. Jalan relatif bagus dan datar. Berbeda dengan kali ini, kami melewati dataran tinggi, menyusuri sisi bukit barisan yang banyak keloknya. Bus kadang jalan menanjak, jalan menyempit, lalu menghadapi jalan menurun. Tidak lama kemudian memasuki kota atau perkampungan yang relatif datar. Begitu seterusnya. Bedanya lagi adalah kali ini di pinggir jalan banyak terpampang baliho para calon legistatif, baik daerah maupun pusat.

Tanggal 7.
Bus baru berhenti jam 4.30 pagi untuk sarapan di sebuah rumah makan. Saat itu bus diistirahatkan dan diperbaiki. Buktinya kami baru berangkat lewat jam 8. Tiga setengah jam itu kugunakan untuk sarapan dan mandi. Mungkin karena bus sudah menempuh waktu yang lama yaitu sekitar 14 jam nonstop. Kami sudah mencapai wilayah Dharmasyara, Padang.

Jam 11 siang memasuki Solok, Padang. Checking di terminal oleh dinas perhubungan. Kira-kira 15 menit kemudian, makan siang di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Warung makan yang dindingnya papan, sangat sederhana. Tapi saat itu aku tidak makan karena aku sempat membeli penganan dari pedagang eceran yang menjajakannya di dalam bus saat tengah berhenti di dekat terminal. Jadi aku tidak makan. Aku hanya membeli air mineral kemasan besar satu botol untuk persediaan di jalan. Jam 12 lanjut jalan menyusuri sisi Danau Singkarak. Indonesia ini sungguh indah. Aku sangat menikmati keindahan alam di sini. Di seberang sana terlihat sebuah gunung yang merupakan taman nasional. Di di balik itulah terletak Kota Padang.
Dokpri. Nah ini dia camilan penahan lapar. Solok.

Hari masih cerah ketika kami tiba di Kota Bukit Tinggi. Artinya dalam hitungan jam, malamnya, kami akan memasuki wilayah Sumatera Utara. Ketika malam tiba hujan pun turun sehingga kecepatan bus benar-benar berkurang. Kami melewati daerah yang naik-turun dan jalanan yang begitu mengkhawatirkan sebab di sisi jalan banyak tebing yang bisa saja longsor setiap saat. Aku ingat pepatah mengatakan: lebih baik terlambat, asal selamat. Pepatah ini berlaku saat itu.
  
Memasuki wilayah Sumatera Utara merupakan pengalaman mencekam. Hari sudah gelap, hujan turun begitu deras, jalanan sempit, rusak, dan licin. Ini membuat perjalanan terlambat. Cuaca sangat dingin hingga semua penumpang mengenakan jaket dan penutup badan. Aku juga begitu. Supir sangat hati-hati memasuki wilayah ini. Hingga akhirnya berhenti di Kota Nopan, Mandailing Natal, karena ada penumpang yang turun dan membawa banyak barang. Penumpang yang lain tidak turun karena hujan. 

Dokpri. Hai, kamu... foto sesaat sebelum kedinginan :)

Perjalanan dilanjutkan kembali. Sekarang menuju daerah Penyambungan. Jalan relatif lurus, namun rusak. Cuaca masih terasa sangat dingin. Bus berguncang beberapa kali. Aku tidak bisa tidur walaupun sudah mencoba memaksakan memejamkan mata. Pikiranku sedikit resah karena akan kehilangan tiket kapal yang seharusnya berangkat jam 9 malam. Sementara aku masih di sini. Terpaksa saat itu aku menghubungi calo untuk memesan tiketku esok hari. Di Penyambungan banyak penumpang yang turun. Namun, banyak juga yang baru naik, tetapi aku tidak begitu memperhatikannya.

Tiba di Padang Sidempuan, jam 11 malam. Di sana aku turun. Aku mendatangi agen bus untuk perjalanan berikutnya. Agen mengatakan bahwa akan disediakan minibus menuju Sibolga dan tidak perlu membayar lagi. Aku diminta menunggu. Sementara bus melanjutkan perjalanan ke Medan melewati Sipirok. Padang Sidempuang merupakan persimpangan menuju Sibolga (ke kiri) dan menuju Sipirok (ke kanan) yang bila dilanjutkan sampai ke Medan. Aku menunggu selama 2 jam sambil duduk di teras seperti gelandangan. Di situlah aku melewati hari berganti. Aku dapat kenalan di sana yang juga menuju Sibolga. Tujuan akhirnya adalah Barus. Sementara, tujuan akhirku adalah Nias.

Tanggal 8
Setelah menunggu selama dua jam yang membosankan, akhirnya minibus yang dimaksud datang. Dini hari, hari sabtu. Harusnya aku sudah berada di atas kapal saat itu. Berangkat ke Sibolga jam 1 tengah malam. Tiba di terminal Sibolga jam 3.25 WIB. Aku menuju rumah AD, calo tiket, dan menginap di sana.

Aku menginap di Sibolga seharian karena kapal baru berangkat malam hari. Aku istrirahat hingga menjelang siang. Dan tidak melakukan apa-apa, selain menonton TV, karena badan terasa pegal setelah 3 malam dan 2 hari di perjalanan.
  
Berangkat ke Gunungsitoli jam 10 malam dengan kapal Wira Victoria. Kapal Victoria sangat bagus. Berbeda dengan kondisi kapal tahun-tahun sebelumnya. Aku teringat dengan kapal Merak-Bakaheuni yang sudah disulap menjadi lebih bagus dan nyaman. Kurasa ini berkat pemerintah yang peduli dengan transportasi laut. Sebenarnya, menurutku, di kapal lebih menyenangkan ketimbang di bus. Lebih romantis... andai aku punya kekasih, ehm. Jadi ingat titanic (mimpi). Mungkin suatu hari nanti aku bisa mewujudkannya (Amin...).
Dokpri.  Penampakan dek kapal  Wira Victoria

Dokpri. Pemandangan P. Nias dari atas kapal saat pagi hari.



Malam itu laut sangat tenang. Langit di luar dipenuhi bintang. Aku tertidur dengan pulas. Dan tanpa terasa, itulah perjalanan terakhirku menuju rumah.
  
Tanggal 9
Rumah, jam 8.30 WIB.

Dokpri. Inilah rumah kami, Sederhana tapi halamannya luas. Sebenarnya foto ini kuambil sehari sebelum balik ke Jakarta.

Sabtu, 23 September 2017

Mengenal Diri Sendiri (Konsep Diri)


Pernahkah Anda menghadapi teman kuliah, tetangga, teman kerja atau kenalan yang sulit menerima masukan atau ide-ide baru? Adakah teman Anda yang selalu merasa rendah diri dan kurang percaya diri? Atau apakah Anda punya teman yang sombong yang selalu menganggap dirinya rendah hati, baik hati dan lemah lembut kepada orang lain? Apakah Anda punya teman yang tidak suka menerima teguran karena ia selalu merasa dirinya baik-baik saja?
sumber: google image


Semua kita pernah menghadapi orang yang ditanyakan di atas. Bahkan secara  tidak sadar kita pun telah menjadi orang seperti di atas terhadap sesama kita. Lalu apa masalahnya? Masalahnya ada pada pengenalan diri. Socrates pernah berkata “kenalilah dirimu”. Mengapa harus bertanya seperti itu? Bagaimana kita sampai tidak kenal dengan diri kita sendiri?
Mungkin banyak orang menganggap mengenal diri mereka sendiri. Sehingga tidak membutuhkan apa kata orang lain. Tetapi, hal ini harus diuji. Kalau benar seseorang mengenal dirinya sendiri, maka ia tidak perlu hidup dari opini orang lain tentang dirinya. Sekalipun orang lain berkata sesuatu tentang dirinya, ia tidak akan terpengaruh. Namun, jika ia sampai terpengaruh dan sibuk memikirkan apa kata orang tentangnya, maka orang tersebut belumlah mengenal dirinya sendiri. Ia tidak lulus ujian.
Apakah penting kita mengenal diri sendiri? Tentu sangat penting. Ini adalah langkah awal untuk mengenal dunia luar dan mengevaluasi diri secara terus-menerus. Kita memulai dengan pertanyaan “siapakah aku?” Pertanyaan ini sederhana―pertanyaan terbaik adalah pertanyaan sederhana. Namun, banyak orang tidak peduli dengan pertanyaan sederhana ini.
Dalam teori kepribadian, usaha untuk memahami diri sendiri disebut konsep diri (self-concept). Konsep diri adalah tentang “siapa aku” dan “bagaimana aku merasa tentang diriku”.

Minggu, 07 Desember 2014

Dekat dengan Allah

Hari minggu ini tema khotbah di gereja, tadi siang, menarik sekali buatku. Yaitu tentang dekat dengan Allah. Bagaimana sih caranya dekat dengan Allah? Adakah manusia yang benar-benar dekat dengan Allah?

Tidak ada seorang pun yang bisa dekat dengan Allah. Karena manusia sungguh terbatas. Selain manusia terbatas, manusia juga berdosa. Sementara Allah adalah mahakudus dan kekal. Jadi, tidak mungkin yang terbatas dan berdosa mampu dekat dengan Pribadi yang Mahakudus dan kekal itu. Hanya Pribadi yang Kekal yang mampu dan mungkin mendatangi pribadi yang terbatas. Dan ini pun hanya oleh belas kasih dari Pribadi yang Kekal itu.

Menarik sekali, dalam kekristenan, Allah-lah (Pribadi yang Kekal) yang datang kepada manusia. Allah-lah yang menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus. Bukan sebaliknya; manusia yang datang kepada Allah atau manusia berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan keselamatan. Jadi, dalam kekristenan, manusia bisa dekat dengan Allah semata-mata hanya karena anugerah-Nya, bukan hasil upaya manusia.

Apakah tradisi kurban bakaran menyelamatkan manusia seperti yang dilakukan umat Israel kuno? Sama sekali tidak. Justru kurban yang dipersembahkan setiap tahun menunjukkan bahwa kurban tersebut tidak memberi keselamatan. Karena kalau kurban tersebut memberi keselamatan, maka cukup dilakukan sekali saja, bukan tiap tahun. Justru kurban yang dipersembahkan itu berguna untuk menyingkapkan dosa yang terus dilakukan manusia.

Di sinilah kasih Allah itu terbukti bahwa 'kurban sejati' yaitu Tuhan Yesus telah dipersembahkan untuk menebus dosa dan menyelamatkan umat manusia cukup sekali saja. Jadi, berbahagialah orang yang hidupnya di dalam Tuhan Yesus, karena hanya melalui DIA manusia bisa dekat dengan Allah. Sekarang, adakah manusia yang benar-benar dekat dengan Allah? Ada, yaitu orang yang percaya kepada Yesus Kristus.

Karena ini bulan Natal, maka sesungguhnya Natal sejati itu adalah peringatan kedatangan Sang Juruselamat yaitu Tuhan Yesus ke dalam dunia. Natal sejati bukanlah perayaan, pesta, atau peringatan kebaikan santa Klaus, melainkan peringatan akan bukti kasih Allah yang rela mengosongkan diri-Nya dari kemuliaan menjadi sama dengan manusia.

Selamat menyambut Natal. Semoga kita dianugerahkan hikmat surgawi oleh Tuhan dalam memaknai keselamatan yang sesungguhnya.

Senin, 28 Juli 2014

Hidup

Hidup lebih penting dari apa pun; lebih penting dari fasilitas hidup, lebih penting dari kegagalan hidup, kebanggaan hidup, keberhasilan hidup.

Marilah kita menjaga hidup kita. Hidup adalah anugerah Tuhan. Bayangkan saja Anda tidur malam hari dan paginya tidak pernah bangun lagi. Aku pernah membayangkannya dan itu membuatku takut tidur.hehehe Cukup mengerikan rasanya.

Aku pernah mendengar bahwa kematian berarti kita kehilangan diri kita sendiri. Kita tidak merasakan kaki, tangan, dan badan kita lagi. Kita tidak melihat dunia sekeliling kita. Tidak merasakan apapun.

Kalau kita bangun pagi, mendengar kicau burung (dari kandang burung tetangga sekalipun), merasakan matahari pagi, itu berarti kita masih hidup. Bersyukurlah.

Kamis, 24 Juli 2014

Mau Sukses?

Belajar delapan jam sehari di luar jam kuliah. Itu adalah pesan wali kelasku dulu saat aku lulus SMA. Waktu itu aku sedang mengurus surat keterangan kelulusan karena ijazah belum keluar, sementara aku harus berangkat ke luar pulau esok harinya. Pesan itu masih kuingat sampai sekarang. Belajar dan belajar kalau ingin berhasil. Pada kenyataannya memang aku tidak mampu melakukan pesan itu hingga aku lulus sarjana.

Kemarin aku membaca satu buku tentang mendidik anak. Salah satu babnya berisi tulisan Prof. Yohanes Surya. Siapa yang tidak kenal dengan Prof Yohanes Surya? Kalau tidak kenal, keterlaluan.

Judul bab itu 'Memotivasi Anak Gemar Belajar dan Membaca'. Dimulai dengan penjelasan salah satu percobaan fisika. Pasir yang dituang ke atas bidang datar akan membentuk gunung dengan kemiringan tertentu. Bila pasir ditambah terus, gunungnya juga makin besar dengan kemiringan yang tetap. Gunung pasir tersebut mengatur dirinya sendiri (self organizing), seberapa banyak pun kita tuang. Betul juga ya. Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.

Selanjutnya dijelaskan, ternyata mengatur diri sendiri berlaku di semua bidang kehidupan. Ini dinamakan berada pada kondisi kritis. Tidak ada pilihan lain. Seperti pasir tadi tidak punya pilihan, mereka harus mengatur diri sendiri agar bisa bertahan.

Inilah yang diterapkan oleh Prof. Yohanes Surya kepada anak-anaknya. Ia memberikan satu pilihan saja: membaca buku. Tidak ada pilihan lain. Ia juga menerapkan ilmu ini kepada siswa-siswa peserta olimpiade. Tidak ada pilihan lain selain belajar fisika. Dilarang nonton tv. Inilah yang disebut kondisi kritis. Pilihannya hanya belajar kalau mau berhasil. Ada lagi yang berkesan yaitu proses belajar para sang juara olimpiade. Mereka belajar sampai 16 jam sehari selama dua bulan penuh sebelum lomba. (Wow... luuar biasa!). Itu pun di awal-awal Indonesia ikut olimpiade fisika dan baru mampu meraih medali perak. Baru tahun-tahun berikutnya, demi medali emas, waktu persiapan selama satu tahun. Kalau aku di posisi mereka, aku pasti tidak sanggup. Tapi, kalau mereka bisa, mengapa aku tidak?

Bagaimana agar anak gemar belajar? Tempatkan mereka pada kondisi kritis. Itu pesan Prof. Yohanes Surya.

Terkait menonton tv, ternyata bisa mengurangi konsentrasi. Perhatikan saja, kita sedang menonton sebuah acara, lalu tiba-tiba terpotong oleh iklan. Begitu terus. Konsentrasi kita diaduk-aduk. Akibatnya kita menjadi mudah bosan. Baru lima menit membaca, sudah capek. Itulah alasan Prof. Yohanes Surya melarang peserta olimpiade fisika menonton tv.

Namun, sekarang bukan hanya televisi yang menjadi media hiburan. Malah makin bertambah. Misalnya gadget, smartfon, playstation, media sosial dan lain-lain. Dan sedihnya, hampir semua anak sekolah telah terikat akan peralatan-peralatan ini; bukannya belajar dengan sungguh-sungguh. Masalahnya, anak-anak sekarang tidak diletakkan di kondisi kritis. Mereka punya banyak pilihan. Tentu mereka akan memilih hal yang menyenangkan. Parahnya justru hal yang menyenangkan itulah yang membuat anak-anak menggunakan otaknya untuk hal yang mudah-mudah; bukannya berpikir kritis.

Pesan wali kelasku di atas memang benar, meski masih jauh dari standar peserta olimpiade. Itupun tidak kulakukan. Ternyata banyak waktu yang kubuang sia-sia. Harus tobat nih. Melatih diri berada pada kondisi kritis. Tidak ada pilihan selain belajar. Pilih yang lain berarti gagal.


Apa yang kita kejar?

Cepat. Dunia semakin cepat. Perkembangan teknologi, perubahan masyarakat, pekerjaan, dan lain sebagainya terasa cepat. Siapa yang tidak merasakan kecepatan ini? Barangkali mereka yang tinggal di pedesaan.

Aku dari desa. Beda rasanya tinggal di kota dan di desa. Di desa tenang, tentram, jalanan sepi. Apalagi kalau sudah malam. Yang terdengar suara-suara serangga malam, bunyi kodok, atau suara burung hantu. Kalau di kota? O...jangan tanya. Kita mesti buru-buru. Takut telat. Sudah begitu, jalanan macet.

Bicara soal kecepatan di dunia kerja, tentu seorang pekerja sangat paham hal ini. Dimulai dari pagi hari. Bangun. Mandi. Bersiap-siap. Lalu berangkat. Pulang malam. Semua dilakukan sering dengan buru-buru. Belum lagi tuntutan dari kantor. Target harus tercapai, program harus berhasil, pesaing-pesaing harus dikalahkan, harus ada inovasi baru, dan lain sebagainya. Sungguh menguras tenaga dan emosi. Dengan kata lain melelahkan. Belum habis masalah kemarin, muncul masalah baru. Begitu terus setiap hari. Bayangkan kalau kita berpikir lambat, apalagi bertindak lambat. Bisa-bisa kita langsung kehilangan pekerjaan. Dibutuhkan berpikir cepat dan bertindak cepat.

Lihat sekitar kita. Apa yang terlihat? Orang-orang bergerak cepat. Kita bertemu orang yang berbeda di jalan. Selain rekan kerja, kita bertemu orang yang berbeda setiap hari. Cara-cara bertingkah setiap oang juga berbeda. Semua berubah dengan cepat. Nilai-nilai dalam masyarakat juga berubah. Misalnya dalam hal berkomunikasi. Tegur sapa mulai berkurang. Senyuman juga memudar. Semua berkutat dengan smarfon, deadline yang mendesak, dan pekerjaan. Lingkungan sekitar jadi terabaikan. Termasuk orang lain.

Kalau yang satu ini yaitu perkembangan teknologi, semua pasti sudah tahu. Dalam waktu cepat teknologi berubah. Generasi tua sangat merasakan ini. Biasanya anak-anak lebih menguasai teknologi baru ketimbang orang tuanya. Peralatan canggih selalu muncul. Alasannya sih bagus yaitu untuk memudahkan pekerjaan manusia. Tapi seiring perkembangan teknologi, terjadi hal yang memprihatinkan yaitu hilangnya kesadaran masyarakat akan dunia nyata. Karena sudah dimanjakan oleh teknologi terbaru, kita mengabaikan orang lain, alam sekitar, dan diri kita sebagai manusia.

Masih banyak lagi hal yang berubah dengan cepat. Misalnya fashion. Aku tidak paham tentang hal ini. Yang aku tahu setiap waktu selalu muncul mode-mode terbaru. Orang-orang berebut memiliki pakaian yang sedang trendi. Atau apalah.

Kalau kita berpikir kritis, untuk apa semua itu? Apa arti perkembangan zaman? Kepada siapa kita ingin membuktikan pencapaian kita? Kita maju ke arah mana? Apa artinya berkembang dengan cepat? Apa manfaatnya? Apa yang kita cari? Apa yang kita inginkan? Masih banyak pertanyaan lain. Ini saja belum dijawab. Namun, silakan tambahkan pertanyaan sendiri (kalau ada).

Aku pernah mengikuti kamp tahunan alumni. Di salah satu sesi acaranya, seorang pembicara mengatakan, "kita tidak perlu membuktikan kepada siapapun semua pencapaian kita." Kalimatnya berkesan buatku. Sangat mendalam. Untuk apa bekerja keras, belajar mati-matian, untuk apa mengejar hal tertentu, kalau untuk 'dipamerkan' kepada orang lain, buat apa? Sia-sia. Kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apakah perlu bekerja sampai larut malam? Apa sih yang  kita harapkan? Kebahagiaan.

Inilah jebakan dunia. Dunia menawarkan kebahagiaan versinya. Dunia menawarkan, kalau kita mencapai ini-itu, kita akan bahagia. Padahal saat mencapainya justru kita makin susah.

Di salah satu buku yang kubaca, bahagia itu sederhana. Menghirup udara pagi, menikmati cahaya matahari pagi, menikmati pekerjaan sebagai panggilan hidup, menikmati tidur nyenyak malam hari. Cukup. Kalau orang berpikir seperti ini, maka mereka akan menikmati hidup. Mengatur jadwal dengan pas. Tidak lagi terburu-buru. Irama hidup juga melambat.

Masih mau berpikir untuk maju? Silakan saja asal jangan salah memaknai kemajuan itu. Nanti yang didapat cuma: lelah.


Jumat, 18 Juli 2014

Gengsi

Apa yang ada di benakmu saat mendengar kata 'gengsi'? Kata orang, entah orang mana aku tidak tahu, orang Indonesia terkenal dengan gengsinya. Lihat teman punya henpon terbaru rasanya gimana gitu. Merasa malu kalau henpon sendiri masih jadul. Biasanya di tempat umum malu ngeluarin henpon jadul. Soal pakaian juga begitu. Saat ada undangan ke pesta hal yang paling dikuatirkan salah satunya pakaian. Belum afdol rasanya bila tidak punya baju baru. Bagaimana dengan rumah, mobil, dan gelar? Apalagi yang ini. Semua hal tadi dijadikan patokan sukses dalam masyarakat. Sukses bila sudah punya rumah, mewah lagi, punya mobil, punya gelar yang mantap, punya harta melimpah.

Apa salah kalau punya harta, gelar, atau hal lain? Tidak salah sih, malah bagus. Terus kenapa merasa risih? Karena kau miskin?hahaha *ketawa orang kaya*. Yang salah adalah cara pandang terhadap harta, dan lain sebagainya itu. Menurutku, rasa gengsi dimulai dari cara pandang yang salah tentang hidup. Ini dimulai dari keluarga sejak kita kecil. Selalu ditanamkan bahwa sukses itu juara 1 di sekolah. Beranjak remaja, kita diberitahu bahwa sukses itu seperti saudara kita yang punya rumah mewah, mobil mewah dan gaji yang besar. "Lihat tuh si Anu, sukses: kaya, hebat, punya jabatan". Biasanya kalimatnya begitu. Terus dilanjutkan dengan "kamu harus begitu kalau sudah besar nanti". Bagaimana kalau kita tidak capai? Malu. Tidak percaya diri. Gengsi.

Gengsi juga mengurangi kesadaran kita akan kebutuhan dan keinginan. Banyak orang belanja ini-itu karena ingin. Bukan karena butuh. Misalnya punya gadget terbaru. Apa itu karena butuh? Belum tentu. Memiliki gadget terbaru dimotivasi oleh hati yang ingin mencitrakan diri dengan gadget itu sendiri. Gadget terbaru menjadi citra diri. Terlihat 'wah' di mata orang. Terlihat 'sukses' di mata orang. Harga atau nilai diri menjadi turun sebatas gadget terbaru. Padahal nilai diri jauh lebih berarti dibanding sebuah benda. Bahkan tidak bisa dibandingkan. Ini juga berlaku pada harta, gelar, jabatan, atau pekerjaan.

Bagaimana cara mengatasi rasa gengsi? Menurutku adalah hidup sederhana. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Itu kata Paulus. Ya kupikir begitu. Mencukupkan diri dengan yang ada adalah ucapan syukur paling baik. Kalau kita diberi rejeki oleh Tuhan, seperti kekayaan, kepintaran, dan lain sebagainya yang melebihi orang lain, itu adalah anugerah buat kita yang perlu disyukuri. Dan bila perlu, dan ini harus, kita berbagi dengan sesama. Harta, kekayaan, pekerjaan bagus, dan kepintaran bukanlah kesuksesan atau simbol kesuksesan.

Hiduplah sederhana. Tidak perlu gengsi. Percaya diri saja dengan apa yang kita miliki. Apapun kata orang, aku ya aku, bukan hartaku.