Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 November 2019

KALAH

Hasil gambar untuk kalah
sumber: republika



Apa yang terpikirkan olehmu ketika mendengar kata 'kalah'?



Kalah merupakan akibat atau hasil yang diperoleh setelah menghadapi suatu situasi. Kalah biasa dipahami dalam situasi persaingan, peperangan, atau ujian.



Dalam KBBI, kalah berarti tidak menang, kehilangan atau merugi karena tidak menang, tidak lulus dalam ujian, tidak menyamai, kurang dari. Kalah bisa diartikan kebalikan dari menang. Dari semua arti itu, kalah bisa juga berarti gagal atau tidak memperoleh apa-apa.



Saya yakin tidak ada seorang pun ingin kalah. Tim sepakbola berlatih dengan serius untuk menang, bukan untuk kalah. Seorang pelajar giat belajar agar lulus, bukan agar tidak lulus. Pebisnis tidak ingin kalah dari pesaingnya. Semua tidak ingin kalah.



Mengapa orang tidak mau kalah? Menurutku ada beberapa alasan. Pertama, ingin menjadi yang utama. Motivasi tertinggi manusia melakukan sesuatu adalah aktualisasi diri; ingin menunjukkan diri kepada dunia - inilah aku, aku hebat, aku mampu, aku kaya, dan seterusnya. Semua tentang kebanggaan diri. Bayangkan bila dalam kondisi kalah, seketika kebanggaan diri tadi lenyap. Sebab itu setiap orang menghindari kekalahan.



Kedua, tidak ingin diremehkan. Terkadang ada orang berusaha keras untuk mencapai sesuatu, misalnya kekuasaan atau kekayaan, hanya karena dia tidak ingin diremehkan oleh orang lain. Segala usaha dikerjakan dengan sungguh-sungguh hingga mencapai apa yang diinginkan. Oleh karena itu, pantang baginya untuk kalah.



Ketiga, tidak ingin merugi. Alasan ketiga ini biasanya terjadi pada persaingan dengan mempertaruhkan sesuatu. Artinya, jika kalah maka akan kehilangan sesuatu tersebut. Apalagi jika sudah mempertaruhkan semua yang dimiliki. Jadi sebisa mungkin menang dan jangan sampai kalah.



Mungkin masih terdapat alasan lain mengapa kita tidak ingin kalah. Tetapi, intinya menurutku adalah tentang harga diri kita. Kekalahan membuat kita terlihat bodoh, tidak berdaya, kurang perjuangan, dan seterusnya.



Masalahnya, di setiap pertandingan selalu ada pihak yang menang dan kalah. Tidak mungkin keduanya menang. Kita menyaksikan sendiri kemeriahan dunia sepak bola. Ketika tim idola kita mencapai final, maka betapa kita ikut terhanyut dalam kegembiraan. Kemudian pada partai final tersebut tim idola kita ternyata dikalahkan oleh pihak lawan. Kita pun ikutan sedih.



Selanjutnya....



Kehidupan kita tidak melulu soal pertandingan atau persaingan. Tetapi tanpa sadar kita membuatnya seperti itu. Kita melihat tetangga yang kelihatannya memiliki hidup enak, sedangkan kita penuh kekurangan. Kita pun menjadi iri dan merasa kurang dari mereka. Sementara tetangga tersebut tidak pernah merasa seperti itu.



Tanpa sadar kita melihat keberhasilan atau kesuksesan rekan-rekan kita, lalu membandingkan keberadaan kita dengan mereka. Kita akhirnya berkata aku gagal, aku kalah. Padahal sesungguhnya mereka juga memiliki pergumulan sendiri yang membuat mereka kadang menyerah. Hal tersebut luput dari pengamatan kita. Kita tidak melihat bagaimana mereka berjuang.



Ketika seorang teman lama menelpon dan ia bercerita tentang tempat kerjanya, penghasilannya, dan segala sesuatu. Semuanya terdengar ‘wah’ menurut kita. Saat giliran diminta bercerita, kita dengan enggan, kadang malu, menceritakan semuanya. Tidak percaya diri dengan pekerjaan sendiri.



Ini bisa terjadi juga saat kita mendengarkan seorang rekan studi lanjut, bisnisnya berkembang, anaknya semakin tumbuh besar, dan sebagainya, dan sebagainya. Intinya, kita berpikir bahwa kita kurang dari mereka. Dengan kata lain, kalah.



Manusia memang begitu. Begitu jernih melihat orang lain daripada melihat diri sendiri.



Ada sebuah kutipan begini, “penulis drama yang dramanya tidak pernah sukses harus dengan legowo berhipotesis bahwa semua karyanya adalah drama yang buruk”. Kalimat itu berasal dari Bertrand Russel yang dikutip dari sebuah buku yang sedang kubaca saat menuliskan tulisan ini.



Kutipan di atas, menurutku, dapat ditujukan kepada siapa saja yang sedang merasa kalah. Kekalahan bukanlah kenyataan yang kita sukai. Tetapi itu sangat mungkin terjadi pada kita. Oleh karena itu, ada beberapa saran dariku tentang cara menghadapi kekalahan.



Pertama, kita harus rendah hati. Sikap rendah hati membuat hati kita siap menerima kenyataan; bahwa kita bukanlah orang yang istimewa. Sering terjadi bahwa kita menganggap diri istimewa sehingga kita lupa kita bukanlah siapa-siapa.



Kedua, koreksi diri. Untuk mengoreksi diri, kita memerlukan pandangan seorang teman, sahabat, atau rekan. Dan, ini penting, kita harus siap menerima fakta dan kebenaran tentang kita. Mengapa butuh orang lain? Ingat, kita sering melihat diri sendiri dengan tidak jernih. Jadi, untuk membuatnya jernih dan jelas, kita butuh orang lain. Ini berlaku juga untuk sebuah tim.



Coba bayangkan: sebutkan apa yang Anda lihat di depan Anda saat ini. Mungkin saja smartpon, dinding kamar, atau hal lainnya. Kita bisa menyebutkannya dengan tepat. Tetapi coba sebutkan apa yang sedang Anda rasakan saat ini. Sedih, bahagia, bingung, atau galau? Sepertinya sulit menentukan dengan tepat apa yang kita rasakan saat ini. Sebab perasaan kita mudah sekali berubah. Oleh sebab itu, kita membutuhkan orang lain untuk menunjukkan kesalahan kita.



Ketiga, sadari bahwa hidup ini tidak selalu tentang persaingan. Bahkan di era disrupsi ini yang diperlukan adalah kolaborasi, bukan persaingan. Dengan kehidupan pribadi kita pun demikian. Turut bahagia mendengar rekan sukses, turut sedih ketika orang lain sedih. Sulit ya? Hehehe


Belum  lama ini aku bertemu dengan seorang sahabat (anggaplah sahabat hahaha). Kami saling bertukar cerita. Kadang jalan cerita kami hampir sama, tetapi lebih sering berbeda. Ada yang menarik dari ceritanya.

Ternyata dia mengalami ketidakpercayaan diri, dan berusaha keluar dari kondisi tersebut, ketika ia membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Namun, ia sejenak merenungkan bahwa keadaannya saat ini pun merupakan anugerah Tuhan yang begitu besar, jika ia melihat kehidupannya dulu. Mengapa harus membandingkan diri dengan orang lain.

Jadi, yang keempat, bersyukurlah selalu. Ingatlah bahwa keadaan kita saat ini merupakan anugerah yang tiada tara dari Tuhan. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. (O, Tuhan, mampukan aku mengalami ini!)



Setelah membaca ulang tulisan ini, rasanya semuanya tertuju ke wajahku hahaha. Sekian dulu sampai di sini. Dibaca syukur, tidak dibaca gak mungkin. Karena kalau sudah baca kalimat terakhir hampir pasti sudah dibaca hehehe
 

Rabu, 23 Januari 2019

Tiada Terukur


"Tiada terukur besar kasih setia-Mu, Tuhan,“

Kutipan di atas merupakan sebaris lagu rohani kristen. Lanjutannya: dalam dan lebarnya melebihi lautan. Jauh tinggi mengatasi langit, dalamnya tak dapat diselami. Kasih setia-Mu besar selamanya...

Aku menikmati lagu ini di awal tahun 2019 ini. Tepatnya untuk acara “seminar ibadah” yang diadakan oleh perkantas pada 26 Januari 2019. Salah satu lagu yang dipilihkan oleh MC adalah lagu tersebut di atas. Aku sendiri berperan sebagai gitaris. Tim kami terdiri dari MC, dua singers, dua keyboardist, cajonist, bassist, dan aku. Harus kuakui teman-temanku dalam tim ini adalah pemusik yang hebat. Aku, dengan kemampuan yang terbatas, kadang sulit mengikuti permainan musik mereka. Intinya, mereka lebih hebat dariku.

Selama persiapan, seperti biasa kulakukan saat jadi pemusik, aku menyanyikan dan mencoba menghayati lirik lagu sendirian. Terutama saat malam hari sebelum tidur. Rekaman saat latihan juga biasanya membantuku bernyanyi karena aku tidak punya gitar. 

Saat merenungkan lirik lagu ini, terlintas dalam pikiranku tentang bagaimana orang mengukur kasih Tuhan dalam hidup mereka. Sepanjang pengamatanku, banyak orang mengukur kasih Tuhan dengan harta, gelar, jabatan, dan segala macam pencapaian dalam hidup. Lalu aku merefleksikannya juga pada diriku; apakah aku juga seperti itu?

Bukankah kasih Tuhan tidak terukur? Mengapa manusia suka mengukurnya dengan apa yang ada di dunia? 

Secara fisika, mengukur berarti membandingkan sesuatu dengan  sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain tersebut harus sudah memiliki standar tertentu sehingga dapat digunakan sebagai pembanding. Lalu bagaimana kita mengukur kasih setia Tuhan? Lirik lagu di atas mengatakan lebarnya melebih lautan, tingginya mengatasi langit, dalamnya tak terselami. Mengagumkan sekali. Tiada terukur.

Tetapi tetap saja manusia, dengan segala kesombongan, membandingkan kasih Tuhan dengan sesuatu yang bersifat duniawi. Ini juga ukuran yang digunakan untuk melihat sesama manusia. Manusia menganggap diri diberkati jika sudah memiliki harta atau gelar atau pencapaian tertentu. Sebaliknya, bila dalam keadaan buruk, selalu menganggap Tuhan tidak mengasihi. (Aku harus mengambil cermin dan berkaca: itu aku)

Demikan juga manusia memperlakukan sesamanya. Menilai orang lain diberkati jika orang tersebut memiliki harta atau jabatan atau pencapaian. Bila sesamanya tidak memiliki apa-apa, maka dengan mudah dianggap sebagai bukan siapa-siapa. Atau sebaliknya, orang yang miskin selalu menganggap diri “rendah” dibanding orang kaya. 

Kembali ke lirik lagu. Tidak ada pembanding di dunia ini yang bisa digunakan untuk mengukur kasih Tuhan. Hanya orang yang angkuh yang tidak mengenal Tuhan yang berani mengukur kasih Tuhan dengan harta dan sebagainya. Segala kekayaan atau jabatan atau pencapaian sesungguhnya hanya berkat tambahan yang dititipkankepada manusia. Dan semua itu tidak bisa dijadikan pengukur kasih Tuhan.

Orang yang menyadari bahwa kasih Tuhan tidak terukur, memiliki hidup yang selalu bersyukur dan rendah hati. Hal ini dibuktikan dengan ibadah. Orang yang bersyukur tidak meninggalkan ibadah. Malahan semakin menikmati ibadah kepada Tuhan walau apa pun yang sedang dialami. Semoga saja aku pun dimampukan untuk itu.

Minggu, 11 November 2018

(Tidak) Bekerja?

Hai, kamu yang spesial di hatiku. Apa kabar?

Aku agak ragu ada yang mengunjungi blogku ini. Tapi tidak mengapa kalau menyapa sesekali demi sopan-santun. Lagian aku jarang sekali mengucapkan salam dalam tulisan-tulisanku.

Kali ini aku ingin bercerita tentang sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan kerjaku. Eh sebaliknya, kehidupan 'tanpa-pekerjaan'ku. Jadi, siapkan telinga untuk membacanya.

Aku memutuskan keluar dari pekerjaanku bulan April yang lalu sambil menyerahkan surat pengunduran diri. Aku resmi mengundurkan diri pada bulan Juni yaitu akhir tahun pelajaran 2017/2018.

Mulai bulan Juli hingga awal November ini, aku belum mendapatkan pekerjaan baru. Ada tiga tawaran pekerjaan, namun ketiganya belum 'tepat'  bagiku.  Aku memang tidak sembarang memilih pekerjaan terutama bila tidak sesuai dengan passion. Lagipula setelah tujuh tahun menjadi guru di sebuah sekolah plus setahun di lembaga sains, tidak ada salahnya untuk 'beristirahat' sejenak.

Sudah 4 bulan 13 hari (per tanggal 13 november) aku jadi pengangguran. Aku mulai merasakan bosan, agak stres, dan malu. Aku malu pada diriku sendiri dan kepada orang-orang di sekitarku. Apalagi kepada mantan rekan kerjaku karena aku tinggal dekat sekolah yang kutinggalkan. Aku malu karena aku sudah bergelar magister tapi nyatanya susah cari kerja.

Aku makin memahami bahwa manusia membutuhkan pekerjaan. Hakikat manusia ada di dunia ini adalah bekerja. Tidak ada manusia yang tahan bila sepanjang hidup tidak mengerjakan apa-apa. Bahkan sering kuamati orang lain menyibukkan diri agar dirinya bermakna. Meskipun apa yang dikerjakannya tidak terlalu penting atau bahkan membuat orang lain tidak nyaman. (pelajaran I)

Hal lain yang kupelajari adalah rasa malu itu sendiri. Di atas aku mengatakan bahwa aku malu pada diriku sendiri dan orang lain. Mengapa aku malu juga sudah sampaikan di atas. Namun, jauh lebih dalam, di dasar hati, aku merasa malu karena kebanggaan diriku telah kuletakkan di atas pekerjaan. Ukuran harga diriku dilihat dari pekerjaan yang kulakukan. Aku ingin orang lain melihat itu. Aku ingin mengatakan pada semua orang: 'Ini aku, aku punya pekerjaan', 'aku bukan pengangguran', dlsb. Perasaan ini semakin kuat ketika ada teman bercerita tentang pekerjaan mereka. (pelajaran II)

Aku yakin bukan hanya aku yang mengalami hal ini. Ada pula orang yang sudah bekerja dan masih saja tidak puas dengan pekerjaannya. Tidak puas karena gaji yang didapat sedikit, pekerjaan tidak sesuai keahlian, pekerjaan tidak sesuai minat, dll. Selain itu banyak orang tidak percaya diri dengan pekerjaan yang dimilikinya. Sehingga selalu memikirkan untuk mencari pekerjaan lain yang, katanya, lebih pas di hati. Tetapi, tetap bertahan dengan alasan menyambung hidup.

Menurutku, tidak ada manusia yang benar-benar bahagia dengan pekerjaannya. Pekerjaan apa pun. Karena ada masanya orang mengalami jenuh dan bosan, bahkan sekalipun sudah di puncak kesuksesan. Tubuh manusia awalnya memang diciptakan sempurna—yang dengannya manusia bisa bahagia. Namun, kejatuhan manusia dalam dosa membuat relasi manusia dengan Tuhan menjadi retak. Dan inilah pangkal ketidakbahagiaan manusia. Ia terlepas dari sumber kehidupan sejati, Tuhan.

Lalu apa yang harus kulakukan? Pertama, tetap percaya kepada Tuhan. Penyertaan Tuhan sungguh sempurna. Kedua, tetap berusaha mencari pekerjaan. Buang semua kekhawatiran. Ketiga, pertahankan visi: diberkati untuk menjadi berkat. Pekerjaan bukanlah yang utama. Ambisi bekerja jangan untuk keuntungan pribadi saja.

Bulan Agustus lalu aku sempat dipanggil untuk wawancara kerja di sebuah yayasan di bagian program pendidikan. Yayasan ini menaungi puluhan sekolah di Kalimantan dan Riau. Saat wawancara berlangsung aku mendapati bahwa visi yayasan tersebut tidak sejalan denganku. Selain itu, ini alasan utamaku tidak bersedia, yaitu yayasan ini bernaung di bawah perusahaan kelapa sawit. Penempatan kerjanya di tengah perkebunan di Kalimantan sana. Padahal dalam informasi lowongan (iklannya) penempatan Jakarta Selatan. Kalau di sini saja mereka tidak konsisten, tidak ada jaminan ke depannya akan baik-baik saja. Posisi yang ditawarkan yayasan ini sesungguhnya sesuai dengan passion-ku.

Sedikit cerita tambahan untuk paragraf di atas yaitu ketika aku bercerita kepada seorang senior mengenai wawancaraku. Saat dia mendengar 'perusahaan sawit', wajahnya mengungkapkan ketidaksetujuan. Ia pun menyampaikan pandangannya tentang itu sambil menyarankanku untuk tidak menerima pekerjaan tersebut (memang tidak jadi). Alasannya adalah kerusakan lingkungan yang semakin parah akibat sawit. Aku setuju tentang itu.

Hanya saja, pertimbangan awalku melakukan wawancara adalah 'ini kan yayasan yang mengurusi sekolah (pendidikan), tidak langsung bersentuhan dengan sawit'. Setelah kupikir-pikir, 'untung aku tidak menerimanya' karena akan sama saja mendukung perkembangan/perluasan perusahaan yang dimaksud. Secara tidak langsung ikut memperparah kerusakan lingkungan. Seandainya aku tidak memiki visi dan nilai lingkungan, mungkin aku menerima begitu saja demi 'menyambung hidup'.

Hal berikutnya yang kupelajari adalah selama tidak bekerja aku semakin bijaksana mengatur keuangan. Pengeluaran terjadi hanya untuk hal yang sangat penting dan mendesak. Ini tidak berarti aku membatasi diri juga untuk 'menikmati hidup'. Aku masih bisa berpergian, belanja buku (ini sih wajib), makan-makan bersama teman, ganti hape, dlsb. Bedanya, aku menggunakannya tepat sasaran. Tidak untuk berfoya-foya. Setiap pengeluaran kucatat di catatan pribadi seperti yang biasa kulakukan. Hasilnya pengeluaranku menurun tajam. (pelajaran III)

Selama bekerja jarang sekali seseorang menghitung pengeluaran karena pastinya di akhir bulan bakal gajian. Kalau pun hitung-hitungan, itu untuk jaga-jaga agar dompet jangan sampai jebol di minggu pertama. Bukan untuk menjaga agar pengeluaran dimanfaatkan semaksimal mungkin. Makanya tidak heran kalau ada orang lebih memilih naik transportasi online (yang notabene lebih mahal)  padahal sebenarnya masih memungkinkan untuk menggunakan transportasi umum. Alasannya, 'toh duit masih ada kok'. Mungkin inilah yang dialami oleh ibu-ibu yang sudah punya anak; hemat maksimal.

Memiliki banyak waktu untuk refleksi, pelayanan,  dan mendoakan banyak orang. Delapan tahun bekerja ternyata membuatku berada dalam zona nyaman. Selama ini aku tidak menyadarinya. Sebab sedikit sekali waktu untuk berefleksi. Waktu-waktu berharga inilah yang kupakai untuk mengevaluasi seluruh pekerjaanku. Ternyata, selama ini aku bekerja dengan tujuan membangun kerajaanku sendiri. Pelayanan rohani yang kulakukan seringkali hanya jadi selubung kedalaman hatiku. Kadang sebagai pelarian saat jenuh kerja. (pelajaran IV)

Pemahaman di atas tidak muncul begitu saja. Ada yang kuperoleh dari perenungan pribadi, khotbah di gereja, ibadah alumni, kamp tahunan alumni, GCLC, KPM, hingga lagu rohani. Ya, banyak alumni membangun kerajaan sendiri. Semakin jauh dari persekutuan. Bahkan ada yang sudah meninggalkan Tuhan. Kasih mula-mula yang pernah dialami selama kuliah menguap begitu saja. Mereka terpesona indahnya dunia. Aku bersyukur Tuhan menangkapku dan memelihara hidupku. Hingga sekali pun aku menjauh, Ia membawaku kembali pada-Nya.

Keputusanku berhenti bekerja di tengah jalan tanpa jaminan 'sudah mendapat pekerjaan baru' memang tergolong nekat ketimbang disebut sebagai langkah iman. Bagi sebagian orang mungkin dianggap kebodohan. Bahkan aku sendiri pernah berpikir bahwa aku mengambil keputusan yang salah.

Tentang salah ambil keputusan, aku diingatkan oleh Firman (lagi-lagi ini bukan pencerahan yang tiba-tiba muncul di kepalaku) bahwa aku adalah domba yang bodoh. Ketika rumput di depanku habis, bukannya bergeser ke tempat lain, malahan aku memakan tanah di depanku. Aku tidak bisa melihat lebih jauh ke depan. Namun, aku percaya Tuhanku adalah gembala yang baik. Ia menuntunku ke padang yang berumput hijau dan membimbingku ke air yang tenang. Apa yang perlu kutakutkan? Apa yang harus kukhawatirkan? Seharusnya tidak ada lagi.

Aku sudah 8 tahun bekerja dan baru 4 bulan aku menganggur. Harusnya aku bersyukur. Jarang orang memilih langkah ini. Umumnya kerja terus bagai kuda (Pesan: jangan mau diperbudak pekerjaan!). Tapi kedaginganku kadang melemahkan imanku. Khawatir, cemas, dan malu adalah perasaan yang benar-benar ada. Aku tidak menyangkalinya. Perasaan negatif ini harus kusingkirkan. Oleh karena itu, aku sangat butuh pertolongan Roh Kudus untuk membimbingku melakukan kehendak Tuhan.

Jangan tanya soal keuanganku? Kalau aku masih bisa menulis ini dan memostingnya di blog ini, artinya kuota internet masih ada, hehehe. Bukan itu poinnya. Aku percaya Tuhan-lah yang memenuhi kebutuhanku. Ia memelihara hidupku dengan sempurna. Aku hanya perlu bergantung penuh pada-Nya.

Tuhan, tolonglah aku yang tidak percaya ini!

Catatan: Renungan Ibadah Minggu

Kali ini aku akan membagikan sebagian khotbah yang kunikmati minggu tanggal 11-11-2018. Tema khotbahnya tentang persembahan. Bagian yang dibahas adalah cara hidup para ahli Taurat versus persembahan janda miskin. Untuk lebih jelas silakan baca Markus 12:38-44.

Cara hidup ahli Taurat memperlihatkan pada kita bahwa jubah yang mereka kenakan tidak berarti hidup mereka benar. Mereka terlihat seperti seorang cendekiawan atau hartawan, padahal mereka merampas rumah janda-janda. Cara hidup yang menipu orang lain lewat penampilan. Jangankan memberikan persembahan kepada Tuhan, malahan mereka merampas orang miskin. Kelak mereka akan dihukum lebih berat.

Refleksi dari cara hidup ahli Taurat: apakah aku selama ini menipu orang lain lewat penampilanku? Apakah hidupku berintegritas; tidak hanya tahu Firman Tuhan tapi juga melakukannya dalam keseharianku?

Memberi persembahan karena kemampuan memberi. Itulah kebiasaan orang percaya pada umumnya. Tidak seperti janda miskin memberikan seluruh yang ada padanya. Tuhan Yesus sendiri loh yang memberikan penilaian terhadap janda miskin tersebut. Orang percaya tentu pernah mendengar ini alias bukan hal baru. Refleksi: bagaimana aku memberi persembahan? Apakah didasari oleh rasa syukur?

Bagaimana dengan jemaat saat ini? Inilah yang menarik. Pendeta menyampaikan bahwa kebiasaan jemaat saat ini adalah memberikan persembahan karena kemampuan. Bukan didasari oleh rasa syukur yang melimpah. Atau sebaliknya, enggan memberi karena merasa 'kebutuhan sehari-hari saja masih kurang'. Kehadiran di gereja tiap minggu pun hanya sekadar rutinitas belaka. Rasanya ada yang janggal kalau tidak ke gereja. Ini adalah kritik bagi umat Tuhan.

Gedung gereja juga tidak lepas dari kritikan sang pendeta di mimbar. Terlepas dari izin pembangunan gereja yang agak rumit di negeri ini, bangunan gereja yang telah ada terlihat berlomba-lomba dalam kemewahan. Jemaat akan protes kalau AC rusak sehingga bikin panas, lahan parkir diisi oleh mobil-mobil mewah, dekorasi interior gereja harus 'wow', dlsb. Ketika pendeta menyampaikan bagian ini, di benakku muncul: bagaimana bila tiba-tiba ada seorang pemulung datang beribadah ke gereja saat itu (sambil meletakkan keranjang sampahnya di luar)? Apakah penerima tamu mengizinkannya masuk?

Melihat gedung gereja yang mentereng membuat sebagian orang ragu, merasa tidak pantas, atau minder memasukinya. Ditambah barisan mobil di parkiran. Gereja telah menjadi tempat bagi mereka 'kelas atas'. Gedung besar berpagar, interior mewah, musik yang membahana, tidak membuat orang semakin rindu beribadah. Malah sebaliknya, merasa tidak layak untuk datang.

Pertanyaan kembali muncul di kepalaku: kalau kondisinya begitu, bagaimana gereja bisa menjadi berkat? Jangan-jangan gereja telah menjadi representasi ahli Taurat masa kini? Penampilan fisik lebih diutamakan. Tugas mencari jiwa dinomorduakan. Biarkan Tuhan yang menilai.

Dari khotbah minggu itu aku ingat sebuah anekdot. Begini:

Seorang istri mengajak suaminya bergereja. Biasanya si suami malas ke gereja. Tapi berkat usaha istrinya, ia pun datang. Di tengah ibadah, tiba-tiba handphone si suami berdering. Ia lupa mematikannya. Hampir semua mata tertuju pada si suami termasuk sang pendeta di mimbar. Mata menghakimi dan menyalahkan. Sang istri merasa malu atas peristiwa tersebut. Sepulang dari gereja, si istri memarahi suaminya.

Suatu ketika si suami mampir ke bar. Ia meminum bir banyak sekali sehingga membuatnya mabuk dan muntah. Muntahannya mengotori meja dan lantai. Tapi sang pramusaji tidak memarahinya. Malah berlaku ramah terhadapnya dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Sambil terus melayaninya dengan ramah. Seorang pelayan membersihkan meja dan lantai yang kotor. Sang suami merasa betah di sana.

Anekdot ini kubaca dari sebuah media online yang aku lupa alamatnya. Menurutku, cerita tersebut mewakili kondisi gereja saat ini. Gereja mesti berubah. Agar Tuhan semakin dimuliakan.

Minggu, 28 Oktober 2018

Mendambakan Berkat

Siapa di antara kita yang tidak suka mendapat berkat? Saya pikir tidak ada. Semua orang menginginkan hidupnya selalu diberkati. Baik kesehatan, kebutuhan sehari-hari, kepandaian, dlsb.

Setiap orang mengharapkan dirinya diberkati. Bahkan kalau bisa selama hidup ini tidak merasakan penderitaan. Kenyataannya tidak seperti itu.

Apakah berkat selalu membuat kita bahagia dalam hidup ini? Nyatanya tidak. Hal ini ditunjukkan oleh orang Israel ketika mengembara di padang gurun selepas keluar dari tanah Mesir. Orang Israel menerima Manna setiap hari. Roti dari surga itu diterima dengan cuma-cuma tanpa perlu bekerja terlalu keras (Bilangan 11:1-11). Itu adalah berkat yang sangat besar.

Di zaman yang serba susah ini, orang-orang tentu sangat ingin bila ada makanan yang diperoleh secara gratis. Tanpa perlu bekerja keras. Orang Israel malah sebaliknya. Mereka mengharapkan berkat lebih. Mereka bosan dengan Manna. Mereka menginginkan daging, meskipun harus kembali ke Mesir; kembali ke perbudakan.

Mengapa bisa seperti itu? Karena mereka mendambakan berkatnya. Bukan Sang Pemberi Berkat yaitu Allah semesta alam. Mereka tidak bersyukur.

Secara ilmiah manusia memang tidak pernah bisa dipuaskan. Ketika manusia merasa bahagia karena sesuatu, maka di lain waktu sesuatu tersebut tidak lagi membuatnya bahagia. Seperti lelucon yang diulang-ulang, tak akan lagi terasa lucu. Begitulah kira-kira.

Agar kita bisa merasakan bahagia, maka datanglah kepada Sang Pemberi Berkat. Kepada Allah semesta alam. Jika dan hanya jika kita berada dalam Tuhan, maka kita akan merasakan hidup yang penuh berkat.

Berkat tidak selalu sama dengan materi atau benda. Hati yang damai,  hidup yang aman dan tenteram,  adalah juga termasuk berkat. Dan berkat terindah adalah keselamatan dari Allah melalui Tuhan Yesus. Tidak seorang pun dapat memberikan berkat yang terakhir ini; bahkan tokoh agama besar sekali pun.

Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk tinggal di dalam-Nya. "Jika kamu hidup tinggal di dalam-Ku, " kata Yesus, "maka kamu akan berbuah." Perintah ini berlaku juga pada kita orang percaya, orang kristen. Kita akan menghasilkan buah. Buah itu akan dinikmati juga oleh orang lain. Diberkati untuk menjadi berkat. Tujuannya adalah agar orang lain melihat Tuhan melalui hidup kita.

Jadi, hidup seorang kristen bukanlah mendambakan berkat, tapi tinggal di dalam Yesus.

Orang yang sibuk mencari berkat tidak akan pernah merasa bahagia dalam hidupnya. Tetapi orang yang tinggal di dalam Yesus, akan berbuah banyak.

Jumat, 26 Oktober 2018

Sesuatu

"Bagaimana caranya untuk agar kau mengerti bahwa aku cinta?" Itu adalah sepenggal syair lagu yang dipopulerkan oleh grup Band Dewa feat Agnes Monica beberapa tahun lalu.

Seperti lirik di atas, kita ingin sekali mengetahui atau memiliki 'sesuatu' untuk menjelaskan isi hati kita. Atau saat mengharapkan seseorang berubah dari kebiasaannya, kita berharap memiliki 'sesuatu' untuk mengubahnya.

Seperti tukang memiliki palu untuk menancapkan paku pada kayu, nelayan memiliki jaring untuk menangkap ikan, atau pak polisi memiliki senjata untuk melumpuhkan penjahat. Kita sering berpikir demikian ketika ingin mencapai tujuan hati kita.

Namun, menyangkut karakter seseorang bukanlah perkara yang mudah. Karakter itu sendiri melekat pada diri tiap manusia dan terus terbentuk seiring waktu. Pembentukannya makin menguat bila terus diulang. Sehingga kita pun semakin sulit mengubahnya. Bahkan diri kita sendiri sekali pun kadang terasa sulit berubah.

Guru di sekolah mungkin memahami hal ini. Guru kadang geregetan bila ada murid yang tidak juga paham dengan pelajaran, meskipun sudah dijelaskan berulang kali dengan cara yang berbeda. Guru yang mengalami ini biasanya berharap memiliki 'sesuatu' untuk membuat si murid paham. Namun, tidak bisa. Penelitian di bidang pendidikan pun kadang-kadang tidak memberi solusi.

Orang tua barangkali yang paling sering mengalami 'ingin berbuat sesuatu' demi anaknya. Terlebih bila perilaku si anak tidak seperti yang diharapkan. Orang tua berharap memiliki 'sesuatu' untuk mengubah perilaku anaknya. Tidak jarang banyak orang tua yang putus asa.

Atau, seseorang yang sedang jatuh cinta terhadap lawan jenis. Biasanya seseorang tersebut mengharapkan 'sesuatu' yang ajaib terjadi hingga si gebetan peka. Eaa.

Lebih luas lagi, kita merindukan 'sesuatu' terjadi atas bangsa kita, Indonesia, agar bangsa ini terbebas dari segala permasalahannya saat ini. Apalagi ini sedang memasuki tahun politik. Belum lagi ditambah munculnya kelompok-kelompok tertentu yang gemar merusuh dan hendak memaksakan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Ya, kita berharap 'sesuatu' terjadi.

Lalu apakah 'sesuatu' itu? Sesuatu yang mungkin kita butuhkan? Jawabannya adalah doa.

Doa sering dijadikan pilihan terakhir. Ketika semua alternatif dilakukan dan persoalan belum juga selesai, barulah kita dengan penuh kesungguhan hati berdoa. Kalau doa dijadikan pilihan akhir, itu artinya Tuhan bukan yang utama. Dan memang begitulah yang biasa dilakukan.

Termasuk saat berharap seseorang agar berubah atau mengerti suatu hal, berdoalah baginya. Tidak ada yang sanggup mengubahnya selain Tuhan.

Rabu, 24 Oktober 2018

Mimpi

Beberapa bulan lalu aku bermimpi dalam tidurku. Ada mimpi buruk dan ada mimpi indah. Kadang aku bermimpi tentang kampungku, kadang tentang rumah, kadang tentang keadaanku saat ini, kadang juga tidak jelas atau terlupakan sesaat setelah terjaga dari tidur. Anehnya tiap kali aku bermimpi tentang rumah, selalu yang 'terlihat' adalah rumah kami yang lama. Mungkin memori yang terekam baik di otakku adalah rumah kami yang lama. Di rumah itu aku tinggal sejak kelas 1 SD hingga masuk SMA. Sementara rumah kami yang sekarang, waktu itu masih proses penyelesaian, meskipun sudah bisa ditempati.

Aku beberapa kali memimpikan rumah kami yang lama. Sehingga aku bisa mengingat detailnya. Dulu pertama kali aku ke situ lantainya masih pasir pantai. Dinding kayu dan ada lotengnya. Belum ada listrik. Jadi masih pakai lampu semprong. Di sebelah kiri ada pohon jambu dan belimbing yang akar-akarnya muncul ke permukaan tanah. Di sisi kanan ada pisang kipas dan rerumputan liar. Di belakang rumah, agak menurun, ada pohon jeruk dan kebun. Di situ juga ada sumur. Nah, di halaman belakang inilah 'rumah kami yang sekarang' dibangun.

Setelah rumah baru ditempati secara permanen, rumah lama yang berada di depannya pun dibongkar. Saat itu aku sudah merantau ke Jakarta demi masa depan, cieelah. Artinya aku hanya menempati rumah baru kami tidak begitu lama.

Di atas aku bicara soal mimpi dalam arti bunga tidur. Katanya, mimpi itu terjadi karena saat tidur otak bekerja untuk menghapus sebagian memori yang tersimpan. Saat proses itulah mimpi terjadi.

Namun, ada arti mimpi yang sama sekali berbeda dengan ceritaku di atas. Mimpi yang memiliki arti angan-angan atau cita-cita. Ya, itu yang kumaksud. Semua orang pasti pernah punya mimpi. Ada yang mampu membuatnya menjadi kenyataan, ada juga yang tidak.

Seberapa besarkah mimpi yang kau miliki? Apakah kau rela mengorbankan segalanya demi meraih mimpi-mimpimu? Pertanyaan ini sering ditanyakan kepada orang yang mempunyai mimpi. Biasanya dimaksudkan untuk menguji dan menyelidiki orang tersebut. Karena tidak jarang ditemui ada orang memiliki mimpi yang mustahil ia wujudkan, atau, ekstrimnya, terlalu berbahaya untuk diwujudkan. Orang seperti ini tidak mempertimbangkan kemampuannya, waktu yang ada, dana, umurnya, dan dampak mimpinya bagi lingkungan sekitar.

Terlepas dari itu, apakah penting memiliki mimpi? Menurutku sih sangat penting. Mimpi atau cita-cita membantu kita mengarahkan langkah. Arah mana yang akan ditempuh, kebutuhan apa saja yang perlu dipersiapkan, risiko apa yang akan terjadi, dlsb. Bila suatu saat ternyata mimpi itu tidak tercapai, mudah bagi kita untuk mengevaluasinya, lalu mengubah arah bila perlu. Bahkan mengubah mimpi itu sendiri. Sering juga di tengah jalan, orang mengganti mimpinya karena alasan tertentu. Lain lagi dengan orang yang pernah punya mimpi, tapi karena kendala tertentu, maka ia membiarkan mimpinya tetap menjadi mimpi.

Orang yang rela mengubur mimpinya demi orang lain menurutku luar biasa. Banyak kisah nyata tentang ini. Seperti anak yang rela berhenti sekolah demi membantu orang tuanya mencari kebutuhan sehari-hari, seperti seorang ibu yang rela mengubur harapannya memiliki perhiasan mewah demi pendidikan si buah hati, dan masih banyak lagi. Dan hal terbaik yang lebih dari itu adalah orang yang rela mengubur mimpinya oleh karena Tuhan ternyata berkehendak lain baginya. Dia lebih memilih untuk taat.

Di sisi lain, ada pula orang yang rela meninggalkan orang-orang terkasihnya demi meraih mimpi setinggi-tingginya. Pantang pulang sebelum sukses. Memang terlihat seolah-olah memiliki mimpi adalah hal yang buruk. Lebih memilih menggapai mimpi ketimbang orang terkasih. Tidak salah. Yang salah adalah ambisi meraih mimpi itu didasari oleh kepentingan pribadi, keuntungan yang dinikmati sendiri, atau kebanggaan diri sendiri. Sehingga tidak lagi peduli pada yang lain. Yang salah adalah ambisi meraih mimpi itu ternyata bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Mengorbankan mimpi atau cita-cita jangan sampai merugikan diri sendiri. Jika itu perlu diraih, raihlah. Jika itu perlu ditunda, ya lakukan. Jika bukan kehendak Tuhan, taati. Sama halnya juga, meraih mimpi jangan sampai merugikan orang lain. Intinya adalah jika punya mimpi, maka ujilah mimpi itu. Apakah motifnya untuk kemuliaan bagi diri sendiri? Sesuaikah dengan kehendak Tuhan?

Sebesar apapun mimpi kita, sejatinya, harus membawa kemuliaan bagi Tuhan. Jangan pernah mencuri kemuliaan untuk diri sendiri. Pikirkan pula orang-orang terdekat kita. Jangan-jangan kita masih dibutuhkan di dekat mereka. Pikirkan pula dampak dari mimpi kita. Bila tidak membawa berkat bagi sesama, ujilah kembali. Setiap orang percaya diberkati untuk memberkati orang lain.

Aku pun punya mimpi yang membuatku meninggalkan kampung halaman. Hal ini terus kuuji dalam setiap permohonanku dalam doa. Juga telah membahasnya dengan keluarga di kampung. Untuk saat ini, dalam anugerah-Nya, Tuhan terus membimbingku. Dan bila Dia memanggilku untuk sebuah panggilan khusus, di mana pun, maka aku siap. Karena aku percaya, dikuatkan oleh bukti kasih-Nya selama ini, bahwa Tuhan pasti menyertaiku. Asal aku setia. Bahkan Dia akan menempatkan seseorang menjadi penolong bagiku, yaitu teman hidup yang tepat, untuk menggenapi misi-Nya melalui diriku.

Beranilah bermimpi.