Sabtu, 05 April 2014

sekolah negeri kita

Ujian Sekolah tingkat SMP sudah berlangsung selama seminggu. Anak-anak di tempatku mengajar terlihat lelah. Meskipun begitu, ada juga beberapa murid yang terlihat santai-santai saja.

Ada yang membuatku kaget saat salah satu murid menanyakan, "Pak, kenapa kita tidak dapat kisi-kisi soal seperti temanku yang sekolah di negri?" Apa? aku berpikir. Setahuku, sebagai guru, kisi-kisi soal itu adalah soal itu sendiri dan bukan untuk diberikan ke anak sekolah. "Lho? kisi-kisi itu sebenarnya tidak boleh dilihat oleh siswa," jawabku. "Tapi temanku itu dapat dari gurunya." "Berarti sekolahnya gak benar tuh." "Salah gak, Pak, kalau aku juga lihat? Kemarin temanku itu tunjukin, dan persis sama dengan soal hari ini." "Ya, jelas itu salah. Itu tidak jujur namanya." "Tapi lumayan kan, Pak, kita sudah tahu soalnya." "Saya sarankan kamu jangan lihat lagi. Itu perilaku curang dan itu tidak baik. Kalau mau dapat hasil yang bagus, ya, harus giat belajar." Aku mencoba memberi nasihat kepada muridku itu.

Setelah percakapan itu. Aku mulai berpikir tentang beberapa murid yang terlihat santai. Lalu ujian di hari berikutnya kuamati, beberapa murid sudah selesai menjawab pertanyaan padahal ujian belum lama berlangsung. Jangan-jangan mereka sudah terpengaruh dari sekolah lain.

Inilah salah satu potret buruk pendidikan Indonesia. Aku kuatir, jangan-jangan banyak sekolah yang menciptakan generasi curang, tidak percaya diri, dan generasi yang malas, takut menghadapi ujian. Padahal ujian sejati adalah hidup itu sendiri dan tidak ada bocoran soalnya.

Aku sendiri mengajar di salah satu sekolah swasta di daerah Cibinong, Bogor. Di sekolah kami sangat menekankan disiplin dan kejujuran. Menyontek saat ujian adalah pelanggaran berat. Sama halnya dengan pelanggaran peraturan lainnya. Biasanya murid di sekolah kami terpengaruh dari teman-teman mereka dari sekolah lain. Kalau sudah begini, para guru tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau pun ditelusuri lebih jauh sumber bocoran soal, akan susah sekali. Murid-murid tidak akan memberitahukannya bila ditanyakan. Mereka akan takut.

Kamis, 03 April 2014

unek-unek murahan

Aku hampir tersedak saat makan malamku sambil mendengar berita bahwa gaji wakil rakyat 18 kali lipat lebih besar dari rata-rata pendapatan per kapita rakyat. Lalu diiringi laporan rapor merah wakil rakyat.

Ah wakil rakyat. Kau patahkan hatiku saat aku makan malam. Harusnya aku disuguhi berita-berita menggembirakan. Harusnya kalian bekerja lebih keras daripada aku karena kalian dibayar lebih mahal. Kursi kursi yang kalian perebutkan kenapa kosong saat rapat? Harusnya kalian jadi teladan. Apa aku perlu beri contoh caranya rajin bekerja?

Harusnya kugerakkan rakyat mengusir kalian dari gedung itu. Tapi buat apa? Harusnya kalian malu. Dan tak perlu mengajukan diri lagi jadi wakil rakyat. Biarkan orang orang yang lebih baik dari kalian menjadi wakil kami.

Ah wakil rakyat, lama-lama, jangan-jangan, rakyat tak memerlukan kalian. Berbenahlah. Berlaku baiklah. Rajinlah. Kalau tidak, kembalikan gajimu. Lalu makanlah dengan hasil keringatmu.

Rabu, 02 April 2014

aku tidak heran

aku tidak heran lagi
mengapa langit biru
mengapa laut asin

aku tidak heran lagi
rakyat jadi bisu
rakyat jadi miskin

aku tidak heran lagi
mereka berebut duduk
di kursi yang lebih tinggi

aku tidak heran lagi
ada yang tambah mobil baru
ada yang belum makan nasi sehari

ya
aku tidak heran lagi
aku tidak peduli lagi

Selasa, 01 April 2014

seruan

o manusia

sadarlah

mengapa kau ingin berkuasa terhadap sesamamu?

apa yang kau inginkan dari mereka yang miskin?

janji apa yang kau ucapkan itu? hidup bahagia?

AKU-lah pemberi hidup.


jangan rampas kami karena kami ingin hidup

sebelum maut menampar kita semua

sadarlah!

Rabu, 26 Maret 2014

satu dunia

Beberapa hari yang lalu aku berjalan-jalan di daerah kumuh, di kolong jembatan, di pinggir rel kereta api, di kampung-kampung, dan di daerah terpencil. Aku bertanya-tanya bagaimana semua daerah ini bisa berada di planet bumi. Sebab, baru saja tadi aku melewati jalanan di kota besar, perumahan elit, gedung-gedung pencakar langit, dan perkantoran. Bagaimana kedua daerah ini, kumuh dan mewah, berada dalam planet yang sama?
Aku bukan waktu. Aku berjalan.

Senin, 24 Maret 2014

obrolan politik

kami benci politik
karena kami telah melihat di tv
betapa buruknya itu.

dan mereka lanjut main catur
sekali sekali menyeruput kopi pahit
sambil membahas calon wakil rakyat

dari partai anu.

kami tidak mengerti politik
itu kerjaan para lelaki
cukup kami di rumah saja.

dan sambil ngerumpi
para ibu mengeluh harga naik melulu
membahas harga cabai
katanya, ini salah pemerintah.

Pa, apa itu politik?
Nanti, kelak, kau akan tahu, Nak.

Si anak ngambek pertanyaannya tidak dijawab
lalu ia mengurung diri di kamar
sambil main hp dan sepasang headset di telinga.


Jumat, 21 Maret 2014

Pileg dan baca buku

Tahun 2014 ini merupakan tahun politik di Indonesia. Kampanye yang dilaksanakan oleh partai-partai politik mengisi berita-berita di televisi sampai aku bosan mendengarnya. Dari yang sudah kuikuti, tidak ada satu partai pun yang peduli akan 'minat baca masyarakat'. Maksudku di sini adalah yang peduli terhadap buku-buku bacaan yang harganya mahal-mahal. Pernah aku menanyakan beberapa murid sekolah tentang minat baca mereka. Sebenarnya mereka ingin membaca buku. Tapi cukup mahal untuk membeli satu buku saja. Perpustakaan di sekolah kadang tidak memadai. Bahkan, mungkin ada sekolah yang tidak memiliki perpustakaan. Hal ini diperparah dengan munculnya gadget yang telah mampu menarik perhatian generasi muda. Gadget semakin murah karena saling bersaing satu sama lain.

Menurutku, para calon wakil rakyat harusnya peduli akan hal ini. Memperjuangkan agar harga buku bisa murah. Sehingga masyarakat tertarik membeli dan membaca buku. Pikiranku lain berkata, jangan-jangan para calon wakil rakyat ini sebenarnya tidak gemar membaca. Kalau begini, ya, parah. Atau, jangan-jangan para wakil rakyat ini, kelak, takut kalau warganya lebih cerdas dari mereka, bisa menggoyang kursi yang mereka duduki. Mungkin saja begitu. Dan ini lebih parah.