Selasa, 30 April 2019

Yesus Telah Bangkit


Umat kristiani baru saja merayakan Paskah tahun ini, 21 April 2019. Paskah adalah peristiwa penting bagi orang Kristen. Mengapa? Karena Paskah merupakan Hari Kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus merupakan pokok iman Kristen. Jika Kristus tidak pernah bangkit, maka sia-sialah iman orang Kristen. “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Korintus 15:14).

Setelah bangkit, Tuhan Yesus menampakkan diri kepada para murid dan orang banyak (Markus 16:9, 12, 14, Matius 28:8-10, Lukas 24:13-49, Yohanes 20:11-23, Kisah Para Rasul 1:3, dll). Kebangkitan Yesus disaksikan oleh para murid-murid-Nya. Ketika Petrus khotbah di Yerusalem ia mengatakan, “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kisah Para Rasul 2:32). Artinya, Yesus benar-benar bangkit dan ada saksi mata yang melihat pada saat itu.

Di dalam Alkitab ada banyak tertulis tentang kebangkitan Yesus. Namun, ada saja orang yang mengatakan bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh bangkit. Bahkan ada beberapa teori yang diajukan untuk membantah kebangkitan Yesus, seperti teori halusinasi, teori tidak sadarkan diri, jasad Yesus dicuri oleh murid-murid, serta tulisan atau kitab lain. Sayangnya, teori-teori itu memiliki kelemahan.

Contohnya, teori halusinasi yang mengatakan bahwa murid-murid Yesus dan orang banyak saat itu pasti sedang berhalusinasi melihat penampakan Yesus. Menurut ilmu psikologi, halusinasi adalah peristiwa individual. Tidak mungkin terjadi halusinasi pada banyak orang. Tidak mungkin satu orang mengajak orang lain berhalusinasi. Karena halusinasi terjadi dalam pikiran penderitanya saja, orang lain jelas tidak bisa melihatnya.

Salah satu murid Yesus yaitu Tomas berusaha membuktikan bahwa Yesus bangkit dengan cara menyentuh-Nya. Ia mengatakan, “sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yohanes 20:25). Artinya, Tomas tidak berhalusinasi.

Delapan hari kemudian Yesus berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yohanes 20:27). Tomas, si peragu, akhirnya percaya Yesus benar-benar bangkit.

Selain itu, beberapa penulis non-kristen pada masa itu juga menuliskan tentang kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus: Josefus (37-100 M), Thallus (2-60 M), Tacitus (56-117 M), Mara Bar-Serapion (70 M), Phlegon (80-140 M). Mereka ini hidup pada abad pertama dan kedua masehi. Artinya, sangat dekat dengan kehidupan Yesus ketika Ia berada di dunia. Ini menandakan bahwa ada bukti lain yang mendukung selain yang tertulis dalam Alkitab tentang kebangkitan Yesus.
Kebangkitan Tuhan Yesus adalah fakta. Sebagaimana juga Yesus mati, dikuburkan, dan bangkit adalah fakta. Alkitab menuliskannya. Para murid Tuhan Yesus dan orang banyak masa itu adalah saksi mata dari semua itu. Bahkan beberapa penulis non-kristen masa itu pun turut menuliskannya.

Jika ada sumber lain yang mengatakan Yesus Kristus tidak bangkit, dan sumber itu baru muncul berabad-abad kemudian (jauh dari masa hidup Yesus), maka sumber tersebut harus menyingkirkan terlebih dahulu bukti-bukti yang ada – baik kesaksian para saksi mata (murid-murid Yesus) maupun dari para penulis non-kristen di atas.

Kebangkitan Yesus membawa perubahan besar di dunia. Hari kebangkitan Yesus yaitu hari Minggu adalah hari dimana umat kristiani beribadah dan merupakan hari “istirahat” bagi seluruh dunia. Murid-murid Yesus yang berasal dari masyarakat biasa begitu giat memberitakan Injil Keselamatan meskipun mereka harus mengalami penganiayaan berat. Semangat para murid memberitakan Injil didorong oleh sebuah peristiwa besar yaitu kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Tidak mungkin sebuah peristiwa kecil bisa menggerakkan orang melakukan sesuatu yang besar. Dengan kata lain, kebangkitan Yesus adalah peristiwa besar dari Allah yang menggerakkan murid-murid-Nya memberitakan Injil. 

Yesus Bangkit
Sungguh, Dia telah bangkit!

Minggu, 10 Maret 2019

Hoaks dan Literasi Digital

Saya heran membaca berita bahwa ada ribuan hoaks dipublikasikan dalam setahun. Saya juga heran masih ada orang yang percaya bahwa bumi datar. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah ilmu pengetahuan yang diperoleh dari sekolah sama sekali tidak membantu? Apakah informasi seputar ilmu pengetahuan, yang sekarang mudah diakses, tidak bermanfaat sama sekali?

Berikut ini adalah catatan yang menjadi opini saya selaku penulis.
 
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat memang memudahkan orang menyebarkan berita termasuk berita bohong atau hoaks. Namun, perkembangan ini tidak diimbangi oleh sikap yang baik dan benar dalam menggunakan teknologi informasi. Ada dua pihak yang berperan dalam penyebaran hoaks yakni penyebar dan penerima.

Pertama, pihak yang dengan sengaja menyebarkan hoaks. Pihak ini, personal atau kelompok, bertujuan untuk menipu atau memanipulasi publik untuk tujuan tertentu. Di dalam hati dan pikiran mereka tidak ada kebenaran. Kalau ada kebenaran, tentulah mereka tidak berniat dan berbuat demikian.

Kedua, pihak yang menerima berita bohong. Pihak ini biasanya tidak menggunakan akal sehat dalam menyeleksi informasi yang diterima. Mereka menerima begitu saja tanpa menyelidiki kebenaran informasi. Dengan kata lain, mereka tidak menggunakan nalar.

Fenomena lain yang membuat saya heran adalah maraknya video viral yang, lebih sering, tidak ada manfaatnya sama sekali. Ada video orang berjoget tidak jelas, berlaku konyol, prank, dll. Celakanya, video ini malah banyak penontonnya.

Sungguh mengherankan bahwa berita bohong atau video konyol lebih mudah diterima ketimbang sebaliknya. Video singkat mengenai pelestarian lingkungan, imbauan larangan buang sampah sembarang; video singkat tentang peluncuran satelit ke luar angkasa, temuan-temuan inovatif, dll., dengan mudah dikalahkan oleh video-video yang tidak ada gunanya sama sekali. Mengapa demikian? Saya tidak tahu secara pasti. Apakah informasi tentang ilmu pengetahuan (sains), ekologi, dampak kerusakan lingkungan tidak menarik untuk ditonton atau dibaca? Mungkin saja.

Tidak bisa dipungkiri bahwa keadaan yang saya tuliskan di atas merupakan salah satu dampak dari kemajuan teknologi. Teknologi yang awalnya dirancang untuk kebaikan bagi umat manusia, digunakan untuk kejahatan. Bahkan saat ini sering ditemui bahwa pengembangan teknologi sarat dengan muatan politik. Penguasa turut mendukung pengembangan teknologi tertentu bukan atas pertimbangan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat, tetapi dengan pertimbangan seberapa besar dukungan suara yang akan ia peroleh untuk memenangkan kontestasi politik. Ini juga ditemui di bidang-bidang lain.
....
Saat ini orang dengan mudah mendapatkan informasi, menerima dan mengirim pesan - baik tulisan, gambar maupun video - dengan mudah secara real time, melakukan panggilan video (video call), dll. Arus informasi begitu deras dan begitu mudah didapat berkat teknologi.

Kemudahan yang ditawarkan oleh kecanggihan teknologi inilah yang kerap dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menyebarkan hoaks. Sebagaimana orang melakukan kebohongan, penyebaran hoaks juga memiliki alasan. Beberapa alasan yang mungkin dipakai orang, atau kelompok tertentu, untuk berbohong atau menyebarkan hoaks: menutupi kelemahan diri, menjatuhkan lawan, menampilkan citra diri yang baik (dengan tidak menampilkan kelemahan diri), strategi politik, menutupi berita lain (yang mungkin berpotensi membuka rahasia atau menimbulkan masalah), mengalihkan perhatian masyarakat, meredam amarah orang lain atau publik, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, ada penerima atau pembaca hoaks dan memercayainya sebagai berita yang benar. Mengapa? Beberapa alasan yang mungkin, antara lain: tidak menggunakan akal sehat, tidak berpikir kritis dan analitis, telah condong pada pemikiran (ideologi) tertentu sehingga ide lain yang bertentangan tidak dibaca, ingin membaca berita yang mendukung opini sendiri (yang belum tentu benar) untuk pembenaran opininya, memiliki wawasan atau pengetahuan yang sempit, dan lain-lain.
......
Lalu bagaimana dengan video viral? Makin ke sini, video viral semakin tidak jelas, makin vulgar, tidak bermanfaat, dan tidak mendidik. Kontennya pun sering tidak bermakna sama sekali. Tapi, banyak orang menyaksikannya.

Beberapa alasan yang mungkin jadi jawaban mengapa orang mau menghabiskan waktu untuk video viral yang tidak berguna, antara lain: untuk hiburan semata, mengatasi kebosanan, ikut-ikutan orang lain biar dianggap update, menyukai hal-hal unik, dan lain-lain.

Memang ada atau masih terdapat video viral yang bermanfaat. Hanya saja, menurut pengamatan sederhana penulis, video-video seperti itu mulai berkurang atau tertutupi oleh video yang justru tidak berguna. Dulu, mungkin sebuah video menjadi viral karena memang ada manfaatnya dan, dengan senang hati, orang pun membagikan ke sesama. Nah, kesempatan ini pun dimanfaatkan oleh orang-orang oportunis untuk eksis di dunia maya dengan menampilkan hal-hal lucu, konyol, hingga vulgar.

Pertanyaan, apa sih manfaat menonton video rumah artis dibongkar? Apa manfaat menonton orang yang joget tidak jelas? Nilai-nilai apa yang diambil dari situ? Pertanyaan lain bisa dilanjutkan. Masalahnya, orang sudah tidak lagi mempertanyakan hal-hal seperti itu ketika mengklik sebuah video.
....
Saat ini, kebanyakan orang tidak peduli lagi akan nilai-nilai luhur, pemikiran-pemikiran mendalam, refleksi dan kritik . Arus informasi yang begitu deras turut membentuk perilaku masyarakat yang seperti itu. Tidak ada ruang dan waktu bagi masyarakat untuk berefleksi atau mengkritik sebab informasi (atau hiburan) datang terus. Secara pelan, manusia kehilangan daya untuk berpikir.

Namun, di sisi lain masih ada orang terus mengusahakan teknologi semakin canggih dari sekarang. Tidak terbayangkan secanggih apa lagi teknologi di masa depan. Misalnya saja pengembangan terus menerus kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan diusahakan agar semakin mirip dengan manusia, hingga bisa membaca pikiran manusia. Dengan semua itu, manusia akan menjadi “tuhan-tuhan” baru di dunia ini. Manusia akan mengendalikan teknologi untuk menjalankan seluruh aktivitas kehidupan.

Orang-orang yang seperti itu, yang berusaha mengembangkan teknologi, jumlahnya hanya sedikit. Sedangkan orang yang menikmati kecanggihan teknologi saat ini, jumlahnya makin banyak. Orang yang banyak inilah yang mengisi ruang-ruang dalam dunia maya tanpa menggunakan pikiran yang kritis lagi. Pun tidak ada waktu untuk refleksi.

Lalu apa yang dibutuhkan?
Menurut penulis, Indonesia membutuhkan pengembangan literasi. Khususnya literasi baca-tulis dan literasi digital. Literasi berarti: 1) kemampuan membaca dan menulis; 2) pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; 3) kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Kebanyakan orang Indonesia saat ini memiliki smartphone. Umumnya digunakan untuk berfoto ria dan update status di media sosial semacam IG atau FB. Pengguna smartphone di Indonesia itu ibarat bayi yang baru main gadget. Mereka tidak tahu memanfaatkan smartphone dengan benar, selain hiburan semata. Telepon genggamnya cerdas, tapi orangnya tidak. Mereka-mereka inilah yang biasa termakan berita bohong (hoaks) dan menonton video-video tidak bermakna.

Literasi digital sangat penting bagi generasi sekarang. Untuk pengembangannya, dibutuhkan kerja sama dan sinergitas berbagai pihak. Pertama-tama tentunya dari pemerintah. Pemerintah hingga saat ini belum memiliki program yang jelas soal literasi digital. Berikutnya, yang paling efektif menurut penulis adalah sekolah. Meski demikian, peran pertama haruslah diserahkan kepada orang tua sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas perkembangan anak.

Senin, 28 Januari 2019

Apa Rasanya Menjadi Orang Lain?



Apa rasanya menjadi orang lain? Pertanyaan ini tiba-tiba muncul dalam kepalaku. Apakah orang lain merasakan apa yang kurasakan?

Pertanyaan kedua di atas pun kutujukan kepada diriku sendiri; apakah aku bisa merasakan apa yang orang lain rasakan? Seperti kesedihan, patah hati, kecemasan, atau kegembiraan yang mereka rasakan? Jawabannya adalah tidak.

Nyatanya aku hanya bisa mengamati raut muka atau perilaku orang lain. Ini pun terkadang menipu. Ada orang yang mampu tersenyum, bahkan tertawa, untuk menutupi kesedihannya. Sehingga kita menganggapnya sedang bersukacita. Dengan kata lain, perilaku seseorang sesungguhnya tidak bisa dijadikan dasar untuk melihat apa yang dia sedang rasakan.

Lalu, apa rasanya menjadi orang lain? Menurutku, jawabannya adalah biasa saja. Masalahnya, kita tidak bisa menduplikat diri kita sendiri atau berpindah ke tubuh orang lain.

Pernah ada satu film yang kutonton yang menceritakan kisah pasangan suami istri. Kehidupan keluarga mereka sedang retak. Sang istri menyalahkan suami yang tidak peduli dengan keluarga dan hanya sibuk dengan urusan kerja sebagai aparat keamanan negara. Sementara, sang suami menyalahkan sang istri karena menyibukkan diri dengan hal yang tidak penting yaitu bisnis fashion.

Di film itu, menurut suami pekerjaan yang nyata adalah pekerjaannya sebagai aparat karena berhadapan langsung dengan kejahatan. Menggeluti dunia fashion adalah kegiatan yang sia-sia dan buang-buang waktu. Padahal pekerjaan tersebut sangat berarti bagi sang istri.

Masalah keluarga di atas menurutku adalah mereka tidak memahami satu sama lain. Andai mereka mampu merasakan apa yang dirasakan pasangannya, mungkin mereka tidak bertengkar terus. Tapi, nyatanya mereka selalu bertengkar saat bertemu di rumah. Tempat kerja merupakan tempat yang sangat mereka sukai. Hingga suatu pagi, pada puncak pertengkaran, mereka terbangun dengan kepribadian yang tertukar. Tiba-tiba sang istri bangun, namun ia sangat kaget karena tubuhnya adalah tubuh suaminya. Begitu sebaliknya dengan sang suami yang tiba-tiba menjadi gemulai bak perempuan.

Andai hidup ini bisa seperti film di atas, barangkali kita bisa sedikit membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain.

Rabu, 23 Januari 2019

Cerita Pulang Desember 2018


Dengarkanlah ceritaku. Siapkanlah telinga membacanya.

Tanggal 5. Rabu.
Aku menaiki bus setelah menunggu beberapa menit. Kemudian kulihat jam di handphoneku sesaat setelah aku duduk di dalam bus. Pukul 6 lewat 11 menit. Gelap mulai menggantung di langit Jakarta.. Aku hanya membawa dua tas yang berisi pakaian dan camilan selama di perjalanan. Bus melaju pelan mengikuti arus lalu lintas yang macet.

Enam jam sebelumnya aku masih berada di kontrakan mengemasi keperluanku. Pakaianku sudah tersusun rapi dalam sebuah tas jinjing berwarna merah. Sementara tas ranselku berisi perlengkapan mandi, camilan dan pakaian ganti. Sudah beberapa kali kuperiksa ulang semuanya untuk memastikan tidak ada yang terlupa.

Tiba-tiba suasana berubah. Udara begitu berat. Aku tidak tahu apakah memang lingkungan yang berubah atau sumbernya ada di dalam hatiku. Bagaimana tidak, aku akan melakukan perjalanan jauh. Aku harus meninggalkan kamar kontrakan ini untuk waktu yang lama (tepatnya sebulan). Kupandangi dinding kamarku dan kulayangkan pandangku ke luar; betapa aku telah menyatu dengan semua ini. Hingga saat beranjak, aku berkata pada kamarku untuk menjaga diri selama aku pergi.

Tepat jam tiga aku berangkat menuju terminal di Jakarta.

Bus melaju. Tersisa lima tempat duduk kosong di bagian belakang termasuk di sampingku. Kursi di sebelahku nantinya akan diisi oleh seorang penumpang dari Merak menuju Kotabumi, Lampung. Sebelum memasuki pelabuhan untuk menyeberang, bus menepi di suatu tempat. Sepertinya ada paket barang yang hendak diambil. Di situ penumpang dan aku menggunakan kesempatan untuk makan malam. Aku membawa makanan sendiri yang kubeli di warung depan kos.

Sekitar pukul 10.28 malam, aku sudah berada dalam kapal penyeberangan. Sekarang kapal penyeberangan terlihat lebih bagus ketimbang tahun sebelumnya. Kursi penumpang terasa nyaman dan sudah tidak terlihat lagi ada penumpang yang menguasai tempat duduk hanya untuk tidur. Intinya, sudah lebih baik dan nyaman.
Pelabuhan Merak dari atas kapal. Dokpri

Tanggal 6.
Tiba di Bakaheuni 00.28 WIB. Bus kembali melaju membelah malam. Yang terlihat di luar sana hanya titik-titik cahaya dari rumah-rumah warga. Saat itu aku tidak bisa tidur. Mungkin karena aku sempat minum kopi saat di kapal. Penumpang yang duduk di sebelahku, seorang kakek, kuperhatikan sulit tertidur juga. Kami tidak banyak bicara. Malam itu sebenarnya tidak terasa sudah masuk hari Kamis, tanggal enam, karena perjalanan terus berlanjut seolah tanpa mengenal perubahan waktu hingga pagi datang.

Kami makan pagi di Kotabumi, Lampung, pada pukul 5.38 - 6.30. Supir dan kru-nya rasanya tidak mau berlama-lama di rumah makan, seolah dikejar waktu. Bayangkan saja, waktu berhenti kurang dari satu jam. Untungnya perutku tidak bermasalah pagi itu. Aku hanya makan sebuah apel yang sengaja kubawa untuk sarapan. Katanya, entah kata siapa, apel sangat cocok untuk sarapan saat bepergian. Aku sudah membuktikannya dan ternyata benar adanya. 
Dokpri. RM Taruko II, Lampung.

 
Aku melihat peresmian RS Santo Antonius saat melewati daerah Baturaja pada pukul pukul 10 lewat 15 menit. Ucapan selamat dalam bentuk karangan bunga berjejer di pinggir jalan. Sekelompok orang, mungkin karyawan di sana, berbaris di halaman rumah sakit. Bus melambat, tidak seperti biasanya, karena sedang dalam keramaian.
  
Sekitar jam 11 sampai jam 1 siang, kami melewati daerah dataran tinggi. Kanan kiri terlihat banyak pohon durian. Ada pula terlihat pohon duku. Di pinggir-pinggir jalan sesekali terlihat penjual durian atau duku. Ada yang sendirian, ada yang berkelompok. Jalan berkelok-kelok dan sempit sehingga tiap dua kendaraan berpapasan harus ekstra hati-hati. Beberapa kali bus benar-benar berhenti sesaat untuk menghindari gesekan dengan kendaraan yang berpapasan, Kalau tidak salah nama daerah itu adalah Kabupaten Muara Enim. Aku sempat melihat sebuah kantor pemerintahan dan di sana tertulis nama daerahnya.

Berada di dalam bus yang sedang melaju seharian seolah tanpa berhenti merupakan pengalaman yang sangat kunikmati. Terlebih saat itu posisiku tepat di dekat kaca sisi kanan bus. Banyak hal yang bisa kita lihat. Mulai dari pemandangan alam yang indah, perumahan penduduk, sawah, hingga aktivitas masyarakat yang kita lewati. Semua berubah, berganti dengan pemandangan baru, sehingga tidak membosankan. Lagipula, bus yang kutumpangi adalah bus eksekutif jenis baru. Sangat nyaman. Kursinya 2-2. Maksudnya dua di kiri dan dua di kanan. Jarak antar kursi juga lumayan nyaman sehingga kaki lebih luwes. Dan, ini bagian pentingnya, ada port untuk mengecas handphone di setiap kursi.
Dokpri. Bus yang kutumpangi. Bukan Tayo. Aku duduk di baris belakang yg bantalnya terlihat dari kaca.

Bus yang melaju membuat kita tidak sadar bahwa waktu juga sedang berjalan. Semua yang terlihat akan tertinggal di belakang kita. Sementara tubuh ini terus berjalan menjauh – berpindah dan terus berpindah menjauhi titik lokasi yang di belakang (saat itu aku memantau terus google maps/GPS untuk mengetahui posisiku). Ini menciptakan kesan melankolis di dalam benakku. Pukul 14.00 - 14.48 makan siang di Lahat. Lagi-lagi waktu istirahat dan makan siang kurang dari satu jam. Aku makan siang dengan nasi bungkus yang kubawa. Lauknya saat itu ayam goreng. Awalnya kupikir basi, ternyata tidak. Itulah bekal makanan yang tersisa. Artinya, untuk perhentian berikutnya, aku harus membeli makanan.

Bus berjalan terus. Kadang melaju cepat kadang melambat. Meskipun demikian, ini bukan bis kecil ramah. Waktu pun berjalan sampai gelap datang. Waktu gelap datang, hujan turun. Malam itu bus tidak berhenti sama sekali sehingga tidak ada waktu untuk makan malam. Tapi, aku tidak kelaparan karena camilanku masih ada. Apel juga masih ada. Semalaman ternyata hujan mengguyur seolah-olah mengetahui ke mana kami pergi.
  
Tahun sebelumnya aku juga naik bus ke Medan untuk perjalanan pulang kampung. Kisah perjalanan pulang itu aku posting di kompasiana. Waktu pulang tahun sebelumnya, aku lewat jalur lintas timur Sumatera. Jalan relatif bagus dan datar. Berbeda dengan kali ini, kami melewati dataran tinggi, menyusuri sisi bukit barisan yang banyak keloknya. Bus kadang jalan menanjak, jalan menyempit, lalu menghadapi jalan menurun. Tidak lama kemudian memasuki kota atau perkampungan yang relatif datar. Begitu seterusnya. Bedanya lagi adalah kali ini di pinggir jalan banyak terpampang baliho para calon legistatif, baik daerah maupun pusat.

Tanggal 7.
Bus baru berhenti jam 4.30 pagi untuk sarapan di sebuah rumah makan. Saat itu bus diistirahatkan dan diperbaiki. Buktinya kami baru berangkat lewat jam 8. Tiga setengah jam itu kugunakan untuk sarapan dan mandi. Mungkin karena bus sudah menempuh waktu yang lama yaitu sekitar 14 jam nonstop. Kami sudah mencapai wilayah Dharmasyara, Padang.

Jam 11 siang memasuki Solok, Padang. Checking di terminal oleh dinas perhubungan. Kira-kira 15 menit kemudian, makan siang di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Warung makan yang dindingnya papan, sangat sederhana. Tapi saat itu aku tidak makan karena aku sempat membeli penganan dari pedagang eceran yang menjajakannya di dalam bus saat tengah berhenti di dekat terminal. Jadi aku tidak makan. Aku hanya membeli air mineral kemasan besar satu botol untuk persediaan di jalan. Jam 12 lanjut jalan menyusuri sisi Danau Singkarak. Indonesia ini sungguh indah. Aku sangat menikmati keindahan alam di sini. Di seberang sana terlihat sebuah gunung yang merupakan taman nasional. Di di balik itulah terletak Kota Padang.
Dokpri. Nah ini dia camilan penahan lapar. Solok.

Hari masih cerah ketika kami tiba di Kota Bukit Tinggi. Artinya dalam hitungan jam, malamnya, kami akan memasuki wilayah Sumatera Utara. Ketika malam tiba hujan pun turun sehingga kecepatan bus benar-benar berkurang. Kami melewati daerah yang naik-turun dan jalanan yang begitu mengkhawatirkan sebab di sisi jalan banyak tebing yang bisa saja longsor setiap saat. Aku ingat pepatah mengatakan: lebih baik terlambat, asal selamat. Pepatah ini berlaku saat itu.
  
Memasuki wilayah Sumatera Utara merupakan pengalaman mencekam. Hari sudah gelap, hujan turun begitu deras, jalanan sempit, rusak, dan licin. Ini membuat perjalanan terlambat. Cuaca sangat dingin hingga semua penumpang mengenakan jaket dan penutup badan. Aku juga begitu. Supir sangat hati-hati memasuki wilayah ini. Hingga akhirnya berhenti di Kota Nopan, Mandailing Natal, karena ada penumpang yang turun dan membawa banyak barang. Penumpang yang lain tidak turun karena hujan. 

Dokpri. Hai, kamu... foto sesaat sebelum kedinginan :)

Perjalanan dilanjutkan kembali. Sekarang menuju daerah Penyambungan. Jalan relatif lurus, namun rusak. Cuaca masih terasa sangat dingin. Bus berguncang beberapa kali. Aku tidak bisa tidur walaupun sudah mencoba memaksakan memejamkan mata. Pikiranku sedikit resah karena akan kehilangan tiket kapal yang seharusnya berangkat jam 9 malam. Sementara aku masih di sini. Terpaksa saat itu aku menghubungi calo untuk memesan tiketku esok hari. Di Penyambungan banyak penumpang yang turun. Namun, banyak juga yang baru naik, tetapi aku tidak begitu memperhatikannya.

Tiba di Padang Sidempuan, jam 11 malam. Di sana aku turun. Aku mendatangi agen bus untuk perjalanan berikutnya. Agen mengatakan bahwa akan disediakan minibus menuju Sibolga dan tidak perlu membayar lagi. Aku diminta menunggu. Sementara bus melanjutkan perjalanan ke Medan melewati Sipirok. Padang Sidempuang merupakan persimpangan menuju Sibolga (ke kiri) dan menuju Sipirok (ke kanan) yang bila dilanjutkan sampai ke Medan. Aku menunggu selama 2 jam sambil duduk di teras seperti gelandangan. Di situlah aku melewati hari berganti. Aku dapat kenalan di sana yang juga menuju Sibolga. Tujuan akhirnya adalah Barus. Sementara, tujuan akhirku adalah Nias.

Tanggal 8
Setelah menunggu selama dua jam yang membosankan, akhirnya minibus yang dimaksud datang. Dini hari, hari sabtu. Harusnya aku sudah berada di atas kapal saat itu. Berangkat ke Sibolga jam 1 tengah malam. Tiba di terminal Sibolga jam 3.25 WIB. Aku menuju rumah AD, calo tiket, dan menginap di sana.

Aku menginap di Sibolga seharian karena kapal baru berangkat malam hari. Aku istrirahat hingga menjelang siang. Dan tidak melakukan apa-apa, selain menonton TV, karena badan terasa pegal setelah 3 malam dan 2 hari di perjalanan.
  
Berangkat ke Gunungsitoli jam 10 malam dengan kapal Wira Victoria. Kapal Victoria sangat bagus. Berbeda dengan kondisi kapal tahun-tahun sebelumnya. Aku teringat dengan kapal Merak-Bakaheuni yang sudah disulap menjadi lebih bagus dan nyaman. Kurasa ini berkat pemerintah yang peduli dengan transportasi laut. Sebenarnya, menurutku, di kapal lebih menyenangkan ketimbang di bus. Lebih romantis... andai aku punya kekasih, ehm. Jadi ingat titanic (mimpi). Mungkin suatu hari nanti aku bisa mewujudkannya (Amin...).
Dokpri.  Penampakan dek kapal  Wira Victoria

Dokpri. Pemandangan P. Nias dari atas kapal saat pagi hari.



Malam itu laut sangat tenang. Langit di luar dipenuhi bintang. Aku tertidur dengan pulas. Dan tanpa terasa, itulah perjalanan terakhirku menuju rumah.
  
Tanggal 9
Rumah, jam 8.30 WIB.

Dokpri. Inilah rumah kami, Sederhana tapi halamannya luas. Sebenarnya foto ini kuambil sehari sebelum balik ke Jakarta.