Selasa, 06 Agustus 2013

matahari tenggelam

matahari tidak pernah takut tenggelam di ufuk barat
kitalah yang terlalu takut:

terlalu kuatir akan hal-hal yang tidak terselesaikan hari ini.

Sabtu, 03 Agustus 2013

berkelip bukan untukku

kekasih, wajahmu masih jauh
jauh di kedalaman anganku
anganku melayang jauh
jauh ke langit yang gelap
menuju bintang berkelip
berkelip bukan untukku

lama sekali

lama sekali kutunggu datangmu, kekasih
hinggu waktu menua
diam-diam beranjak
pelan-pelan merangkak pergi
cintaku tetap

jeda

ada jeda yang sangat panjang selepas kepergianmu
semacam ruang kosong yang luas tercipta dalam dadaku
berapa kali kucoba mengisinya dengan yang lain,
sekian kali aku gagal
aku belum temukan penggantimu
tentu aku menunggu
karena kutahu cintaku abadi

kenangan

kenangan adalah
layang-layang putus
entah jatuh di mana

entah siapa yang menemukannya

Jumat, 02 Agustus 2013

Hidup lebih baik jika ada cinta

Pernah aku berpikir bahwa aku lebih baik hidup tanpa cinta -tanpa mencintai seseorang.
Hidup tanpa cinta sepertinya lebih bebas. Bebas melakukan apa saja tanpa ada yang melarang. Ya, begitulah pikiran-pikaran liarku tentang cinta. Hingga suatu sore menjelang malam, hujan turun. Hujan begitu derasnya meluruhkan pikiranku. Hujan mengingatkanku tentangmu. Tentang meja dan dua bangku di sisinya yang kita duduki kala itu.
Dari balik  jendela kamarku, aku memandang keluar. Garis-garis hujan menghiasi pandangan. Bagian luar kaca jendelaku basah oleh titik-titik hujan yang terbawa angin. Tidak ada satu orang pun kulihat melintas di luar. Hari sudah gelap.
***
Sore itu, di sebuah kantin, kita berteduh. Hujan sangat deras. Angin bertiup kencang. Seringkali angin membawa  butiran-butiran hujan menyapu wajah kita dan beberapa orang yang juga berada di kantin itu.  Mulanya kita hanya duduk sebentar di situ sambil istirahat setelah sejak siang kita belajar.  Dan hujan pun turun sebelum kita pulang. Barangkali hujan sore itu seperti hujan pada zaman nabi Nuh. Sangat deras. Air menggenang di mana-mana. Kecokelatan. Saat itu, setengah hatiku ingin hujan segera reda. Setengahnya lagi aku ingin bersamamu lebih lama dan berharap hujan masih bertahan. Tapi hujan tidak berpihak padaku. Hujan mengabaikan suara hatiku.
***
Di lain waktu, kita berdua pernah ke toko buku. Kita lewati rak-rak raksasa berisi ratusan buku. Membaca beberapa buku. Saling menujukkan kalimat-kalimat indah yang kita dapati dari buku. Aku mengenang momen itu. Saat kita pulang, ternyata di luar hujan. Deras. Lagi-lagi hujan. Kita memilih berteduh di beranda. Duduk sambil menunggu hujan reda.
***
Dari balik jendela kamarku aku memandang keluar. Garis -garis hujan menghiasi pandangan. Hujan menurunkan kenangan-kenangan lain tentangmu. Hujan yang turun malam ini, bagiku bukan hujan biasa. Memang hidup lebih baik jika ada cinta.

Hujan malam itu reda di larut malam. Dan aku, larut dalam lamunanku.

Kamis, 01 Agustus 2013

Tiga Tahun Kemudian

Aku bersyukur pernah mengenalmu. Aku tak pernah menyesali kebersamaan kita. Setelah mengenalmu duniaku berubah. Awalnya, itulah yang kutakutkan bila aku jatuh cinta, duniaku berubah. Hal-hal penting bagiku menjadi tidak penting setelah ada kamu di hidupku. Aku mencintaimu, kau tahu itu.
Masih ingatkah kau hari kita janjian bertemu? Kita janjian di sebuah tempat yang kau pilihkan. Sebuah warung makan di pinggir jalan yang hanya buka malam hari. Aku yang duluan datang. Tidak lama kau juga datang. Kau yang memesan makanan karena aku tidak ahli dalam memilih menu yang memanjakan lidah. Aku adalah pemakan segalanya, kataku padamu, dan kau tertawa mendengarnya. Memang aku tak pernah pilih-pilih makanan. Asal terhidang langsung santap.
Malam itu, sementara pelayan menyiapkan makanan pesanan kita, kita bercerita. Aku tidak pandai dalam memulai percakapan. Untung ada kamu. Kamu memang sangat pandai mencairkan suasana. Tingkahmu yang lincah dan banyak bicara sangat berbeda denganku yang biasanya tenang dan tidak banyak bicara. Itulah yang kusukai darimu. Selain karena kau memang cantik. Duniaku begitu datar, duniamu ramai bagai pasar. Sebelumnya, aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan, di mana ada kamu di situ suasananya pasti berisik. Kau mampu menciptakan suasana ramai.
Aku mendengarkan kau bercerita tentang perkuliahanmu. Kau selalu dipilih oleh teman-temanmu menjadi ketua kelompok bila ada tugas kelompok dari dosen. Sering mereka membuatmu kesal karena hanya beberapa temanmu saja yang serius mengerjakan tugas padahal itu tugas kelompok. Malah kau sering mengerjakan sendirian. Apalagi jika itu susah. Aku semakin tertarik dengan kepribadianmu. Pintar, punya banyak teman, ketua kelompok lagi. Aku tidak pernah jadi ketua kelompok saat kuliah. Aku dengarkan saja ceritamu. Aku tidak punya bahan untuk bercerita. Kuperhatikan baik-baik wajahmu. Semakin lama kuperhatikan, semakin aku menyadari betapa cantiknya wajahmu. Lebih cantik sewaktu pertama kulihat. Aku terkesima. Hingga aku kaget saat kau lambaikan tangan di depan wajahku. Tidak...aku tidak memikirkan yang aneh-aneh, kataku, dan kita tertawa. Pelayan datang menghidangkan makanan. Selamat menikmati, katamu ceria.

***
Tiga tahun sudah berlalu sejak kami tidak lagi bertemu, tidak lagi berbalas pesan. Aku melewati jalan yang pernah kami lalui. Sendirian. Saat melintasi warung makan itu, saat itu sedang tutup karena hari masih siang, sekelebat kenangan muncul dalam kepalaku. Dari kejauhan aku seolah-olah bisa melihat bayangan kami berdua sedang duduk bertatapan di meja itu. Waktu melambat. Sebuah bayangan nyata. Tahun-tahun berlalu seharusnya banyak yang berubah, namun ada juga yang memang tetap. Seperti meja yang pernah kami tempati. Seperti perasaanku saat ini.
Dia berubah, karena itu dia pergi. Menghilang. Aku tak bisa menghubunginya. Dia ganti no.hp. Kutanyakan kabar melalui teman-temannya, hasilnya nihil. Dunia seperti kekurangan udara, dadaku sesak saat itu. Pelan-pelan aku belajar melupakannya.
Suatu siang di ruang kerja, aku sedang istirahat. Handphone-ku berdering. Sebuah notifikasi, followerku bertambah. Dia. Namanya. Aku kaget bagaimana dia bisa menemukan akun twitterku, yang alamatnya tidak sesuai dengan nama depanku. Apa selama ini dia berusaha menghubungiku? Mungkin saja, tapi aku tidak yakin. 

***
Hai bang.. :) apa kabar?

Sebuah pesan darimu di kotak direct messageku. Bunyi pesanmu tidak asing bagiku, seperti tiga tahun lalu.  Kau ke mana saja selama ini, bisikku dalam hati. Tidak langsung kubalas, aku sedang bekerja saat itu.
...
Hai.. Kabarku baik. Dirimu?
Baik juga.hehe Bang minta no.hp dong.
Boleh. Nomorku tidak ganti. 081xxx.

Demikian kita saling membalas pesan via twitter. Singkat.

Beberapa hari kemudian, kau mengirimku pesan lewat sms. Bunyinya masih sama. Saling menanyakan kabar. Aku lupa kapan terakhir kita sms-an, bunyi smsku ke sekian. Bulan februari tahun 2010, balasmu. Tiga tahun lalu. Kutanyakan kabarmu, ternyata sedang tidak baik. Masalah hati. Tapi, aku tak menanyakan lebih lanjut. Cukup kuberikan semangat lewat sms saja. Kupikir kau pasti bisa melewati masa-masa sulit selepas pisah dengan kekasihmu. Sekarang, ruang dan waktu tak mengizinkanku untuk bertemu kamu. Kita sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku hanya ingin berterimakasih padamu telah menghubungiku kembali. Dan terimakasih untuk rasa yang pernah kau tumbuhkan di hatiku. Aku belajar menumbuhkannya sendiri sekarang sambil menunggu tanah yang tepat untuk kutanam.


Saat menuliskan ini aku mengingatmu.