Bimbingan belajar atau bimbel pasti sudah akrab di telinga kita. Terutama bagi para guru, orang tua, dan murid. Sebenarnya apa itu bimbel? Apakah bimbel hanya sekadar menyelesaikan soal-soal dan untuk mempersiapkan murid masuk ke sekolah favorit yang ingin dia tuju? Apakah bimbel ikut mencerdaskan kehidupan bangsa? Apakah bimbel ada atau hadir karena lembaga pendidikan (sekolah) gagal dalam perannya?
Kebanyakan bimbel sekarang bertujuan untuk membantu siswa dalam memahami pelajaran di sekolah. Ada juga yang membantu siswa agar bisa masuk sekolah/atau perguruan tinggi pilihannya. Pertanyaannya sekarang, apakah sekolah tidak mampu melakukannya? Apakah murid tidak (cukup) memahami pelajaran di sekolah?
Munculnya bimbel, menurutku, adalah akibat dari gagalnya sekolah dalam menjalankan pendidikan. Dan juga akibat dari muatan kurikulum yang terlalu berat buat siswa. Kegagalan sekolah merupakan kegagalan guru. Kalau mau jujur sebenarnya masih banyak guru yang mengajar secara asal-asalan, malas, sering tidak masuk kelas, dan ada juga yang (mungkin) tidak bisa mengajar. Bahkan adanya sertifikasi guru pun tidak memberikan dampak yang signifikan, malah tidak ada perubahan. Bahkan parahnya, tunjangan sertifikasi dijadikan ajang untuk pamer. Beli inilah - beli itulah. Kondisi inilah yang membuat bimbel muncul.
Bimbel memanfaatkan kondisi ini. Mengiming-imingi murid mendapatkan nilai terbaik, bisa lulus universitas terbaik, dan kesuksesan di masa depan. Metode yang digunakan adalah mengerjakan soal-soal dengan cara cepat. Ini bisa berbahaya, karena bisa mengurangi daya kritis anak untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Buktinya waktu di sekolah, murid-murid dengan bangga menyelesaikan tugas, padahal yang mengerjakan guru bimbelnya. Bahkan, parahnya, ada bimbel yang menawarkan kunci jawaban saat ujian nasional.
Apakah bimbel turut mencerdaskan kehidupan bangsa seperti amanat undang-undang dasar? Kalau dilihat dari metodenya, tentu tidak. Malah anak diajar bersikap pragmatis/praktis, mau mudahnya saja, tidak mau berusaha keras. Kalau sampai menawarkan kunci jawaban, justru menjerumuskan murid pada dosa kecurangan/ketidakjujuran.
Ditinjau dari kurikulum yang memuat materi pelajaran yang berat buat murid, ini dikembalikan kepada pemerintah. Adanya kurikulum 2013 tidak membuat perbedaan. Malah menambah beban murid. Kurikulum 2013 sepertinya perlu ditinjau kembali.
Bagaimana dengan bimbel yang sudah menjamur sekarang? Menurutku, pemerintah perlu menindaklanjuti kalau ada kecurangan-kecurangan. Dan sebenarnya, bimbel tidak bisa disalahkan juga. Kalau sekolah memperbaiki diri, guru-guru meningkatkan kualitas mengajar, maka dengan sendirinya eksistensi/keberadaan bimbel akan berkurang. Pertanyaannya, apakah sekolah/guru sanggup?
Selasa, 19 Agustus 2014
Minggu, 10 Agustus 2014
Komentator ala MedSos
Menarik juga ya membaca komentar-komentar orang di media sosial tentang berita yang sedang hangat-hangatnya. Misalnya tentang kelompok teroris, gosip para artis, berita politik, dan lain-lain. Aku memang tidak tertarik membaca berita-berita itu. Apalagi kalau dishare di media sosial seperti facebook atau twitter misalnya. Karena beritanya tidak lengkap. Hanya ingin memanas-manasi keadaan atau menambah rating pembaca saja. Lucu.
Tapi yang membuat menarik, sekaligus prihatin, adalah para komentatornya. Ada yang sok tahu, ada yang tidak nyambung, ada yang adu domba antar komentator, ada yang netral, dan berbagai tingkah lainnya. Pertanyaannya, 1) Siapakah para komentator itu? 2) Apakah mereka membaca isi beritanya atau hanya baca judul saja lalu komentar? 3) mengapa mereka mempunyai waktu untuk mengomentari semua itu?
Siapa mereka? Kemungkinan besar mereka orang-orang muda, generasi muda bangsa. Apa mereka baca isi beritanya, tidak penting. Yang paling memprihatinkan adalah mereka menggunakan waktu hanya untuk mengomentari hal-hal yang tidak penting. Apa mereka adalah orang-orang yang kekurangan pekerjaan sampai-sampai punya waktu untuk memberi komentar? Kurasa mereka adalah korban media dan mereka tidak menyadari itu.
Kalau diperhatikan isi komentarnya, kebanyakan tidak berkualitas. Saling menjelekkan. Saling menganggap diri paling 'benar'. Bahkan ada yang sampai mengeluarkan kata-kata kasar, jorok dan kosong. Tidak bermakna dan tidak bermanfaat.
Karena melihat banyaknya komentar jenis ini, bisa sampai ribuan, mungkin bisa disimpulkan bahwa inilah gambaran generasi muda kita. Barangkali aku salah. Namun, kalau kondisinya benar seperti itu, betapa parahnya keadaan bangsa kita di masa mendatang. Generasi yang akan menjalankan bangsa ini adalah generasi yang kurang berkualitas. Generasi yang hanya bisa komentar negatif. Generasi yang tidak berpikir kritis.
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya peran orang tua. Orang tua sibuk dengan 'urusannya'. Orang tua di sini bisa berarti orang tua kandung atau dalam arti lain, pemerintah.
Wahai orang tua, perhatikanlah anak-anakmu.
Tapi yang membuat menarik, sekaligus prihatin, adalah para komentatornya. Ada yang sok tahu, ada yang tidak nyambung, ada yang adu domba antar komentator, ada yang netral, dan berbagai tingkah lainnya. Pertanyaannya, 1) Siapakah para komentator itu? 2) Apakah mereka membaca isi beritanya atau hanya baca judul saja lalu komentar? 3) mengapa mereka mempunyai waktu untuk mengomentari semua itu?
Siapa mereka? Kemungkinan besar mereka orang-orang muda, generasi muda bangsa. Apa mereka baca isi beritanya, tidak penting. Yang paling memprihatinkan adalah mereka menggunakan waktu hanya untuk mengomentari hal-hal yang tidak penting. Apa mereka adalah orang-orang yang kekurangan pekerjaan sampai-sampai punya waktu untuk memberi komentar? Kurasa mereka adalah korban media dan mereka tidak menyadari itu.
Kalau diperhatikan isi komentarnya, kebanyakan tidak berkualitas. Saling menjelekkan. Saling menganggap diri paling 'benar'. Bahkan ada yang sampai mengeluarkan kata-kata kasar, jorok dan kosong. Tidak bermakna dan tidak bermanfaat.
Karena melihat banyaknya komentar jenis ini, bisa sampai ribuan, mungkin bisa disimpulkan bahwa inilah gambaran generasi muda kita. Barangkali aku salah. Namun, kalau kondisinya benar seperti itu, betapa parahnya keadaan bangsa kita di masa mendatang. Generasi yang akan menjalankan bangsa ini adalah generasi yang kurang berkualitas. Generasi yang hanya bisa komentar negatif. Generasi yang tidak berpikir kritis.
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya peran orang tua. Orang tua sibuk dengan 'urusannya'. Orang tua di sini bisa berarti orang tua kandung atau dalam arti lain, pemerintah.
Wahai orang tua, perhatikanlah anak-anakmu.
Minggu, 03 Agustus 2014
Ingin Kenal
Kalau tidak punya ide menulis biasanya aku suka marah sendiri. Sudah berlama-lama di depan laptop, tetap saja tidak menulis. Kadang-kadang kuambil buku. Kubaca. Satu dua jam tidak terasa. Menghadap laptop lagi. Belum ada ide. Padahal aku ingin sekali menulis. Entah menulis apa saja. Yang penting menulis.
Aku mau cerita saja mengenai seorang gadis yang ingin kukenal. Bingung dari mana memulainya. Nama? Tidak. Aku tidak mau menyebut namanya. Malu. Dan nanti akan jadi bahan pembicaraan di kantor. Aku belum pernah bertemu gadis itu. Kami berteman di media sosial, facebook. Dia sering mengepos foto-fotonya. Dari situlah awal aku ingin mengenalnya dari dekat. Kusapa dia lewat aplikasi chating. Tidak ada balasan. Kucoba lagi satu dua kali. Tetap.
Beberapa hari bersabar. Gadis ini susah diajak kenalan. Mungkin dia menyangka aku hanya iseng, tidak serius. Wajar saja, dia kan belum mengenalku. Baiklah kucoba lagi. Kali ini bukan sapaan. Kukirim pertanyaan, "aku mau nanya, boleh?"... Lama... Mungkin ini serius atau tidak, pikirnya. Begitu menurut perkiraanku. Benar saja. "Nanya apa?" balasnya. Ada balasan. Ah senangnya. Tapi pertanyaanku apa? Bingung. Kucari pertanyaan yang terlihat serius. Emang ada pertanyaan asal-asalan? Entahlah. Asal dia balas saja, aku sudah gembira.
Satu dua menit lewat. Belum ada yang ingin kutanya. Lima menit lewat. Masih. Dia off. Terlambat.
Aku mau cerita saja mengenai seorang gadis yang ingin kukenal. Bingung dari mana memulainya. Nama? Tidak. Aku tidak mau menyebut namanya. Malu. Dan nanti akan jadi bahan pembicaraan di kantor. Aku belum pernah bertemu gadis itu. Kami berteman di media sosial, facebook. Dia sering mengepos foto-fotonya. Dari situlah awal aku ingin mengenalnya dari dekat. Kusapa dia lewat aplikasi chating. Tidak ada balasan. Kucoba lagi satu dua kali. Tetap.
Beberapa hari bersabar. Gadis ini susah diajak kenalan. Mungkin dia menyangka aku hanya iseng, tidak serius. Wajar saja, dia kan belum mengenalku. Baiklah kucoba lagi. Kali ini bukan sapaan. Kukirim pertanyaan, "aku mau nanya, boleh?"... Lama... Mungkin ini serius atau tidak, pikirnya. Begitu menurut perkiraanku. Benar saja. "Nanya apa?" balasnya. Ada balasan. Ah senangnya. Tapi pertanyaanku apa? Bingung. Kucari pertanyaan yang terlihat serius. Emang ada pertanyaan asal-asalan? Entahlah. Asal dia balas saja, aku sudah gembira.
Satu dua menit lewat. Belum ada yang ingin kutanya. Lima menit lewat. Masih. Dia off. Terlambat.
Rabu, 30 Juli 2014
Cerita Nila
Nila seorang mahasiswi di salah satu kampus di sebuah kota kecil nan indah. Seorang mahasiswi jurusan biologi. Sederhana penampilannya, namun menarik. Dia punya banyak teman di kampus. Selain disibukkan oleh aktivitas kuliah, dia juga kadang-kadang membantu ibunya di rumah. Kakaknya adalah tempat ia mencurahkan hati bila sedang dalam masalah, apapun. Namun, kadang-kadang kakaknya terlalu sibuk bekerja.
Siapa yang pernah menjalani masa-masa indah selama kuliah? Tentu semua yang pernah kuliah. Tak terkecuali Nila. Selain kebersamaan dengan teman-teman, yang selalu memberikan semangat, Nila juga mengalami masa yang indah, yang spesial, yaitu jatuh cinta. Ah, siapa yang tidak pernah jatuh cinta.
Kisah ini dimulai sejak ia mengenal seorang pria. Edo namanya. Entah apa yang membuatnya jatuh cinta. Cinta memang tak butuh alasan. Singkat cerita Nila dan Edo berpacaran. Mereka menjalin hubungan dengan didasari kesetiaan. Setia... itu kata yang mereka pilih untuk perjalanan cinta mereka. Alangkah indahnya sebuah kisah cinta bila kesetiaan menjadi kata yang mengiringi tiap-tiap langkah. Kata itu menjadi penjaga sebuah hubungan. Itulah yang diyakini oleh Nila.
Suatu ketika, dalam hitungan detik, seperti disambar petir, Nila harus menerima kenyataan bahwa Edo kini berjalan dengan gadis lain. Saat itu Edo sedang praktek di suatu tempat, lalu berkenalan dengan seorang gadis, Ani namanya. Edo sering pulang dengan Ani. Mungkin karena sering bersama, tumbuhlah cinta di antara mereka. Cinta yang salah. Sebab Edo sudah punya kekasih. Kini Edo bersama Ani. Bertelfon-telfonan, berbalasan sms, dan jalan bersama. Hingga suatu hari Nila mengetahui segalanya.
"Aku menyesal, ternyata kesetiaan itu tak ada padamu," bisik Nila dalam hati sambil menangis. Sakit sekali. Cinta yang ia titipkan, mudah saja dikhianati oleh Edo. Rasa sakit, cemburu, hancur berkeping-keping, itulah yang dirasakan Nila tiap kali ia membayangkan Edo bersama Ani. Entah kenapa bayang-bayang itu selalu mendatanginya.
Bukan perkara mudah bagi Nila untuk melupakan Edo. Nila masih mencinta pria itu, namun ia juga tak mengharapkannya lagi. Nila takut kecewa. Seiring waktu bergulir, Edo pun perlahan menjauh. Yang tersisa kini hanyalah perih dan luka di hati Nila. Semakin jauh ia biarkan Edo pergi, semakin sedih hatinya.
Serpihan-serpihan kenangan bersama Edo memang masih menghiasi malam-malamnya. Namun, satu hal yang ia pahami bahwa ketika ia menangis, itu berarti hatinya masih utuh walau menderita. Suatu hari kelak, hati yang ia jaga ini akan menemukan cinta sejatinya.
"Selamat berbahagia untukmu, Edo. Kuikhlaskan kau bersamanya," bisik Nila dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Nila masih melanjutkan kuliahnya walau tanpa Edo kini. Tugas akhir menanti. Ia harus fokus. Masa depannya jauh lebih berarti.
Siapa yang pernah menjalani masa-masa indah selama kuliah? Tentu semua yang pernah kuliah. Tak terkecuali Nila. Selain kebersamaan dengan teman-teman, yang selalu memberikan semangat, Nila juga mengalami masa yang indah, yang spesial, yaitu jatuh cinta. Ah, siapa yang tidak pernah jatuh cinta.
Kisah ini dimulai sejak ia mengenal seorang pria. Edo namanya. Entah apa yang membuatnya jatuh cinta. Cinta memang tak butuh alasan. Singkat cerita Nila dan Edo berpacaran. Mereka menjalin hubungan dengan didasari kesetiaan. Setia... itu kata yang mereka pilih untuk perjalanan cinta mereka. Alangkah indahnya sebuah kisah cinta bila kesetiaan menjadi kata yang mengiringi tiap-tiap langkah. Kata itu menjadi penjaga sebuah hubungan. Itulah yang diyakini oleh Nila.
Suatu ketika, dalam hitungan detik, seperti disambar petir, Nila harus menerima kenyataan bahwa Edo kini berjalan dengan gadis lain. Saat itu Edo sedang praktek di suatu tempat, lalu berkenalan dengan seorang gadis, Ani namanya. Edo sering pulang dengan Ani. Mungkin karena sering bersama, tumbuhlah cinta di antara mereka. Cinta yang salah. Sebab Edo sudah punya kekasih. Kini Edo bersama Ani. Bertelfon-telfonan, berbalasan sms, dan jalan bersama. Hingga suatu hari Nila mengetahui segalanya.
"Aku menyesal, ternyata kesetiaan itu tak ada padamu," bisik Nila dalam hati sambil menangis. Sakit sekali. Cinta yang ia titipkan, mudah saja dikhianati oleh Edo. Rasa sakit, cemburu, hancur berkeping-keping, itulah yang dirasakan Nila tiap kali ia membayangkan Edo bersama Ani. Entah kenapa bayang-bayang itu selalu mendatanginya.
Bukan perkara mudah bagi Nila untuk melupakan Edo. Nila masih mencinta pria itu, namun ia juga tak mengharapkannya lagi. Nila takut kecewa. Seiring waktu bergulir, Edo pun perlahan menjauh. Yang tersisa kini hanyalah perih dan luka di hati Nila. Semakin jauh ia biarkan Edo pergi, semakin sedih hatinya.
Serpihan-serpihan kenangan bersama Edo memang masih menghiasi malam-malamnya. Namun, satu hal yang ia pahami bahwa ketika ia menangis, itu berarti hatinya masih utuh walau menderita. Suatu hari kelak, hati yang ia jaga ini akan menemukan cinta sejatinya.
"Selamat berbahagia untukmu, Edo. Kuikhlaskan kau bersamanya," bisik Nila dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Nila masih melanjutkan kuliahnya walau tanpa Edo kini. Tugas akhir menanti. Ia harus fokus. Masa depannya jauh lebih berarti.
Senin, 28 Juli 2014
Hidup
Hidup lebih penting dari apa pun; lebih penting dari fasilitas hidup, lebih penting dari kegagalan hidup, kebanggaan hidup, keberhasilan hidup.
Marilah kita menjaga hidup kita. Hidup adalah anugerah Tuhan. Bayangkan saja Anda tidur malam hari dan paginya tidak pernah bangun lagi. Aku pernah membayangkannya dan itu membuatku takut tidur.hehehe Cukup mengerikan rasanya.
Aku pernah mendengar bahwa kematian berarti kita kehilangan diri kita sendiri. Kita tidak merasakan kaki, tangan, dan badan kita lagi. Kita tidak melihat dunia sekeliling kita. Tidak merasakan apapun.
Kalau kita bangun pagi, mendengar kicau burung (dari kandang burung tetangga sekalipun), merasakan matahari pagi, itu berarti kita masih hidup. Bersyukurlah.
Marilah kita menjaga hidup kita. Hidup adalah anugerah Tuhan. Bayangkan saja Anda tidur malam hari dan paginya tidak pernah bangun lagi. Aku pernah membayangkannya dan itu membuatku takut tidur.hehehe Cukup mengerikan rasanya.
Aku pernah mendengar bahwa kematian berarti kita kehilangan diri kita sendiri. Kita tidak merasakan kaki, tangan, dan badan kita lagi. Kita tidak melihat dunia sekeliling kita. Tidak merasakan apapun.
Kalau kita bangun pagi, mendengar kicau burung (dari kandang burung tetangga sekalipun), merasakan matahari pagi, itu berarti kita masih hidup. Bersyukurlah.
Kamis, 24 Juli 2014
Mau Sukses?
Belajar delapan jam sehari di luar jam kuliah. Itu adalah pesan wali kelasku dulu saat aku lulus SMA. Waktu itu aku sedang mengurus surat keterangan kelulusan karena ijazah belum keluar, sementara aku harus berangkat ke luar pulau esok harinya. Pesan itu masih kuingat sampai sekarang. Belajar dan belajar kalau ingin berhasil. Pada kenyataannya memang aku tidak mampu melakukan pesan itu hingga aku lulus sarjana.
Kemarin aku membaca satu buku tentang mendidik anak. Salah satu babnya berisi tulisan Prof. Yohanes Surya. Siapa yang tidak kenal dengan Prof Yohanes Surya? Kalau tidak kenal, keterlaluan.
Judul bab itu 'Memotivasi Anak Gemar Belajar dan Membaca'. Dimulai dengan penjelasan salah satu percobaan fisika. Pasir yang dituang ke atas bidang datar akan membentuk gunung dengan kemiringan tertentu. Bila pasir ditambah terus, gunungnya juga makin besar dengan kemiringan yang tetap. Gunung pasir tersebut mengatur dirinya sendiri (self organizing), seberapa banyak pun kita tuang. Betul juga ya. Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.
Selanjutnya dijelaskan, ternyata mengatur diri sendiri berlaku di semua bidang kehidupan. Ini dinamakan berada pada kondisi kritis. Tidak ada pilihan lain. Seperti pasir tadi tidak punya pilihan, mereka harus mengatur diri sendiri agar bisa bertahan.
Inilah yang diterapkan oleh Prof. Yohanes Surya kepada anak-anaknya. Ia memberikan satu pilihan saja: membaca buku. Tidak ada pilihan lain. Ia juga menerapkan ilmu ini kepada siswa-siswa peserta olimpiade. Tidak ada pilihan lain selain belajar fisika. Dilarang nonton tv. Inilah yang disebut kondisi kritis. Pilihannya hanya belajar kalau mau berhasil. Ada lagi yang berkesan yaitu proses belajar para sang juara olimpiade. Mereka belajar sampai 16 jam sehari selama dua bulan penuh sebelum lomba. (Wow... luuar biasa!). Itu pun di awal-awal Indonesia ikut olimpiade fisika dan baru mampu meraih medali perak. Baru tahun-tahun berikutnya, demi medali emas, waktu persiapan selama satu tahun. Kalau aku di posisi mereka, aku pasti tidak sanggup. Tapi, kalau mereka bisa, mengapa aku tidak?
Bagaimana agar anak gemar belajar? Tempatkan mereka pada kondisi kritis. Itu pesan Prof. Yohanes Surya.
Terkait menonton tv, ternyata bisa mengurangi konsentrasi. Perhatikan saja, kita sedang menonton sebuah acara, lalu tiba-tiba terpotong oleh iklan. Begitu terus. Konsentrasi kita diaduk-aduk. Akibatnya kita menjadi mudah bosan. Baru lima menit membaca, sudah capek. Itulah alasan Prof. Yohanes Surya melarang peserta olimpiade fisika menonton tv.
Namun, sekarang bukan hanya televisi yang menjadi media hiburan. Malah makin bertambah. Misalnya gadget, smartfon, playstation, media sosial dan lain-lain. Dan sedihnya, hampir semua anak sekolah telah terikat akan peralatan-peralatan ini; bukannya belajar dengan sungguh-sungguh. Masalahnya, anak-anak sekarang tidak diletakkan di kondisi kritis. Mereka punya banyak pilihan. Tentu mereka akan memilih hal yang menyenangkan. Parahnya justru hal yang menyenangkan itulah yang membuat anak-anak menggunakan otaknya untuk hal yang mudah-mudah; bukannya berpikir kritis.
Pesan wali kelasku di atas memang benar, meski masih jauh dari standar peserta olimpiade. Itupun tidak kulakukan. Ternyata banyak waktu yang kubuang sia-sia. Harus tobat nih. Melatih diri berada pada kondisi kritis. Tidak ada pilihan selain belajar. Pilih yang lain berarti gagal.
Kemarin aku membaca satu buku tentang mendidik anak. Salah satu babnya berisi tulisan Prof. Yohanes Surya. Siapa yang tidak kenal dengan Prof Yohanes Surya? Kalau tidak kenal, keterlaluan.
Judul bab itu 'Memotivasi Anak Gemar Belajar dan Membaca'. Dimulai dengan penjelasan salah satu percobaan fisika. Pasir yang dituang ke atas bidang datar akan membentuk gunung dengan kemiringan tertentu. Bila pasir ditambah terus, gunungnya juga makin besar dengan kemiringan yang tetap. Gunung pasir tersebut mengatur dirinya sendiri (self organizing), seberapa banyak pun kita tuang. Betul juga ya. Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.
Selanjutnya dijelaskan, ternyata mengatur diri sendiri berlaku di semua bidang kehidupan. Ini dinamakan berada pada kondisi kritis. Tidak ada pilihan lain. Seperti pasir tadi tidak punya pilihan, mereka harus mengatur diri sendiri agar bisa bertahan.
Inilah yang diterapkan oleh Prof. Yohanes Surya kepada anak-anaknya. Ia memberikan satu pilihan saja: membaca buku. Tidak ada pilihan lain. Ia juga menerapkan ilmu ini kepada siswa-siswa peserta olimpiade. Tidak ada pilihan lain selain belajar fisika. Dilarang nonton tv. Inilah yang disebut kondisi kritis. Pilihannya hanya belajar kalau mau berhasil. Ada lagi yang berkesan yaitu proses belajar para sang juara olimpiade. Mereka belajar sampai 16 jam sehari selama dua bulan penuh sebelum lomba. (Wow... luuar biasa!). Itu pun di awal-awal Indonesia ikut olimpiade fisika dan baru mampu meraih medali perak. Baru tahun-tahun berikutnya, demi medali emas, waktu persiapan selama satu tahun. Kalau aku di posisi mereka, aku pasti tidak sanggup. Tapi, kalau mereka bisa, mengapa aku tidak?
Bagaimana agar anak gemar belajar? Tempatkan mereka pada kondisi kritis. Itu pesan Prof. Yohanes Surya.
Terkait menonton tv, ternyata bisa mengurangi konsentrasi. Perhatikan saja, kita sedang menonton sebuah acara, lalu tiba-tiba terpotong oleh iklan. Begitu terus. Konsentrasi kita diaduk-aduk. Akibatnya kita menjadi mudah bosan. Baru lima menit membaca, sudah capek. Itulah alasan Prof. Yohanes Surya melarang peserta olimpiade fisika menonton tv.
Namun, sekarang bukan hanya televisi yang menjadi media hiburan. Malah makin bertambah. Misalnya gadget, smartfon, playstation, media sosial dan lain-lain. Dan sedihnya, hampir semua anak sekolah telah terikat akan peralatan-peralatan ini; bukannya belajar dengan sungguh-sungguh. Masalahnya, anak-anak sekarang tidak diletakkan di kondisi kritis. Mereka punya banyak pilihan. Tentu mereka akan memilih hal yang menyenangkan. Parahnya justru hal yang menyenangkan itulah yang membuat anak-anak menggunakan otaknya untuk hal yang mudah-mudah; bukannya berpikir kritis.
Pesan wali kelasku di atas memang benar, meski masih jauh dari standar peserta olimpiade. Itupun tidak kulakukan. Ternyata banyak waktu yang kubuang sia-sia. Harus tobat nih. Melatih diri berada pada kondisi kritis. Tidak ada pilihan selain belajar. Pilih yang lain berarti gagal.
Apa yang kita kejar?
Cepat. Dunia semakin cepat. Perkembangan teknologi, perubahan masyarakat, pekerjaan, dan lain sebagainya terasa cepat. Siapa yang tidak merasakan kecepatan ini? Barangkali mereka yang tinggal di pedesaan.
Aku dari desa. Beda rasanya tinggal di kota dan di desa. Di desa tenang, tentram, jalanan sepi. Apalagi kalau sudah malam. Yang terdengar suara-suara serangga malam, bunyi kodok, atau suara burung hantu. Kalau di kota? O...jangan tanya. Kita mesti buru-buru. Takut telat. Sudah begitu, jalanan macet.
Bicara soal kecepatan di dunia kerja, tentu seorang pekerja sangat paham hal ini. Dimulai dari pagi hari. Bangun. Mandi. Bersiap-siap. Lalu berangkat. Pulang malam. Semua dilakukan sering dengan buru-buru. Belum lagi tuntutan dari kantor. Target harus tercapai, program harus berhasil, pesaing-pesaing harus dikalahkan, harus ada inovasi baru, dan lain sebagainya. Sungguh menguras tenaga dan emosi. Dengan kata lain melelahkan. Belum habis masalah kemarin, muncul masalah baru. Begitu terus setiap hari. Bayangkan kalau kita berpikir lambat, apalagi bertindak lambat. Bisa-bisa kita langsung kehilangan pekerjaan. Dibutuhkan berpikir cepat dan bertindak cepat.
Lihat sekitar kita. Apa yang terlihat? Orang-orang bergerak cepat. Kita bertemu orang yang berbeda di jalan. Selain rekan kerja, kita bertemu orang yang berbeda setiap hari. Cara-cara bertingkah setiap oang juga berbeda. Semua berubah dengan cepat. Nilai-nilai dalam masyarakat juga berubah. Misalnya dalam hal berkomunikasi. Tegur sapa mulai berkurang. Senyuman juga memudar. Semua berkutat dengan smarfon, deadline yang mendesak, dan pekerjaan. Lingkungan sekitar jadi terabaikan. Termasuk orang lain.
Kalau yang satu ini yaitu perkembangan teknologi, semua pasti sudah tahu. Dalam waktu cepat teknologi berubah. Generasi tua sangat merasakan ini. Biasanya anak-anak lebih menguasai teknologi baru ketimbang orang tuanya. Peralatan canggih selalu muncul. Alasannya sih bagus yaitu untuk memudahkan pekerjaan manusia. Tapi seiring perkembangan teknologi, terjadi hal yang memprihatinkan yaitu hilangnya kesadaran masyarakat akan dunia nyata. Karena sudah dimanjakan oleh teknologi terbaru, kita mengabaikan orang lain, alam sekitar, dan diri kita sebagai manusia.
Masih banyak lagi hal yang berubah dengan cepat. Misalnya fashion. Aku tidak paham tentang hal ini. Yang aku tahu setiap waktu selalu muncul mode-mode terbaru. Orang-orang berebut memiliki pakaian yang sedang trendi. Atau apalah.
Kalau kita berpikir kritis, untuk apa semua itu? Apa arti perkembangan zaman? Kepada siapa kita ingin membuktikan pencapaian kita? Kita maju ke arah mana? Apa artinya berkembang dengan cepat? Apa manfaatnya? Apa yang kita cari? Apa yang kita inginkan? Masih banyak pertanyaan lain. Ini saja belum dijawab. Namun, silakan tambahkan pertanyaan sendiri (kalau ada).
Aku pernah mengikuti kamp tahunan alumni. Di salah satu sesi acaranya, seorang pembicara mengatakan, "kita tidak perlu membuktikan kepada siapapun semua pencapaian kita." Kalimatnya berkesan buatku. Sangat mendalam. Untuk apa bekerja keras, belajar mati-matian, untuk apa mengejar hal tertentu, kalau untuk 'dipamerkan' kepada orang lain, buat apa? Sia-sia. Kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apakah perlu bekerja sampai larut malam? Apa sih yang kita harapkan? Kebahagiaan.
Inilah jebakan dunia. Dunia menawarkan kebahagiaan versinya. Dunia menawarkan, kalau kita mencapai ini-itu, kita akan bahagia. Padahal saat mencapainya justru kita makin susah.
Di salah satu buku yang kubaca, bahagia itu sederhana. Menghirup udara pagi, menikmati cahaya matahari pagi, menikmati pekerjaan sebagai panggilan hidup, menikmati tidur nyenyak malam hari. Cukup. Kalau orang berpikir seperti ini, maka mereka akan menikmati hidup. Mengatur jadwal dengan pas. Tidak lagi terburu-buru. Irama hidup juga melambat.
Masih mau berpikir untuk maju? Silakan saja asal jangan salah memaknai kemajuan itu. Nanti yang didapat cuma: lelah.
Aku dari desa. Beda rasanya tinggal di kota dan di desa. Di desa tenang, tentram, jalanan sepi. Apalagi kalau sudah malam. Yang terdengar suara-suara serangga malam, bunyi kodok, atau suara burung hantu. Kalau di kota? O...jangan tanya. Kita mesti buru-buru. Takut telat. Sudah begitu, jalanan macet.
Bicara soal kecepatan di dunia kerja, tentu seorang pekerja sangat paham hal ini. Dimulai dari pagi hari. Bangun. Mandi. Bersiap-siap. Lalu berangkat. Pulang malam. Semua dilakukan sering dengan buru-buru. Belum lagi tuntutan dari kantor. Target harus tercapai, program harus berhasil, pesaing-pesaing harus dikalahkan, harus ada inovasi baru, dan lain sebagainya. Sungguh menguras tenaga dan emosi. Dengan kata lain melelahkan. Belum habis masalah kemarin, muncul masalah baru. Begitu terus setiap hari. Bayangkan kalau kita berpikir lambat, apalagi bertindak lambat. Bisa-bisa kita langsung kehilangan pekerjaan. Dibutuhkan berpikir cepat dan bertindak cepat.
Lihat sekitar kita. Apa yang terlihat? Orang-orang bergerak cepat. Kita bertemu orang yang berbeda di jalan. Selain rekan kerja, kita bertemu orang yang berbeda setiap hari. Cara-cara bertingkah setiap oang juga berbeda. Semua berubah dengan cepat. Nilai-nilai dalam masyarakat juga berubah. Misalnya dalam hal berkomunikasi. Tegur sapa mulai berkurang. Senyuman juga memudar. Semua berkutat dengan smarfon, deadline yang mendesak, dan pekerjaan. Lingkungan sekitar jadi terabaikan. Termasuk orang lain.
Kalau yang satu ini yaitu perkembangan teknologi, semua pasti sudah tahu. Dalam waktu cepat teknologi berubah. Generasi tua sangat merasakan ini. Biasanya anak-anak lebih menguasai teknologi baru ketimbang orang tuanya. Peralatan canggih selalu muncul. Alasannya sih bagus yaitu untuk memudahkan pekerjaan manusia. Tapi seiring perkembangan teknologi, terjadi hal yang memprihatinkan yaitu hilangnya kesadaran masyarakat akan dunia nyata. Karena sudah dimanjakan oleh teknologi terbaru, kita mengabaikan orang lain, alam sekitar, dan diri kita sebagai manusia.
Masih banyak lagi hal yang berubah dengan cepat. Misalnya fashion. Aku tidak paham tentang hal ini. Yang aku tahu setiap waktu selalu muncul mode-mode terbaru. Orang-orang berebut memiliki pakaian yang sedang trendi. Atau apalah.
Kalau kita berpikir kritis, untuk apa semua itu? Apa arti perkembangan zaman? Kepada siapa kita ingin membuktikan pencapaian kita? Kita maju ke arah mana? Apa artinya berkembang dengan cepat? Apa manfaatnya? Apa yang kita cari? Apa yang kita inginkan? Masih banyak pertanyaan lain. Ini saja belum dijawab. Namun, silakan tambahkan pertanyaan sendiri (kalau ada).
Aku pernah mengikuti kamp tahunan alumni. Di salah satu sesi acaranya, seorang pembicara mengatakan, "kita tidak perlu membuktikan kepada siapapun semua pencapaian kita." Kalimatnya berkesan buatku. Sangat mendalam. Untuk apa bekerja keras, belajar mati-matian, untuk apa mengejar hal tertentu, kalau untuk 'dipamerkan' kepada orang lain, buat apa? Sia-sia. Kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apakah perlu bekerja sampai larut malam? Apa sih yang kita harapkan? Kebahagiaan.
Inilah jebakan dunia. Dunia menawarkan kebahagiaan versinya. Dunia menawarkan, kalau kita mencapai ini-itu, kita akan bahagia. Padahal saat mencapainya justru kita makin susah.
Di salah satu buku yang kubaca, bahagia itu sederhana. Menghirup udara pagi, menikmati cahaya matahari pagi, menikmati pekerjaan sebagai panggilan hidup, menikmati tidur nyenyak malam hari. Cukup. Kalau orang berpikir seperti ini, maka mereka akan menikmati hidup. Mengatur jadwal dengan pas. Tidak lagi terburu-buru. Irama hidup juga melambat.
Masih mau berpikir untuk maju? Silakan saja asal jangan salah memaknai kemajuan itu. Nanti yang didapat cuma: lelah.
Langganan:
Postingan (Atom)