Tampilkan postingan dengan label bangsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bangsa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

Sebuah Percakapan dengan Pak Sopir

Sepulang gereja tadi, seperti biasa aku naik angkot dan duduk di depan dekat sopir karena memang tinggal itu yang kosong. Di tengah jalan yang sedang macet terlihat serombongan orang Korea dengan membawa belanjaan di tangan. Jalan kaki.
Tiba-tiba Pak Sopir berkata bahwa orang-orang Korea itu tidak bisa berbahasa Indonesia dan kerja mereka hanyalah buruh kasar di sebuah proyek di perusahaan ternama (PT. Holc*m). Pak Sopir bilang proyek itu dekat  dengan rumahnya, oleh karena itu dia tahu keberadaan orang-orang Korea tsb. Keren juga Pak Sopir ini.
Pak Sopir terus mengajak bicara.
Dia berkata, "aneh bangsa kita ini, buruh kasar saja didatangkan dari Korea. Kenapa tidak pakai tenaga orang kita saja?" Jalan masih macet melewati pasar.
Ia melanjutkan lagi, “Padahal mandornya orang kita yang tidak bisa bahasa Korea. Itu mandor kursus bahasa Korea biar nyambung dengan pekerjanya. Kursusnya bukan sama orang Korea, tapi sama orang kita juga. Aneh kan?”
“Mungkin pemegang saham terbesarnya orang Korea,” akhirnya aku bicara.
“Kata orang sih begitu.”
“Bagaimana tanggapan Bapak tentang MEA yang akhir-akhir ini heboh di TV?” aku bertanya yang lain.
“Mana siap negara kita! Pemerintah tidak menyiapkan kita untuk hal itu. Buruh kasar saja didatangkan dari luar. Gaji orang kita mencekik leher.” Itu tanggapan si Pak Sopir. Hebat juga bapak Sopir yang satu ini. Pengetahuannya lumayan bagus. Pemikirannya juga brilian.
“Tapi kan orang Korea terkenal cepat kalau kerja. Mungkin itu alasan mereka didatangkan.” kataku.
“Iya juga sih. Orang kita malas-malas. Kalau dikasih proyek lamban,” pak Sopir setuju.

Selanjutnya Pak Sopir menceritakan anaknya yang kuliah komputer, sudah lulus, dan sekarang kerja di salah satu perusahaan besar sebagai ahli komputer jaringan. 

Minggu, 20 September 2015

Guru dan Sistem Pendidikan

Ada seorang rekan pengajar risau dengan kondisi guru saat ini yang lebih mengutamakan gaji ketimbang pengabdian terhadap pendidikan. Mungkin slogan “habis ngajar, ya, pulang” bisa menggambarkan kondisi guru kini. Orientasi guru adalah uang, bukan pengabdian. Itulah kerisauan rekan tadi.

Untuk menjawab kerisauan rekan tadi, pemerintah sebenarnya memiliki program yaitu uji kompetensi bagi guru yang ikut program sertifikasi. Nilai rata-rata uji kompetensi guru (UKG) sebelumnya yang rendah menunjukkan kualitas guru memang masih belum memuaskan. Tapi, apakah UKG bisa mengatasi masalah tersebut? Menurut saya, belum. Karena UKG hanya menguji kompetensi guru di ranah kognitif saja. Kalaupun ada evaluasi tentang bagaimana guru mengajar di kelas, evaluasi tersebut belum mewakili kondisi guru keseluruhan. Nah, ke depan ini, pemerintah akan mengadakan UKG untuk semua guru, tanpa terkecuali. Saya kira ini hanya akan membuang-buang biaya dan waktu saja. Kalau hasil yang sebelumnya belum memuaskan, maka tidak ada jaminan bahwa UKG berikutnya akan memuaskan, terlebih ini untuk semua guru. Karena tidak ada pembinaan atau pelatihan secara merata bagi semua guru selama ini. Lagipula program sertifikasi guru telah terbukti tidak memberikan pengaruh signifikan pada peningkatan kualitas pendidikan.

Kalau begitu, apa yang menjadi permasalahan pendidikan kita? Terlalu sulit menjawab pertanyaan ini secara singkat. Namun, ada hal yang menggelitik saya selama ini yakni permasalahan pendidikan kita selalu dicurahkan ke pundak guru. Sering sekali guru, secara individu ataupun kelompok, dijadikan sebagai penyebab kegagalan pendidikan. Sementara sistem pendidikan tidak dianggap sebagai penyebab kegagalan.

Misalnya, pencapaian materi yang harus dipenuhi oleh guru karena tuntutan kurikulum membuat guru hanya berfokus pada materi pelajaran saja. Permasalahan yang terjadi selama ini adalah guru sering mengeluh kekurangan waktu dalam mengajarkan semua materi pelajaran. Sementara kemampuan para murid untuk menyerap pelajaran berbeda-beda. Seharusnya murid jangan dipaksakan untuk menerima semua pelajaran. Namun, karena tuntutan kurikulum guru harus mengajarkan semua, sebab kalau tidak, maka dianggap tidak sukses dalam mengajar dan para murid akan gagal di ujian nasional karena tidak mempelajari semua materi pelajaran. Ini menjadikan proses pendidikan menyimpang dari tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi, kesalahannya tidak terletak pada guru melainkan pada sistemnya. Penerapan kurikulum yang “terlalu memaksa” dan pola ujian nasional yang juga terkesan sebagai pencapaian tertinggi dalam pendidikan.

Padahal hasil pendidikan tidak hanya dilihat dari perubahan kognitif para murid, tetapi juga perubahan sikap dan perilaku – menjadi manusia seutuhnya. Artinya, para murid diharapkan mengalami perkembangan pengetahuan dan perilaku sehingga mampu memecahkan permasalahan yang terjadi di sekitar kita; baik masalah sosial, lingkungan, dan masalah lainnya. Inilah tujuan sejati pendidikan. Tujuan ini hanya akan tercapai bila guru tidak menghabiskan waktunya hanya untuk mengajarkan pengetahuan saja karena “dipaksa” oleh tuntutan kurikulum.

Oleh karena itu, perlu ada perubahan penerapan kurikulum. Pencapaian pendidikan memang berpedoman pada kurikulum, tetapi harus memperhatikan karakteristik para murid. Ujian nasional (UN) yang selama ini dianggap sebagai pencapaian tertinggi sebaiknya ditiadakan atau – kalau memang belum menemukan cara terbaik untuk standar kelulusan – maka UN hanya dijadikan sebagai bahan pemetaan saja. Jadi, jangan salahkan guru jika sistemnya masih belum diperbaiki. Dan tidak perlu juga mengadakan uji kompetensi untuk saat ini, selain karena terbukti hasil sebelumnya masih jauh dari harapan, juga tidak memberi jaminan perbaikan. Lalu bagaimana dengan guru? Guru perlu diberi pendidikan dan pelatihan intensif seputar pembelajaran di kelas, filsafat pendidikan, psikologi anak, dll., dan perekrutan guru ke depan perlu diperketat. Hanya yang benar-benar ingin menjadi guru dan memenuhi standar kompetensilah yang layak diangkat menjadi guru.

Bagaimana dengan guru yang lebih berorientasi pada uang daripada pengabdian? Jawabannya juga tidak mudah. Salah satu contohnya, kenyataan yang terjadi pada sertifikasi guru adalah banyak yang memanipulasi jumlah jam mengajar, ada yang sertifikasi padahal jelas bidangnya bukan dari pendidikan, membeli ijazah palsu; demi mendapat tunjangan yang besar. Sementara banyak juga guru yang tidak sertifikasi justru malah lebih berkualitas dan berdedikasi tinggi terhadap pendidikan. Namun, solusinya adalah tinjau ulang semua guru yang sudah sertifikasi; dan perekrutan guru harus diperketat seperti yang sudah saya jelaskan di paragraf sebelumnya.

Jumat, 31 Juli 2015

Guru, Pendidikan, dan Permasalahannya

Apa yang menjadi topik-topik pembahasan mengenai pendidikan kita akhir-akhir ini? Kira-kira seputar kualitas guru, prestasi akademis, standar kinerja guru, karya ilmiah guru, minat baca siswa, budi pekerti, kurikulum, penyebaran guru, dll. Pembahasan utama adalah mengenai guru.
Ada apa dengan para guru kita? Beberapa kondisi yang sering kita dengar – rendahnya kualitas, rendahnya minat guru menulis karya ilmiah, sertifikasi guru yang tidak memengaruhi kinerja dan penyebaran guru. Selain guru, ada juga pembahasan mengenai penumbuhan budi pekerti pada siswa.

Kinerja Guru
Sulit sekali menilai kinerja guru karena hasilnya baru akan terlihat ketika murid-muridnya telah sukses beberapa tahun kemudian. Itupun sulit dilakukan. Adalah suatu pemikiran sempit pula jika kinerja guru dinilai hanya berdasarkan nilai prestasi siswa. Mungkin cara mudahnya adalah dengan melihat kepuasan siswa dan orang tua terhadap kinerja guru. Kalau siswa dan orang tua merasa puas, berarti guru tersebut memiliki kinerja yang baik. Tapi itu tidak cukup. Masih banyak lagi aspek yang perlu dinilai – misalnya profesionalisme guru, kedisiplinan, kemampuan melakukan evaluasi, atau kemampuan guru menerapkan rencana-rencana pengajaran, dll. Singkatnya, tidak ada cara terbaik untuk mengukur kinerja guru.

Rendahnya Minat Guru Menulis Karya Ilmiah
Mengenai rendahnya minat guru menulis karya ilmiah merupakan masalah serius. Rendahnya minat menulis menunjukkan rendahnya minat baca. Sebab, seseorang mampu menulis karena banyak membaca. Bayangkan seorang guru malas membaca, bagaimana ia menjadi teladan bagi murid-muridnya? Untuk menumbuhkan minat siswa dalam menulis karya ilmiah, dibutuhkan guru yang berminat dan mampu menulis. Seharusnya guru diberikan program wajib baca. Bagi sekolah yang belum memiliki perpustakaan harus segera menyediakannya.

Selasa, 09 Juni 2015

Pendidikan dan Permasalahan Bangsa

Akhir-akhir ini aku sibuk sekali. Padahal aku sudah bertekad tidak menggunakan kata ‘sibuk’ seandainya aku pandai mengatur prioritas yang akan kukerjakan. Waktuku tersita oleh pekerjaan dan tugas-tugas kuliah. Hari-hari berlalu sangat cepat namun terasa begitu berat. Kadang-kadang aku tidak merasakan hari sudah berganti dan sudah begitu banyak hal yang kulakukan. Sesekali memang aku masih membuka miniblog tumblr dan menulis puisi. 
Berita di televisi juga hampir terlewati olehku. Sehingga sedikit sekali informasi kuketahui selain berita-berita utama. Misalnya tentang ijazah palsu, beras palsu, masalah PSSI, partai politik, atau berita jelang pemilihan kepala daerah. Dalam pandanganku, Indonesia sedang mengalami ‘bencana’. Bencana yang kumaksud adalah rusaknya tatanan kehidupan berbangsa dan bertanah air.
Ijazah Palsu
Banyak oknum memilih jalan pintas untuk menggapai jabatan tinggi. Tanpa rasa malu menggunakan ijazah palsu sebagai jaminan kualitas diri. Pertanyaanku: kualitas diri apa yang ditunjukkan dengan ijazah palsu? Sistem penerimaan pegawai (baik negeri ataupun swasta) yang mengutamakan gelar - bukannya kecerdasan dan keahlian – dan juga budaya ‘demam gelar’ di lapisan masyarakat telah membuka jalan bagi oknum-oknum tertentu untuk menggunakan ijazah palsu. Tapi, apakah kita perlu menyalahkan sistem yang rusak?

Minggu, 08 Maret 2015

Kejahatan Begal, Korupsi, dan Narkoba (Opini)

Suatu sore aku sedang membaca buku. Sebenarnya sedang menikmati waktu luang di sore sabtu. Suara televisi terus terdengar agar kamarku tidak sepi. Pintu kamar kubuka sedikit agar udara bisa keluar masuk. Angin meniup pelan kain penutup jendela. Di luar terdengar seperti biasa; deru kendaraan, suara-suara percakapan pejalan kaki, percakapan tetangga sebelah yang sedang kumpul-kumpul, dan diselingi kicauan burung-burung.
Ada banyak hal terlintas di kepalaku. Terutama saat membaca buku. Pertama, tentang berita-berita kejahatan yang terjadi di berbagai daerah. Apa lagi kalau bukan pembegalan. Aku pernah mengobrol dengan seseorang tentang kejahatan ini. Muncul pertanyaan di kepalaku atas kasus kejahatan yang sangat kejam ini: “apakah manusia semakin bejat?” Lalu kami berdiskusi panjang-lebar, bahkan bisa dibilang tak tentu arah. Banyak pandangan keluar dari percakapan tersebut. Kadang-kadang juga aneh.
Kedua, tentang korupsi. Bangsa ini sedang dalam masalah besar. Pejabat negara, secara bersama-sama, melakukan tindak kejahatan luar biasa yaitu korupsi. Memang masih ditemukan pejabat yang bersih, namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Bayangkan saja jika korupsi di satu daerah mencapai triliunan, bagaimana jika hal tersebut terjadi di hampir semua daerah di Indonesia? Bukti hasil korupsi yang mencapai triliunan menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia ini kaya. Namun, karena para pejabatnya bejat, negara ini akan tetap menghadapi kemiskinan (secara materi).

Selasa, 25 November 2014

Selamat Hari Guru

Ucapan 'selamat hari guru' hari ini kuterima pertama kali dari rekan guru. Lalu kubalas 'selamat hari guru'. Tidak ada ucapan dari murid. Guru mengucapkan 'selamat hari guru' kepada rekan guru lain.

Menjadi seorang guru merupakan tugas yang sungguh mulia. Lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan sendiri, menjadi orang tua bagi para murid, dan menjadi teladan. Seorang guru tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga memberikan nilai-nilai kebajikan kepada murid-muridnya. Sehingga seorang anak menjadi pribadi yang utuh; pribadi yang berintegritas.

Bagaimana mengetahui bahwa seorang guru adalah benar-benar guru yang baik? Aku pikir tidak ada cara yang baik untuk mengukurnya. Termasuk pemberian sertifikasi guru. Menurutku, sertifikasi guru sama sekali tidak menentukan seorang guru dikatakan baik atau tidak; berkualitas atau tidak. Namun, bukan berarti tidak ada guru yang baik. Banyak juga guru yang mengabdikan dirinya dengan sepenuh hati, mengajar dan mendidik sepenuh hati, disenangi oleh murid, dan banyak murid yang diajarinya menjadi sukses. Sukses dalam hal ini berarti mampu menjadi manusia sepenuhnya di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apa penilaian masyarakat terhadapa guru saat ini? Beberapa anggapan, mulai dari yang positif hingga negatif. Ada yang masih menghormati profesi guru, ada yang biasa saja, ada juga yang menganggap guru adalah pekerjaan yang mudah. Aku pernah mendengar orang berkata 'apa sih susahnya jadi guru, tinggal ngajarin orang doang' atau 'mengajar itu hanya hobi, bisa dilakukan oleh semua orang'. Begitulah kira-kira tanggapan yang pernah kudengar.

Aku seorang guru. Memang belum dikatakan sebagai guru profesional karena masih sedikit pengalaman. Namun, aku sudah mengalami susahnya jadi guru. Dari luar memang kelihatannya menjadi guru itu mudah. Tapi sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan. Mengajari dan mendidik puluhan anak dalam satu kelas bukanlah pekerjaan mudah. Perlakuan kepada  satu anak tidak boleh disamakan kepada anak yang lain. Bayangkan saja kalau jumlah anaknya puluhan, bahkan ratusan.

Berita memprihatinkan tentang guru adalah masih ada guru yang berpenghasilan rendah. Misalnya, digaji Rp600.000,- per tiga bulan. Di samping itu, ada juga guru yang berpenghasilan sangat tinggi. Mungkin 10 kali lipat gaji guru berpenghasilan tadi. Parahnya, guru-guru PNS tenyata ada yang malas mengajar padahal gaji tetap mengalir tiap bulan. Ini sungguh memprihatinkan.

Terberkatilah guru Indonesia.

Senin, 29 September 2014

Gugat-menggugat

Apa yang terlintas di pikiran Anda saat membaca berita-berita politik saat ini? Sebentar-sebentar kita mendengar ada gugatan lagi. Apakah yang terjadi sehingga sebuah keputusan digugat? Apakah mereka yang membuat keputusan sudah memahami benar konsekuensi dari keputusan itu? Atau, apakah penggugat benar-benar tahu hal yang ia gugat?

Saya yakin, entah kenapa, bahwa sebenarnya pembuat keputusan tersebut tahu bahwa keputusan yang dibuatnya sebenarnya atas dasar kepentingan tertentu, biasanya kepentingan kelompok (bukan kepentingan bersama). Contohnya, di persidangan uji materi A atau yang lain, hasil putusannya selalu ditolak. Kenapa? Tentu karena bertentangan undang-undang dasar. Atau, tentang masalah gugatan pilpres yang begitu panas. Orang awam juga tahu siapa yang menang, orang awam (seperti aku) juga tahu siapa yang curang, namun pihak penggugat 'merasa' dirinya benar.hahaha

Kita sekarang menunggu apakah gugatan UU Pilkada benar-benar dilaksanakan. Ada dua pendapat mengenai pilkada ini; langsung (oleh rakyat) dan tidak langsung (oleh DPRD). Keputusannya adalah pilkada tidak langsung. Keduanya memang memiliki kelebihan dan kelemahan. Terlebih jika orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang yang pada dasarnya korup misalnya, entah langsung atau tidak, sama-sama merugikan negara. Kalau dikatakan pilkada tak langsung merupakan kemunduran demokrasi, bisa jadi benar.

Namun, bagaimana dengan sistem perwakilan (DPRD) yang juga berlaku di negara kita? Apakah kita tidak percaya lagi pada wakil-wakil kita? Mungkin di sini masalahnya, kalau memang bukan benar-benar jadi masalah. Kita tidak percaya lagi pada wakil rakyat. Keputusan yang mereka buat juga sering atas dasar kepentingan kelompok tertentu. Tapi, apakah memilih langsung juga benar-benar murni? Banyak juga lho yang memilih karena diiming-imingi secara sembunyi-sembunyi.hehehe Apalagi kalau dilihat dari peserta pemilu yang hanya sekian persen dari jumlah pemilih yang sebenarnya. Dan dari hasil pemilihan pun, dari yang sekian persen itu hanya sebagian kecil saja yang dikatakan memenangkan pemilu. Dengan kata lain, hanya sedikit warga negara saja yang ikut ambil bagian, berarti calon yang terpilih pun hanya dipilih oleh sedikit warga saja dari ratusan juta warga negara. Tapi hal ini masih bisa di atasi dengan memberikan pendidikan politik kepada masyarakat luas sehingga ke depan mau melibatkan diri setiap pemilu. Sebenarnya pilkada tidak langsung bisa lebih efektif, namun apakah kita bisa memercayai wakil-wakil kita? Apakah mereka benar-benar mampu mewakili masyarakat? Dari pengalaman sih, tidak.

Hari ini saja di MK berlangsung sidang putusan UU MD3. Saya juga yakin hasilnya adalah ditolak (sok tau.hehe) karena aku tidak mengikuti persidangan sampai selesai. Tunggu hasilnya saja nanti di berita......Eh ternyata benar ditolak.

Beginilah kalau kepentingan pribadi/kelompok lebih diutamakan daripada kepentingan bersama. Hal-hal yang sebenarnya sudah diketahui baik jadi dibuat terbalik; yang buruk dianggap baik. Semoga saja para pejabat negara kita, para politisi, segera sadar.

Senin, 22 September 2014

Judulnya apa ya?

Beberapa hari yang lalu aku menambahkan pertemanan di facebook. Salah satunya adalah bimbingan belajar. Kubaca profilnya. Ada tertulis mencerdaskan anak bangsa dan juga jaminan sukses di masa depan. Ada juga jaminan sukses bagi yang mengikuti olimpiade. Pertanyaannya apakah benar demikian? Bisakah bimbel melakukan itu? Tentu bisa. Namun pertanyaan berikutnya, menurutku, dan ini lebih penting apakah bangsa kita membutuhkan anak-anak yang cerdas dalam hal pengetahuan saja? Tentu kita bangga pada para juara olimpiade yang telah mengharumkan nama bangsa. Namun, mereka hanya segelintir orang saja di antara ratusan juta penduduk Indonesia.

Negara kita tidak lagi membutuhkan orang-orang yang cerdas. Terlalu banyak orang pintar di Indonesia. Salah satu buktinya, ya, para pemenang olimpiade internasional tadi dan prestasi-prestasi lain yang ditunjukkan oleh anak bangsa. Negara kita membutuhkan pribadi yang berintegritas, jujur, giat bekerja tanpa pamrih. Coba lihat para pendaftar CPNS saat ini, karena masih hangat beritanya, apakah para pendaftar itu memikirkan apa yang akan mereka berikan pada negara? Saya kira kebanyakan tidak. Malah sebaliknya, mereka memikirkan mereka akan mendapatkan kenyamanan dan jaminan hari tua alias pensiun. Mereka memikirkan apa yang diberikan negara.

Negara kita membutuhkan pribadi yang berintegritas, jujur, dan giat bekerja tanpa pamrih. Bukan sekadar pintar. Tentu banyak karakter positif lain yang dibutuhkan dan bisa kita tambahkan sendiri. Nah, apakah lembaga-lembaga bimbingan belajar memikirkan hal ini? Biasanya bimbel hanya mengutamakan cara mengatasi/memecahkan soal, itupun dengan cara cepat/instan. Namun, tidak memerhatikan hal yang paling penting yang dibutuhkan oleh bangsa ini; integritas, kejujuran, dan rajin bekerja tanpa pamrih. Sekolah juga perlu memerhatikan hal ini. Dan terutama pemerintah. Ada sebuah opini yang kubaca dari koran mengatakan bahwa guru sering terdesak oleh kepentingan politis, tingkat kelulusan 100%, kalau tidak, akan mendapat tekanan dari atasan/dinas.

Inilah cikal bakal para koruptor. Mengapa ada koruptor? Karena tidak ada pribadi yang berintegritas, jujur dan bekerja tanpa pamrih. Malah sebaliknya, terciptalah generasi yang bekerja tapi ingin dibayar mahal, malah kalau bisa mengambil lebih banyak lagi. Bukannya bekerja untuk memberikan yang terbaik. 

Ya begitulah ceritanya ketika aku menambahkan pertemanan di facebook. Aku hanya mencurahkan isi hati tentang kondisi pendidikan kita. Apa yang diketahui anak-anak? Kurasa mereka hanya menurut saja. Disuruh ikut bimbel biar pintar, ikut saja. Disuruh belajar giat, ikut saja. Sering dalam keadaan terpaksa. Mereka tidak tahu apa motivasi di balik pendirian bimbel tersebut. Apakah murni untuk mencerdaskan mereka atau sekadar meraup untung dari bisnis ini.


Jumat, 22 Agustus 2014

Pendidikan yang Gagal?

Di tengah tantang zaman yang semakin besar ini, satu-satunya bidang yang menjadi harapan semua orang untuk menghadapi tantangan ini adalah pendidikan. Pendidikan di sini tidak hanya sekolah. Karena sekolah hanya bagian dari pendidikan, yaitu pendidikan formal. Sedangkan seseorang pertama kali mengalami pendidikan yaitu dalam keluarga, kemudian di lingkungan masyarakat. Terakhir di sekolah. Namun, sepertinya  di zaman ini, pendidikan diidentikkan dengan sekolah. Padahal sebenarnya di sekolah itu adalah pengajaran.

Kalau begitu, apa itu pendidikan? Sebenarnya sih aku tidak tahu hehehe (masa guru tidak tahu?). Kalau dicari di google, pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain. 

Pada dasarnya pengertian pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Sebenarnya masih banyak lagi pengertian pendidikan menurut pandangan para ahli. 

Kalau dilihat dari pengertian di atas, tujuan pendidikan tidak lain adalah memanusiakan manusia. Dari tidak terdidik menjadi terdidik. Dari yang bergantung pada orang lain menjadi mandiri. Dari tidak bisa berbuat apa-apa untuk masyarakat menjadi berguna bagi bangsa dan negara.

Namun, kalau kita sedikit kritis, apakah tujuan pendidikan sebatas itu? Apakah pendidikan diadakan hanya agar seseorang cakap melaksanakan tugas hidup? Atau hanya sekadar mengembangkan potensi diri? Kalau hanya sebatas itu, berarti tujuan pendidikan pada akhirnya tidak lain adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Akibatnya, selepas dari sebuah lembaga pendidikan atau dinyatakan lulus, seseorang akan berpikir mendapatkan pekerjaan. Dan di lingkungan kerja, ternyata, sangat berbeda dengan apa yang didapatkan di sekolah/perguruan tinggi dahulu. Di sini pendidikan menjadi gagal. Pendidikan yang seharusnya menjadi harapan semua ternyata tidak berhasil memenuhi perannya.

Mengapa gagal? Apakah karena kurikulum, isi, atau metodenya salah? Mungkin saja. Tapi, ini perlu ditinjau lebih mendalam. Menurutku, salah satu kesalahannya adalah karena pendidikan telah disempitkan di dalam gedung sekolah. Seolah itu hanya tugas para guru. Padahal seluruh elemen masyarakat harus turut berperan, terutama keluarga. Contoh: seorang anak hendak menerapkan hidup damai dengan sesama sedangkan di rumah orang tua bertengkar terus. Contoh lain, di jalan raya orang-orang tidak menaati rambu-rambu lalu-lintas, padahal di sekolah diajarkan agar hidup disiplin. Kan tidak adil bila kegagalan ini hanya ditujukan kepada guru?

Barangkali masih ada penyebab lain. Tapi kali ini aku tidak bisa menjelaskan semuanya. Lain kali saja ya... :)

Minggu, 10 Agustus 2014

Komentator ala MedSos

Menarik juga ya membaca komentar-komentar orang di media sosial tentang berita yang sedang hangat-hangatnya. Misalnya tentang kelompok teroris, gosip para artis, berita politik, dan lain-lain. Aku memang tidak tertarik membaca berita-berita itu. Apalagi kalau dishare di media sosial seperti facebook atau twitter misalnya. Karena beritanya tidak lengkap. Hanya ingin memanas-manasi keadaan atau menambah rating pembaca saja. Lucu.

Tapi yang membuat menarik, sekaligus prihatin, adalah para komentatornya. Ada yang sok tahu, ada yang tidak nyambung, ada yang adu domba antar komentator, ada yang netral, dan berbagai tingkah lainnya. Pertanyaannya, 1) Siapakah para komentator itu? 2) Apakah mereka membaca isi beritanya atau hanya baca judul saja lalu komentar? 3) mengapa mereka mempunyai waktu untuk mengomentari semua itu?

Siapa mereka? Kemungkinan besar mereka orang-orang muda, generasi muda bangsa. Apa mereka baca isi beritanya, tidak penting. Yang paling memprihatinkan adalah mereka menggunakan waktu hanya untuk mengomentari hal-hal yang tidak penting. Apa mereka adalah orang-orang yang kekurangan pekerjaan sampai-sampai punya waktu untuk memberi komentar? Kurasa mereka adalah korban media dan mereka tidak menyadari itu.

Kalau diperhatikan isi komentarnya, kebanyakan tidak berkualitas. Saling menjelekkan. Saling menganggap diri paling 'benar'. Bahkan ada yang sampai mengeluarkan kata-kata kasar, jorok dan kosong. Tidak bermakna dan tidak bermanfaat.

Karena melihat banyaknya komentar jenis ini, bisa sampai ribuan, mungkin bisa disimpulkan bahwa inilah gambaran generasi muda kita. Barangkali aku salah. Namun, kalau kondisinya benar seperti itu, betapa parahnya keadaan bangsa kita di masa mendatang. Generasi yang akan menjalankan bangsa ini adalah generasi yang kurang berkualitas. Generasi yang hanya bisa komentar negatif. Generasi yang tidak berpikir kritis.

Salah satu penyebabnya adalah kurangnya peran orang tua. Orang tua sibuk dengan 'urusannya'. Orang tua di sini bisa berarti orang tua kandung atau dalam arti lain, pemerintah.

Wahai orang tua, perhatikanlah anak-anakmu.


Senin, 05 Mei 2014

upah

kita adalah upah yang kita terima
apakah kita masih disebut manusia?

sebuah ironi kemanusiaan
memanusiakan manusia dengan upah.

kita adalah upah minimum regional
apakah kita masih dipanggil manusia?
kebutuhan kita diatur sesuai kecukupan kita sehari-hari

kita membuat barang
kita juga yang membelinya di luar.

kita memang berhati mulia.


Kamis, 24 April 2014

bukan anak durhaka

kita adalah anak cucu sejarah

tapi tak kenal nenek moyang kita

dan kita tidak mau disebut anak durhaka.

Selasa, 08 April 2014

merayakan nasib

pakai bajumu, nak
ini pesta
pesta rakyat
penentu nasib kita

bukankah nasib kami selalu begini, Ibu Pertiwi?
:(

Sabtu, 05 April 2014

sekolah negeri kita

Ujian Sekolah tingkat SMP sudah berlangsung selama seminggu. Anak-anak di tempatku mengajar terlihat lelah. Meskipun begitu, ada juga beberapa murid yang terlihat santai-santai saja.

Ada yang membuatku kaget saat salah satu murid menanyakan, "Pak, kenapa kita tidak dapat kisi-kisi soal seperti temanku yang sekolah di negri?" Apa? aku berpikir. Setahuku, sebagai guru, kisi-kisi soal itu adalah soal itu sendiri dan bukan untuk diberikan ke anak sekolah. "Lho? kisi-kisi itu sebenarnya tidak boleh dilihat oleh siswa," jawabku. "Tapi temanku itu dapat dari gurunya." "Berarti sekolahnya gak benar tuh." "Salah gak, Pak, kalau aku juga lihat? Kemarin temanku itu tunjukin, dan persis sama dengan soal hari ini." "Ya, jelas itu salah. Itu tidak jujur namanya." "Tapi lumayan kan, Pak, kita sudah tahu soalnya." "Saya sarankan kamu jangan lihat lagi. Itu perilaku curang dan itu tidak baik. Kalau mau dapat hasil yang bagus, ya, harus giat belajar." Aku mencoba memberi nasihat kepada muridku itu.

Setelah percakapan itu. Aku mulai berpikir tentang beberapa murid yang terlihat santai. Lalu ujian di hari berikutnya kuamati, beberapa murid sudah selesai menjawab pertanyaan padahal ujian belum lama berlangsung. Jangan-jangan mereka sudah terpengaruh dari sekolah lain.

Inilah salah satu potret buruk pendidikan Indonesia. Aku kuatir, jangan-jangan banyak sekolah yang menciptakan generasi curang, tidak percaya diri, dan generasi yang malas, takut menghadapi ujian. Padahal ujian sejati adalah hidup itu sendiri dan tidak ada bocoran soalnya.

Aku sendiri mengajar di salah satu sekolah swasta di daerah Cibinong, Bogor. Di sekolah kami sangat menekankan disiplin dan kejujuran. Menyontek saat ujian adalah pelanggaran berat. Sama halnya dengan pelanggaran peraturan lainnya. Biasanya murid di sekolah kami terpengaruh dari teman-teman mereka dari sekolah lain. Kalau sudah begini, para guru tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau pun ditelusuri lebih jauh sumber bocoran soal, akan susah sekali. Murid-murid tidak akan memberitahukannya bila ditanyakan. Mereka akan takut.

Kamis, 03 April 2014

unek-unek murahan

Aku hampir tersedak saat makan malamku sambil mendengar berita bahwa gaji wakil rakyat 18 kali lipat lebih besar dari rata-rata pendapatan per kapita rakyat. Lalu diiringi laporan rapor merah wakil rakyat.

Ah wakil rakyat. Kau patahkan hatiku saat aku makan malam. Harusnya aku disuguhi berita-berita menggembirakan. Harusnya kalian bekerja lebih keras daripada aku karena kalian dibayar lebih mahal. Kursi kursi yang kalian perebutkan kenapa kosong saat rapat? Harusnya kalian jadi teladan. Apa aku perlu beri contoh caranya rajin bekerja?

Harusnya kugerakkan rakyat mengusir kalian dari gedung itu. Tapi buat apa? Harusnya kalian malu. Dan tak perlu mengajukan diri lagi jadi wakil rakyat. Biarkan orang orang yang lebih baik dari kalian menjadi wakil kami.

Ah wakil rakyat, lama-lama, jangan-jangan, rakyat tak memerlukan kalian. Berbenahlah. Berlaku baiklah. Rajinlah. Kalau tidak, kembalikan gajimu. Lalu makanlah dengan hasil keringatmu.

Rabu, 02 April 2014

aku tidak heran

aku tidak heran lagi
mengapa langit biru
mengapa laut asin

aku tidak heran lagi
rakyat jadi bisu
rakyat jadi miskin

aku tidak heran lagi
mereka berebut duduk
di kursi yang lebih tinggi

aku tidak heran lagi
ada yang tambah mobil baru
ada yang belum makan nasi sehari

ya
aku tidak heran lagi
aku tidak peduli lagi

Selasa, 01 April 2014

seruan

o manusia

sadarlah

mengapa kau ingin berkuasa terhadap sesamamu?

apa yang kau inginkan dari mereka yang miskin?

janji apa yang kau ucapkan itu? hidup bahagia?

AKU-lah pemberi hidup.


jangan rampas kami karena kami ingin hidup

sebelum maut menampar kita semua

sadarlah!

Senin, 10 Maret 2014

Suatu hari nanti

Seperti apa cinta itu:
wajah anak-anak kelaparan,
tangan yang terulur memberi sementara menyimpan lebih banyak,
mulut yang berjanji,
wajah ramah hati monster menertawakan nasib buruk orang lain,
hujan setelah musim panas berkepanjangan?

Generasi muda harus diajari apa itu cinta
sebab cinta yang mereka dapatkan jangan-jangan bukan cinta sejati.
Acara-acara televisi, hiburan-hiburan musik, games, dan lain-lain
semua bukan cinta sejati.
Atau sengaja anak-anak ini diajari begitu
agar kesalahan orang tuanya tidak kelihatan?
Suatu hari mereka akan mengerti
dari warisan yang mereka terima
ketika mereka tidak punya pegangan
ketika mereka bertanya tapi tak ada jawaban
mereka pun sadar
mereka tidak bodoh tapi dibodohkan oleh bangsa sendiri.

Sabtu, 08 Maret 2014

ibu pertiwi

barangkali ibu pertiwi sedang menangis
anak-anaknya tak punya cita-cita
anak sulungnya berebut kekuasaan
anak bungsunya merengek botol susunya diambil.

ibu pertiwi sedang sibuk
merapikan dapur yang berantakan
yang kemalingan kemarin malam.
tikus berkeliaran
kucing diam saja. lelah.
penjaga rumah pura-pura siaga
seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

mari merenung
andai kau di posisi ibu pertiwi
apa yang akan kau lakukan?

Senin, 18 November 2013

jangan-jangan ini jebakan

jangan-jangan ini jebakan
kata-kata manis yang menggoda
pemberi harapan palsu
adalah kita harus mendahului kepentingan sesama
dari kepentingan pribadi.
setelah kita dewasa kita sama sama tahu
bila aku rugi jangan sampai kau yang beruntung
bila aku beruntung semoga kau tidak ikut merasa.
jangan ajari kanak-kanak tentang manisnya hidup
berilah teladan agar mereka tidak meludahi wajahmu kelak

menginjak-injak harga dirimu.

jangan-jangan ini hanya jebakan
'lakukanlah,' bisikmu dalam hati,
'semoga kau terjebak.'

kita sama-sama tahu.
kita tertipu.
bangsa kita murah hati padahal tega memakan 
makanan saudaranya yang kelaparan.
bangsa kita kaya tapi ada yang mengemis.