Setelah makan malam, aku membuka blogku ini. Aku baru sadar semakin ke sini isi blogku terlihat serius. Terlebih membahas tentang pendidikan. Aku seorang guru, jadi wajar kegelisahanku terus-menerus mengenai pendidikan. Justru yang tidak wajar bila seorang guru malah tidak kuatir dengan kondisi pendidikan kita saat ini. Guru macam apa bila tidak menaruh perhatian pada pendidikan. Jangan-jangan, bila ada, itu guru jadi-jadian.
Tapi sekarang aku hendak bicara hal lain. Bertepatan saat aku menulis ini adalah malam minggu. Aku tidak tahu kapan istilah malam minggu dijadikan momen buat para kekasih. Hampir semua orang, setidaknya begitu yang kutahu, hampir semua orang memaknai malam minggu sebagai waktu bersama pacar. Malah jarang dianggap sebagai malam untuk berkumpul dengan keluarga. Aneh ya? Menurutku sih aneh. Kenapa malam minggu dinobatkan sebagai malam untuk jalan-jalan bersama kekasih? Aku bukannya iri dengan mereka karena kebetulan aku juga menikmati malam minggu sendirian. Justru aku menikmati malam minggu untuk membaca buku lebih lama.
Entah siapa dulu yang mencetuskan ini - malam minggu sebagai malam buat para kekasih. Atau mungkin karena malam minggu seolah-olah malam yang panjang (padahal setiap malam waktunya sama) karena esok harinya adalah hari minggu - hari istirahat; hari tanpa terbeban oleh pekerjaan sehingga boleh menikmati malam sampai larut tanpa takut harus bangun kesiangan esoknya.
Buatku malam minggu sama saja dengan malam sebelumnya. Dan konsep tentang malam yang panjang tidak ada dalam kamusku karena kebetulan aku belajar fisika, yang mengajarkan bahwa setiap hari sebenarnya waktunya sama saja - hanya perputaran bumi pada porosnya yang membuat bumi kadang menghadap matahari (siang) dan membelakangi matahari (malam) dalam durasi waktu yang sama. Jadi tidak ada yang namanya malam yang panjang.
Anehnya hampir semua orang muda memiliki cara pandang yang sama. Bahwa malam minggu merupakan malam yang panjang. Dan lebih anehnya lagi, malam buat pacaran. Sehingga akhirnya setiap orang yang single, sepertiku, yang menjalani malam minggu sendirian terlihat aneh. Dan biasanya jadi bahan candaan. Coba kalau malam minggu dijadikan sebagai malam buat keluarga. Tidak ada remaja yang berkeliaran di luar rumah, di mall, atau di tempat lain; melainkan menikmati waktu bersama keluarga. Alangkah indahnya. Hal ini bisa menciptakan hubungan yang baik antara orang tua dan anak.
Aku jadi teringat sewaktu masih remaja dulu. Biasanya akhir minggu merupakan waktu bersama keluarga. Ada istilah buat kami yaitu 'sidang' bila selama seminggu kami, anak-anak, memiliki kesalahan. Nah, malam minggu merupakan waktu ber'sidang'. Mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang tua. Sesudah itu diikuti oleh acara mendengarkan nasihat atau cerita-cerita.
Berbeda dengan remaja sekarang. Mainannya gadget. Kalau tidak, jalan-jalan dengan pacar. Masih remaja kok sudah pacaran. Pacar sering dijadikan 'alat' motivasi. Biasanya motivasi belajar. Lucunya. Ke mana orang tuanya? Jangan-jangan tidak peduli. Atau memang anak-anak sekarang sudah susah dibilangin? Mungkin saja.
Sabtu, 13 September 2014
Jumat, 12 September 2014
Judulnya Bosan
Bosan mendengar berita di tv. Pilkada langsung atau tidak, kenaikan harga elpiji, korupsi para pejabat negara dan berita lain yang itu-itu saja. Seolah-olah masalah negara kita hanya itu-itu saja. Karena itu aku jadinya malas menyalakan tv. Mending baca buku.
Di sekolah juga begitu. Para guru mengeluhkan kurikulum 2013 (K13). Murid juga begitu karena banyak sekali tugas. Beberapa hari yang lalu kepala sekolah kami pulang dari pelatihan. Ya, apalagi kalau bukan sosialisasi K13 dan manajemen sekolah. Ada yang lucu sewaktu kepsek berbagi tentang hal-hal yang mereka dapatkan dari pelatihan. Katanya, sewaktu bertanya ke fasilitator tentang implementasi K13 yang sulit dilaksanakan, fasilitator menjawab: ya sudah kita laksanakan dulu. Loh, kenapa begitu? Dari jawaban fasilitator tersebut tersirat bahwa K13 sulit diimplementasikan; terkesan dipaksakan. Ternyata ada juga berita di tv tentang ini. Masih banyak sekolah yang belum mendapatkan buku-buku K13. Termasuk sekolah kami. Ternyata lagi, bukan hanya sekolah kami yang mengalami kesulitan dalam implementasi K13 ini. Banyak info dari rekan-rekan guru sekolah lain yang mengalami hal yang sama. Ya begitulah isu-isu yang beredar di sekolah.
Yang menjadi pertanyaan, apa yang sedang terjadi dengan bangsa ini? Apa yang sesungguhnya terjadi dengan bangsa ini? Coba tanya pada rumput yang bergoyang.
Daripada bosan mendengar berita yang itu-itu saja atau mengajukan pertanyaan mengapa bangsa ini begini, lebih baik masing-masing kita melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan buat negara.
Dan jangan menambah masalah. Misalnya, berusahalah untuk menaati peraturan lalu lintas; jangan melawan arus. Itu salah satu contoh sederhana yang bisa kita lakukan sebagai warga negara. Masih banyak hal sederhana lain yang bisa kita lakukan: bayar pajak, buang sampah pada tempatnya, mengantrilah dengan benar kalau sedang mengantri, dll. Hal-hal kecil sehari-hari ini sering diabaikan. Apa bedanya dengan pejabat yang korup kalau kita (sebagai warga negara) juga mengabaikan hal ini; sama-sama melakukan keburukan.hehehe
Sebelum aku mengoceh makin tidak jelas, mending aku sudahi saja.
Di sekolah juga begitu. Para guru mengeluhkan kurikulum 2013 (K13). Murid juga begitu karena banyak sekali tugas. Beberapa hari yang lalu kepala sekolah kami pulang dari pelatihan. Ya, apalagi kalau bukan sosialisasi K13 dan manajemen sekolah. Ada yang lucu sewaktu kepsek berbagi tentang hal-hal yang mereka dapatkan dari pelatihan. Katanya, sewaktu bertanya ke fasilitator tentang implementasi K13 yang sulit dilaksanakan, fasilitator menjawab: ya sudah kita laksanakan dulu. Loh, kenapa begitu? Dari jawaban fasilitator tersebut tersirat bahwa K13 sulit diimplementasikan; terkesan dipaksakan. Ternyata ada juga berita di tv tentang ini. Masih banyak sekolah yang belum mendapatkan buku-buku K13. Termasuk sekolah kami. Ternyata lagi, bukan hanya sekolah kami yang mengalami kesulitan dalam implementasi K13 ini. Banyak info dari rekan-rekan guru sekolah lain yang mengalami hal yang sama. Ya begitulah isu-isu yang beredar di sekolah.
Yang menjadi pertanyaan, apa yang sedang terjadi dengan bangsa ini? Apa yang sesungguhnya terjadi dengan bangsa ini? Coba tanya pada rumput yang bergoyang.
Daripada bosan mendengar berita yang itu-itu saja atau mengajukan pertanyaan mengapa bangsa ini begini, lebih baik masing-masing kita melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan buat negara.
Dan jangan menambah masalah. Misalnya, berusahalah untuk menaati peraturan lalu lintas; jangan melawan arus. Itu salah satu contoh sederhana yang bisa kita lakukan sebagai warga negara. Masih banyak hal sederhana lain yang bisa kita lakukan: bayar pajak, buang sampah pada tempatnya, mengantrilah dengan benar kalau sedang mengantri, dll. Hal-hal kecil sehari-hari ini sering diabaikan. Apa bedanya dengan pejabat yang korup kalau kita (sebagai warga negara) juga mengabaikan hal ini; sama-sama melakukan keburukan.hehehe
Sebelum aku mengoceh makin tidak jelas, mending aku sudahi saja.
Kamis, 11 September 2014
Secuil Potret Buram Pelajar
Salam. Ketemu lagi. Sudah beberapa hari aku tidak menulis di blog. Maklum, sedang banyak pekerjaan yang musti diselesaikan.
Aku mau cerita kisah di pagi hari tadi saat mengajar di jam pertama. Seperti biasa jam 7 tepat bel tanda masuk berbunyi. Baik siswa maupun guru segera menuju kelas masing-masing. Pada saat aku masuk ke kelas, wajahku langsung berubah dengan ekspresi marah. Kelas terlihat sangat kotor. Sampah masih berserakan di lantai. Segera aku memarahi anak-anak karena tidak membersihkan terlebih dahulu kelas mereka. Setelah salam dan doa pagi yang dipimpin oleh ketua kelas, aku segera menyuruh beberapa anak yang piket hari itu. Mereka telah menyusun jadwal piket harian. Tiba-tiba seorang anak berkata bahwa tadi dia sudah mengutip satu sampah dan membuangnya ke tempat sampah. Saya memang sempat melihatnya memungut secarik kertas kusut di lantai. Namun, masih banyak sampah berserakan. Akhirnya mereka saling tunjuk-menunjuk. Ini semakin membuatku marah. Aku pun berkata, "Barangsiapa yang piket hari ini tidak boleh duduk sebelum kelas bersih." Mereka pun akhirnya bergegas. Satu orang mengambil sapu di bawah tangga di lantai 1. Kelas ini berada di lantai 3. Salah seorang siswa keberatan dan berkata, "harusnya kita digaji nih karena ini kerjaan OB (office boy)." Teman-temannya mengiyakan. Namun, mereka terus membersihkan kelas.
Memang di sekolah ada petugas kebersihan. Semester ini semua petugas kebersihan diganti. Sekarang semuanya orang-orang baru. Kinerja petugas kebersihan kali ini memang buruk sekali. Salah satu dampaknya adalah ada kelas yang tidak dibersihkan. Dan aku berkata pada anak-anak untuk melaporkan hal ini kepada kepala sekolah agar pelajaran mereka tidak terganggu gara-gara membersihkan kelas.
Kejadian tadi pagi tadi mengingatkanku masa-masa sekolah dulu. Dulu semasa SMP dan SMA, kami membersihkan kelas sendiri. Tidak ada petugas kebersihan atau office boy. Ada jadwal piket harian. Siswa yang piket harus datang lebih awal dari teman-teman yang lain untuk menyapu kelas, membersihkan papan tulis, menyapu teras dan halaman kelas. Ada rasa tanggung jawab atas kebersihan kelas sendiri walaupun kadang-kadang dikerjakan dengan terpaksa.hehehe
Dibandingkan sekarang, khususnya di kota besar, anak-anak terasa dimanja. Tidak boleh membersihkan kelas karena sudah ada OB. Bahkan pernah ada orang tua marah gara-gara anaknya dihukum karena terlambat masuk sekolah. Apa yang terjadi dengan orang tua? Bagaimana anak mereka bisa memiliki karakter yang baik jika tidak didisiplin dengan baik pula? Bagaimana bisa menghasilkan generasi yang bertanggung jawab kalau kebersihan kelas diserahkan pada orang lain? Bagaimana anak-anak mereka bisa peduli lingkungan bila yang diajarkan mementingkan diri sendiri? Itulah tugas sekolah. Namun, orang tua membatasi sekolah hanya sekadar membagi ilmu kepada anak mereka. Hasilnya adalah ketika anak-anak disuruh kerja, mereka akan segera merasa bahwa mereka tidak pantas melakukannya. Ketika ada teman mereka yang kerja, menyapu misalnya, mereka langsung mengejeknya sebagai office boy. Terciptalah generasi yang bermental bos. Bukan generasi yang bertanggung jawab, apalagi generasi yang melayani.
Aku mau cerita kisah di pagi hari tadi saat mengajar di jam pertama. Seperti biasa jam 7 tepat bel tanda masuk berbunyi. Baik siswa maupun guru segera menuju kelas masing-masing. Pada saat aku masuk ke kelas, wajahku langsung berubah dengan ekspresi marah. Kelas terlihat sangat kotor. Sampah masih berserakan di lantai. Segera aku memarahi anak-anak karena tidak membersihkan terlebih dahulu kelas mereka. Setelah salam dan doa pagi yang dipimpin oleh ketua kelas, aku segera menyuruh beberapa anak yang piket hari itu. Mereka telah menyusun jadwal piket harian. Tiba-tiba seorang anak berkata bahwa tadi dia sudah mengutip satu sampah dan membuangnya ke tempat sampah. Saya memang sempat melihatnya memungut secarik kertas kusut di lantai. Namun, masih banyak sampah berserakan. Akhirnya mereka saling tunjuk-menunjuk. Ini semakin membuatku marah. Aku pun berkata, "Barangsiapa yang piket hari ini tidak boleh duduk sebelum kelas bersih." Mereka pun akhirnya bergegas. Satu orang mengambil sapu di bawah tangga di lantai 1. Kelas ini berada di lantai 3. Salah seorang siswa keberatan dan berkata, "harusnya kita digaji nih karena ini kerjaan OB (office boy)." Teman-temannya mengiyakan. Namun, mereka terus membersihkan kelas.
Memang di sekolah ada petugas kebersihan. Semester ini semua petugas kebersihan diganti. Sekarang semuanya orang-orang baru. Kinerja petugas kebersihan kali ini memang buruk sekali. Salah satu dampaknya adalah ada kelas yang tidak dibersihkan. Dan aku berkata pada anak-anak untuk melaporkan hal ini kepada kepala sekolah agar pelajaran mereka tidak terganggu gara-gara membersihkan kelas.
Kejadian tadi pagi tadi mengingatkanku masa-masa sekolah dulu. Dulu semasa SMP dan SMA, kami membersihkan kelas sendiri. Tidak ada petugas kebersihan atau office boy. Ada jadwal piket harian. Siswa yang piket harus datang lebih awal dari teman-teman yang lain untuk menyapu kelas, membersihkan papan tulis, menyapu teras dan halaman kelas. Ada rasa tanggung jawab atas kebersihan kelas sendiri walaupun kadang-kadang dikerjakan dengan terpaksa.hehehe
Dibandingkan sekarang, khususnya di kota besar, anak-anak terasa dimanja. Tidak boleh membersihkan kelas karena sudah ada OB. Bahkan pernah ada orang tua marah gara-gara anaknya dihukum karena terlambat masuk sekolah. Apa yang terjadi dengan orang tua? Bagaimana anak mereka bisa memiliki karakter yang baik jika tidak didisiplin dengan baik pula? Bagaimana bisa menghasilkan generasi yang bertanggung jawab kalau kebersihan kelas diserahkan pada orang lain? Bagaimana anak-anak mereka bisa peduli lingkungan bila yang diajarkan mementingkan diri sendiri? Itulah tugas sekolah. Namun, orang tua membatasi sekolah hanya sekadar membagi ilmu kepada anak mereka. Hasilnya adalah ketika anak-anak disuruh kerja, mereka akan segera merasa bahwa mereka tidak pantas melakukannya. Ketika ada teman mereka yang kerja, menyapu misalnya, mereka langsung mengejeknya sebagai office boy. Terciptalah generasi yang bermental bos. Bukan generasi yang bertanggung jawab, apalagi generasi yang melayani.
Jumat, 05 September 2014
Curhat: Evaluasi Pekerjaan
Jumat. Buat para pekerja sepertiku hari Jumat paling ditunggu. Tadi sewaktu pulang kerja aku langsung merebahkan diri di tempat tidur. Lega sekali. Aku berkata dalam hati: terima kasih Tuhan, akhirnya selesai juga kerjaan minggu ini. Aku pun istirahat sejenak.
Setelah beberapa menit, aku membaca buku. Kemudian di tengah-tengah bacaanku tiba-tiba aku berpikir tentang pekerjaanku. Apakah aku benar-benar menikmati pekerjaanku? Apakah rasa terima kasihku setelah pulang kerja, karena hari ini Jumat, didasari oleh hal-hal penting dan bermanfaat yang sudah kulakukan? Ternyata jawabannya tidak. Aku tidak menikmati pekerjaanku. Begitu melelahkan karena minggu ini aku menghadapi beberapa masalah dalam hal penyusunan soal ujian di sekolah. Dan aku berterima kasih (kepada Tuhan) bukan karena aku telah melakukan pekerjaanku dengan baik, melainkan karena aku (merasa) bebas dari segala tuntutan pekerjaan setidaknya sebelum hari Senin tiba.
Mungkin banyak orang mengalami seperti yang kualami. Hanya saja apakah mereka menyadarinya? Mungkin ya, mungkin tidak. Apakah orang-orang melakukan refleksi setelah seminggu bekerja? Apakah mereka melakukan evaluasi diri? Apakah mereka bekerja hanya untuk mencari uang lalu menunggu akhir minggu tiba?
Kupikir ini penting sekali dilakukan. Mengevaluasi kembali semua yang sudah kita lakukan. Memang aku banyak mengeluh akhir-akhir ini karena pekerjaan yang menumpuk. Sebagian besar karena kesalahanku sendiri, setelah kuevaluasi. Aku sering menunda-nunda, telat bangun, dan tidak teratur makan. Memang pekerjaanku selesai seminggu ini, namun semua terasa seperti dipaksakan. Rasanya seperti dikejar-kejar waktu. Padahal dalam pikiran yang tenang sebenarnya waktu yang dimiliki semua orang selalu sama - 24 jam sehari. Tapi mengapa adakalanya kita merasa kekurangan waktu?
Hal utama yang perlu disadari dalam pekerjaan adalah bahwa pekerjaan merupakan panggilan hidup setiap orang. Ini panggilan mulia. Jadi, sikap yang benar dalam bekerja adalah melakukannya untuk kemuliaan Tuhan. Banyak orang tidak menyadari ini. Dan pada akhirnya bekerja secara asal-asalan, tanpa makna, tanpa rasa senang; sia-sia. Pekerjaan yang sia-sia. Dan paling buruknya adalah melakukan kecurangan, menipu, malas-malasan.
Semoga minggu depan aku tidak mengulangi kesalahan-kesalahan minggu ini. Kalau ada masalah dari luar, seperti menghadapai rekan kerja yang 'sulit', atasan yang bikin kesal, dan lain-lain, dihadapi saja dengan tenang sambil mengharapkan hikmat dari Tuhan untuk mengatasinya.
Sabtu, 30 Agustus 2014
air mata
siapa yang mau memperpanjang kesedihan?
kepergianmu
hanya menambah duka
hari hari berlalu
aku semakin galau.
kau yang pernah mengisi hidupku
mengenali kebohongan-kebohonganku;
di depanmu aku selalu gagal berbohong
lalu mengapa kau pergi?
kau, yang pernah mengisi hidupku,
kuminta kau kembali.
apa mungkin kaukembali?
memintamu kembali bukti kekuatanku yang semu
yang selama ini kubanggakan di hadapan semua orang
ini sebuah lelucon hidup
yang garing
yang bikin tawa jadi mati.
tapi tak usah aku bersedih
air mata hanya mengaburkan mataku
yang kulihat selalu bergerak tak jelas
padahal air yang mengalir di mataku-lah
yang menderas.
siapakah yang bisa hilangkan sedih ini?
aku tak ingin memperpanjang kesedihanku.
kepergianmu
hanya menambah duka
hari hari berlalu
aku semakin galau.
kau yang pernah mengisi hidupku
mengenali kebohongan-kebohonganku;
di depanmu aku selalu gagal berbohong
lalu mengapa kau pergi?
kau, yang pernah mengisi hidupku,
kuminta kau kembali.
apa mungkin kaukembali?
memintamu kembali bukti kekuatanku yang semu
yang selama ini kubanggakan di hadapan semua orang
ini sebuah lelucon hidup
yang garing
yang bikin tawa jadi mati.
tapi tak usah aku bersedih
air mata hanya mengaburkan mataku
yang kulihat selalu bergerak tak jelas
padahal air yang mengalir di mataku-lah
yang menderas.
siapakah yang bisa hilangkan sedih ini?
aku tak ingin memperpanjang kesedihanku.
Sabtu, 23 Agustus 2014
Orang Tua dan Pendidikan
Tulisan sebelumnya membahas tentang gagalnya pendidikan. Sebenarnya masih belum layak disebut tulisan yang baik sih. Tapi tidak masalah, masih belajar menulis. Di sini aku ingin membahas tentang peran orang tua terhadap pendidikan.
Belajar dari alam
Alam ini menyediakan berbagai pelajaran bagi kita. Hanya saja apakah kita mau mengamati dan belajar darinya, itu terserah kita. Secara khusus kita coba perhatikan bagaimana induk ayam merawat anaknya. Setelah menetas sang induk sangat peduli terhadap anak-anaknya. Melindungi mereka dari ancaman pemangsa. Kalau hujan, anak ayam akan berkumpul di balik sayap induknya. Ke mana saja induk pergi ke situlah anak ayam pergi. Mereka meniru bagaimana sang induk mencari makanan - mengais-ngais tanah dengan cakar mereka persis seperti yang dilakukan sang induk. Kaki-kaki imut anak ayam mengikuti kaki sang induk. Hingga lambat laun, anak ayam tersebut bisa mencari makan dan hidup sendiri.
Bagaimana dengan burung? Sama. Si induk dengan rajin mengantarkan makanan ke sarang. Hingga saat anak burung mulai belajar terbang, sang induk akan terbang di sekitar sarang, sehingga anak-anaknya tertarik untuk terbang juga karena melihat induk mereka. Kadang-kadang anak burung itu jatuh, tapi dengan segera ditolong oleh induknya.
Saya pikir demikian juga dengan hewan mamalia atau hewan lainnya. Sang induk merawat, melindungi, membesarkan, dan melatih anak-anaknya untuk bisa bertahan hidup. Bagaimana dengan manusia? Seharusnya lebih dari hewan-hewan tadi. Karena manusia adalah makhluk berpikir dan sosial. Manusia tidak sekadar memikirkan bertahan hidup.
Dari segi pendidikan, belajar dari alam tadi, seharusnya pendidikan merupakan kewajiban orang tua. Seharusnya orang tualah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak. Inilah tugas dan kewajiban orang tua. Dan tentu kewajiban ini berasal dari Tuhan, sang Pencipta. Tuhanlah yang 'menitipkan' anak kepada orang tua. Untuk apa? Agar si anak mengenal pencipta-Nya dan memuliakan-Nya. Dengan demikian si anak akan menjalankan panggilan hidupnya kelak dengan benar. Anak terlahir dari orang tua, karena itu ia adalah milik orang tua. Dan tidak seorang pun yang mampu memberi kasih kepada anak sedalam kasih orang tuanya sendiri. Orang tua merawat, melindungi, memenuhi kepentingan utama si anak. Terutama pendidikannya.
Bagaimana jika orang tua terpaksa harus memberikan tanggung jawab ini kepada orang lain? Orang lain tersebut harus mampu berperan sebagai orang tua (pengganti), meskipun tidak sebaik orang tua kandung. Inilah tugas mulia seorang guru; terpanggil menjadi wakil orang tua. Apakah guru mampu memenuhi panggilan ini? Sebagai seorang guru, harus mampu.
Kalau kita melihat zaman sekarang, bagaimana peran orang tua terhadap pendidikan? Kebanyakan diserahkan kepada sekolah. Ini sebuah kesalahan. Orang tua menyangkali panggilannya dengan berbagai alasan. Mulai dari tidak punya waktu karena sibuk kerja hingga perceraian. Suatu hari, aku menyuruh anak menuliskan nama ayahnya di sebuah angket. Tapi dia tidak mau menuliskannya. Aku menanyakan dengan lembut mengapa tidak mau menulis nama ayah. Lama sekali dia menjawab. Akhirnya si anak tersebut berkata bahwa orang tuanya sudah bercerai dan dia tinggal bersama neneknya. Anak menjadi korban.
Selain itu, masih ada juga orang tua yang belum sadar pentingnya pendidikan. Orang tua tidak memberikan teladan yang baik dalam keluarga. Sang ayah merokok di depan anak, sedangkan sang ibu gemar bergosip. Malah memberi contoh buruknya. Pernah suatu kali, kurasa ini bukan pengalamanku sendiri, aku melihat seorang bapak membonceng anaknya di motor sambil melawan arus lalu lintas. Apakah si bapak itu tidak berpikir bahwa kelak anaknya akan meniru perbuatan salah itu? Bagaimana si bapak tersebut mengajarkan tentang mematuhi peraturan kepada sang anak?
Demikianlah sekilas kegelisahan mengenai peran orang tua terhadap pendidikan anak. Semoga orang tua ada yang membaca tulisan ini.
Belajar dari alam
Alam ini menyediakan berbagai pelajaran bagi kita. Hanya saja apakah kita mau mengamati dan belajar darinya, itu terserah kita. Secara khusus kita coba perhatikan bagaimana induk ayam merawat anaknya. Setelah menetas sang induk sangat peduli terhadap anak-anaknya. Melindungi mereka dari ancaman pemangsa. Kalau hujan, anak ayam akan berkumpul di balik sayap induknya. Ke mana saja induk pergi ke situlah anak ayam pergi. Mereka meniru bagaimana sang induk mencari makanan - mengais-ngais tanah dengan cakar mereka persis seperti yang dilakukan sang induk. Kaki-kaki imut anak ayam mengikuti kaki sang induk. Hingga lambat laun, anak ayam tersebut bisa mencari makan dan hidup sendiri.
Bagaimana dengan burung? Sama. Si induk dengan rajin mengantarkan makanan ke sarang. Hingga saat anak burung mulai belajar terbang, sang induk akan terbang di sekitar sarang, sehingga anak-anaknya tertarik untuk terbang juga karena melihat induk mereka. Kadang-kadang anak burung itu jatuh, tapi dengan segera ditolong oleh induknya.
Saya pikir demikian juga dengan hewan mamalia atau hewan lainnya. Sang induk merawat, melindungi, membesarkan, dan melatih anak-anaknya untuk bisa bertahan hidup. Bagaimana dengan manusia? Seharusnya lebih dari hewan-hewan tadi. Karena manusia adalah makhluk berpikir dan sosial. Manusia tidak sekadar memikirkan bertahan hidup.
Dari segi pendidikan, belajar dari alam tadi, seharusnya pendidikan merupakan kewajiban orang tua. Seharusnya orang tualah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak. Inilah tugas dan kewajiban orang tua. Dan tentu kewajiban ini berasal dari Tuhan, sang Pencipta. Tuhanlah yang 'menitipkan' anak kepada orang tua. Untuk apa? Agar si anak mengenal pencipta-Nya dan memuliakan-Nya. Dengan demikian si anak akan menjalankan panggilan hidupnya kelak dengan benar. Anak terlahir dari orang tua, karena itu ia adalah milik orang tua. Dan tidak seorang pun yang mampu memberi kasih kepada anak sedalam kasih orang tuanya sendiri. Orang tua merawat, melindungi, memenuhi kepentingan utama si anak. Terutama pendidikannya.
Bagaimana jika orang tua terpaksa harus memberikan tanggung jawab ini kepada orang lain? Orang lain tersebut harus mampu berperan sebagai orang tua (pengganti), meskipun tidak sebaik orang tua kandung. Inilah tugas mulia seorang guru; terpanggil menjadi wakil orang tua. Apakah guru mampu memenuhi panggilan ini? Sebagai seorang guru, harus mampu.
Kalau kita melihat zaman sekarang, bagaimana peran orang tua terhadap pendidikan? Kebanyakan diserahkan kepada sekolah. Ini sebuah kesalahan. Orang tua menyangkali panggilannya dengan berbagai alasan. Mulai dari tidak punya waktu karena sibuk kerja hingga perceraian. Suatu hari, aku menyuruh anak menuliskan nama ayahnya di sebuah angket. Tapi dia tidak mau menuliskannya. Aku menanyakan dengan lembut mengapa tidak mau menulis nama ayah. Lama sekali dia menjawab. Akhirnya si anak tersebut berkata bahwa orang tuanya sudah bercerai dan dia tinggal bersama neneknya. Anak menjadi korban.
Selain itu, masih ada juga orang tua yang belum sadar pentingnya pendidikan. Orang tua tidak memberikan teladan yang baik dalam keluarga. Sang ayah merokok di depan anak, sedangkan sang ibu gemar bergosip. Malah memberi contoh buruknya. Pernah suatu kali, kurasa ini bukan pengalamanku sendiri, aku melihat seorang bapak membonceng anaknya di motor sambil melawan arus lalu lintas. Apakah si bapak itu tidak berpikir bahwa kelak anaknya akan meniru perbuatan salah itu? Bagaimana si bapak tersebut mengajarkan tentang mematuhi peraturan kepada sang anak?
Demikianlah sekilas kegelisahan mengenai peran orang tua terhadap pendidikan anak. Semoga orang tua ada yang membaca tulisan ini.
Jumat, 22 Agustus 2014
Pendidikan yang Gagal?
Di tengah tantang zaman yang semakin besar ini, satu-satunya bidang yang menjadi harapan semua orang untuk menghadapi tantangan ini adalah pendidikan. Pendidikan di sini tidak hanya sekolah. Karena sekolah hanya bagian dari pendidikan, yaitu pendidikan formal. Sedangkan seseorang pertama kali mengalami pendidikan yaitu dalam keluarga, kemudian di lingkungan masyarakat. Terakhir di sekolah. Namun, sepertinya di zaman ini, pendidikan diidentikkan dengan sekolah. Padahal sebenarnya di sekolah itu adalah pengajaran.
Kalau begitu, apa itu pendidikan? Sebenarnya sih aku tidak tahu hehehe (masa guru tidak tahu?). Kalau dicari di google, pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.
Pada dasarnya pengertian pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Sebenarnya masih banyak lagi pengertian pendidikan menurut pandangan para ahli.
Kalau dilihat dari pengertian di atas, tujuan pendidikan tidak lain adalah memanusiakan manusia. Dari tidak terdidik menjadi terdidik. Dari yang bergantung pada orang lain menjadi mandiri. Dari tidak bisa berbuat apa-apa untuk masyarakat menjadi berguna bagi bangsa dan negara.
Namun, kalau kita sedikit kritis, apakah tujuan pendidikan sebatas itu? Apakah pendidikan diadakan hanya agar seseorang cakap melaksanakan tugas hidup? Atau hanya sekadar mengembangkan potensi diri? Kalau hanya sebatas itu, berarti tujuan pendidikan pada akhirnya tidak lain adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Akibatnya, selepas dari sebuah lembaga pendidikan atau dinyatakan lulus, seseorang akan berpikir mendapatkan pekerjaan. Dan di lingkungan kerja, ternyata, sangat berbeda dengan apa yang didapatkan di sekolah/perguruan tinggi dahulu. Di sini pendidikan menjadi gagal. Pendidikan yang seharusnya menjadi harapan semua ternyata tidak berhasil memenuhi perannya.
Mengapa gagal? Apakah karena kurikulum, isi, atau metodenya salah? Mungkin saja. Tapi, ini perlu ditinjau lebih mendalam. Menurutku, salah satu kesalahannya adalah karena pendidikan telah disempitkan di dalam gedung sekolah. Seolah itu hanya tugas para guru. Padahal seluruh elemen masyarakat harus turut berperan, terutama keluarga. Contoh: seorang anak hendak menerapkan hidup damai dengan sesama sedangkan di rumah orang tua bertengkar terus. Contoh lain, di jalan raya orang-orang tidak menaati rambu-rambu lalu-lintas, padahal di sekolah diajarkan agar hidup disiplin. Kan tidak adil bila kegagalan ini hanya ditujukan kepada guru?
Barangkali masih ada penyebab lain. Tapi kali ini aku tidak bisa menjelaskan semuanya. Lain kali saja ya... :)
Langganan:
Postingan (Atom)