Kamis, 12 September 2013

siapa yang tahu

siapa yang tahu aku akan bersamamu kelak
meski kini kau bersamanya.
aku bukannya berharap terlalu banyak
punya mimpi apa salahnya.
sekarang aku hidup tanpamu
seperti duduk diam di ruangan tanpa cahaya.
kelak kita ‘kan bersama,harapku
entah tetap mimpi entah jadi nyata.

Sabtu, 07 September 2013

15 Menit Sebelum Tidur

Lima belas menit sebelum tidur, mungkin lebih dari itu karena aku tidak tahu kapan aku benar-benar tertidur, bayang wajahmu melintas di kelopak mataku seolah ada layar televisi di dalamnya. Aku belum tidur. Aku masih merasakan kipas angin mengipasi kulitku yang kepanasan. Malam ini udara terasa panas.

Pekerjaan seharian tadi membuat tubuhku kelelahan dan mudah mengantuk. Malam baru saja turun. Lampu teras rumah tetangga kulihat baru menyala. Seperti biasa mereka baru kembali dari kerjaan setelah malam tiba. Aku hanya memerhatikan mereka sesaat dari balik jendela sambil menyantap makan malamku sendirian. Waktu cepat berlalu kulihat jam sudah pukul 9. Mataku sudah berat, padahal biasanya aku nonton berita malam. Aku menyikat gigi lalu segera menyiapkan diri untuk tidur. Kusiapkan tempat tidurku, kunyalakan anti nyamuk elektrikku, kumatikan tivi. Kulihat mejaku berantakan. Besok pagi saja kurapikan, pikirku, aku akan bangun lebih pagi.

Hari ini benar-benar melelahkan, seperti ada suara-suara kecil dalam kepalaku mengulang kalimat itu. Memang hari ini aku lelah, tapi tidak biasanya aku mengeluh seperti itu. Sebenarnya setiap hari pekerjaan selalu banyak dan selalu ada. Tapi hari ini beda. Mungkin dipengaruhi badanku yang tidak terlalu fit hari ini.

Aku duduk di pinggir tempat tidurku, menundukkan kepala sambil mengucapkan doa kecilku. Kata-kataku habis. Aku seperti lupa cara berdoa. Aku merasa sendirian. Kesendirian yang mengerikan. Lelah. Berat untuk terus bangun, tapi enggan untuk tidur. Dengan tidur, rasanya, waktu cepat berlalu. Dan aku tidak mau waktu berlalu begitu saja dengan cara begini. Beberapa saat kuamati kamarku dari setiap sudut seolah-olah baru kutempati kemarin malam. Aku sudah tinggal di kamar ini setahun yang lalu. Terasa asing.

Kubaringkan badanku. Oh, lega sekali. Rasanya bebanku langsung berpidah ke kasur. Langit-langit kamarku yang bercat putih menjadi pemandanganku sekarang, di bagiannya tengahnya ada sebuah lampu sebagai satu-satunya sumber penerang dalam kamar yang kecil ini. Pikiranku masih menyala seperti lampu di atasku. Ternyata aku lupa mematikan lampu. Langsung saja aku berdiri dan pergi mematikan lampu. Sebentar saja aku kembali ke tempat tidurku. Sekarang kamarku agak gelap. Ada sedikit cahaya dari luar yang masuk lewat celah kecil bagian atas jendela.

Di tengah kegelapan inilah ada sebuah celah sehingga bayangmu masuk ke dalam pikiranku.  Ketika aku memejamkan mata, bayangmu semakin jelas. Semua keluhan, semua kelelahanku lenyap. Kaulah penyembuhnya. Dapatkah kita bertemu suatu hari? Aku bosan bertemu kamu dalam mimpi.

Jumat, 06 September 2013

Kasih Ibu

Inilah kisah seorang pemuda yang tinggal di desa dan jatuh cinta dengan seorang gadis dari desa tetangga. Cintanya kepada gadis itu sejati, dan ia meminta gadis itu untuk menikah dengannya. Si gadis, sebaliknya, tidak mencintai pemuda itu dan hanya memanfaatkan perasaan pemuda tersebut demi keuntungannya sendiri. Ia menjadikannya sebagai permainan. Ia menuntut banyak hal kepada sang pemuda untuk membuktikan cintanya kepada dirinya.

Akhirnya, suatu hari, si gadis kehabisan alasan, ia menuntut hal yang tidak pernah terpikirkan. "Jika kau sungguh mencintai aku," gadis itu berkata, "aku akan percaya bahwa cintamu tulus tanpa ada saingan. Untuk membuktikannya, aku meminta agar kau membunuh ibumu dan membawa jantungnya kepadaku sebagai kenang-kenangan kemenanganku atas cintamu kepadaku." berminggu-minggu lamanya pemuda itu tak tahu apa yang harus ia lakukan dan ia sedih pada pilihan yang harus ia ambil. Tidak sanggup menahan 'kehilangannya' lebih lama lagi dan ketika melihat ibunya sendirian, dalam keadaan gelap mata ia membunuh ibunya dan mengeluarkan jantungnya dari tubuhnya. Ia berlari secepat mungkin untuk mempersembahkan hadiah khusus itu kepada gadis yang paling ia cintai, sementara ia lari dari rasa bersalah yang menyiksanya. Sewaktu berlari melalui hutan yang lebat ia tersandung dan jatuh, dan jantung itu lepas dari tangannya. Ia mencoba bangkit, seperti orang gila mengobrak-abrik semak belukar mencari jantung itu. Akhirnya, ia menemukannya. Sementara ia membersihkan jantung itu, ia mendengar suara keluar dari jantung itu berkata, "Nak, apakah kau terluka?... Nak, apakah kau terluka?"

(Cerita ini diambil dari sebuah buku)

Kamis, 05 September 2013

pekerjaan

aku takut suara hatiku terdengar keluar hingga orang lain bisa mendengarnya.
hatiku sedang berteriak. keras sekali.
oh, alangkah beratnya hidup ini. masalah datang silih berganti. aku merasa lelah. kepalaku sering tertunduk lesu. malam hari aku selalu sulit tidur. pikiranku masih belum kembali. masih mengembara entah ke mana. bangun pagi terasa berat seolah menghadapi monster mengerikan dan aku bersiap untuk diremukkan. barangkali orang lain juga merasakan hal ini.
hatiku sedang bersuara. berteriak. bertanya-tanya.
kapan aku menjadi manusia?
pekerjaan telah menjadikanku bukan manusia lagi.
tapi aku segera sadar pekerjaan bukanlah kutukan.
bukan juga beban.
pekerjaan adalah panggilan hidup manusia.

Perjalanan

Setelah lama menunggu akhirnya bus datang. Aku bersiap-siap berdiri di pinggiran halte bersama beberapa orang yang juga sejak tadi menunggu. Aku sudah berada di dalam bus sekarang. Duduk dekat jendela kaca agar aku bisa melihat keluar. Udara dalam bus cukup sejuk karena AC. Tidak seperti di luar, panas. Di pemberhentian berikutnya bus mengetem lama. Menunggu hingga bangku-bangku terisi penuh. Sementara duduk diam, kuperhatikan keluar. Kendaraan hilir mudik dari dua jalur jalan. Beberapa kali terdengar klakson dan teriakan para pengendara motor. Memang jalanan cocok sekali jadi tempat ujian kesabaran. Ada juga orang-orang yang menyeberang jalan dengan hati-hati. Di sini rambu-rambu lalu lintas tidak terlalu diperhatikan oleh pengguna jalan. Di bawah rambu-rambu dilarang stop ada angkutan yang menurunkan penumpang. Orang-orang menyeberang dengan bebas. Tentu saja jalanan terlihat kacau. Ditambah cuaca yang lumayan panas siang itu. Dalam bus pengamen sedang menyanyi sambil bermain gitar. Tidak peduli suara gitarnya sumbang. Aku abaikan saja. Juga pedagang asongan yang berisik menawarkan jualannya. Tidak di dalam tidak di luar suasananya sama saja. Berisik. Apa dunia ini memang berisik?

Bus berangkat juga. Penumpang terlihat lega karena menunggu terlalu lama. Termasuk aku. Sebenarnya dari tadi aku ingin mengingatkan supir untuk jalan, tapi karena aku tidak terlalu buru-buru ke tujuanku, akhirnya tidak jadi. Seperti biasa di perjalanan aku selalu merenung sambil melihat keluar, memerhatikan garis-garis putih di aspal bergerak ke belakang, dahan-dahan pohon di pinggir jalan seolah memberikan lambaian terakhir, dan pemandangan lain yang terlewatkan. Ke mana aku pergi? Tentu sekarang jelas, aku punya tujuan. Setiba di tujuanku aku pasti akan turun dari bus. Namun, pertanyaanku itu tidak hanya sebatas kemana aku pergi saat ini, namun lebih jauh ke depan. Ke masa depan yang masih terbentang. Masa depan yang masih disimpan oleh hari esok. Ya, ke mana aku pergi?  Terlalu banyak pilihan. Terlalu luas jalan.

Aku sering bingung sendiri dengan jalan pikiranku. Sering memikirkan hal-hal yang tidak bisa kujangkau. Tapi, ini di perjalanan. Aku di dalam bus. Dan hidup ini adalah perjalanan panjang. Lebih panjang dari yang kulewati saat ini. Bukankah sebaiknya aku hanya perlu berjalan terus, mengerjakan pekerjaanku dengan baik, tanpa perlu banyak bertanya? Seperti kata orang, biarkan hidup mengalir?

Selasa, 03 September 2013

manusia gelisah

terdengar bunyi air dari kamar mandi sebelah.
di luar ada sepeda motor lewat dengan bunyi mesinnya yang kasar. 
ada juga desiran angin dari kipas angin di pojok kamar.
sesekali terdengar gonggongan anjing dari kejauhan seperti ingin mengundang hantu.
dari tempat yang lebih jauh lagi pasti lebih banyak bunyi terdengar.
tapi, di dalam hatinya ada keheningan paling sunyi seperti kota mati
seperti suasana desa malam hari
seperti langit malam.
dia mengenang akan hari-hari lalunya
dia merenung akan kekiniannya yang menyedihkan
sebab banyak keputusan berakhir buruk.
lebih buruk dari reruntuhah kota sehabis perang.
dia menerawang, dalam ketidaktahuan, akan hari depannya
betapa beratnya hidup ini, pikirnya.
dia ingin menjadi patung
dia ingin dikutuk jadi batu seperti dalam dongeng
dia ingin waktu berhenti sekarang.

rebah

ingin aku rebah di tempat paling empuk. aku mencari-cari ketenangan yang paling tenang di dunia ini, tapi tak ketemu juga.
ingin kujatuhkan diriku di tempat paling lembut. aku ingin memanjakan tubuhku yang jarang santai ini.
aku ingin rebah di pelukanmu, kekasih. datanglah malam ini. sebab setahun lalu aku menunggu.
ingin kurebahkan diriku di ranjang bersama kekasihku.
kekasihku yang mana?
semua kekasih telah pergi. satu-satunya yang tinggal adalah diriku sendiri. aku adalah kekasihku yang setia.