Apa yang ada di benakmu saat mendengar kata 'gengsi'? Kata orang, entah orang mana aku tidak tahu, orang Indonesia terkenal dengan gengsinya. Lihat teman punya henpon terbaru rasanya gimana gitu. Merasa malu kalau henpon sendiri masih jadul. Biasanya di tempat umum malu ngeluarin henpon jadul. Soal pakaian juga begitu. Saat ada undangan ke pesta hal yang paling dikuatirkan salah satunya pakaian. Belum afdol rasanya bila tidak punya baju baru. Bagaimana dengan rumah, mobil, dan gelar? Apalagi yang ini. Semua hal tadi dijadikan patokan sukses dalam masyarakat. Sukses bila sudah punya rumah, mewah lagi, punya mobil, punya gelar yang mantap, punya harta melimpah.
Apa salah kalau punya harta, gelar, atau hal lain? Tidak salah sih, malah bagus. Terus kenapa merasa risih? Karena kau miskin?hahaha *ketawa orang kaya*. Yang salah adalah cara pandang terhadap harta, dan lain sebagainya itu. Menurutku, rasa gengsi dimulai dari cara pandang yang salah tentang hidup. Ini dimulai dari keluarga sejak kita kecil. Selalu ditanamkan bahwa sukses itu juara 1 di sekolah. Beranjak remaja, kita diberitahu bahwa sukses itu seperti saudara kita yang punya rumah mewah, mobil mewah dan gaji yang besar. "Lihat tuh si Anu, sukses: kaya, hebat, punya jabatan". Biasanya kalimatnya begitu. Terus dilanjutkan dengan "kamu harus begitu kalau sudah besar nanti". Bagaimana kalau kita tidak capai? Malu. Tidak percaya diri. Gengsi.
Gengsi juga mengurangi kesadaran kita akan kebutuhan dan keinginan. Banyak orang belanja ini-itu karena ingin. Bukan karena butuh. Misalnya punya gadget terbaru. Apa itu karena butuh? Belum tentu. Memiliki gadget terbaru dimotivasi oleh hati yang ingin mencitrakan diri dengan gadget itu sendiri. Gadget terbaru menjadi citra diri. Terlihat 'wah' di mata orang. Terlihat 'sukses' di mata orang. Harga atau nilai diri menjadi turun sebatas gadget terbaru. Padahal nilai diri jauh lebih berarti dibanding sebuah benda. Bahkan tidak bisa dibandingkan. Ini juga berlaku pada harta, gelar, jabatan, atau pekerjaan.
Bagaimana cara mengatasi rasa gengsi? Menurutku adalah hidup sederhana. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Itu kata Paulus. Ya kupikir begitu. Mencukupkan diri dengan yang ada adalah ucapan syukur paling baik. Kalau kita diberi rejeki oleh Tuhan, seperti kekayaan, kepintaran, dan lain sebagainya yang melebihi orang lain, itu adalah anugerah buat kita yang perlu disyukuri. Dan bila perlu, dan ini harus, kita berbagi dengan sesama. Harta, kekayaan, pekerjaan bagus, dan kepintaran bukanlah kesuksesan atau simbol kesuksesan.
Hiduplah sederhana. Tidak perlu gengsi. Percaya diri saja dengan apa yang kita miliki. Apapun kata orang, aku ya aku, bukan hartaku.
Jumat, 18 Juli 2014
Jalan yang salah
Jalan yang salah
kita tentang
tapi jalan itu satu-satunya
dan kita pun lewati.
Jalan yang rusak
kita ingin hindari
tapi jalan itu satu-satunya
akhirnya kita lewat juga.
Siapa yang ciptakan jalan itu?
Kalau bukan kita
siapa ya?
Jangan-jangan orang tua kita?
kita tentang
tapi jalan itu satu-satunya
dan kita pun lewati.
Jalan yang rusak
kita ingin hindari
tapi jalan itu satu-satunya
akhirnya kita lewat juga.
Siapa yang ciptakan jalan itu?
Kalau bukan kita
siapa ya?
Jangan-jangan orang tua kita?
Selasa, 08 Juli 2014
Kesombongan di tempat kerja
Aku sedang membaca buku 'bawa jiwa anda ke tempat kerja' atau judul aslinya 'taking your soul to work'. Buku ini ditulis oleh dua orang dari negara yang berbeda: Paul Stevens (PS) dan Alvin Ung (AU).
Awalnya aku tidak mau beli buku ini. Karena masih banyak buku yang belum selesai kubaca. Termasuk salah satu buku yang berhubungan dengan dunia kerja. Tapi waktu aku menghadiri suatu acara persekutuan alumni, ada stan penjualan buku. Dan kakak yang menjaga stan tersebut menawarkanku untuk membeli buku. Saat itu aku hanya berdiri melihat-lihat buku apa saja yang dijual di situ. Banyak juga buku yang dijual. Sebagian sudah kumiliki. Bahkan sudah selesai kubaca. Akupun ditawari untuk membeli satu buku. Alhasil aku berhasil dibujuk membeli satu. Karena pada dasarnya aku memang suka membaca.
Semua isi buku ini menarik. Terutama buat yang sedang bekerja dan mengalami pergumulan, seperti aku. Karena menyinggung pergumulan-pergumulan yang menghambat kita untuk merasa hidup ketika bekerja. Berbagai pergumulan itu adalah kesombongan, keserakahan, kemalasan, nafsu birahi, iri hati, amarah, keresahan, dan kebosanan. Dan membimbing kita bekerja dengan pimpinan Tuhan. Buku ini ditulis dalam perspektif Kristiani.
"Pekerjaan saya membuat saya hampir mati". Itu kalimat pembuka di pengantar buku ini. Kalimat tersebut merupakan penggalan dari percakapan kedua penulis.
"Ketika pekerjaan dilakukan tanpa jiwa, hidup menjadi lumpuh dan mati," kata filsuf eksistensialis Albert Camus.
Kesombongan.
Ini salah satu dari sembilan dosa yang sering dilakukan di tempat kerja. Mudah mengenali kesombongan dalam diri orang lain, tetapi lebih sulit mengenali gejala-gejala ini dalam diri kita sendiri (PS).
Ada dua jenis orang sombong. Si Pemain Tunggal, mengambil semua penghargaan dari semua pencapaiannya. Dan Si Mana Tahan, yang memancarkan keangkuhan, memperlakukan orang lain dengan meremehkan. Kedua jenis orang sombong ini menganggap diri 'lebih unggul' dari semua orang.
Kesombongan merampas pengenalan diri kita sendiri.
Kebalikan dari kesombongan adalah rendah hati: nilai di mana seseorang mengenali ketidaklayakannya sendiri karena ia benar-benar mengenal dirinya.
Untuk mengatasi kesombongan bisa dengan melakukan: batasi perkataan. Berhentilah bergosip atau berbicara tanpa guna. Menjadi seorang pelayan. Di sini Yesus adalah teladan agung. Praktekkan kejujuran diri yang radikal. Curahkan isi hati kepada sahabat dekat lalu berdoalah bersama meminta pertolongan dan kemurahan Tuhan.
Awalnya aku tidak mau beli buku ini. Karena masih banyak buku yang belum selesai kubaca. Termasuk salah satu buku yang berhubungan dengan dunia kerja. Tapi waktu aku menghadiri suatu acara persekutuan alumni, ada stan penjualan buku. Dan kakak yang menjaga stan tersebut menawarkanku untuk membeli buku. Saat itu aku hanya berdiri melihat-lihat buku apa saja yang dijual di situ. Banyak juga buku yang dijual. Sebagian sudah kumiliki. Bahkan sudah selesai kubaca. Akupun ditawari untuk membeli satu buku. Alhasil aku berhasil dibujuk membeli satu. Karena pada dasarnya aku memang suka membaca.
Semua isi buku ini menarik. Terutama buat yang sedang bekerja dan mengalami pergumulan, seperti aku. Karena menyinggung pergumulan-pergumulan yang menghambat kita untuk merasa hidup ketika bekerja. Berbagai pergumulan itu adalah kesombongan, keserakahan, kemalasan, nafsu birahi, iri hati, amarah, keresahan, dan kebosanan. Dan membimbing kita bekerja dengan pimpinan Tuhan. Buku ini ditulis dalam perspektif Kristiani.
"Pekerjaan saya membuat saya hampir mati". Itu kalimat pembuka di pengantar buku ini. Kalimat tersebut merupakan penggalan dari percakapan kedua penulis.
"Ketika pekerjaan dilakukan tanpa jiwa, hidup menjadi lumpuh dan mati," kata filsuf eksistensialis Albert Camus.
Kesombongan.
Ini salah satu dari sembilan dosa yang sering dilakukan di tempat kerja. Mudah mengenali kesombongan dalam diri orang lain, tetapi lebih sulit mengenali gejala-gejala ini dalam diri kita sendiri (PS).
Ada dua jenis orang sombong. Si Pemain Tunggal, mengambil semua penghargaan dari semua pencapaiannya. Dan Si Mana Tahan, yang memancarkan keangkuhan, memperlakukan orang lain dengan meremehkan. Kedua jenis orang sombong ini menganggap diri 'lebih unggul' dari semua orang.
Kesombongan merampas pengenalan diri kita sendiri.
Kebalikan dari kesombongan adalah rendah hati: nilai di mana seseorang mengenali ketidaklayakannya sendiri karena ia benar-benar mengenal dirinya.
Untuk mengatasi kesombongan bisa dengan melakukan: batasi perkataan. Berhentilah bergosip atau berbicara tanpa guna. Menjadi seorang pelayan. Di sini Yesus adalah teladan agung. Praktekkan kejujuran diri yang radikal. Curahkan isi hati kepada sahabat dekat lalu berdoalah bersama meminta pertolongan dan kemurahan Tuhan.
Kamis, 03 Juli 2014
Sedikit Tentangku
Bulan Juli sudah datang.
O... bulan kelahiranku.
Bulan Juli tiba artinya libur berakhir. Masuk sekolah lagi. Di sekolahku para guru sudah mulai bekerja sejak tanggal 2 kemarin untuk rapat bersama yayasan. Hari ini dan besok rapat kerja. Masa-masa sibuk pembuatan program untuk satu semester ke depan.
Biasanya saat pembuatan program, entah tahunan, semester atau rencana pelaksanaan pembelajaran, aku paling tidak suka. Bukan karena ini tidak penting, tapi karena kadang-kadang guru sudah membuat program tiba-tiba ada perubahan jadwal. Satu jadwal berubah bisa mengubah semua program yang sudah selesai.
Aku tidak mau cerita banyak soal pekerjaanku lagi. Karena sudah cukup bikin pusing.
Bulan Juli ini merupakan bulan kelahiranku. Jangan tanya umurku berapa. Aku lahir antara 1986 - 1995. Sebenarnya aku ingin menuliskan 100 hal yang menggambarkan tentang aku. Biar kayak punya orang gitu. Tapi belum juga kesampaian.
Sedikit tentangku:
Agak pendiam dan menyendiri kalau di keramaian.
Cuek, kata teman-temanku.
Senang berpikir dan menganalisa sesuatu.
Suka baca. Buatku, buku adalah teman; teman setia.
Suka menulis apa saja. Tapi ingin sih menulis ilmiah biar kayak peneliti gitu.
Suka berencana.
Tampak tenang di wajah, namun dalam hati kacau galau.
Senang dengan puisi, cerpen, novel (apalagi novel historis, kisah nyata, romantis). Tapi tidak suka yang berbau detektif.
Kira-kira begitu. Ada delapan ya, itu pun mikirnya lama. Apalagi kalau 100 hal, mungkin baru selesai setahun lagi.hehehe
Dua baris kalimat di atas merupakan puisi yang kubuat untuk bulan kelahiranku. Ada lanjutannya, tapi belum selesai.
O... bulan kelahiranku.
Bulan Juli tiba artinya libur berakhir. Masuk sekolah lagi. Di sekolahku para guru sudah mulai bekerja sejak tanggal 2 kemarin untuk rapat bersama yayasan. Hari ini dan besok rapat kerja. Masa-masa sibuk pembuatan program untuk satu semester ke depan.
Biasanya saat pembuatan program, entah tahunan, semester atau rencana pelaksanaan pembelajaran, aku paling tidak suka. Bukan karena ini tidak penting, tapi karena kadang-kadang guru sudah membuat program tiba-tiba ada perubahan jadwal. Satu jadwal berubah bisa mengubah semua program yang sudah selesai.
Aku tidak mau cerita banyak soal pekerjaanku lagi. Karena sudah cukup bikin pusing.
Bulan Juli ini merupakan bulan kelahiranku. Jangan tanya umurku berapa. Aku lahir antara 1986 - 1995. Sebenarnya aku ingin menuliskan 100 hal yang menggambarkan tentang aku. Biar kayak punya orang gitu. Tapi belum juga kesampaian.
Sedikit tentangku:
Agak pendiam dan menyendiri kalau di keramaian.
Cuek, kata teman-temanku.
Senang berpikir dan menganalisa sesuatu.
Suka baca. Buatku, buku adalah teman; teman setia.
Suka menulis apa saja. Tapi ingin sih menulis ilmiah biar kayak peneliti gitu.
Suka berencana.
Tampak tenang di wajah, namun dalam hati kacau galau.
Senang dengan puisi, cerpen, novel (apalagi novel historis, kisah nyata, romantis). Tapi tidak suka yang berbau detektif.
Kira-kira begitu. Ada delapan ya, itu pun mikirnya lama. Apalagi kalau 100 hal, mungkin baru selesai setahun lagi.hehehe
Dua baris kalimat di atas merupakan puisi yang kubuat untuk bulan kelahiranku. Ada lanjutannya, tapi belum selesai.
Senin, 30 Juni 2014
Nyaman Tidak Nyaman
Ini seputar pekerjaanku. Dibaca, silakan. Tidak dibaca, enggak apa-apa.
Kenapa ya setiap kali aku berpikir sudah nyaman dengan pekerjaanku, aku lalu dipindahkan? Kalian pasti tidak tahu. Aku aja enggak tahu.
Aku seorang guru di salah satu sekolah swasta di Cibinong, Bogor. Tahun pertama aku ditempatkan ngajar matematika SMK yang bukan bidangku. Aku lulusan pendidikan fisika disuruh ngajar matematika SMK yang ada matematika keuangannya. Dengan memaksakan diri, aku belajar mati-matian sebelum ngajar. Setahun kulalui aku merasa sudah pas di pelajaran ini. Berharap tahun berikutnya ngajar matematika lagi agar aku bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang kulakukan.
Memasuki tahun kedua, eh, aku dipindahin ke SMP. Ngajar matematika. Harus belajar lebih lagi. Meski matematika SMP terlihat lebih gampang, namun mengajarkannya ke murid-murid itu yang sulit. Tidak mudah mengajar aljabar ke murid SMP, misalnya. Tahun kedua berjalan, setahun aku menikmatinya. Aku berpikir tahun depannya ngajat matematika lagi. Ini membuatku tenang. Rasanya aku ingin mengajar matematika lagi tahun depan dan memperbaiki cara mengajarku.
Tahun ajaran baru berikutnya tiba. Aku masih di SMP. Tapi disuruh ngajar fisika. Cukup melegakan. Akhirnya aku kembali ke jalan yang benar. Pelajaran yang sesuai bidangku. Tapi aku mesti belajar lebih. Karena lebih dari dua tahun aku tidak mengajar fisika. Banyak juga materi yang aku lupa. Aku senang mengajar fisika. Tapi di tahun ajaran 2014/2015 yang baru akan dimulai bulan Juli depan, aku ditempatkan di SMA. Mengajar matematika kelas X dan XI. Apa-apaan ini, pikirku.
Sudah nyaman dua tahun di SMP, meski ngajar matematika dan fisika, malah dipindahin ke SMA. Mesti belajar matematika SMA lagi nih. Tentunya beda dengan matematika SMK, apalagi matematika SMP. Setahuku matematika SMA sedikit lebih susah.
Oke, aku berpikir positif saja. Memang tidak mudah bagi kita keluar dari zona nyaman, namun ini membuat kita bisa belajar mengembangkan diri. Aku meyakini bahwa Tuhan sengaja mengizinkanku tidak selalu berada dalam zona nyaman karena Dia ingin membentukku. Entahlah tujuan-Nya, pasti itu terbaik buatku.
Kenapa ya setiap kali aku berpikir sudah nyaman dengan pekerjaanku, aku lalu dipindahkan? Kalian pasti tidak tahu. Aku aja enggak tahu.
Aku seorang guru di salah satu sekolah swasta di Cibinong, Bogor. Tahun pertama aku ditempatkan ngajar matematika SMK yang bukan bidangku. Aku lulusan pendidikan fisika disuruh ngajar matematika SMK yang ada matematika keuangannya. Dengan memaksakan diri, aku belajar mati-matian sebelum ngajar. Setahun kulalui aku merasa sudah pas di pelajaran ini. Berharap tahun berikutnya ngajar matematika lagi agar aku bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang kulakukan.
Memasuki tahun kedua, eh, aku dipindahin ke SMP. Ngajar matematika. Harus belajar lebih lagi. Meski matematika SMP terlihat lebih gampang, namun mengajarkannya ke murid-murid itu yang sulit. Tidak mudah mengajar aljabar ke murid SMP, misalnya. Tahun kedua berjalan, setahun aku menikmatinya. Aku berpikir tahun depannya ngajat matematika lagi. Ini membuatku tenang. Rasanya aku ingin mengajar matematika lagi tahun depan dan memperbaiki cara mengajarku.
Tahun ajaran baru berikutnya tiba. Aku masih di SMP. Tapi disuruh ngajar fisika. Cukup melegakan. Akhirnya aku kembali ke jalan yang benar. Pelajaran yang sesuai bidangku. Tapi aku mesti belajar lebih. Karena lebih dari dua tahun aku tidak mengajar fisika. Banyak juga materi yang aku lupa. Aku senang mengajar fisika. Tapi di tahun ajaran 2014/2015 yang baru akan dimulai bulan Juli depan, aku ditempatkan di SMA. Mengajar matematika kelas X dan XI. Apa-apaan ini, pikirku.
Sudah nyaman dua tahun di SMP, meski ngajar matematika dan fisika, malah dipindahin ke SMA. Mesti belajar matematika SMA lagi nih. Tentunya beda dengan matematika SMK, apalagi matematika SMP. Setahuku matematika SMA sedikit lebih susah.
Oke, aku berpikir positif saja. Memang tidak mudah bagi kita keluar dari zona nyaman, namun ini membuat kita bisa belajar mengembangkan diri. Aku meyakini bahwa Tuhan sengaja mengizinkanku tidak selalu berada dalam zona nyaman karena Dia ingin membentukku. Entahlah tujuan-Nya, pasti itu terbaik buatku.
Selasa, 24 Juni 2014
Guru juga manusia
Tanggal 24 kemarin pelatihan implementasi kurikulum 2013 yang kuikuti pun berakhir. Banyak teman baru dan ilmu yang didapat. Bisa berbagi cerita dan pengalaman selama pelatihan merupakan hal terbaik. Mendengar pengalaman dari guru-guru senior dan semua keberhasilan mereka memberikan motivasi buat semua peserta dalam melaksanakan tugas. Selama pelatihan tentu ada perbedaan pendapat, ada juga yang sering datang terlambat, ada yang terlihat ingin menonjol sendiri, dan masih banyak hal menarik lainnya yang layak dikenang sebagai pengalaman termanis. Kadang-kadang ada juga hal yang tidak menyenangkan. Seperti ada peserta yang ingin pendapatnya didengar tanpa mau - dengan rendah hati - menerima saran dari peserta lain, ada juga yang bersikap pesimis dalam menerima perubahan kurikulum. Dan salah satu yang tidak saya sukai adalah pada saat post-test. Beberapa peserta mengerjakan soal secara bersama-sama, padahal post-testnya untuk dikerjakan sendiri. Aku sih mengerjakan sendiri. Dan aku yakin dan bangga dengan hasil kerjaku, walaupun ada yang membisikkan jawaban. Sudah tahu begitu, panitia yang mengawas saat post-test malah membiarkan peserta "menyontek". Padahal ini kumpulan guru loh, masa iya nyontek.
Dari pelatihan ini aku bisa melihat karakter guru dari berbagai sekolah. Bisa belajar dari pengalaman mereka, namun ada juga hal yang tidak bisa ditiru misalnya menyontek dan hal lain di atas. Aku hanya bingung bagaimana 'sikap yang tidak bisa ditiru' itu membuat guru menjadi teladan. Ada benarnya ketika instruktur menyampaikan bahwa guru harus mencintai pekerjaan sebagai guru. Banyak orang menjadi guru karena pelarian; karena saat kuliah dulu tidak diterima di fakultas idaman atau saat bekerja tidak diterima di kantor impian - daripada menganggur. Akhirnya memilih menjadi guru. Nah, mungkin banyak guru seperti itu sekarang, sehingga tidak begitu mencintai pekerjaan mereka. Karena tidak mencintai pekerjaan, maka dikerjakan dengan tidak sepenuh hati alias ngasal.
Mengenai cinta pekerjaan aku kaget pas instruktur menanyakan apakah benar-benar memiliki cita-cita menjadi guru. Aku sedang tidak memperhatikan penjelasan instrukur saat itu karena sibuk dengan tugas di laptopku. Pertanyaan itu ditujukan padaku. Kujawab saja iya biar tidak kelihatan kaget. Si instruktur menanggapi, berapa persen benar-benar punya cita-cita guru. Iya juga sih. Kalau aku, mungkin tidak samapai 60% (ketahuan...). Tapi setidaknya aku pernah punya cita-cita jadi guru. Itupun karena aku lahir di keluarga guru, hehehe.
Itulah guru. Guru juga manusia. Tidak sempurna. Walaupun tugas guru adalah memanusiakan manusia, namun guru juga tidak lepas dari kesalahan. Namun, guru harus terus memperbaiki diri karena guru adalah teladan bagi muridnya.
Dari pelatihan ini aku bisa melihat karakter guru dari berbagai sekolah. Bisa belajar dari pengalaman mereka, namun ada juga hal yang tidak bisa ditiru misalnya menyontek dan hal lain di atas. Aku hanya bingung bagaimana 'sikap yang tidak bisa ditiru' itu membuat guru menjadi teladan. Ada benarnya ketika instruktur menyampaikan bahwa guru harus mencintai pekerjaan sebagai guru. Banyak orang menjadi guru karena pelarian; karena saat kuliah dulu tidak diterima di fakultas idaman atau saat bekerja tidak diterima di kantor impian - daripada menganggur. Akhirnya memilih menjadi guru. Nah, mungkin banyak guru seperti itu sekarang, sehingga tidak begitu mencintai pekerjaan mereka. Karena tidak mencintai pekerjaan, maka dikerjakan dengan tidak sepenuh hati alias ngasal.
Mengenai cinta pekerjaan aku kaget pas instruktur menanyakan apakah benar-benar memiliki cita-cita menjadi guru. Aku sedang tidak memperhatikan penjelasan instrukur saat itu karena sibuk dengan tugas di laptopku. Pertanyaan itu ditujukan padaku. Kujawab saja iya biar tidak kelihatan kaget. Si instruktur menanggapi, berapa persen benar-benar punya cita-cita guru. Iya juga sih. Kalau aku, mungkin tidak samapai 60% (ketahuan...). Tapi setidaknya aku pernah punya cita-cita jadi guru. Itupun karena aku lahir di keluarga guru, hehehe.
Itulah guru. Guru juga manusia. Tidak sempurna. Walaupun tugas guru adalah memanusiakan manusia, namun guru juga tidak lepas dari kesalahan. Namun, guru harus terus memperbaiki diri karena guru adalah teladan bagi muridnya.
Senin, 23 Juni 2014
Yang penting cerita (3)
Tidak terasa
hari keempat pelatihan sudah selesai. Ada pengalaman menarik hari ini.
Setidaknya buatku sendiri. Tadi pas peer teaching atau mensimulasikan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sudah dibuat, aku dipilih oleh fasilitator.
Awalnya fasilitator menunjuk beberapa peserta lain. Tidak ada yang bersedia
maju. Eh tiba-tiba seorang ibu
menyebut namaku. Cukup keras suaranya hingga terdengar di segala penjuru kelas.
Akhirnya aku yang maju. Baiklah, siapa tidak takut. Padahal dalam hati
deg-degan.hehehe. Aku pun ke depan
kelas. Menghubungkan laptopku dengan LCD karena aku menggunakan media itu untuk
kegiatan mengajarku. Jangan pikir berjalan lancar. Tiba-tiba aku lupa mau
ngomong apa. Dan semua tertawa. Haduh, bikin tambah deg-degan saja. Persentasi
berjalan sesuai perencanaan. Kadang-kadang peserta lain tertawa, terdiam, tertawa
lagi. Kadang juga menyerangku dengan beberapa pertanyaan. Untungnya saat itu
aku sebagai guru. Peserta lain yang sebenarnya adalah para guru juga jadi
murid-muridku saat itu. Padahal banyak yang sudah tua. Presentasi berakhir.
Rasanya melegakan sekali, seperti bisul pecah. Beban di pundak terasa ringan.
Tiba
waktunya evaluasi. Hasilnya lumayan. Tapi banyak koreksi di sana-sini. Semua
peserta memberikan evaluasi langsung yang dipimpin oleh fasilitator. Oh ya,
kemarin aku menyebut instruktur, bukan fasilitator. Tapi maksudku sama saja.hehe. Satu-satu evaluasi muncul. Mulai
dari pembukaan, kegiatan inti, sampai penutup. Ada komentar bagus, ada juga
komentar ‘yang bikin sakit hati’ tapi membangun. Menarik sekali. Ternyata aku
cukup berani berdiri dihadapan puluhan guru yang berasal dari berbagai sekolah.
Padahal sebenarnya aku seorang pemalu yang lebih suka menyendiri daripada
berada di tengah-tengah orang banyak, apalagi berdiri dan berbicara. Satu
bagian dari dalam diriku sudah kulawan hari ini.
Tadi siang pas sedang bikin RPP, sebelum peer teaching, kelompok kami kebingungan mengenai satu hal. Aku memanggil fasilitator ke meja kami. Dia datang. Maksudku fasilitatornya. Namanya Pak Odik. Ia membantu masalah kami. Setelah menjelaskan cukup panjang, Pak Odik mengutarakan bahwa salah satu kendala penerapan kurikulum 2013 adalah penerimaan masyarakat. Dari pengalamannya, masyarakat keberatan. Karena di kurikulum ini peran guru hanya membimbing murid. Murid belajar sendiri atau berkelompok. Guru tidak banyak menjelaskan. Benar juga sih kalau masyarakat atau orang tua keberatan, apalagi kalau sekolah swasta yang mahal, masa guru kerja sedikit tapi dibayar alias digaji. Padahal guru digaji untuk digaji untuk mengajar, bukan hanya membimbing atau melihat murid belajar sendiri. Ya begitulah keberatan masyarakat, katanya. Tapi lama-lama masyarakat akan mengerti kok. O begitu. Baiklah. Masyarakat kita memang mudah mengerti.hehehe
Ngomong-ngomong besok subuh jam 3 Brazil lawan Kamerun ya? Oke siap-siap bangun lebih pagi.
Langganan:
Postingan (Atom)