jurang antara kita
bukan lagi takterseberangi
melainkan terkutuk.
terberkatilah si kaya. hiduplah ia selamanya.
terkutuklah si miskin. matilah ia cepat.
mendekatlah pada si kaya
jauhilah si miskin.
Senin, 07 Oktober 2013
rinduku hamil tua
rinduku hamil tua
berharap kita berdua
hidup bersama sampai tua.
rinduku hamil tua
menunggu kau yang lupa
pulang ke rumah.
rinduku hamil tua
berharap tak keguguran
tapi kau belum pulang juga,
kekasih.
berharap kita berdua
hidup bersama sampai tua.
rinduku hamil tua
menunggu kau yang lupa
pulang ke rumah.
rinduku hamil tua
berharap tak keguguran
tapi kau belum pulang juga,
kekasih.
Kata Diam
"Keluarkan aku dari sini, manusia
bodoh," kata Kata dalam dadaku.
Dadaku menjadi riuh. Kata menendang-nendang
dinding dadaku
mencari celah untuk keluar.
Tenggorokanku tersumbat.
Sabtu, 05 Oktober 2013
pesan singkatmu
singkat saja pesanmu,
"pelan-pelanlah melupa,
jangan tunggu aku."
seketika aku
tertimpa reruntuhan langit
cuma rakyat biasa
wajah mereka terlihat di tv warung tetangga
sewaktu kami berusaha membagi lembaran seribu
dua ribu
untuk kebutuhan dapur
tersungging senyuman di bibir mereka
berkemeja berdasi
sementara yang empunya warung mengumpat
sebab utang kemarin belum kami bayar.
sumur kami masih kering, tuan dan nyonya
dan kalian berdiskusi tentang pembangunan.
apa yang kalian bangun
adalah harga diri kalian di atas derita kami.
kalau kami suatu hari menjadi kaya
artinya kalian tak punya fondasi lagi
membangun harga diri?
mereka terlihat cerdas di tv
siapa kami? cuma rakyat biasa.
Jumat, 04 Oktober 2013
Selasa, 01 Oktober 2013
Suatu Sore
Sore. Aku duduk di beranda rumah.
Ini bukan rumahku, melainkan hanya rumah kontrakan. Tepatnya aku duduk di
lantai dua. Menghadap barat daya. Sore itu tiba-tiba aku merasa langit menyatu
dengan hatiku. Warna langit yang biru dengan awan putih terlihat jernih. Aku
tenggelam dalam ketakjubanku memandangi langit sore yang tidak lama kemudian
berubah warna menjadi jingga. Menganggumkan.
Langit sudah mulai gelap. Temaram. Aku ingat aku belum
mandi sore ini. Aku bergegas mandi dan seketika, saat air mengguyur tubuhku,
aku merasakan aku hidup di dunia yang nyata -yang tidak segan membunuh semua
impian manusia.
Aku pun mulai bercerita kepada
langit. Kali ini aku menceritakan kepadanya tentang cita-citaku. Dan rasanya langit
sore tidak keberatan mendengarkanku. Awalnya aku menceritakan tentang suasana
hatiku yang sedang gelisah saat itu. Gelisah biasa terjadi kalau ada hal yang
belum tercapai. Hatiku sedang mendambakan seorang gadis, namun gadis itu
berjalan dengan pria lain. Padahal aku sangat mengharapkannya, bahkan hingga
detik ini. Mulai dari situ, seperti aliran sungai, aku terus berbicara kepada
langit, dari hati ke hati. Kuusahakan suaraku tak terdengar oleh orang lain
yang kamarnya dekat dengan tempat dimana aku duduk. Ya, benar, aku sedang
berbicara dalam hati kepada langit.
Kira-kira seperti ini yang
kusampaikan, seperti yang sudah kukatakan, yaitu cita-citaku. Aku bercita-cita
suatu hari menjadi seorang guru yang tidak hanya mengajar di sekolah, tapi juga
memiliki sebuah tempat membaca -rumah baca. Di rumah baca, seperti namanya,
akan kuajak setiap muridku untuk belajar. Sepulang sekolah mereka boleh datang.
Entah mengerjakan PR, berdiskusi, entah hanya untuk membaca komik atau novel,
yang penting mereka membaca dan belajar daripada pulang ke rumah sementara
orang tua mereka masih di kantor, bekerja. Tidak hanya murid-muridku, kalau ada
murid dari sekolah lain aku akan dengan senang hati menerimanya. Alangkah
mulianya. Masih dalam benak saja sudah begini, apalagi kalau benar-benar
tercapai. Hahaha. Aku pun menertawakan diriku sendiri.
Cita-citaku yang lain, mungkin ini
lebih kepada sebuah harapan, aku berharap bisa hidup bersama gadis yang kusukai
saat ini. inilah awal sebenarnya aku bercerita kepada langit. Entah bagaimana
aku bisa menyukai gadis itu. Padahal di saat seperti ini pun, lama tak bertemu
dengannya, aku masih mengingat dia. Sungguh perasaan yang aneh. Harusnya
perasaan ini sudah lenyap sedari dulu. Apalagi tak pernah ketemu lagi. Kurasa
ada yang salah dengan hatiku. Atau jangan-jangan dia memang...( Ah aku tidak
mau meneruskan kalimatku). Aku terlalu takut bila itu tidak terjadi.
Langganan:
Postingan (Atom)