Selasa, 09 Oktober 2018

Menjelma Puisi


ingin kukecup kau dengan puisiku, kekasih

dari jarak yang hanya dapat diseberangi kata

rasakanlah hangatnya,

biarkan kata demi kata memelukmu

mengobati rindumu.

aku telah menjelma menjadi puisi

agar bisa kutemui kau

setiap saat bacalah aku

aku ada di dekatmu.

ingin kupeluk kau dengan puisiku, kekasih

dari jarak yang hanya dapat diseberangi kata

sebab rinduku terlebih besar dari puisi.

(pernah diposting di tumblr beberapa tahun lalu)

Cinta Ini


Cinta ini menempatkanku di tempat 
yang terasa membosankan

Entah mengapa aku bisa bertahan 
berdiri menanti seperti pohon

Atau seperti batu 
yang diinjak-injak waktu.

Kau pernah bertanya suatu saat, 
“apa yang sedang kau lihat?”

“Waktu,” jawabku sambil mengubah posisi kakiku 
yang mulai lelah.

Pohon dan batu tahu benar

tentang kesunyian, terpaan angin, dan 
wajah-seram sang waktu.

Tapi aku tak belajar dari pepohonan 
atau bebatuan

tentang tabah dan setia.

Cintalah yang menempatkanku di sini

sambil memetik hikmah 
dari pohon-harapan

pohon yang selalu kurawat agar terus berbuah 

hingga kita memetiknya berdua.

(pernah diposting di tumblr)

Minggu, 07 Oktober 2018

Taat pada Panggilan Tuhan


Seorang teman curhat, dia akan diangkat menjadi ketua di suatu bagian di kantornya. Isi curhatnya adalah ia tidak mampu, belum layak, masih ada karyawan lain yang lebih pantas, dan berbagai alasan lainnya. Dilihat dari pengalaman kerjanya sebenarnya dia sudah pantas dipromosikan menjadi ketua di bagian tersebut. 

Aku pun pernah di posisi itu. Berbagai alasan keluar demi menolak tugas dan tanggung jawab yang lebih besar. Manusia memang penghasil alasan. 

Namun aku belajar dari seorang tokoh besar yang pernah ada. Dia adalah Musa. Seorang nabi yang sangat ternama sepanjang masa. Aku tidak ada apa-apanya dibanding Nabi Musa. Jauh...
Musa sebagai tokoh besar, ternyata pernah menolak panggilan Tuhan dengan berbagai alasan. Dia berbantah dengan Tuhan. Saat tiba di gunung Horeb, ia melihat semak duri yang menyala, tetapi tidak dimakan api. Singkatnya, Tuhan menemui dia. Tuhan hendak mengutus Musa untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir.

Sebagai manusia biasa, mungkin kita akan berpikir: “Musa pasti bisa”, “Musa itu tokoh besar”, dan lain-lain. Eits jangan salah, nyatanya, Musa tidak langsung menerima panggilan Tuhan. Malahan dia berbantah dengan Tuhan.

Ini dia bantahan demi bantahan Musa (Keluaran 3 – 4):
“Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir” (ayat 11/3)
“Tetapi bila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu: bagaimana tentang nama-Nya? – apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (ayat 13/3)
“Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” (ayat ¼)
“Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan lidah.” (ayat 10/4)
“Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” (ayat 13/4)

Sebuah ide ganjil muncul di benakku.
Ketika Tuhan memanggil nama Musa, bayangkan bila itu adalah namamu. 
"Aris, Aris!". "Siapa yang menyebut namaku?" Pikirku. Mirip kutipan cerpen ya hehehe. Itu kalau namaku yang dipanggil ya...

Kemudian, bayangkanlah ekspresi Musa ketika berbantah dengan Tuhan! Mungkin wajahnya cemberut ketika berkata ‘siapakah aku ini’ sambil menundukkan kepala seakan merendah.  Wajah-bingungnya terbentuk kala berkata tentang respons orang Israel mengenai nama Tuhan.  Dengan sopan – atau sebaliknya – ia berkata ‘utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus’. (saran: jangan lakukan ide ini! Cukup kembali kepada Alkitab).

Lalu apa yang bisa kita pelajari:
Pertama, Tuhan hadir secara personal kepada Musa. Tuhanlah yang pertama kali menyapa Musa dengan meyebut namanya. Allah yang menciptakan alam semesta ini bersedia hadir di depan manusia ciptaan-Nya. Luar biasa! Apakah kita menyadari bahwa Tuhan sesungguhnya ada di dekat, tepat di sisi kita? 

Kedua, kehadiran Allah bermaksud untuk memanggil anak-anak-Nya untuk misi tertentu dan menyatakan penyertaan-Nya. Tuhan sendiri berkata: bukankah Aku akan menyertai engkau? Saat Tuhan memanggil, kita suka sekali menciptakan alasan yang kelihatan masuk akal. Namun, lupa bahwa Allah sesungguhnya menyertai. Aku yakin ‘menyertai’ di sini adalah “benar-benar ada” atau “benar-benar hadir” di sisi kita secara harafiah.

Atau, seringkali ketika sibuk bekerja, kita lupa penyertaan Allah. Sehingga ketika kelelahan, tantangan, atau ancaman datang, kita merasa berjuang sendiri.

Ketiga, ketika sudah tahu siapa yang memanggil seharusnya respons kita adalah taat. Ketika Musa berkata kepada Tuhan, utuslah yang lain, maka bangkitlah murka Tuhan. Secara tidak langsung Musa berkata aku tidak mau, aku kan memiliki kekurangan, aku tidak layak.  Oleh karena itu, Tuhan murka. Konsekuensi dari ketidaktaatan adalah murka Allah. 

Keempat, Tuhan tahu kekurangan atau kelemahan kita. Tuhan akan menyediakan seorang “Harun” kepada kita untuk mengatasi kelemahan kita. Betapa baiknya Tuhan itu.

Semoga saja kita memilih untuk taat melakukan kehendak Tuhan.

Senin, 24 September 2018

Perbuatan yang Baik


Apa itu perbuatan baik? Ini bacaan saat teduhku pagi ini.
Katanya baik bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, baik sebagai keindahan atau kecantikan. Dan, baik sebagai nilai karakter yang terdapat dalam diri seseorang. itu sih pendapat pribadiku saja. Hehehe Terima, silakan; Gak terima, ya, ga masalah.

Ngomong saat teduh pagi ini yang berasal dari Injil Markus 14:1-9, di sana dijelaskan bahwa waktu kejadiannya berlangsung dua hari sebelum hari raya Paskah dan Roti Tidak Beragi. Yesus dan murid-murid-Nya berada di rumah Simon si kusta di Betania. Ketika mereka sedang makan datanglah seorang perempuan membawa buli-buli pualam berisi minyak narwastu. Konon, harga minyak narwastu itu harganya sangat mahal. Kira-kira harganya bisa mencapai setahun gaji, wow.

Si perempuan tersebut meminyaki kepala Yesus. Lalu muncullah tanggapan orang-orang di situ. Ada yang bilang itu pemborosan dengan alasan jika minyak mahal itu dijual maka uangnya bisa digunakan untuk membantu orang miskin. 

Tapi, tanggapan Yesus beda. Ia memberi penilaian bahwa apa yang dilakukan perempuan itu merupakan sebuah perbuatan yang baik kepada-Nya. Memang apa yang dipikirkan manusia sungguh jauh berbeda dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Kejadian di atas di mata manusia merupakan pemborosan, sedangkan di mata Tuhan Yesus merupakan perbuatan baik.
Ini hasil refleksiku. Mengapa orang-orang di situ menganggap perbuatan si perempuan sebagai pemborosan? Kalau dilihat dari alasan mereka, itu masuk akal. Bukankah itu merupakan perbuatan yang baik? 

Memang itu masuk akal dan bisa dibilang sebagai perbuatan baik. Hanya saja ada yang kurang. Di situ ada Yesus, Tuhan dan Juruselamat. Kehadiran atau keberadaan Yesus di situ seharusnya menjadi keutamaan (prioritas) bagi mereka. Itu sebab Yesus berkata orang miskin selalu ada, artinya setiap waktu bisa membantu mereka. Sementara Yesus, tidak selalu ada (sebagai manusia) di situ bersama mereka. 

Ketika mereka melihat pemborosan, mereka melupakan yang utama yaitu Yesus Kristus. Sedangkan si perempuan melihat kesempatan untuk melayani Yesus dengan meminyaki kepala-Nya. Dari minyak nan mahal itu bisa terlihat bahwa ia memberikan yang terbaik. Tidak mungkin seseorang memberikan yang terbaik yang dimilikinya, jika itu tidak berasal dari hati yang mampu melihat yang utama. Perempuan itu melihat Yesus dan itulah yang menjadi prioritas baginya.

Kristus harus menjadi yang terutama dalam hidup orang percaya. Dosa terbesar dan tidak terlihat, dan jarang disadari, oleh orang percaya adalah tidak memprioritaskan Tuhan Yesus dalam hidup. Kemiskinan, isu-isu sosial, dll., membuat orang percaya seolah-olah telah melakukan perbuatan yang baik; dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial.
Kegiatan sosial, dan seluruh kegiatan sehari-hari orang percaya, harus didasari oleh keutamaan Kristus. Itulah inti dari perbuatan yang baik. Perbuatan yang baik hanya bisa dilakukan atau keluar dari hati yang mampu melihat yang utama. 

Apakah kita telah melakukan perbuatan yang baik hari ini?

Minggu, 02 September 2018

Era Digital dan Pendidikan Indonesia


Seorang teman membagikan link blognya di grup whatsapp. Bertepatan aku punya waktu luang untuk membaca, tanpa menunggu lama aku langsung mengunjungi blog yang dimaksud. Di sana penulis menceritakan kisahnya yaitu sebuah kegiatan yang baru saja ia ikuti dan terlibat di dalamnya sebagai salah seorang pemusik.
Saat sedang membaca tiba-tiba muncul keinginan untuk menulis. Sudah lama juga aku tidak menulis. Mungkin ‘dewa menulis’ belum mendatangiku. Ah, itu cuma alasan doang. Tapi aku mau menulis apa? Setelah membuang-buang waktu cukup lama untuk merenung, kuputuskan untuk menulis hal-hal yang kudapatkan dari seminar yang diadakan tanggal 25 Agustus yang lalu.
Areopagus Education Summit 2, itulah nama seminar dan workshop yang kuikuti kemarin. Dari namanya saja sudah ketahuan isi dari seminar ini. Ya, tentang pendidikan. Seminar ini merupakan yang kedua kalinya diadakan. Yang pertama diselenggarakan tahun lalu yang juga aku hadiri. Tahun ini panitia menyediakan tema E-Society: How It Transforms Education.
Ada enam topik dan satu workshop yang dibahas dalam seminar tahun ini. Enam topik tersebut dibawakan oleh para pemateri yang ahli di bidangnya. Topiknya antara lain: Education: A Strategic Investment (oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE.), Think Globally Act Locally in Education (oleh Dr. Masduki Ahmad, S.H., M.M.), Inspriation and Teaching Digitally (oleh Dr. Nuhattati Fuad, M.Pd.) Tantangan Kurikulum Pembelajaran di Indonesia dan Workshop: How to Think Critically (oleh Weilin Han, M.Sc.), dan terakhir, VUCA on Education dan The E-Society  Transforms Education (oleh Tumbur Tobing, S.E., MBE., MCS.).
Membaca topik yang disediakan oleh panitia inilah yang awalnya membuatku bergairah untuk mendaftarkan diri. Bagaimana tidak, topik-topik seperti ini langka sekali, bahkan tidak pernah disampaikan pada berbagai pelatihan yang selama ini aku ikuti di lingkungan dinas pendidikan di tempatku berada. Biasanya hanya membahas seputar implementasi kurikulum baru yang mana tidak membawa perubahan pada cara mengajar guru di kelas.
Seminar dibuka oleh dua siswi SMA. Mereka menceritakan aktivitas di sekolah, dampak penggunaan fasilitas yang serba digital, dan pandangan orang tua mereka terhadap gadget. Dua siswa ini sangat percaya diri. Mereka memiliki kemampuan public speaking yang sangat baik.
Di sekolah, mereka didorong untuk menggunakan gadget dengan baik dan benar. Artinya, tidak melulu untuk bermain (game) seperti kebanyakan anak zaman now. Gadget sudah digunakan sebagai sumber dan media belajar di kelas, seperti menggunakan laptop dan smartphone. Meskipun demikian, mereka dilatih untuk tidak bergantung sepenuhnya. Guru kadang-kadang memberikan penugasan yang membutuhkan interaksi antarsiswa, dilatih menggunakan alat belajar secara manual, serta dilatih untuk mengenal pandangan/pemikiran yang berkembang di masyarakat sekitar.
Penentangan justru didapat dari orang tua mereka yang sering menganggap mereka menggunakan gadget hanya untuk bermain. Sebenarnya mereka sedang mengerjakan tugas-tugas sekolah, begitu curhatan mereka. Memang saat ini banyak orang tua begitu mengkhawatirkan sang buah hati yang telah kecanduan menggunakan gadget.
Ada dua generasi yang bertemu di sini. Generasi pertama yaitu orang tua yang tidak biasa dengan gadget, dan sang anak yang sejak lahir telah mengenal gadget. Generasi sekarang memang bisa dikatakan sebagai native secara digital. Ketika dilahirkan dan mulai tumbuh besar, mereka sudah mengenal gadget. Jadi, sudah sewajarnya bila dunia pendidikan (sekolah) berubah mengikuti perkembangan zaman. Bagaimana dengan pendidikan Indonesia saat ini?
Selanjutnya klik di SINI