dulu sebuah kalimat yang tertulis di lembaran buku
tidak berarti bagiku sebab mataku buta tak mampu membaca
dengan sabar kau mengajariku mengenali huruf demi huruf
rangkaiankata demi rangkaiankata kemudian kalimat demi kalimat
satu per satu hingga habis waktumu hingga aku lulus
dan dinyatakan mampu melanjutkan sekolah lagi ke tingkat
paling tinggi.
dulu rahasia-rahasia yang tersembunyi bagiku dalam kata-kata
dengan mudah kupahami sebab kau mengajariku
tidak hanya merangkai kata tapi juga menemukan makna
di dalamnya.
aku pun bertumbuh semakin dewasa
melanjutkan sekolah ke luar kota dengan ijazah yang membanggakan
serta membawa harapan meraih cita-cita.
namun kau tetap di sekolah yang sama
mengajari generasi setelahku agar bisa sepertiku;
tugasmu belum selesai, guruku.
generasi terus datang, waktu terus bergulir
bagai panah melesat tanpa kembali
dan kau berdiri di tempat yang sama
membangun, membentuk, menciptakan satu generasi berikutnya
yang kelak menjadi pembangun-pembangun bangsa.
dari tanganmu terlahir para pemimpin
dari kesabaranmu tercipta manusia terdidik
dari amarahmu terbentuk pribadi yang disiplin
dari hatimu tercurah harapan 'semoga kelak anak didikku berhasil'.
untuk guruku,
kutahu kau masih di tempat yang sama
masih mempersiapkan satu pemimpin lagi,
kuucapkan terima kasih atas jasamu
lihat anak didikmu ini kini sudah berhasil.
suatu hari nanti, bila waktu mempertemukan kita,
aku akan menunduk hormat di hadapanmu
sambil menjabat dan mencium tanganmu.
(puisi ini kutulis untuk mengenang jasa para guru
yang telah mengajar dan mendidikku terkhusus untuk guru-guru sewaktu aku masih
di bangku sekolah dasar - SD Tohia Gunungsitoli)
Sabtu, 29 November 2014
Selasa, 25 November 2014
Selamat Hari Guru
Ucapan 'selamat hari guru' hari ini kuterima pertama kali dari rekan guru. Lalu kubalas 'selamat hari guru'. Tidak ada ucapan dari murid. Guru mengucapkan 'selamat hari guru' kepada rekan guru lain.
Menjadi seorang guru merupakan tugas yang sungguh mulia. Lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan sendiri, menjadi orang tua bagi para murid, dan menjadi teladan. Seorang guru tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga memberikan nilai-nilai kebajikan kepada murid-muridnya. Sehingga seorang anak menjadi pribadi yang utuh; pribadi yang berintegritas.
Bagaimana mengetahui bahwa seorang guru adalah benar-benar guru yang baik? Aku pikir tidak ada cara yang baik untuk mengukurnya. Termasuk pemberian sertifikasi guru. Menurutku, sertifikasi guru sama sekali tidak menentukan seorang guru dikatakan baik atau tidak; berkualitas atau tidak. Namun, bukan berarti tidak ada guru yang baik. Banyak juga guru yang mengabdikan dirinya dengan sepenuh hati, mengajar dan mendidik sepenuh hati, disenangi oleh murid, dan banyak murid yang diajarinya menjadi sukses. Sukses dalam hal ini berarti mampu menjadi manusia sepenuhnya di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Apa penilaian masyarakat terhadapa guru saat ini? Beberapa anggapan, mulai dari yang positif hingga negatif. Ada yang masih menghormati profesi guru, ada yang biasa saja, ada juga yang menganggap guru adalah pekerjaan yang mudah. Aku pernah mendengar orang berkata 'apa sih susahnya jadi guru, tinggal ngajarin orang doang' atau 'mengajar itu hanya hobi, bisa dilakukan oleh semua orang'. Begitulah kira-kira tanggapan yang pernah kudengar.
Aku seorang guru. Memang belum dikatakan sebagai guru profesional karena masih sedikit pengalaman. Namun, aku sudah mengalami susahnya jadi guru. Dari luar memang kelihatannya menjadi guru itu mudah. Tapi sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan. Mengajari dan mendidik puluhan anak dalam satu kelas bukanlah pekerjaan mudah. Perlakuan kepada satu anak tidak boleh disamakan kepada anak yang lain. Bayangkan saja kalau jumlah anaknya puluhan, bahkan ratusan.
Berita memprihatinkan tentang guru adalah masih ada guru yang berpenghasilan rendah. Misalnya, digaji Rp600.000,- per tiga bulan. Di samping itu, ada juga guru yang berpenghasilan sangat tinggi. Mungkin 10 kali lipat gaji guru berpenghasilan tadi. Parahnya, guru-guru PNS tenyata ada yang malas mengajar padahal gaji tetap mengalir tiap bulan. Ini sungguh memprihatinkan.
Terberkatilah guru Indonesia.
Menjadi seorang guru merupakan tugas yang sungguh mulia. Lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan sendiri, menjadi orang tua bagi para murid, dan menjadi teladan. Seorang guru tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga memberikan nilai-nilai kebajikan kepada murid-muridnya. Sehingga seorang anak menjadi pribadi yang utuh; pribadi yang berintegritas.
Bagaimana mengetahui bahwa seorang guru adalah benar-benar guru yang baik? Aku pikir tidak ada cara yang baik untuk mengukurnya. Termasuk pemberian sertifikasi guru. Menurutku, sertifikasi guru sama sekali tidak menentukan seorang guru dikatakan baik atau tidak; berkualitas atau tidak. Namun, bukan berarti tidak ada guru yang baik. Banyak juga guru yang mengabdikan dirinya dengan sepenuh hati, mengajar dan mendidik sepenuh hati, disenangi oleh murid, dan banyak murid yang diajarinya menjadi sukses. Sukses dalam hal ini berarti mampu menjadi manusia sepenuhnya di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Apa penilaian masyarakat terhadapa guru saat ini? Beberapa anggapan, mulai dari yang positif hingga negatif. Ada yang masih menghormati profesi guru, ada yang biasa saja, ada juga yang menganggap guru adalah pekerjaan yang mudah. Aku pernah mendengar orang berkata 'apa sih susahnya jadi guru, tinggal ngajarin orang doang' atau 'mengajar itu hanya hobi, bisa dilakukan oleh semua orang'. Begitulah kira-kira tanggapan yang pernah kudengar.
Aku seorang guru. Memang belum dikatakan sebagai guru profesional karena masih sedikit pengalaman. Namun, aku sudah mengalami susahnya jadi guru. Dari luar memang kelihatannya menjadi guru itu mudah. Tapi sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan. Mengajari dan mendidik puluhan anak dalam satu kelas bukanlah pekerjaan mudah. Perlakuan kepada satu anak tidak boleh disamakan kepada anak yang lain. Bayangkan saja kalau jumlah anaknya puluhan, bahkan ratusan.
Berita memprihatinkan tentang guru adalah masih ada guru yang berpenghasilan rendah. Misalnya, digaji Rp600.000,- per tiga bulan. Di samping itu, ada juga guru yang berpenghasilan sangat tinggi. Mungkin 10 kali lipat gaji guru berpenghasilan tadi. Parahnya, guru-guru PNS tenyata ada yang malas mengajar padahal gaji tetap mengalir tiap bulan. Ini sungguh memprihatinkan.
Terberkatilah guru Indonesia.
Senin, 10 November 2014
Resume: Metodologi
Pengertian
Metodologi
merupakan hal yang mengkaji perihal urutan langkah-langkah yang ditempuh supaya
pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri
ilmiah.
Kata
metodologi berasal dari kata metode dan logos.
Metodologi bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari metode-metode.
Metode
berasal dari kata Yunani methodos;
meta (menuju, melalui, mengikuti, sesudah) dan kata benda hodos (jalan, perjalanan, cara, arah). Kata methodos berarti penelitian,
metode ilmiah, uraian ilmiah. Metode adalah cara bertidak sesuai system aturan
tertentu. (Anton Bakker)
Metodologi
adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode
tersebut. (Senn)
Metode
adalah suatu prosedur atau cara mengerahui sesuatu, yang mempunyai
langkah-langkah yang sistematis. (Senn)
Unsur-unsur Metodologi
- Interpretasi: menafsirkan dengan bertumpu pada eviden obyektif, untuk mencapai kebenaran yg autentik.
- Induksi dan deduksi: penggunaan metode dengan siklus empiris, yakni observasi, induksi, deduksi, kajian, dan evaluasi.
- Koherensi Intern: usaha memahami secara benar guna memperoleh hakikat menunjukkan semua unsure structural dilihat dalam suatu struktur yang konsisten.
- Holistis: tinjauan secara mendalam untuk mencapai kebenaran secara utuh.
- Kesinambungan Historis: sebagai makhluk historis, perkembangan manusia harus dipahami melalui proses berkesinambungan. Manusia berkembang dalam pengalaman dan pikiran.
- Idealisasi: proses untuk membuat ideal, artinya upaya dalam penelitian untuk memperoleh hasil yang ideal/sempurna.
- Komparasi: upaya membandingkan sifat hakiki dalam objek penelitian.
- Heuristika: metode menemukan jalan baru secara ilmiah untuk memecahkan masalah.
- Analogical: filsafat meneliti arti, nilai, dan maksud yang diekspresikan dalam fakta dan data.
- Deskripsi: hasil penelitian harus bisa dideskripsikan.
Prinsip Metodologi
menurut beberapa ahli:
Rene Descartes
- Menjelaskan masalah ilmu-ilmu yang diawali dengan menyebutkan akal sehat. Akal sehat ada yang kurang/lebih memilikinya, namun yang terpenting adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah.
- Menjelaskan tentang kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan dalam aktivitas ilmiah.
- Menyebutkan beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan metode.
- Menegaskan pengabdian pada kebenaran yang acapkali terkecoh oleh indra.
- Menegaskan perihal dualism dalam diri manusia; jiwa bernalar dan jasmani yang meluas.
- Dua jenis pengetahuan; spekulatif dan praktis.
Alfred Jules Ayer
Prinsip
verifikasi: merupakan pengandaian untuk melengkapi suatu criteria,
sehingga melalui criteria tersebut dapat ditentukan apakah suatu kalimat
mengandung makna atau tidak. Suatu kalimat mengandung makna, jika dan hanya
jika proposisi yang diungkapkan itu dapat dianalisis atau dapat diverifikasi
secara empiris.
Karl Raimund Popper
- Popper menolak anggapan bahwa suatu teori dapat dibuktikan dengan verifikasi. Teori-teori ilmiah selalu bersifat hipotesis, tidak ada kebenaran terakhir.
- Cara kerja metode induksi yang secara sistematis dimulai dari pengamatan secara teliti gejala yang sedang diteliti.
- Prinsip falsifiabilitas, yaitu bahwa sebuah pernyataan dapat dibuktikan kesalahannya. Maksudnya sebuah hipotesis, hokum, teori kebenarannya hanya bersifat sementara, sejauh belum ditemukan kesalahan-kesalahannya.
Michael Polanyi
Pengembangan
ilmu pengetahuan menuntut kehidupan kreatif masyarakat ilmiah yang pada
gilirannya didasarkan pada kepercayaan akan kemungkinan terungkapnya
kebenaran-kebenaran yang hingga kini masih tersembunyi.
Metode-metode filsafat:
Zeno
(Reductio ad Absurdum)
Sokrates
(Maieutik Dialektis Kritis Induktif)
Plato
(Deduktif Spekulatif Transcendental)
Aristoteles
(Silogistis Deduktif)
Plotinus
(Kontemplatif-Mistis)
Descartes
(Skeptis)
Bacon
(Induktif)
Eksistensialisme
(Eksistensial)
Fenomenologi
(Fenomenologis)
Analitik
(Verifikasi dan Klarifikasi)
Sabtu, 08 November 2014
Perilaku bisa dipelajari
Apakah kepribadian bisa berubah? Itu adalah pertanyaanku sewaktu kuliah. Jawaban dosenku adalah ya. Perilaku bisa dipelajari, karena itu kepribadian bisa berubah. Kepribadian merupakan salah satu pembentuk perilaku. Artinya perilaku lebih luas maknanya ketimbang kepribadian. Kalau kepribadian tidak bisa berubah atau diubah, untuk apa berlelah-lelah datang ke sekolah. Karena di sekolahlah perilaku diubah atau dibentuk. Meskipun perilaku bisa juga dipengaruhi oleh lingkungan di luar sekolah. Pertanyaannya sekarang adalah kepribadian apa yang perlu dibentuk? Tentunya kepribadian yang nilainya mampu bertahan sepanjang masa dan diterima di setiap tempat. Seperti pribadi yang jujur, penuh tanggung jawab, setia, dan lain-lain. Semua perilaku tersebut tentu dapat diterima di semua daerah dan selalu diharapkan ada dalam diri manusia di sepanjang masa.
Sabtu, 25 Oktober 2014
Resume I: Epistemologi
Pengertian
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani;
episteme = pengetahuan dan logos = kata, pikiran, percakapan, atau
ilmu. Jadi, epistemologi adalah kata, pikiran, percakapan tentang pengetahuan
atau ilmu pengetahuan. (Jan Hendrik Rapar)
Epistemologi merupakan pembahasan
mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber
pengetahuan? Apakah hakikat, jangkauan, dan ruang lingkup pengetahuan? Apakah
manusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan
yang mungkin ditangkap manusia? (Jujun S. Suriasumantri)
Epistemologi ialah teori tentang
pengetahuan yaitu tentang lahirnya pengetahuan, peranan, dan perkembangan
pengetahuan. (Darsono Prawironegoro)
Pengetahuan adalah suatu kata yang
digunakan untuk menunjuk kepada apa yang diketahui oleh seseorang tentang
sesuatu. (Jan Hendrik Rapar)
Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan
mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan
kita. Pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul
dalam kehidupan. Tidak semua pengetahuan merupakan ilmu. Ilmu merupakan
pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. (Jujun S. Suriasumantri)
Jenis-jenis
Pengetahuan ada tiga: seni, agama, dan ilmu. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui
manusia. Secara ontologis ilmu membatasi diri pada pengkajian obyek yang berada
dalam lingkup pengalaman manusia. (Jujun S. Suriasumantri)
Dalam buku Pengantar Filsafat (Jan
Hendrik Rapar), pengetahuan dibagi dalam tiga jenis:
- Pengetahuan biasa; nir-ilmiah dan pra-ilmiah. Nir-ilmiah merupakan hasil pencerapan indra terhadap obyek tertentu. Pra-ilmiah merupakan hasil pencerapan indrawi yang tersedia untuk diuji lebih lanjut kebenarannya.
- Pengetahuan ilmiah: pengetahuan yang diperoleh lewat penggunaan metode-metode ilmiah yang lebih menjamin kepastian kebenaran yang dicapai.
- Pengetahuan filsafati; pengetahuan yang berkaitan dengan hakikat, prinsip, dan asas dari seluruh realitas yang dipersoalkan selaku objek yang diketahui.
Sumber-sumber
pengetahuan
Plato, Descartes, Spinoza, dan Leibniz
mengatakan bahwa akal budi atau rasio adalah sumber utama bagi
pengetahuan, bahkan ada yang secara ekstrem berkata bahwa akal budi adalah
satu-satunya sumber pengetahuan.
Beberapa filsuf lainnya, seperti Bacon,
Hobbes, dan Locke, menyatakan bahwa pengalaman
indrawilah yang merupakan sumber utama bagi pengetahuan.
Immanuel
Kant mengatakan bahwa akal budi manusia hanya dapat berfungsi sebagaimana
mestinya apabila dihubungkan dengan pengalaman. (Jan Hendrik Rapar)
Asal-usul Pengetahuan
Dalam buku Filsafat Ilmu (Darsono
Prawironegoro) dikatakan bahwa pengetahuan berasal dari praktek, baik praktek
langsung (pengalaman perorangan) maupun tidak langsung (pengalaman orang lain).
Praktek melahirkan pengalaman. Pengalaman melahirkan pengetahuan. Pengetahuan
lahir melalui proses dua tingkat yaitu tingkat sensasi dan tingkat rasio.
Pengetahuan sensasional adalah
pengetahuan yang langsung ditangkap oleh kemampuan indra manusia secara apa
adanya dari praktek. Bersifat parsial, namun menjadi bahan baku untuk
menyiapkan pengetahuan rasional. Pengetahuan ini jika tidak ditingkatkan ke
pengetahuan rasional, akan menjadi pengetahuan biasa/tingkat rendah.
Pengetahuan rasional adalah pengetahuan
hasil tangkapan indra terhadap kondisi obyektif, hasil penelitian, hasil
perenungan, dan hasil dari penyimpulan dari pengetahuan sensasional.
Peranan Pengetahuan
Pengetahuan merupakan sinar dari
praktek, memimpin, mengarahkan, dan mengembangkan praktek.
Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam
mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang
didapatkan lewat metode ilmiah.
Metode, menurut Senn, merupakan suatu
prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang
sistematis.
Metodologi merupakan suatu pengkajian
dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut.
Jadi, metodologi ilmiah merupakan
pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Metodologi ini secara filsafati termasuk
dalam apa yang dinamakan epistemologi.
Menurut
Soejono Soemargono, metode ilmiah secara garis besar ada dua macam:
1.
Metode ilmiah yang bersifat umum
a. Metode
analitiko-sintesis merupakan gabungan dari metode analisis (memilah-milah
pengertian yang satu dengan yang lainnya) dan metode sintesis (menggabungkan
pengertian yang satu dengan yang lainnya sehingga melahirkan pengetahuan baru).
b. Metode
non-deduksi.
2.
Metode penyelidikan ilmiah
a. Metode
siklus empiris (daur)
b. Metode
vertikal (linier)
Sabtu, 18 Oktober 2014
Pengantar Filsafat
Pengertian Filsafat
Pengertian
filsafat dari buku karangan Jan Hendrik Rapar
Filsafat bukanlah ilmu karena filsafat
berbicara tentang apa saja. Sedangkan ilmu hanya mengacu pada satu objek
tertentu.
Plato:
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni.
Filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling
akhir dari segala sesuatu yang ada.
Aristoteles
– murid Plato:
Filsafat
adalah ilmu yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan
penyebab-penyebab dari realialitas yang ada. Filsafat adalah ilmu pengetahuan
yang berusaha mempelajari “peri ada selaku peri ada” (being as being) atau
“peri ada sebagaimana adanya” (being as such).
Rene
Descartes – fisuf Prancis:
Filsafat
adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah
mengenai Tuhan, alam, dan manusia.
Willian
James – fisuf Amerika:
Filsafat
adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang.
R.F.
Beerling:
Filsafat
“memajukan pertanyaan tentang kenyataan seluruhnya tentang hakikat, asas,
prinsip dari kenyataan”. Filsafat adalah suatu usaha untuk mencapai radix, atau akar kenyataan dunia wujud, juga akar pengetahuan tentang diri sendiri.
Pengertian
filsafat dari buku karangan Dr. Darsono Prawiroegoro
Filsafat
adalah berpikir mendalam tentang data indrawi dan pengambilan keputusan yang memihak kepada yang lemah.
Asal Mula Filsafat
Ketakjuban.
Ketakjuban
hanya mungkin dirasakan dan dialami oleh makhluk yang berperasaan dan berakal
budi. Manusia adalah makhluk yang takjub. Objek ketakjuban adalah segala sesuatu yang ada dan yang dapat
diamati
Ketidakpuasan
Sebelum
filsafat lahir, berbagai mitos dan mite (dongeng dan takhayul) menjelaskan
tentang asal mula dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta serta
sifat-sifat peristiwa itu. Manusia tidak puas dengan penjelasan itu. manusia
terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih pasti itu
lambat-lambat mulai berpikir secara rasional. Akibatnya, akal budi semakin
berperan. Mitos dan mite tersisih, filsafat lahir.
Hasrat bertanya
Ketakjuban
manusia telah melahirkan pertanyaan, dan ketidakpuasan manusia membuat
pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung habis. Pertanyaanlah yang membuat
manusia melakukan pengamatan, penelitian dan penyelidikan.
Keraguan
Pertanyaan
yang diajukan untuk memperoleh kejelasan dan keterangan yang pasti pada
hakikatnya merupakan suatu pernyataan tentang adanya keraguan di pihak manusia
yang bertanya.
Sifat Dasar Filsafat
Berpikir radikal
Berupaya
menemuan radix (akar) seluruh
kenyataan. Hanya apabila akar suatu permasalahan dapat ditemukan, permasalahan
itu dapat dimengerti sebagaimana mestinya. Berpikir radikal tidak berarti
hendak mengubah, membuang, atau menjungkirbalikkan segala sesuatu, melainkan
dalam arti yang sebenarnya, yaitu berpikir secara mendalam, untuk mencapai akar
persoalan.
Mencari asas
Dalam
memandang seluruhan realitas, filsafat berusaha mencari asas yang paling hakiki dari keseluruhan realitas. Mencari asas
pertama berarti juga berupaya menemukan sesuatu yang menjadi esensi realitas.
Memburu kebenaran
Upaya
memburu kebenaran itu berarti demi kebenaran itu sendiri, dan kebenaran yang
diburu adalah kebenaran yang lebih meyakinkan serta lebih pasti.
Mencari kejelasan
Upaya
menghilangkan keraguan. Upaya mendapatkan kejelasan dan penjelasan mengenai
seluruh realitas. Usaha keras demi meraih kejelasan intelektual (Geisler dan
Feinberg).
Berpikir rasional
Berarti
berpikir logis, sistematis, dan kritis. Berpikir logis berarti upaya menarik kesimpulan dan mengambil keputusan
yang tepat dan benar dari premis-premis yang digunakan. Pemikiran sistematis
adalah rangkaian pemikiran yang berhubungan satu sama lain atau saling
berkaitan secara logis. Berpikir kritis berarti upaya untuk terus menerus
mengevaluasi argumen-argumen yang mengklain diri benar.
Peranan Filsafat
Pendobrak.
Mendobrak
tembok-tembok tradisi (dongeng dan takhayul) yang begitu sakral dan selama itu
tak boleh diganggu-gugat
Pembebas
Membebaskan
manusia dari “penjara” yang hendak mempersempit ruang gerak akal budi manusia.
Pembimbing
·
Filsafat membebaskan manusia dari cara
berpikir mistis dan mitis dengan membimbing manusia untuk berpikir secara
rasional.
·
Filsafat membebaskan manusia dari cara
berpikir yang picik dan dangkal dengan membimbing manusia untuk berpikir luas
dan lebih mendalam (radikal).
·
Filsafat membebaskan manusia dari cara
berpikir tidak teratur dan tidak jernih dengan membimbing manusia berpikir
sistematis dan logis.
·
Filsafat membebaskan manusia dari cara
berpikir yang tak utuh dan fragmentaris dengan membimbing manusia untuk
berpikir secara integral dan koheren.
Kegunaan Filsafat
Sebagai pedoman untuk berpikir,
bersikap, dan bertindak secara sadar dalam menghadapi berbagai gejala–peristiwa
yang timbul dalam alam dan masyarakat. Untuk berfilsafat, orang harus
mengetahui dan memahami ajarannya secara ilmu – mempelajari aliran-aliran
filsafat. Berfilsafat berarti bersikap dan bertindak kritis, mencari sebab,
mencari isi, mencari hakikat dari gejala–peristiwa alam dan masyarakat, bukan
bersikap dan bertindak secara tradisi, kebiasaan, adat-istiadat dan naluri.
(Darsono)Filsafat berguna sebagai penghubung antardisiplin ilmu. Selain itu, filsafat juga sanggup memeriksa, mengevaluasi, mengoreksi, dan lebih menyempurnakan prinsip-prinsip dan asas-asas yang melandasi berbagai ilmu pengetahuan. Dalam kehidupan praktis, filsafat menggiring manusia ke pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas. Kemudian menuntun manusia ke tindakan dan perbuatan yang konkret berdasarkan pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas. (Jan Hendrik Rapar)
Sumber:
Jan Hendrik Rapar, 1996, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Kanisius
Darsono Prawironegoro, 2010, Filsafat Ilmu, Jakarta: Nusantara Consulting
Jumat, 03 Oktober 2014
Mendengar keluhan murid
Selamat malam. Walaupun tulisan ini mungkin dibaca pagi hari, aku akan mengucapkan selamat malam saja. Karena aku menuliskannya malam hari. Tidak apa kan?
Aku mau cerita. Seperti biasa, kalau bukan curhat, ya cerita-ceritaan. Siang tadi aku didatangi oleh beberapa mantan muridku yang sekarang bersekolah di tempat lain. Sebenarnya bukan didatangi tapi bertepatan bertemu di sekolah. Katanya, mereka ingin main ke sekolah. Ada yang mengambil ijazah SMPnya, ada yang sekadar ingin bertemu teman-teman yang sekarang bersekolah di tempat yang berbeda-beda. Seragam mereka juga beda-beda.
Selesai mengajar, dari lantai 3 aku pun turun untuk pulang. Lalu di bawah bertemulah aku dengan murid-muridku itu. Salam-salaman deh, seperti kebiasaan di sekolah kami. Kutanyakan kabar mereka, bagaimana dengan sekolah baru, dan lain-lain. Kupikir mereka menjawab baik-baik saja. Eh malah pada mengeluh. Mereka mengeluhkan metode belajar kurikulum 2013. Menyusahkan murid, kata mereka, tugas ini tugas itu, banyak sekali dan terjadi di semua mata pelajaran. Juga mengeluhkan guru mata pelajaran fisika, yang kata salah seorang anak, guru fisika di sekolahnya 'kayak gitu'. Maksudnya mengajar asal-asalan, siswa tidak paham apa yang diajarkan, termasuk dia. Padahal setahuku, muridku itu salah satu yang terpintar di kelasnya pas SMP. Saat itu aku mengajar fisika di kelas mereka. Ada juga yang lain, mengeluhkan guru matematikanya. Begitulah keluhan mereka sampai-sampai salah seorang dari mereka berkata masa ketemu guru (maksudnya saya) langsung cerita keluhan. Malah ada yang langsung nanya soal.
Menanggapi cerita beberapa mantan muridku tadi, aku mulai berpikir. Pertama. mengenai guru. Di sekolah baru mereka (di tempat lain) gurunya ya 'kayak gitu'. Aku pinjam istilah anak-anak tadi. Kayak gitu menunjukkan kualitas guru yang kurang baik. Apakah boleh mempertanyakan kualitas guru? Aku jadi teringat mengenai sertifikasi guru, apakah pemberian sertifikasi menjamin kualitas guru baik? Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi guru namun tidak mampu mengajar dan mendidik dengan baik?
Memang di sekolah kami (Eka Wijaya) semua guru dituntut mengajar dengan baik. Jika ada guru tidak masuk kerja karena sakit/izin/hal lainnya, guru piket (atau guru lain) wajib menggantikan. Tidak boleh ada kelas yang tidak ada gurunya saat kegiatan belajar mengajar. Kalau tidak, akan langsung ditindak oleh yayasan. Guru juga dituntut disiplin: datang tepat waktu, saat mengajar tidak boleh mengangkat telpon, saat di kelas tidak boleh melakukan kegiatan lain seperti membaca koran atau mengoreksi hasil ulangan. Ya, guru harus disiplin. Kalau mau jujur, masih banyak sekolah di negeri ini yang gurunya tidak disiplin. Di kelas ada guru yang santai-santai saja, kalau ada guru tidak hadir, anak didik dibiarkan begitu saja, tidak ada guru pengganti, bahkan masih ada guru yang merokok di kelas. Bukan bermaksud sombong dengan keadaan di sekolah kami, namun memang keadaannya begitu. Biasanya guru yang tidak tahan dengan aturan, ya umurnya tidak akan panjang di sekolah ini.
Dan juga aku tidak menganggap diriku sudah sempurna menjadi guru. Aku masih perlu belajar menjadi guru yang baik. Sampai sekarang aku masih meyakini panggilan hidupku adalah menjadi guru. Terserah ke depan bagaimana, mungkin saja Tuhan memanggil di tempat lain. Sebagai guru, aku punya visi, yaitu agar murid yang kuajar mengenal Tuhan -Pencipta hidupnya-, mengenal dirinya sendiri, dan mampu menjadi manusia yang baik. Itu saja. Nah, bagaimana dengan guru-guru yang lain? Apakah mereka punya visi? Apa dasar mereka menjadi guru: panggilan hidup atau karena gagal diterima di kantor lain, misalnya? Kalau mau jujur lagi, ada banyak guru tidak punya visi (mengajar asal-asalan), ada banyak orang menjadi guru bukan karena terpanggil jiwanya menjadi guru, dan lain sebagainya. Oh ya hampir lupa. Beberapa murid juga cerita ke saya lewat media sosial. Bahkan ada yang menanyakan cara menyelesaikan sebuah soal matematika lewat FB dan Twitter. Ke mana ya gurunya?
Kedua, mengenai kurikulum 2013. Banyak guru dan murid mengeluhkan hal ini. Termasuk fasilitatorku saat pelatihan dulu, meski tidak langsung, tapi dari jawabannya 'kita ikuti saja dulu' tersirat bahwa kurikulum 2013 tidak bisa diimplementasikan dengan baik. Dan setelah aku mencari informasi, ternyata kurikulum 2013 ini tanpa riset. Hanya sebuah ide yang langsung diterapkan begitu saja tanpa melewati penelitian yang sah, tanpa diuji. Juga masih banyak kekeliruan di sana-sini seperti pengadaan buku yang masih sangat kurang, pelatihan guru yang masih belum seluruhnya padahal kegiatan belajar sudah berlangsung, dan metode belajar dan penilaian yang susah diterapkan. Bayangkan saja, bagaimana menilai kejujuran seorang siswa. Apakah kejujuran itu benar-benar menjadi sikap sehari-hari si murid atau hanya sekadar di sekolah saja agar dapat nilai bagus. Itu baru satu contoh.
Saranku, pemerintah yang akan datang harus meninjau ulang mengenai kurikulum 2013 ini. Karena yang menjadi korbannya adalah generasi masa depan bangsa.
Begitulah ceritaku malam ini.
Selamat malam
Aku mau cerita. Seperti biasa, kalau bukan curhat, ya cerita-ceritaan. Siang tadi aku didatangi oleh beberapa mantan muridku yang sekarang bersekolah di tempat lain. Sebenarnya bukan didatangi tapi bertepatan bertemu di sekolah. Katanya, mereka ingin main ke sekolah. Ada yang mengambil ijazah SMPnya, ada yang sekadar ingin bertemu teman-teman yang sekarang bersekolah di tempat yang berbeda-beda. Seragam mereka juga beda-beda.
Selesai mengajar, dari lantai 3 aku pun turun untuk pulang. Lalu di bawah bertemulah aku dengan murid-muridku itu. Salam-salaman deh, seperti kebiasaan di sekolah kami. Kutanyakan kabar mereka, bagaimana dengan sekolah baru, dan lain-lain. Kupikir mereka menjawab baik-baik saja. Eh malah pada mengeluh. Mereka mengeluhkan metode belajar kurikulum 2013. Menyusahkan murid, kata mereka, tugas ini tugas itu, banyak sekali dan terjadi di semua mata pelajaran. Juga mengeluhkan guru mata pelajaran fisika, yang kata salah seorang anak, guru fisika di sekolahnya 'kayak gitu'. Maksudnya mengajar asal-asalan, siswa tidak paham apa yang diajarkan, termasuk dia. Padahal setahuku, muridku itu salah satu yang terpintar di kelasnya pas SMP. Saat itu aku mengajar fisika di kelas mereka. Ada juga yang lain, mengeluhkan guru matematikanya. Begitulah keluhan mereka sampai-sampai salah seorang dari mereka berkata masa ketemu guru (maksudnya saya) langsung cerita keluhan. Malah ada yang langsung nanya soal.
Menanggapi cerita beberapa mantan muridku tadi, aku mulai berpikir. Pertama. mengenai guru. Di sekolah baru mereka (di tempat lain) gurunya ya 'kayak gitu'. Aku pinjam istilah anak-anak tadi. Kayak gitu menunjukkan kualitas guru yang kurang baik. Apakah boleh mempertanyakan kualitas guru? Aku jadi teringat mengenai sertifikasi guru, apakah pemberian sertifikasi menjamin kualitas guru baik? Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi guru namun tidak mampu mengajar dan mendidik dengan baik?
Memang di sekolah kami (Eka Wijaya) semua guru dituntut mengajar dengan baik. Jika ada guru tidak masuk kerja karena sakit/izin/hal lainnya, guru piket (atau guru lain) wajib menggantikan. Tidak boleh ada kelas yang tidak ada gurunya saat kegiatan belajar mengajar. Kalau tidak, akan langsung ditindak oleh yayasan. Guru juga dituntut disiplin: datang tepat waktu, saat mengajar tidak boleh mengangkat telpon, saat di kelas tidak boleh melakukan kegiatan lain seperti membaca koran atau mengoreksi hasil ulangan. Ya, guru harus disiplin. Kalau mau jujur, masih banyak sekolah di negeri ini yang gurunya tidak disiplin. Di kelas ada guru yang santai-santai saja, kalau ada guru tidak hadir, anak didik dibiarkan begitu saja, tidak ada guru pengganti, bahkan masih ada guru yang merokok di kelas. Bukan bermaksud sombong dengan keadaan di sekolah kami, namun memang keadaannya begitu. Biasanya guru yang tidak tahan dengan aturan, ya umurnya tidak akan panjang di sekolah ini.
Dan juga aku tidak menganggap diriku sudah sempurna menjadi guru. Aku masih perlu belajar menjadi guru yang baik. Sampai sekarang aku masih meyakini panggilan hidupku adalah menjadi guru. Terserah ke depan bagaimana, mungkin saja Tuhan memanggil di tempat lain. Sebagai guru, aku punya visi, yaitu agar murid yang kuajar mengenal Tuhan -Pencipta hidupnya-, mengenal dirinya sendiri, dan mampu menjadi manusia yang baik. Itu saja. Nah, bagaimana dengan guru-guru yang lain? Apakah mereka punya visi? Apa dasar mereka menjadi guru: panggilan hidup atau karena gagal diterima di kantor lain, misalnya? Kalau mau jujur lagi, ada banyak guru tidak punya visi (mengajar asal-asalan), ada banyak orang menjadi guru bukan karena terpanggil jiwanya menjadi guru, dan lain sebagainya. Oh ya hampir lupa. Beberapa murid juga cerita ke saya lewat media sosial. Bahkan ada yang menanyakan cara menyelesaikan sebuah soal matematika lewat FB dan Twitter. Ke mana ya gurunya?
Kedua, mengenai kurikulum 2013. Banyak guru dan murid mengeluhkan hal ini. Termasuk fasilitatorku saat pelatihan dulu, meski tidak langsung, tapi dari jawabannya 'kita ikuti saja dulu' tersirat bahwa kurikulum 2013 tidak bisa diimplementasikan dengan baik. Dan setelah aku mencari informasi, ternyata kurikulum 2013 ini tanpa riset. Hanya sebuah ide yang langsung diterapkan begitu saja tanpa melewati penelitian yang sah, tanpa diuji. Juga masih banyak kekeliruan di sana-sini seperti pengadaan buku yang masih sangat kurang, pelatihan guru yang masih belum seluruhnya padahal kegiatan belajar sudah berlangsung, dan metode belajar dan penilaian yang susah diterapkan. Bayangkan saja, bagaimana menilai kejujuran seorang siswa. Apakah kejujuran itu benar-benar menjadi sikap sehari-hari si murid atau hanya sekadar di sekolah saja agar dapat nilai bagus. Itu baru satu contoh.
Saranku, pemerintah yang akan datang harus meninjau ulang mengenai kurikulum 2013 ini. Karena yang menjadi korbannya adalah generasi masa depan bangsa.
Begitulah ceritaku malam ini.
Selamat malam
Langganan:
Postingan (Atom)