Hari ini hari Minggu. Tapi aku tidak merasakan bahwa hari ini Minggu. Pelatihan seharian membuat hariku lewat begitu saja tanpa sadar hari itu hari apa. Tidak hanya itu, aku juga tidak menikmati pelatihan hari ini. Misalnya saat membahas tentang cara penilaian pada kurikulum 2013. Banyak sekali yang harus dipelajari karena memang beda dengan cara penilaian sebelumnya. Satu lagi, saat membahas cara membuat rapor. Ini juga berbeda dengan format rapor sebelumnya. Yang tambah bikin bingung adalah ternyata instrukturnya juga tidak terlalu paham tentang penilaian. Huh. Dan lagi ada beberapa peserta lain yang mendebatkan hal-hal yang tidak penting seperti: kata ini tidak tepat atau kata itu kurang bagus. Sekali diganti ada saja yang membatah ganti kata lain. Huh.
Kesimpulan hari mengenai pelatihan: aku tidak mendapat hal yang membuatku benar-benar paham baik mengenai cara penilaian dan pembuatan rapor. Sepertinya harus kupelajari ulang sendiri. Hal lain yang bikin enggak nyaman, peserta di kelas kami kebanyakan ibu-ibu. Satu ngomong semua ngomong. Dan enggak ada setopnya. Lalu sebentar-sebentar menanyakan pulang jam berapa, ingin cepat-cepat pulang padahal waktu masih lama dan tugas masih banyak.
Jangan ditiru ya. Maksudku jangan tiru perbuatanku hari ini yang tidak menikmati pelatihan. Maklumlah sudah hari ketiga soalnya. Agak jenuh.hehehe.
Oh ya, mengenai kurikulum 2013 ini, silabusnya belum ada, bukunya juga. Dan seperti tugas yang kami kerjakan di kelompok yaitu tentang membuat diagram (batang, garis, lingkaran) dengan komputer, bagaimana dengan sekolah yang tidak punya komputer? Beberapa topik lain juga menggunakan media yang tidak semua sekolah punya. Seperti LCD, komputer, alat peraga, dll. Mengapa ya pemerintah tidak lebih dulu membangun gedung dan melengkapi fasilitas sekolah-sekolah terutama di daerah kecil? Malahan bikin kurikulum baru yang belum tentu bisa diterapkan di semua sekolah. Kalau sekolah 'elit' di kota sih pasti bisa. Seperti sekolah tempat pelatihan kami yang setiap kelas dilengkapi komputer, LCD, jaringan internet, meja-kursi yang nyaman dan AC. Nyaman pokoknya. Bayangkan dengan sekolah di pelosok-pelosok negeri, yang masih menggunakan kapur, yang gedungnya mau roboh, yang muridnya masih miskin, dll.
Ah, namanya juga pemerintah. Apalagi kalau sudah ada unsur politiknya, demi mengharumkan nama sendiri, guru kecil seperti aku apa artinya. Instruktur di kelas kami juga mengakui kekurangan-kekurangan kurikulum 2013 ini. Tanggapannya selalu: kita laksanakan saja dulu. Okelah kalau begitu.hahaha.
Minggu, 22 Juni 2014
Sabtu, 21 Juni 2014
Yang penting cerita (2)
Pelatihan hari kedua sudah selesai. Masih tiga hari lagi. Hari ini dari pagi sampai siang, di kelompokku, hanya aku yang hadir. Jadi, beberapa tugas harus kukerjakan sendiri. Baru setelah jam 1 siang, kedua teman datang.
Apa yang dikerjakan hari ini? Yang paling kuingat adalah waktu berjoget bersama untuk mencairkan suasana, hehehe. Aku sulit sekali mengikuti gerakan-gerakan dari video apalagi kalau gerakannya cepat. Ternyata badanku kaku banget.
Hari ini latihan membuat rancangan penerapan pendekatan saintifik dan model pembelajaran berbasis proyek dan model-model lain. Lumayan dapat banyak ilmu dan mendiskusikan banyak hal. Meski pun melelahkan.
Ada satu hal yang ingin kuceritakan mengenai pembagian rapor kemarin. Harusnya cerita kemarin, tapi lupa. Sewaktu penyerahan rapor siswa ke orang tua, ada banyak komentar. Rata-rata orang tua menanyakan nilai anaknya. Ada yang senang. Ada yang kurang puas. Ada yang biasa-biasa saja. Tapi bagiku hal yang paling berkesan adalah ketika ada orang tua yang pertama-tama menanyakan kepribadian/sikap anaknya selama belajar, bukannya nilai. Dan orang tua tersebut bangga ketika mendengar anaknya rajin belajar, disiplin, dan bertanggung jawab. Dari pengalamanku sebagai wali kelas, hanya sedikit sekali orang tua murid yang seperti ini.
Ada juga orang tua yang keberatan mengenai fasilitas belajar di sekolah yang pas-pasan. Kalau sudah begini, aku tidak bisa apa-apa. Aku kan bukan pemilik yayasannya,hehehe. Padahal pernah suatu kali murid-murid dimintai menuliskan keluhan-keluhan mengenai fasilitas belajar di sekolah. Tetapi sepertinya belum ada respon dari yayasan. Atau mungkin saja yayasan sedang memikirkannya, hanya saja masih fokus dalam hal lain seperti: memikirkan salari guru/pegawai, peningkatan jumlah murid baru, dll. Entahlah aku tidak begitu tahu. Memang tidak tahu.
Ada lagi yang membuatku heran. Ternyata ada juga orang tua yang tidak mengambil rapor anaknya secara langsung melainkan menyuruh perwakilan. Entah saudaranya atau supir pribadinya. Kurasa penting juga memberi pengertian kepada orang tua bahwa anak akan sangat senang kalau orang tuanya yang mengambil rapor. Anak akan senang kalau diperhatikan. Dan mengambil rapor bisa jadi salah satu bukti bahwa orang tua menaruh perhatian pada si anak khususnya pada hasil belajarnya, walaupun sedang sibuk bekerja.
Sudah dulu ceritanya. Ngomong-ngomong, gimana perkembangan piala dunia?hehe
Apa yang dikerjakan hari ini? Yang paling kuingat adalah waktu berjoget bersama untuk mencairkan suasana, hehehe. Aku sulit sekali mengikuti gerakan-gerakan dari video apalagi kalau gerakannya cepat. Ternyata badanku kaku banget.
Hari ini latihan membuat rancangan penerapan pendekatan saintifik dan model pembelajaran berbasis proyek dan model-model lain. Lumayan dapat banyak ilmu dan mendiskusikan banyak hal. Meski pun melelahkan.
Ada satu hal yang ingin kuceritakan mengenai pembagian rapor kemarin. Harusnya cerita kemarin, tapi lupa. Sewaktu penyerahan rapor siswa ke orang tua, ada banyak komentar. Rata-rata orang tua menanyakan nilai anaknya. Ada yang senang. Ada yang kurang puas. Ada yang biasa-biasa saja. Tapi bagiku hal yang paling berkesan adalah ketika ada orang tua yang pertama-tama menanyakan kepribadian/sikap anaknya selama belajar, bukannya nilai. Dan orang tua tersebut bangga ketika mendengar anaknya rajin belajar, disiplin, dan bertanggung jawab. Dari pengalamanku sebagai wali kelas, hanya sedikit sekali orang tua murid yang seperti ini.
Ada juga orang tua yang keberatan mengenai fasilitas belajar di sekolah yang pas-pasan. Kalau sudah begini, aku tidak bisa apa-apa. Aku kan bukan pemilik yayasannya,hehehe. Padahal pernah suatu kali murid-murid dimintai menuliskan keluhan-keluhan mengenai fasilitas belajar di sekolah. Tetapi sepertinya belum ada respon dari yayasan. Atau mungkin saja yayasan sedang memikirkannya, hanya saja masih fokus dalam hal lain seperti: memikirkan salari guru/pegawai, peningkatan jumlah murid baru, dll. Entahlah aku tidak begitu tahu. Memang tidak tahu.
Ada lagi yang membuatku heran. Ternyata ada juga orang tua yang tidak mengambil rapor anaknya secara langsung melainkan menyuruh perwakilan. Entah saudaranya atau supir pribadinya. Kurasa penting juga memberi pengertian kepada orang tua bahwa anak akan sangat senang kalau orang tuanya yang mengambil rapor. Anak akan senang kalau diperhatikan. Dan mengambil rapor bisa jadi salah satu bukti bahwa orang tua menaruh perhatian pada si anak khususnya pada hasil belajarnya, walaupun sedang sibuk bekerja.
Sudah dulu ceritanya. Ngomong-ngomong, gimana perkembangan piala dunia?hehe
Jumat, 20 Juni 2014
Yang penting cerita
Hari ini cukup melelahkan. Jam 6.30 pagi ke sekolah. 30 menit kemudian ke SMPN 1 untuk mendaftar pelatihan sekaligus minta izin tidak ikut pelatihan di sesi pembukaan karena harus balik ke sekolah untuk penyerahan rapor. Setelah satu jam kembali ke sekolah. Di ruangan beberapa orang tua sudah menunggu. Aku masih terengah-engah karena mengejar waktu.
Kira-kira jam setengah satu - siang - aku ke SMPN 1 untuk mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013. Sesampainya disuguhi soal pre-test. Ada 40 soal seputar matematika dan kurikulum dikerjakan dalam waktu 60 menit. Kondisiku belum makan siang dan mengantuk berat. Kukerjakan soal itu dengan susah payah, tapi lebih cepat dari waktu yang disediakan - kurang dari 60 menit. Selesai mengerjakan soal aku diberi modul lalu disuruh masuk ke ruang pelatihan. Aku masuk ruangan. Terlihat para guru dari berbagai sekolah sudah membentuk kelompok. Aku bingung. Lalu mendatangi instruktur untuk memilihkanku kelompok. Beberapa anggota kelompok mengangkat tangan, mengajakku masuk kelompok mereka. Aku direbutin, pikirku. Senangnya, hehehe. Akhirnya instruktur kami, membentuk satu kelompok baru. Ternyata sebelum aku masuk ada juga peserta yang baru datang alias menyusul sepertiku. kelompok kami ada tiga. Dua perempuan satu laki-laki, aku. Senangnya.
Di dalam kelompok kami bingung mau mengerjakan apa karena tidak ikut sesi pertama di pagi hari. Baru masuk, baru bentuk kelompok, langsung dapat dua tugas yang membingungkan. Tapi kami langsung kompak. Mengerjakan apa adanya. Mengikuti perintah-perintah dalam buku panduan atau modul.
Hari ini pelatihan selesai jam 5 sore. Sebelum pulang ada sedikit masalah. Semua peserta dibingungkan oleh nomor kelompok. Itu gara-gara kelompok baru kami. Akhirnya dibuat nomor kelompok lagi dan kelompok kami adalah kelompok 11.
Kira-kira jam setengah satu - siang - aku ke SMPN 1 untuk mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013. Sesampainya disuguhi soal pre-test. Ada 40 soal seputar matematika dan kurikulum dikerjakan dalam waktu 60 menit. Kondisiku belum makan siang dan mengantuk berat. Kukerjakan soal itu dengan susah payah, tapi lebih cepat dari waktu yang disediakan - kurang dari 60 menit. Selesai mengerjakan soal aku diberi modul lalu disuruh masuk ke ruang pelatihan. Aku masuk ruangan. Terlihat para guru dari berbagai sekolah sudah membentuk kelompok. Aku bingung. Lalu mendatangi instruktur untuk memilihkanku kelompok. Beberapa anggota kelompok mengangkat tangan, mengajakku masuk kelompok mereka. Aku direbutin, pikirku. Senangnya, hehehe. Akhirnya instruktur kami, membentuk satu kelompok baru. Ternyata sebelum aku masuk ada juga peserta yang baru datang alias menyusul sepertiku. kelompok kami ada tiga. Dua perempuan satu laki-laki, aku. Senangnya.
Di dalam kelompok kami bingung mau mengerjakan apa karena tidak ikut sesi pertama di pagi hari. Baru masuk, baru bentuk kelompok, langsung dapat dua tugas yang membingungkan. Tapi kami langsung kompak. Mengerjakan apa adanya. Mengikuti perintah-perintah dalam buku panduan atau modul.
Hari ini pelatihan selesai jam 5 sore. Sebelum pulang ada sedikit masalah. Semua peserta dibingungkan oleh nomor kelompok. Itu gara-gara kelompok baru kami. Akhirnya dibuat nomor kelompok lagi dan kelompok kami adalah kelompok 11.
Sabtu, 14 Juni 2014
Belajar dari Piala Dunia
Siapa yang terserang demam piala dunia? Mungkin Anda salah satunya. Iya! Anda yang sedang membaca ini.
Aku menyesal tidak menonton siaran dan laga pembukaan yang katanya meriah itu. Tapi untung ada siaran berita. Meski cuma sepenggal, aku bisa menyaksikannya. Apalagi tim favoritku menang di laga pembuka. Waktu Spanyol ditaklukan Belanda, aku nonton. Juga saat Itali menang atas Inggris.
Sebenarnya buatku piala dunia cuma hiburan. Oleh karenanya kalau ada teman mengajak taruhan, aku tidak ikutan. Aku menonton siaran langsung dari tv kalau memang lagi ingin menonton. Kalau tidak, ya lebih baik tidur.
Dari dua laga yang kusaksikan, salah satu yang menarik bagiku adalah sesaat sebelum pertandingan dimulai. Bukan komentatornya yang membosankan itu, tapi biasanya di layar tv selalu dimunculkan arena pertandingan - tampak dari atas. Mungkin ada kameramen yang menyorot dari helikopter.
Kalau dilihat dari atas, arena pertandingan tampak seperti sarang semut dengan latar di sekitarnya adalah pemandangan kota yang luas. Dan penonton di dalam stadion terlihat hanya sebesar semut bahkan lebih kecil dari itu. Itu adalah kumpulan manusia.
Di tengah kumpulan manusia itu kalau dilihat dari atas, bisakah kita menentukan mana laki-laki mana perempuan? Yang mana yang rambutnya hitam atau pirang? Semua manusia terlihat sama. Di situlah menariknya, menurutku.
Semua manusia sama kalau dilihat dari sudut pandang yang benar atau dari "tempat tinggi". Dengan kata lain, orang yang menganggap sesamanya lebih rendah, menganggap diri sendiri paling hebat, menyombongkan diri, atau merasa rendah diri; mungkin orang tersebut memiliki cara pandang yang salah melihat sesamanya. Bagaimana kita bisa memiliki cara pandang yang benar? Dengan cara melihat seperti Tuhan melihat. Karena satu-satunya Pribadi yang melihat dari "tempat tinggi" adalah Tuhan. Di mata Tuhan manusia sama.
Bagaimana kita bisa melihat seperti Tuhan melihat? Dengan berserah diri di hadapan-Nya dan dengan rendah hati meminta-Nya mengubah cara pandang kita.
Mengapa ini penting? Karena Tuhan menginginkan kita saling mengasihi, sebab Dia telah lebih dulu mengasihi kita. Kalau kita memiliki cara pandang yang salah terhadap sesama, maka banyak masalah yang terjadi. Misalnya: merendahkan sesama, menghina sesama, menganggap diri hebat dari yang lain, menganggap pandangan sendiri lebih benar dari yang lain, bahkan bisa terjadi konflik antar sesama manusia. Atau sebaliknya merasa rendah diri dan pesimis. Kalau sudah begini, maka kita sudah tidak mengasihi sesama, karenanya kita juga tidak menghormati Tuhan yang telah mengasihi kita lebih dulu.
Di mata Tuhan kita sama. Hal ini sangat menguatkan dan menghibur hati kita.
Marilah kita saling mengasihi.
Ngomong-ngomong, negara mana ya yang akan jadi juara di piala dunia tahun ini?
Aku menyesal tidak menonton siaran dan laga pembukaan yang katanya meriah itu. Tapi untung ada siaran berita. Meski cuma sepenggal, aku bisa menyaksikannya. Apalagi tim favoritku menang di laga pembuka. Waktu Spanyol ditaklukan Belanda, aku nonton. Juga saat Itali menang atas Inggris.
Sebenarnya buatku piala dunia cuma hiburan. Oleh karenanya kalau ada teman mengajak taruhan, aku tidak ikutan. Aku menonton siaran langsung dari tv kalau memang lagi ingin menonton. Kalau tidak, ya lebih baik tidur.
Dari dua laga yang kusaksikan, salah satu yang menarik bagiku adalah sesaat sebelum pertandingan dimulai. Bukan komentatornya yang membosankan itu, tapi biasanya di layar tv selalu dimunculkan arena pertandingan - tampak dari atas. Mungkin ada kameramen yang menyorot dari helikopter.
Kalau dilihat dari atas, arena pertandingan tampak seperti sarang semut dengan latar di sekitarnya adalah pemandangan kota yang luas. Dan penonton di dalam stadion terlihat hanya sebesar semut bahkan lebih kecil dari itu. Itu adalah kumpulan manusia.
Di tengah kumpulan manusia itu kalau dilihat dari atas, bisakah kita menentukan mana laki-laki mana perempuan? Yang mana yang rambutnya hitam atau pirang? Semua manusia terlihat sama. Di situlah menariknya, menurutku.
Semua manusia sama kalau dilihat dari sudut pandang yang benar atau dari "tempat tinggi". Dengan kata lain, orang yang menganggap sesamanya lebih rendah, menganggap diri sendiri paling hebat, menyombongkan diri, atau merasa rendah diri; mungkin orang tersebut memiliki cara pandang yang salah melihat sesamanya. Bagaimana kita bisa memiliki cara pandang yang benar? Dengan cara melihat seperti Tuhan melihat. Karena satu-satunya Pribadi yang melihat dari "tempat tinggi" adalah Tuhan. Di mata Tuhan manusia sama.
Bagaimana kita bisa melihat seperti Tuhan melihat? Dengan berserah diri di hadapan-Nya dan dengan rendah hati meminta-Nya mengubah cara pandang kita.
Mengapa ini penting? Karena Tuhan menginginkan kita saling mengasihi, sebab Dia telah lebih dulu mengasihi kita. Kalau kita memiliki cara pandang yang salah terhadap sesama, maka banyak masalah yang terjadi. Misalnya: merendahkan sesama, menghina sesama, menganggap diri hebat dari yang lain, menganggap pandangan sendiri lebih benar dari yang lain, bahkan bisa terjadi konflik antar sesama manusia. Atau sebaliknya merasa rendah diri dan pesimis. Kalau sudah begini, maka kita sudah tidak mengasihi sesama, karenanya kita juga tidak menghormati Tuhan yang telah mengasihi kita lebih dulu.
Di mata Tuhan kita sama. Hal ini sangat menguatkan dan menghibur hati kita.
Marilah kita saling mengasihi.
Ngomong-ngomong, negara mana ya yang akan jadi juara di piala dunia tahun ini?
Kamis, 12 Juni 2014
Kecewa?
Pernah
suatu hari aku menonton salah satu acara lawakan di tv. Di segmen terakhir
acaranya sebuah parodi pencarian bakat. Di sana tersedia juri dan para peserta
yang menunjukkan bakat mereka. Tentu semua pemainnya diperankan oleh para
pelawak itu. Acara pencarian pencarian bakat ala pelawak ini pastinya membuat penonton
tertawa. Para kontestan menunjukkan
bakat mereka. Di bagian akhir acara saat penentuan juara, ternyata hasil
penilaian juri adalah tidak ada yang juara. Pencarian bakatpun berakhir dengan
kekecewaan dari pihak kontestan.
Ada
yang menarik di acara ini. Meskipun hanya lawakan, tapi kita perlu belajar
suatu hal. Ketimbang menontonnya hanya untuk melepas stres sehabis lelah
bekerja. Parodi yang berakhir kekecewaan bisa jadi gambaran kehidupan kita
sehari-hari tanpa kita sadari. Coba kita renungkan setelah kita bekerja
seharian apa yang kita dapatkan? Atau setelah sebulan bekerja? Hanya dapat
gaji. Gaji tersebut habis digunakan. Lalu bekerja lagi. Lelah lagi. Kecewa lagi.
Begitulah
kalau kita memercayakan hidup pada dunia ini. Dunia ini, dengan segala hiburan
yang ia tawarkan pun, hanya memberikan kekecewaan. Usaha yang kita lakukan
untuk mencari kesenangan selalu tidak berhasil mendapatkan kesenangan sejati. Selalu
berakhir kecewa. Bila kita mendapatkan kesenangan, misalnya dalam musik, maka
kesenangan itu segera berakhir dengan membosankan. Musik yang kita dengarkan
setiap hari tentu bikin bosan. Atau kesenangan dalam harta. Siapa yang pernah
puas dengan harta? Tidak ada. Orang kaya sekalipun masih saja melakukan korupsi/pencurian.
Atau setidaknya orang kaya akan kuatir mengenai kekayaannya bisa habis. Kekayaan
membuatnya tidak tenang. Akhirnya kesenanganpun tidak jua datang.
Jadi
agar tidak kecewa dalam hidup ini, percayalah kepada Tuhan, sumber kebahagiaan
sejati. Hiduplah seturut apa yang Ia firmankan.
Minggu, 08 Juni 2014
Sedikit bicara banyak mendengar
Salah satu quote yang aku suka, "kalau kita bicara, kita hanya menyampaikan apa yang sudah kita tahu. kalau kita mendengarkan, kita mungkin mempelajari hal baru" (Dalai Lama). Intinya mungkin; sedikit bicara banyak mendengar.
Seorang anak kecil bermain. Kadang-kadang sang ibu menegur supaya bermain dengan benar. Tapi si anak kecil tidak mendengarkan nasihat si ibu gara-gara asyik bermain sampai ia terjatuh dan akhirnya menangis.
Seorang murid di kelas yang sedang asyik berbisik-bisik dengan temannya sementara sang guru mengajar. Tiba-tiba sang guru bertanya kepada si murid. Si murid tentu tidak bisa menjawab dengan benar. Malah kebingungan.
Kita mungkin pernah atau sedang mengalami kejadian seperti itu. Karena tidak mendengarkan, akhirnya kita mengalami masalah.
Barangkali Tuhan menciptakan kita dua telinga dan satu mulut dengan maksud supaya kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Ini bukan berarti juga kita tidak perlu bicara.
Dengan mendengarkan kita mendapat informasi lebih banyak. Dari informasi yang banyak itu kita bisa memilah dan memilih mana yang perlu kita percayai sebagai informasi yang baik dan benar. Dari situ kita bisa mengambil sikap dan akhirnya menyampaikan/berbicara dengan benar. Semoga saja kita tidak mendapatkan masalah hanya karena kita kurang mendengarkan dengan baik.
Oran bijak berkata: "Di dalam banyak bicara, pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19)
Seorang anak kecil bermain. Kadang-kadang sang ibu menegur supaya bermain dengan benar. Tapi si anak kecil tidak mendengarkan nasihat si ibu gara-gara asyik bermain sampai ia terjatuh dan akhirnya menangis.
Seorang murid di kelas yang sedang asyik berbisik-bisik dengan temannya sementara sang guru mengajar. Tiba-tiba sang guru bertanya kepada si murid. Si murid tentu tidak bisa menjawab dengan benar. Malah kebingungan.
Kita mungkin pernah atau sedang mengalami kejadian seperti itu. Karena tidak mendengarkan, akhirnya kita mengalami masalah.
Barangkali Tuhan menciptakan kita dua telinga dan satu mulut dengan maksud supaya kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Ini bukan berarti juga kita tidak perlu bicara.
Dengan mendengarkan kita mendapat informasi lebih banyak. Dari informasi yang banyak itu kita bisa memilah dan memilih mana yang perlu kita percayai sebagai informasi yang baik dan benar. Dari situ kita bisa mengambil sikap dan akhirnya menyampaikan/berbicara dengan benar. Semoga saja kita tidak mendapatkan masalah hanya karena kita kurang mendengarkan dengan baik.
Oran bijak berkata: "Di dalam banyak bicara, pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19)
Rabu, 04 Juni 2014
Cerita di Warung Kopi
Di sebuah warung kecil duduk seorang laki-laki berumur 52 tahun, si pemilik warung. Ia biasanya duduk di sebuah bangku menunggu pembeli datang. Ia menjual kopi, mie instan, bubur kacang ijo, serta rokok. Warungnya terletak di pinggir jalan kecil. Jalan kecil itu merupakan cabang dari jalan utama menuju perumahan warga. Warungnya terletak kira-kira 50 meter dari jalan utama. Kira-kira 50 meter lagi ke dalam ada sebuah sekolah swasta. Setiap hari warungnya dilewati oleh anak sekolah, guru, orang tua murid atau mobil jemputan, dan juga warga sekitar.
Aku kadang-kadang mampir ke warung si bapak untuk mengopi. Atau biasanya juga aku pesan mie rebus. Sore hari - menjelang malam - biasanya warung si bapak sepi. Pada jam-jam itulah aku biasanya mampir. Sekalian makan malam murah meskipun cuma mie instan. Aku selalu mengajak si bapak mengobrol. Awalnya aku bingung mencari bahan yang perlu kami bicarakan. Kadang kami bahas politik - politik warung kopi - kadang juga bahas hasil pertandingan bola, atau kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar. Tapi semuanya berakhir dalam hening. Aku memang tidak pandai membangun perbicangan.
Suatu sore aku mampir lagi ke warung si bapak. Warungnya kosong. Aku masuk saja dan duduk di bangku panjang. Kupanggil si bapak, ternyata dia sedang mandi. Kutunggu hingga ia selesai sekitar 10 menit. Kupesan mie rebus. Aku sedang ingin makan mi rebus, kataku pada si bapak. Si bapak cuma ketawa sambil memanaskan air. Sambil makan, aku mengajak si bapak mengobrol seperti biasa karena kelihatannya si bapak sering diam. Mungkin sedikit orang yang mengajaknya bicara. Ataupun kalau ada, ia hanya mengikuti saja pembicaraan orang, para pelanggan tetapnya. Pelanggan tetapnya merupakan para sopir jemputan anak sekolah. Si bapak pernah bilang orang-orang yang datang ke warungnya biasanya main catur atau bahas bola.
Kali ini aku ingin mendengar kisah hidup si bapak. Sepertinya aku berhasil membuat si bapak mau berbicara banyak. Karena yang dia bicarakan adalah tentang dirinya sendiri. Ia lahir tahun 1962. Setelah lulus sekolah dasar (SD) ia langsung bekerja sebagai penambang pasir di sungai untuk membantu perekonomian keluarganya saat itu. Tiga kakak kandungnya bahkan tidak lulus SD karena tidak cukup biaya. Pada saat umurnya 15, tahun 1977, ia pun mengikuti teman-temannya merantau ke ibukota. Beberapa teman sekolahnya malah sudah lebih dulu mengadu nasib ke Jakarta, kenangnya. Saat menceritakan itu, matanya mengarah entah ke mana seolah-olah ingin membangkitkan kenangan lama.
Di Jakarta ia mengadu nasib. Awalnya menjadi pedagang asongan. Berjalan menyusuri jalanan ibukota untuk menjajakan dagangannya. Aku tidak pernah jualan sebelumnya, kata si bapak. Tapi temannya memaksanya. Ia harus bisa bertahan hidup di Jakarta. Tidak bisa pulang ke kampung halaman - Jawa Barat - karena tidak punya uang cukup. Ongkos busnya saat berangkat ke Jakarta pun pinjaman dari tetangga padahal cuma Rp5.000. Saat itu rupiah cukup mahal. Di bandingkan sekarang apalah artinya Rp5.000 itu, kenangnya lagi.
Tiga belas tahun ia menjadi pedagang di Jakarta. Mulai dari pedagang keliling hingga akhirnya ia memiliki sebuah kios sewaan di dekat terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Beberapa kali sebelumnya ia berpindah-pindah. Pernah di Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan terakhir di Jakarta Selatan. Tahun 1989, si bapak menikah. Anak pertamanya lahir setahun kemudian. Pada saat itulah ia pindah ke daerah Bogor, warungnya sekarang. Kalau dihitung, sudah 24 tahun si bapak berjualan di warungnya ini. Waktu yang sangat lama.
Si bapak bercerita, kadang-kadang kalau ia sedang duduk-duduk di bangkunya dan ia melihat anak sekolah berlari-lari di depannya, ia terkenang akan masa kecilnya di kampung saat sekolah dulu; mereka berlari-lari tanpa sepatu dan seragam sekolah. Kenapa ya ada masa-masa itu, kenangnya. Lagi ia bercerita, waktu kecil mereka harus membagi jatah makanan. Satu mangkuk nasi jagung (sambil menunjuk mangkuk mie rebusku) harus di makan dua kali, pagi dan siang, tidak boleh dihabiskan sekaligus. Kalau tidak, maka jatah makan siangpun juga tidak ada. Terpaksa berangkat ke sekolah dengan perut masih lapar.
Kalau dihitung, sudah 37 tahun si bapak meninggalkan kampung halamannya. Bulan lalu ia pulang untuk memperbaiki rumah di desa. Selama dua minggu, ia menitipkan warung ke seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri dari (alm) temannya yang pertama kali mengajaknya merantau. Mereka sudah seperti keluarga. Senasib dan seperjuangan, katanya. Sekarang, si bapak memiliki tiga anak. Anak pertama bekerja di sebuah perusahaan tekstil sebagai ahli mekanik. Anak kedua juga sudah bekerja di salah satu toko di daerah Bogor. Dan anaknya perempuan, si bungsu, sudah kelas satu SMA.
Selain pengalaman hidup yang sudah dilewati dengan susah payah, hal menarik yang ia kisahkan adalah tentang cita-citanya. Si bapak berkata bahwa dulu kakak-kakaknya tidak lulus SD dan ia sendiri hanya lulus SD, maka kelak anak-anaknya harus melebihi dirinya. Setidaknya ketiga anaknya lulus sekolah menengah pertama (SMP). Satu tingkat lebih dari dirinya. Hidup saya begini-begini terus, tapi saya mau anak-anak saya sukses, kata si bapak. Ternyata, cita-cita si bapak melampaui yang ia harapkan. Bahkan kedua anaknya sekarang (si bungsu menyusul) bisa lulus sekolah menengah atas (SMA). Alhamdulillah, kata si bapak sambil menarik nafas panjang.***
Ketika kisah hidup yang panjang diceritakan dalam waktu kira-kira 90 menit (membaca kisah inipun tidak sampai 5 menit) membuat kita merenung betapa hidup ini singkat.. Gunakan waktu yang ada semaksimal mungkin. Lakukan apa yang bisa dilakukan hari ini. Dengan kata lain jangan suka menunda.
Aku kadang-kadang mampir ke warung si bapak untuk mengopi. Atau biasanya juga aku pesan mie rebus. Sore hari - menjelang malam - biasanya warung si bapak sepi. Pada jam-jam itulah aku biasanya mampir. Sekalian makan malam murah meskipun cuma mie instan. Aku selalu mengajak si bapak mengobrol. Awalnya aku bingung mencari bahan yang perlu kami bicarakan. Kadang kami bahas politik - politik warung kopi - kadang juga bahas hasil pertandingan bola, atau kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar. Tapi semuanya berakhir dalam hening. Aku memang tidak pandai membangun perbicangan.
Suatu sore aku mampir lagi ke warung si bapak. Warungnya kosong. Aku masuk saja dan duduk di bangku panjang. Kupanggil si bapak, ternyata dia sedang mandi. Kutunggu hingga ia selesai sekitar 10 menit. Kupesan mie rebus. Aku sedang ingin makan mi rebus, kataku pada si bapak. Si bapak cuma ketawa sambil memanaskan air. Sambil makan, aku mengajak si bapak mengobrol seperti biasa karena kelihatannya si bapak sering diam. Mungkin sedikit orang yang mengajaknya bicara. Ataupun kalau ada, ia hanya mengikuti saja pembicaraan orang, para pelanggan tetapnya. Pelanggan tetapnya merupakan para sopir jemputan anak sekolah. Si bapak pernah bilang orang-orang yang datang ke warungnya biasanya main catur atau bahas bola.
Kali ini aku ingin mendengar kisah hidup si bapak. Sepertinya aku berhasil membuat si bapak mau berbicara banyak. Karena yang dia bicarakan adalah tentang dirinya sendiri. Ia lahir tahun 1962. Setelah lulus sekolah dasar (SD) ia langsung bekerja sebagai penambang pasir di sungai untuk membantu perekonomian keluarganya saat itu. Tiga kakak kandungnya bahkan tidak lulus SD karena tidak cukup biaya. Pada saat umurnya 15, tahun 1977, ia pun mengikuti teman-temannya merantau ke ibukota. Beberapa teman sekolahnya malah sudah lebih dulu mengadu nasib ke Jakarta, kenangnya. Saat menceritakan itu, matanya mengarah entah ke mana seolah-olah ingin membangkitkan kenangan lama.
Di Jakarta ia mengadu nasib. Awalnya menjadi pedagang asongan. Berjalan menyusuri jalanan ibukota untuk menjajakan dagangannya. Aku tidak pernah jualan sebelumnya, kata si bapak. Tapi temannya memaksanya. Ia harus bisa bertahan hidup di Jakarta. Tidak bisa pulang ke kampung halaman - Jawa Barat - karena tidak punya uang cukup. Ongkos busnya saat berangkat ke Jakarta pun pinjaman dari tetangga padahal cuma Rp5.000. Saat itu rupiah cukup mahal. Di bandingkan sekarang apalah artinya Rp5.000 itu, kenangnya lagi.
Tiga belas tahun ia menjadi pedagang di Jakarta. Mulai dari pedagang keliling hingga akhirnya ia memiliki sebuah kios sewaan di dekat terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Beberapa kali sebelumnya ia berpindah-pindah. Pernah di Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan terakhir di Jakarta Selatan. Tahun 1989, si bapak menikah. Anak pertamanya lahir setahun kemudian. Pada saat itulah ia pindah ke daerah Bogor, warungnya sekarang. Kalau dihitung, sudah 24 tahun si bapak berjualan di warungnya ini. Waktu yang sangat lama.
Si bapak bercerita, kadang-kadang kalau ia sedang duduk-duduk di bangkunya dan ia melihat anak sekolah berlari-lari di depannya, ia terkenang akan masa kecilnya di kampung saat sekolah dulu; mereka berlari-lari tanpa sepatu dan seragam sekolah. Kenapa ya ada masa-masa itu, kenangnya. Lagi ia bercerita, waktu kecil mereka harus membagi jatah makanan. Satu mangkuk nasi jagung (sambil menunjuk mangkuk mie rebusku) harus di makan dua kali, pagi dan siang, tidak boleh dihabiskan sekaligus. Kalau tidak, maka jatah makan siangpun juga tidak ada. Terpaksa berangkat ke sekolah dengan perut masih lapar.
Kalau dihitung, sudah 37 tahun si bapak meninggalkan kampung halamannya. Bulan lalu ia pulang untuk memperbaiki rumah di desa. Selama dua minggu, ia menitipkan warung ke seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri dari (alm) temannya yang pertama kali mengajaknya merantau. Mereka sudah seperti keluarga. Senasib dan seperjuangan, katanya. Sekarang, si bapak memiliki tiga anak. Anak pertama bekerja di sebuah perusahaan tekstil sebagai ahli mekanik. Anak kedua juga sudah bekerja di salah satu toko di daerah Bogor. Dan anaknya perempuan, si bungsu, sudah kelas satu SMA.
Selain pengalaman hidup yang sudah dilewati dengan susah payah, hal menarik yang ia kisahkan adalah tentang cita-citanya. Si bapak berkata bahwa dulu kakak-kakaknya tidak lulus SD dan ia sendiri hanya lulus SD, maka kelak anak-anaknya harus melebihi dirinya. Setidaknya ketiga anaknya lulus sekolah menengah pertama (SMP). Satu tingkat lebih dari dirinya. Hidup saya begini-begini terus, tapi saya mau anak-anak saya sukses, kata si bapak. Ternyata, cita-cita si bapak melampaui yang ia harapkan. Bahkan kedua anaknya sekarang (si bungsu menyusul) bisa lulus sekolah menengah atas (SMA). Alhamdulillah, kata si bapak sambil menarik nafas panjang.***
Ketika kisah hidup yang panjang diceritakan dalam waktu kira-kira 90 menit (membaca kisah inipun tidak sampai 5 menit) membuat kita merenung betapa hidup ini singkat.. Gunakan waktu yang ada semaksimal mungkin. Lakukan apa yang bisa dilakukan hari ini. Dengan kata lain jangan suka menunda.
Langganan:
Postingan (Atom)