Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juli 2024

Penemuan

Kita yang hidup zaman ini sangat akrab dengan apa yang disebut sebagai penemuan. Banyak orang berlomba-lomba menemukan sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kecanggihan teknologi abad ini semakin mempermudah usaha manusia untuk menemukan sesuatu yang baru. Bahkan tidak jarang pula temuan-temuan yang ada tidak hanya bermanfaat, tetapi juga unik dan menghibur.

Sebenarnya penemuan sudah berlangsung sejak lama. Sejak keberadaan manusia di muka bumi ini. Manusia dibekali akal budi untuk bisa bertahan hidup. Manusia menggunakan akalnya untuk menemukan cara-cara terbaik dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Barangkali awalnya dimulai dari coba-coba hingga menjadi kebiasaan yang berulang, dan pada akhirnya menciptakan sesuatu yang baru. Penemuan itu pun tidak hanya pada benda belaka, tetapi juga tak-benda seperti tulisan. 

Barangkali yang jarang terpikirkan saat manusia menemukan temuan baru adalah dampaknya. Temuan baru biasanya dianggap memecahkan masalah manusia, dan memang untuk itulah sesuatu ditemukan dan diciptakan. Namun, jarang sekali ada antisipasi bahwa temuan tersebut akan menjadi masalah baru yang kelak membutuhkan solusi. Manusia memang sering terjebak pada solusi jangka pendek yang sifatnya sementara. Yang penting masalah sekarang terpecahkan. Masalah berikutnya nanti saja.

Kita ambil sebuah contoh penemuan mobil atau kendaraan bermotor. Sebelum mobil ditemukan, alat transportasi manusia ditarik oleh binatang seperti kuda atau paling bagus adalah sepeda yang dikayuh. Bahkan zaman dahulu ada becak yang ditarik menggunakan tenaga manusia di beberapa negara. Setelah mobil ditemukan, alat transportasi lama pun ditinggalkan karena alasan kecepatan dan efisiensi.

Senin, 26 Oktober 2020

Tentang Perasaan

Zaman kita hidup saat ini merupakan zaman yang meninggikan perasaan. Baik perasaan secara individu maupun secara berkelompok atau komunitas. Segala sesuatu ditentukan oleh perasaan. Kalau menyenangkan perasaan, lakukan; kalau tidak, hindari. 

Begitu pula dengan tindakan orang lain terhadap kita atau kelompok kita; yang penting jangan menyinggung perasaan. Perhatikan saja penolakan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap orang/kelompok lain. Jika ditanya mengapa mereka menolak, jawabannya adalah karena menyinggung perasaan. Sama sekali tidak membicarakan hal yang ditolak itu apa. Apalagi diajak bermusyawarah untuk mufakat. Sama sekali tidak. Yang penting tolak karena telah menyinggung perasaan kelompokku. 

Media sosial seperti facebook, instagram, dll., menjadi tempat mencurahkan perasaan yang ada dalam diri. Coba perhatikan apa yang dituliskan di media sosial. Lebih banyak mengenai perasaan; gembira, sedih, galau, bingung, dll. Dulu yang ditulis 'apa yang kamu pikirkan', sekarang 'apa yang kamu rasakan'.  

Respons atas status atau curhatan di media sosial juga menunjukkan perasaan senang atau tidak. Jika banyak yang tonton/lihat/like/komentar, maka hati senang. Sebaliknya, hati kecewa. Apakah orang lain mendapatkan pelajaran atau hikmah, itu tidak penting. Pokoknya, aku senang dulu karena banyak yang memperhatikanku walaupun hanya lewat media sosial. 

Setiap zaman memang berbeda. Ada zaman yang menjadikan aktivitas politik sebagai penentu status sosial. Seseorang baru 'dianggap' bila terlibat kegiatan politik. Ada pula zaman yang meninggikan spiritualitas, intelektualitas/rasio, ekonomi, dan sebagainya. 

Nah, seperti yang telah kutulis di atas, zaman ini adalah zaman yang meninggikan perasaan. Semua bersumber dari dalam diri manusia. Ukuran segala sesuatu menjadi terlalu subjektif. Mungkin ini ada pengaruh dari relativisme. Hanya saja lebih terfokus pada suasana hati, bukan akal.  

Ada banyak perasaan yang biasa kita alami. Perasaan senang, jatuh cinta, sedih, galau, kecewa ,dll. Semua perasaan ini biasanya harus dipenuhi atau dihindari. Perasaan jatuh cinta, misalnya, adalah perasaan yang menyenangkan, namun bisa begitu menyakitkan jika bertepuk sebelah tangan. Hehehe. 

Lalu apa yang salah dengan perasaan? Masalahnya, perasaan bukanlah dewa yang harus disembah dan dipenuhi permintaannya. Sama seperti hal lain seperti uang, materi, akal,  dll., perasaan pun bisa menjadi berhala bagi kehidupan. 

Terlalu meninggikan perasaan akan mengakibatkan permasalahan dalam hidup. Orang menjadi enggan menegur sesamanya hanya untuk menjaga perasaan sesamanya itu. Orang menjadi terlalu sensitif bila dikritik atau diberi teguran, meskipun teguran itu bermanfaat. Orang yang jatuh cinta akan sulit menggunakan akalnya dan sulit menerima saran dari orang lain bila dinasihati. Masih banyak lagi contoh lain sehari-hari yang berkaitan dengan perasaan. 

Terkadang masalah yang terjadi di sekitar kita sesungguhnya hanyalah masalah sepele yang dapat diselesaikan secara cepat. Namun, jika sudah menyangkut perasaan, masalah tersebut menjadi besar dan berlarut-larut. 

Lebih jauh lagi, barangkali tindakan curang, korupsi, dan hal lain yang merusak, berawal dari perasaan tidak enak. Misalnya, seorang pejabat tidak mau berlaku curang dalam pengurusan surat izin tertentu, tetapi karena yang minta adalah saudaranya dan oleh karena tidak mau mengecewakan saudaranya itu (atau merasa tidak enak), maka ia pun melakukan kecurangan. Padahal (anggaplah begitu) saudaranya tersebut tidak memenuhi syarat. 

Merasa tidak enak atau sulit berkata "tidak", apalagi yang minta saudara, sahabat, atau orang terdekat, merupakan permasalahan bagi beberapa orang. Dan, menurutku, itu terjadi karena kita mendewakan perasaan ketimbang kebenaran atau kejujuran. 

Bagaimana agar kita terlepas dari "mendewakan" perasaan? 

Aku sangat suka kalimat ini: Ketika Allah berada di tempat yang tepat dalam hati kita, maka segala sesuatu akan menempati tempat yang tepat di dalam hidup kita. Demikian pula dengan perasaan. Perasaan akan berada pada tempat yang seharusnya, ketika Allah menjadi yang terutama di hati kita. 

Artinya, kita memang memerlukan perasaan. Perasaan itu sesuatu yang penting dalam hidup kita. Kita memerlukan perasaan ketika berempati kepada orang lain, turut berduka bagi yang berduka dan bergembira bagi yang bersuka, dan sebagainya. Bayangkan jika kita tidak memiliki perasaan! Tetapi, perasaan bukanlah yang terutama. Allah-lah yang terutama. 

Jika Allah yang terutama, maka kita tidak perlu enggan menegur kesalahan sesama kita dan ketika menegur, kita melakukan dengan penuh kasih. Jika Allah yang terutama, kita tidak perlu takut berkata "tidak", apalagi bila itu ajakan berbuat jahat. Jika Allah yang terutama, maka tujuan hidup kita bukan hanya untuk memenuhi perasaan kita dengan hal-hal yang kita ingini. 

Oleh karena itu, bersyukurlah karena kita memiliki perasaan dan pergunakan perasaan yang ada untuk kemuliaan Tuhan. 

Sabtu, 20 Juni 2020

Kota dan Desa: Sebuah Catatan


Tadi aku ke Gramedia SMS, summarecon mall serpong, untuk beli buku Emil Zola. Buku itu sdh lama kuincar dan baru sekarang mampu beli. Ini pertama kali aku ke SMS. Suasananya sangat beda dengan cibinong city mall (CCM) yang dulu biasa kukunjungi, seringnya ke toko bukunya. Di SMS, pengunjungnya rata-rata berkulit putih bermata sipit dan/atau masyarakat lain kelas atas. Juga pengunjung gramedianya.

Serpong memang terkenal sebagai wilayah elite. Tapi... tapi... ternyata warga biasa dan warga miskin juga eksis. Hanya saja mereka tersingkirkan dan terjepit di antara perumahan elite. Seolah-olah wilayah ini bukan untuk mereka. Tidak pantas untuk mereka. Bahkan tempat umum seperti mall pun didesain bukan untuk mereka. Sehingga hanya kalangan tertentu saja yang menikmati. Kecuali driver grab yang terlihat hilir-mudik dengan wajah khas pribumi dengan pesanan grabfood di tangan hehehe

Btw, aku bukan kalangan elite. Hanya warga biasa yang hobi baca buku. Masuk SMS pun rasanya aku tidak layak hahaha. Bodo amat. Yang penting dapat bukunya hahaha (8-9-2019)

Cerita di atas adalah sebuah catatan kecil tentang salah satu pengalamanku saat membeli buku. Biasanya aku mencatat hal-hal tertentu dalam smartfonku. Mirip catatan harian. Sesuai dengan tanggal yang tertera, itu terjadi bulan September 2019. Dua bulan sebelum aku akhirnya memutuskan pulang kampung.

Sekarang aku di kampung. Desa tercinta. Suasananya berbeda. Bahkan tidak ada toko buku semacam gramedia di sini. Untungnya, hal itu bukan sebuah masalah. Teknologi telah membuka akses seluas-luasnya termasuk belanja buku. Bedanya, kita tidak bisa menikmati suasana dan aroma toko buku dengan alunan musik pelan yang membuat kita betah berlama-lama di sana. Dengan aplikasi, yang cukup dilakukan di kamar sendiri, kita bisa mencari hal yang kita butuhkan atau inginkan melalui smartfon. Kemudian melakukan pemesanan dan pembayaran dengan mudah secara daring. Dan…tunggulah sampai barang itu sampai di tangan anda.

Sejenak aku membayangkan ketika aku berkunjung ke SMS atau CCM, lalu membandingkan dengan keberadaanku saat ini. Sungguh jauh.

Di sini aku biasa berjalan kaki dari rumah menuju kebun. Jalan raya di depan rumah memang dipenuhi kendaraan lalu-lalang, namun selalu ada waktu jalan tersebut terlihat lengang yang membuat kita dengan mudah menyeberang jalan. Lagipula jalannya tidak begitu lebar. Hanya dua jalur. Ini sungguh berbeda dengan kota besar.

Tentang perbedaan kota dan desa aku punya catatan tersendiri dan akan kutampilkan langsung di bawah ini. Catatan ini kutulis pada tanggal 01 Februari 2020 dengan judul ‘Kota dan desa’. Silakan didengarkan ya (eh dibaca).

Kota dan desa sama-sama merupakan ruang dan waktu dimana manusia berada atau berkumpul. Namun, keduanya terbentuk secara berbeda. Sehingga orang memandang keduanya pun berbeda.

Aku punya pengalaman tinggal di kota maupun di desa. Hingga lulus SMA aku tinggal di desa. Kemudian merantau ke kota untuk kuliah dan meneruskan hidup.

Lima tahun aku tinggal di Cawang, Jakarta Timur. Selama itu aku melihat perubahan yang cepat di ibukota. Salah satunya adalah transportasi bus Patas ke bus transjakarta dengan jalur dan halte khusus. Contoh lain adalah keberadaan mall yang bertambah.

Dua tahun aku bolak-balik Cawang-Cibinong karena alasan pekerjaan. Selama perjalanan pulang-pergi kerja, kulihat segala sesuatunya berubah cepat.

Enam tahun aku tinggal di Cibinong. Pada akhirnya aku pindah ke Cibinong karena alasan lokasi kerja dan kelelahan bolak-balik Cawang-Cibinong.

Di Cibinong banyak yang berubah sejak aku datang hingga akhirnya aku pindah nantinya. Dulu  ada Carrefour di perempatan pasar Cibinong yang kemudian tutup karena kalah saing dengan mall besar yang baru dibangun. Mall itu adalah Cibinong City Mall (CCM).

Waktu pindah ke Cibinong, CCM belum ada. Keberadaan CCM kemudian melumpuhkan pusat perbelanjaan lain semisal Carrefour, Cibinong Square, Robinson, ITC, dan Ramayana. Setidaknya itu yang kuamati.

Itu hanya secuil perubahan yang bisa kutuliskan di sini.

Terakhir, lima bulan aku tinggal di Serpong. Jangan salah, dengan waktu sesingkat itu pun kulihat banyak perubahan terjadi.

Sekarang aku kembali ke desa setelah kurang-lebih empat belas tahun merantau. Apa yang kulihat? Perubahan sangat sedikit. Paling mudah diamati adalah seputar penambahan jumlah penduduk atau pendatang baru. Dan, pembukaan hutan untuk pembangunan jalan alternatif. Itu pun hanya jalan kecil dengan dua lajur.

Soal kehidupan warga, menurutku, tidak jauh berbeda dengan saat kutinggalkan dulu. Pekerjaan sehari-hari tetap sama dengan penghasilan pas-pasan. Bahkan ada yang berkekurangan. Sama seperti dulu!

Ketimpangan sangat nyata antara kota dan desa. Aku belajar satu hal: sesulit-sulitnya hidup di kota, kita masih menikmati fasilitas umum, transportasi murah, tempat rekreasi, atau pusat perbelanjaan. Meskipun sekadar jalan-jalan.

Di desa, apa yang bisa kau nikmati? Udara sejuk dan pemandangan indah? Belum tentu ada, belum tentu seindah yang dibayangkan. Yang ada adalah kau melihat setiap hari orang berjerih lelah untuk kebutuhan sehari-hari yang belum tentu terpenuhi.

Bagaimana dengan lowongan kerja? Di desa, tidak seperti di kota, tidak banyak pilihan pekerjaan. Pekerjaan yang diidam-idamkan semua orang adalah jadi PNS/ASN. Bertani atau berkebun? Belum tentu menjanjikan sebab masih banyak menggunakan cara-cara tradisional (ini membuat banyak orang memilih hidup di kota). Teknologi pertanian belum dikembangkan secara optimal.

Sekarang aku merasa asing di desa. Ingin mengembangkan sesuatu jadi terasa sulit. Segala sesuatunya harus dimulai dari nol dengan dukungan minimal. Dukungan yang dimaksud, semisal: transportasi, listrik, akses internet, komunitas yang sevisi, dll. Listrik sering padam, internet kurang lancar, transportasi umum mahal, orang yang sevisi sulit didapat. Tingkat pendidikan atau pengetahuan masyarakat rata-rata masih rendah, masih percaya takhayul, malas-malasan di warung, dlsb.

Begitulah. Di sini listrik sering padam. Dalam tempo seminggu selalu ada pemadaman. Kadang seharian penuh; dari pagi sampai sore.  Memang situasi di sini tidak bisa dibilang sangat tradisional karena setiap rumah teraliri listrik, warga memiliki kendaraan motor sendiri, punya smarfon juga, bahkan gaya hidup beberapa warga lebih mirip orang kota ketimbang orang desa (atau berusaha meniru gaya hidup orang kota). Tetapi aku bisa mengatakan bahwa situasi di sini adalah situasi ‘pertengahan’.

Masalahnya adalah di sini terdapat semacam ‘lompatan gaya hidup’. Dari yang sangat tradisional langsung ke yang modern. Bukan berarti warga di desa tidak boleh meniru kehidupan kota atau tidak layak. Bukan. Tetapi kehidupan kota didukung oleh berbagai infrastruktur, lapangan kerja, akses dan fasilitas. Sedangkan di desa, dengan segala keterbatasannya, rasanya sulit. Untuk memenuhi kebutuhan makan-minum sehari-hari saja sangat sulit, apalagi ditambah kebutuhan pulsa dan kuota internet yang tergolong mahal.

Kalau dipikirkan dari sisi lain, mungkin saja ini terjadi karena selama ini pembangunan bangsa ini hanya terpusatkan di kota-kota besar saja. Sehingga kehidupan kota menjadi standar hidup layak bagi semua orang. Pembangunan dari desa pun yang merupakan salah satu program pemerintah saat ini terlihat tidak memberikan perubahan yang signifikan. Ini tugas pemerintah untuk mengoreksi dan memperbaiki program kerjanya.

Aku sebenarnya mengharapkan sebuah kondisi dimana warga di desa bisa menikmati ‘kemudahan’ seperti yang dinikmati oleh warga di kota besar. Seperti fasilitas umum yang memadai, klinik atau pusat kesehatan yang siap melayani masyarakat secara merata, pasar tradisional yang bersih dan nyaman, transportasi umum yang cukup, fasilitas listrik dan jaringan internet yang lancar.

Ah…keinginanku terlalu banyak. Aku sudahi dulu sampai di sini. Tiba-tiba aku merasakan suatu kesadaran mendatangiku. Tiba-tiba aku merasakan aku ‘berada’ di sini; di sebuah desa kecil. Mungkin ini yang disebut kesadaran eksistensial? Entahlah.

(Aku barusan menulis apa ya?!) 

Perbedaan Masyarakat di Kota dan di Desa | mybektiblog
sumber foto: mybektiblog.wordpress.com

Selasa, 31 Desember 2019

Catatan Akhir Tahun 2019


Kita semua sedang dalam perjalanan; perjalanan hidup kita. Masing-masing kita memiliki kisah perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang menjalani hidup dengan baik ada pula yang buruk, atau, silih berganti antara keduanya.

Semua orang tentu mendambakan hidup yang sukses dalam perjalanan hidupnya. Memiliki kekayaan finansial, karier yang bagus, relasi yang baik, kesehatan, dan keluarga bahagia Bagi sebagian orang mungkin semua itu bisa tercapai. Tetapi bagi sebagian besar orang, hal tersebut hanya bisa jadi impian saja.

Seringkali dalam perjalanan hidup ini, manusia diperhadapkan dengan berbagai masalah. Masalah bisa berupa apa saja dan bisa terjadi kapan pun tanpa bisa diduga sebelumnya. Masalah-masalah tersebut bisa jadi masalah finansial, kesehatan, relasi, dan sebagainya.

Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Seperti yang disebut sebelumnya, manusia mendambakan hidup sukses. Itulah harapan. Semua orang memiliki harapan-harapan tertentu dalam hati. Hanya saja, tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang (akan) terjadi.

Ketika masalah datang, kita akan bereaksi. Reaksi setiap orang berbeda-beda. Bergantung kedewasaan masing-masing. Apa itu kedewasaan?

Kedewasaan yang dimaksud di sini adalah kemampuan untuk mempertahankan ketenangan dan karakter dalam masa-masa sulit*. Masa-masa sulit yang dimaksud adalah masa ketika kita menghadapi masalah.

Coba kita pikirkan sejenak bagaimana reaksi kita saat mengalami masa-masa sulit? Apakah kita panik, cemas, depresi, dan perasaan lainnya?

Saya mengakui bahwa saya sendiri, ketika mengalami masalah, saya tidak bisa mempertahankan ketenangan – terutama ketenangan hati. Saya terus mempertanyakan mengapa semua ini bisa terjadi terhadap saya. Awalnya saya tidak menyadari hal ini. Saya berpikir saya baik-baik saja.

Kemudian, setelah mendapatkan waktu untuk merenung, saya pun menyadari bahwa saya tidak tenang. Hati saya dipenuhi kekhawatiran yang, sebenarnya, tidak perlu. Pada perenungan tersebut, yang juga dibarengi oleh buku-buku bacaan yang cukup membantu, saya belajar satu hal tentang ketenangan.

Pelajaran tentang ketenangan dapat kita peroleh dari seorang Pribadi yang sempuna yaitu Yesus Kristus. Ketika Tuhan Yesus ditangkap, diolok-olok, dianiaya, dan disalibkan, Dia berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34).” Ini sungguh ketenangan yang tidak mungkin dimiliki manusia mana pun! Rahasia ketenangan tersebut berasal dari kedekatan Yesus dengan Bapa di surga.

Oleh karena itu, untuk mendapatkan ketenangan ketika berada di masa-masa sulit, maka dekatkanlah diri kepada Allah. Percayalah, Allah peduli!

Salah satu keuntungan untuk menjadi tenang ketika masalah datang adalah kita memiliki kesempatan mendengarkan suara Tuhan; Firman yang hidup. Firman-Nya sangat menghibur dan menyelamatkan di masa-masa sulit.

Ketika kita berada dalam masalah, kita sulit sekali mengetahui kehendak Tuhan bila tidak ada ketenangan. Kita bisa terjerumus ke dalam dosa; menyalahkan Allah. Padahal sesungguhnya, Allah memiliki hikmat yang melampaui akal pikiran kita. Hikmat-Nya tidak terselidiki oleh kita (Roma 11:33). Oleh sebab itu, tidak ada gunanya untuk berusaha menggunakan daya nalar kita untuk memahami kehendak-Nya, apalagi menyalahkan Allah atas masalah yang kita hadapi. Kita perlu menenangkan diri di hadapan Tuhan untuk mendengarkan maksud-maksud-Nya; menantikan Dia memulihkan keadaan kita.

Berikutnya, coba kita pikirkan lagi, apa yang berubah dalam diri kita ketika kita menghadapi masalah? Salah satu ciri kedewasaan, selain ketenangan, adalah mempertahankan karakter kita. Ada orang yang berubah drastis ketika menghadapi masalah, misalnya, dari yang sebelumnya ceria, tiba-tiba menjadi pemurung. Orang yang seperti ini tidaklah dewasa.

Ketika orang yang memiliki kedewasaan dilanda masalah, maka karakter yang baik dalam dirinya malah semakin menguat, bukan sebaliknya. Atau, setidaknya ia mampu mempertahankan karakter baik yang sudah ada.

Apakah Anda adalah seorang yang mengalami perubahan karakter ketika menghadapi masalah? Apakah itu merupakan perubahan ke arah yang baik atau yang buruk?

Saya sendiri sedang berusaha untuk menjadi dewasa dalam menjalani hidup ini. Tentu dalam pertolongan Tuhan.

Semoga di tahun mendatang, kita semakin memupuk kedewasaan dalam menghadapi masalah hidup agar perjalanan yang sedang kita lakukan ini bisa bermakna dan bermanfaat bagi sesama. Dan lebih lagi, hidup kita memuliakan Tuhan. (31/12/2019)

*Skeen, Miller, Hill: The Circle BluePrint

Hasil gambar untuk travel
Sumber gambar: Independent Travel Cats

Kamis, 19 Desember 2019

Reputasi


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berhadapan dengan pandangan orang lain terhadap diri kita. Ketika kita berhadapan dengan orang lain, kita akan menampilkan diri kita yang terbaik. Dan selalu waspada terhadap pendapat orang tentang kita. Karena itu, kita akan dengan cermat mendengarkan saat orang tersebut menyinggung mengenai diri kita.

Demikian pula sebaliknya. Kita berusaha memberikan penilaian yang baik kepada orang yang berdiri di hadapan kita. Kita menjaga agar orang di hadapan kita itu tetap merasa bahagia saat berbicara dengan kita.

Namun hubungan kita dengan orang lain tidak sesederhana cerita di atas. Kita setiap hari berhadapan dengan banyak orang lain. Pertama-tama keluarga sendiri, tetangga, sesama warga setempat, hingga hubungan yang lebih luas. Lebih lagi saat ini pertemanan tidak saja di dunia nyata, tetapi merambah juga di dunia maya. Malahan pertemanan di dunia maya bisa jauh lebih banyak dari kenyataan.

Dari hubungan kita dengan sesama yang sangat kompleks itu muncullah di dalam diri kita untuk selalu menampilkan diri yang terbaik kita. Keinginan menampilkan diri kita yang terbaik adalah dorongan yang sangat dalam. Kita selalu memperhatikan bagaimana orang menilai diri kita. Dari situlah muncul istilah reputasi.

Secara umum, orang mengartikan reputasi sebagai nama baik. Nama baik lebih berharga daripada emas dan permata, kata orang bijaksana. Itulah sebabnya orang senang memiliki nama baik.

Reputasi adalah sesuatu yang menyebabkan kita memperoleh nama baik. Dari pengertian ini bisa dilihat dua hal: pertama, kata ‘sesuatu’. Sesuatu di sini bisa bermakna gelar, jabatan, penilaian orang lain, termasuk juga penilaian diri sendiri. Gelar bisa berarti gelar kehormatan atau pun gelar akademik. Sedangkan jabatan berarti posisi kita di dalam suatu organisasi, komunitas, atau pemerintahan.

Kedua, reputasi adalah sesuatu yang kita usahakan. Ia tidak datang dengan sendirinya. Orang-orang hebat yang terkenal yang telah memiliki reputasi adalah orang-orang yang telah melalui perjuangan hidup yang tidak mudah. Mereka telah melewati setiap tantangan demi tantangan. Dengan kata lain, orang yang tidak berusaha bisa dikatakan tidak layak mendapatkan reputasi. Tidak ada yang patut disematkan kepada orang malas.

Hanya saja tragisnya, pada zaman ini ada banyak orang yang menempuh jalan pintas. Malas bekerja, malas berusaha, namun menginginkan reputasi. Itu sebabnya terdapat orang yang suka membeli ijazah, menyuap oknum agar mendapatkan jabatan, dan sebagainya.

Berikutnya, ada yang menarik soal gelar dan jabatan. Biasanya gelar merupakan sesuatu yang melekat (atribut) dalam diri kita yang tidak bisa dilepas dengan begitu saja, kecuali dalam kasus tertentu. Misalnya saja gelar kesarjanaan yang menempel pada nama kita. Sedangkan jabatan adalah sesuatu yang sifatnya sementara dan suatu saat bisa digantikan oleh orang lain.

Orang-orang yang terlalu membanggakan (menyombongkan) jabatannya mungkin tidak memahami bahwa posisinya tersebut bisa digantikan orang lain. Artinya, dia bukanlah satu-satunya yang layak pada posisi tersebut. Orang lain bisa saja menggantikannya atau merebutnya dengan cara-cara tertentu.

Gelar, meskipun tampaknya melekat pada kita, pun tidak perlu terlalu dibanggakan karena orang lain pun sudah banyak yang memiliki gelar, bahkan bisa jadi gelar mereka lebih tinggi dan lebih banyak dari kita. Intinya adalah baik gelar atau jabatan – meskipun membuat kita memperoleh nama baik – itu bukanlah hal yang patut terlalu dibanggakan apalagi disombongkan. Rahasianya adalah rendah hati.

Selanjutnya saya akan bahas adalah dua hal (sesuatu) yang menyebabkan kita memperoleh nama baik: penilaian orang lain (eksternal) dan penilaian diri sendiri (internal).

Penilaian atau pendapat orang lain. Pilihan mana yang lebih baik: menjadi orang yang paling cerdas, tetapi dianggap orang paling bodoh? Atau, menjadi orang yang paling bodoh, tetapi dianggap orang paling cerdas?

Apakah Anda memilih menjadi orang cerdas walaupun dianggap orang paling bodoh? Apakah Anda memilih sebaliknya? Begitulah cara kerja dari ‘pendapat orang lain’. Kita terjebak pada anggapan orang lain terhadap kita. Tanpa sadar kita sering memilih menjadi yang kedua; lebih senang dianggap sebagai orang paling cerdas padahal tidak, lebih senang dianggap orang kaya padahal miskin, lebih senang dianggap orang paling baik hati padahal perilaku sehari-hari menunjukkan sebaliknya.

Itu adalah jebakan reputasi. Kita cenderung merasa cemas mengenai bagaimana orang lain memandang kita. Timbullah yang dinamakan gengsi atau perasaan malu dalam pikiran kita.

Sebenarnya, pendapat orang lain tidak lebih penting daripada yang kita pikirkan. Sekalipun orang lain memuji kita setinggi langit (atau meyeret nama kita ke dalam lumpur), dampaknya terhadap hidup kita lebih kecil ketimbang gengsi atau perasaan malu yang kita pikirkan. Dengan kata lain, yang lebih membuat kita cemas dan merasa hancur adalah gengsi kita sendiri – bukan pendapat orang lain.

Cara mengatasi perasaan malu tersebut adalah, pertama, jangan terlalu berfokus pada reputasi. Reputasi akan datang dengan sendirinya bila kita fokus melakukan hal-hal yang bermanfaat dan terus berjuang meningkatkan kualitas diri kita.

Ciri-ciri orang yang fokus pada reputasi, sederhananya, dapat kita lihat dari media sosial. Perhatikan seberapa kita menginginkan orang lain memberi ‘like’ atau komentar pada postingan kita. Terlebih bila postingan kita mengenai kesuksesan/pencapaian kita. Jika kita terlalu fokus pada reputasi, maka kita akan kecewa bila hanya sedikit yang memberi respons.

Ciri lain yang mungkin dapat kita amati (ini bagi diri sendiri) adalah seberapa besar kita menginginkan ulasan/pendapat positif/pujian orang lain terhadap hasil kerja kita. Kita menjadikan pujian sebagai ukuran kesuksesan (ingat tentang gengsi di atas!).  Sedangkan sebaliknya, kita segera merasa stress dan resah ketika kritikan datang. Ini bisa mengganggu tidur hahaha. (orang yang tidak terlalu fokus pada reputasi bisa tertidur lelap di malam hari).

Cara kedua adalah pusatkan perhatian pada penilaian internal. Puaslah dengan diri sendiri. Hiduplah dengan cara yang membuat Anda kuat memandang diri Anda sendiri di depan cermin. Bukan sebaliknya: ketika Anda berdiri di depan cermin, Anda malah sibuk memikirkan bagaimana orang lain memandang Anda. Saya kira itu salah satu jenis kebodohan.

Cara ketiga adalah tetap rendah hati. Kerendahan hati adalah kualitas atau keadaan di mana Anda tidak berpikir bahwa Anda lebih baik daripada orang lain. Sedikit saja kita berpikir bahwa kita lebih baik dari orang lain, kita bukanlah orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati tidak menyombongkan kesuksesannya, jabatannya, atau gelarnya. Justru sebaliknya, ia merahasiakannya. Dan menurut saya, ini adalah reputasi terbaik. 


Hasil gambar untuk orang berdasi
sumber: google