Senin, 11 November 2019

KALAH

Hasil gambar untuk kalah
sumber: republika



Apa yang terpikirkan olehmu ketika mendengar kata 'kalah'?



Kalah merupakan akibat atau hasil yang diperoleh setelah menghadapi suatu situasi. Kalah biasa dipahami dalam situasi persaingan, peperangan, atau ujian.



Dalam KBBI, kalah berarti tidak menang, kehilangan atau merugi karena tidak menang, tidak lulus dalam ujian, tidak menyamai, kurang dari. Kalah bisa diartikan kebalikan dari menang. Dari semua arti itu, kalah bisa juga berarti gagal atau tidak memperoleh apa-apa.



Saya yakin tidak ada seorang pun ingin kalah. Tim sepakbola berlatih dengan serius untuk menang, bukan untuk kalah. Seorang pelajar giat belajar agar lulus, bukan agar tidak lulus. Pebisnis tidak ingin kalah dari pesaingnya. Semua tidak ingin kalah.



Mengapa orang tidak mau kalah? Menurutku ada beberapa alasan. Pertama, ingin menjadi yang utama. Motivasi tertinggi manusia melakukan sesuatu adalah aktualisasi diri; ingin menunjukkan diri kepada dunia - inilah aku, aku hebat, aku mampu, aku kaya, dan seterusnya. Semua tentang kebanggaan diri. Bayangkan bila dalam kondisi kalah, seketika kebanggaan diri tadi lenyap. Sebab itu setiap orang menghindari kekalahan.



Kedua, tidak ingin diremehkan. Terkadang ada orang berusaha keras untuk mencapai sesuatu, misalnya kekuasaan atau kekayaan, hanya karena dia tidak ingin diremehkan oleh orang lain. Segala usaha dikerjakan dengan sungguh-sungguh hingga mencapai apa yang diinginkan. Oleh karena itu, pantang baginya untuk kalah.



Ketiga, tidak ingin merugi. Alasan ketiga ini biasanya terjadi pada persaingan dengan mempertaruhkan sesuatu. Artinya, jika kalah maka akan kehilangan sesuatu tersebut. Apalagi jika sudah mempertaruhkan semua yang dimiliki. Jadi sebisa mungkin menang dan jangan sampai kalah.



Mungkin masih terdapat alasan lain mengapa kita tidak ingin kalah. Tetapi, intinya menurutku adalah tentang harga diri kita. Kekalahan membuat kita terlihat bodoh, tidak berdaya, kurang perjuangan, dan seterusnya.



Masalahnya, di setiap pertandingan selalu ada pihak yang menang dan kalah. Tidak mungkin keduanya menang. Kita menyaksikan sendiri kemeriahan dunia sepak bola. Ketika tim idola kita mencapai final, maka betapa kita ikut terhanyut dalam kegembiraan. Kemudian pada partai final tersebut tim idola kita ternyata dikalahkan oleh pihak lawan. Kita pun ikutan sedih.



Selanjutnya....



Kehidupan kita tidak melulu soal pertandingan atau persaingan. Tetapi tanpa sadar kita membuatnya seperti itu. Kita melihat tetangga yang kelihatannya memiliki hidup enak, sedangkan kita penuh kekurangan. Kita pun menjadi iri dan merasa kurang dari mereka. Sementara tetangga tersebut tidak pernah merasa seperti itu.



Tanpa sadar kita melihat keberhasilan atau kesuksesan rekan-rekan kita, lalu membandingkan keberadaan kita dengan mereka. Kita akhirnya berkata aku gagal, aku kalah. Padahal sesungguhnya mereka juga memiliki pergumulan sendiri yang membuat mereka kadang menyerah. Hal tersebut luput dari pengamatan kita. Kita tidak melihat bagaimana mereka berjuang.



Ketika seorang teman lama menelpon dan ia bercerita tentang tempat kerjanya, penghasilannya, dan segala sesuatu. Semuanya terdengar ‘wah’ menurut kita. Saat giliran diminta bercerita, kita dengan enggan, kadang malu, menceritakan semuanya. Tidak percaya diri dengan pekerjaan sendiri.



Ini bisa terjadi juga saat kita mendengarkan seorang rekan studi lanjut, bisnisnya berkembang, anaknya semakin tumbuh besar, dan sebagainya, dan sebagainya. Intinya, kita berpikir bahwa kita kurang dari mereka. Dengan kata lain, kalah.



Manusia memang begitu. Begitu jernih melihat orang lain daripada melihat diri sendiri.



Ada sebuah kutipan begini, “penulis drama yang dramanya tidak pernah sukses harus dengan legowo berhipotesis bahwa semua karyanya adalah drama yang buruk”. Kalimat itu berasal dari Bertrand Russel yang dikutip dari sebuah buku yang sedang kubaca saat menuliskan tulisan ini.



Kutipan di atas, menurutku, dapat ditujukan kepada siapa saja yang sedang merasa kalah. Kekalahan bukanlah kenyataan yang kita sukai. Tetapi itu sangat mungkin terjadi pada kita. Oleh karena itu, ada beberapa saran dariku tentang cara menghadapi kekalahan.



Pertama, kita harus rendah hati. Sikap rendah hati membuat hati kita siap menerima kenyataan; bahwa kita bukanlah orang yang istimewa. Sering terjadi bahwa kita menganggap diri istimewa sehingga kita lupa kita bukanlah siapa-siapa.



Kedua, koreksi diri. Untuk mengoreksi diri, kita memerlukan pandangan seorang teman, sahabat, atau rekan. Dan, ini penting, kita harus siap menerima fakta dan kebenaran tentang kita. Mengapa butuh orang lain? Ingat, kita sering melihat diri sendiri dengan tidak jernih. Jadi, untuk membuatnya jernih dan jelas, kita butuh orang lain. Ini berlaku juga untuk sebuah tim.



Coba bayangkan: sebutkan apa yang Anda lihat di depan Anda saat ini. Mungkin saja smartpon, dinding kamar, atau hal lainnya. Kita bisa menyebutkannya dengan tepat. Tetapi coba sebutkan apa yang sedang Anda rasakan saat ini. Sedih, bahagia, bingung, atau galau? Sepertinya sulit menentukan dengan tepat apa yang kita rasakan saat ini. Sebab perasaan kita mudah sekali berubah. Oleh sebab itu, kita membutuhkan orang lain untuk menunjukkan kesalahan kita.



Ketiga, sadari bahwa hidup ini tidak selalu tentang persaingan. Bahkan di era disrupsi ini yang diperlukan adalah kolaborasi, bukan persaingan. Dengan kehidupan pribadi kita pun demikian. Turut bahagia mendengar rekan sukses, turut sedih ketika orang lain sedih. Sulit ya? Hehehe


Belum  lama ini aku bertemu dengan seorang sahabat (anggaplah sahabat hahaha). Kami saling bertukar cerita. Kadang jalan cerita kami hampir sama, tetapi lebih sering berbeda. Ada yang menarik dari ceritanya.

Ternyata dia mengalami ketidakpercayaan diri, dan berusaha keluar dari kondisi tersebut, ketika ia membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Namun, ia sejenak merenungkan bahwa keadaannya saat ini pun merupakan anugerah Tuhan yang begitu besar, jika ia melihat kehidupannya dulu. Mengapa harus membandingkan diri dengan orang lain.

Jadi, yang keempat, bersyukurlah selalu. Ingatlah bahwa keadaan kita saat ini merupakan anugerah yang tiada tara dari Tuhan. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. (O, Tuhan, mampukan aku mengalami ini!)



Setelah membaca ulang tulisan ini, rasanya semuanya tertuju ke wajahku hahaha. Sekian dulu sampai di sini. Dibaca syukur, tidak dibaca gak mungkin. Karena kalau sudah baca kalimat terakhir hampir pasti sudah dibaca hehehe
 

Selasa, 01 Oktober 2019

Pembubaran Panitia KTA XIV


Pukul 9.15 WIB kupesan ojek online menuju halte bus di jalan raya. Kontrakanku terletak di sebuah gang kecil kira-kira 3 km dari jalan raya. Aku tiba di pemberhentian bus dan menunggu sekitar 10 menit hingga bus lewat.

Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju Grogol. Di sana aku akan transit bus menuju Kuningan Barat, kemudian melanjutkan perjalanan lagi ke Pejaten, Jakarta Selatan. Aku akan mengikuti acara kebersamaan dalam rangka pembubaran panitia kamp tahunan alumni XIV (KTA XIV).

Pembubaran panitia ini sudah direncanakan sebulan lalu oleh beberapa rekan panitia. Acara ini dilaksanakan di daerah Pejaten, Jaksel. Sebuah rumah (Roemah Ida) disewa untuk dua hari satu malam; tanggal 28-29 September 2019.

Setiba di Grogol aku baca di wa grup bahwa butuh bantuan membawa barang. Karena masih banyak waktu, akhirnya aku mengubah tujuan ke kantor Perkantas di Pintu Air. Di sana ada Owin, Hendra, dan Vaul. Ternyata bawaannya seputar bahan-bahan makanan dan kebutuhan games nanti. Rekan-rekan lain janjian bertemu di Pejaten Village tidak jauh dari Roemah Ida. Sebagian lagi menyusul dan langsung menuju TKP.

Kami berangkat pukul 12.00 WIB dengan grabcar. Di tengah jalan kami melihat rombongan orang karena pada saat itu akan ada demonstrasi di sekitar istana negara. Namun, jalanan cukup lancar. Mungkin demonstrasinya belum mulai.

Kami tiba di Roemah Ida sekitar pukul 13.15 WIB. Ternyata rumahnya sedang dibersihkan berhubung penyewa sebelumnya belum lama check out. Tapi kami sudah diperbolehkan masuk. Rumahnya cukup besar. Berlantai dua. Di sebelah kanan saat kita masuk ada tangga. Di ruang tengah, ruang utama, terlihat besar karena cukup luas dan tinggi. Dari bawah, di tengah ruang, kita bisa melihat balkon di lantai dua dengan beberapa pintu kamar. Di bagian dalam sebelah kiri ada ruang makan dan dapur, di sebelah kanan ada kamar besar (di sana para pria tampan akan tidur hahaha). Dan di belakang ada teras untuk bersantai dan kolam renang.

Rekan yang lain mulai berdatangan sekitar jam 2. Ada juga yang baru datang sore hari. Untuk mengisi waktu luang, sebelum acara dimulai, kami yang sudah datang beberapa malas-malasan di sofa. Sedangkan yang perempuan ada yang bekerja di dapur mempersiapkan makan malam.

Setelah semua berkumpul barulah acara dimulai. Kami berkumpul di teras belakang dekat kolam dan permainan pun dimulai. Suasananya sangat ceria. Canda-tawa memenuhi tempat itu. Terlebih ketika game diadakan di kolam renang (saat itu aku tidak ikut). Kemudian dilanjutkan mandi dan makan malam.

Pada malam hari, kami sharing. Mulai jam 20.00 sampai 23.30 WIB. Aku sangat menikmati mendengarkan cerita dari teman-teman. Setiap orang memiliki kisah sendiri, menghadapi pergumulan sendiri. Mendengar semua itu memberiku kekuatan bahwa kau tak sendirian.

Biar kurangkum sebagian cerita. Seingatku saja tanpa menyebutkan nama. Tentang orang tua: ada yang sedang sakit, ada yang terdampak kebakaran hutan di kampung, ada yang terkena musibah gempa, ada pula yang berharap anaknya menikah, atau berharap anaknya sukses di perantauan. Kisah tentang orang tua selalu menarik. Karena merekalah yang membesarkan kita.

Ada juga yang sedang berbahagia membentuk keluarga baru. Ada yang baru saja menyatakan cinta dan dengan malu-malu (karena dipaksa hahaha) akhirnya bercerita juga. Ada yang baru saja putus dengan sang pacar karena alasan tertentu. Tentu tidak lupa cerita tentang pekerjaan dan harapan-harapan ke depan.

Mendengar teman-teman bercerita membuat waktu terasa sangat cepat padahal kami sudah mendekati tengah malam. Cerita ditutup dengan doa. Sebenarnya malam itu dadaku mulai terasa sakit karena aku mulai kelelahan dan butuh istirahat. Tapi aku ingin mendengarkan semua. Tidak mungkin aku meninggalkan sesi sharing itu.

Kemudian ada perayaan ulang tahun Septri, Alvi, dan Kak Luce yang berulang tahun pada bulan September. Baru setelah itu aku tidur. Teman-teman masih melanjutkan aktivitas pesta kembang api yang baru kulihat lewat foto keesokan harinya.

Pada hari minggu setelah sarapan kami melaksanakan ibadah bersama. Kak Luce sebagai pembawa renungan. Dia membahas 2 Korintus 4:1-7. 1) Mengingatkan kembali bagaimana kami memulai pelayanan sebagai panitia KTA bahwa semua oleh kemurahan Allah hingga kami selesai melaksanakannya. Bagaimana merespons anugerah Allah tersebut. 2) Mengingatkan bahwa tujuan utama pelayanan ini adalah memberitakan injil kepada alumni. 3) Mengingatkan bahwa kami bukanlah pribadi yang luar biasa. Buktinya ada pada sesi sharing malam. Semua punya masalah dan kelemahan. Namun, dimampukan oleh Tuhan untuk mengerjakan KTA ini.

Beberapa foto pembubaran kemarin aku pajang di sini.


Panitia KTA XIV (minus 3 orang)

Ki-ka: Septri, Alvi, Kak Luce. Selamat ulang tahun

Pesta kembang api. Aku sudah tidur di sini

Bahagia saat kacamata dibagikan. Langsung minta difoto.

Tema: di pinggir kolam

Tema: santai. Katanya ini gaya santai. Benar atau enggak, gak tau

Komisi wanita di meja makan sedang persiapan buat makan malam

Tema: di balkon. Melihat dari ketinggian

Ceritaku: Di Rumah Sakit (2)


Apakah kau punya mimpi? Aku punya. Bagaimana jika mimpimu terbang ke negeri jauh yang tak mungkin kau capai? Kau akan mengejarnya? Jika kau cukup kuat, kejarlah. Tapi aku tidak. Bagaimana aku bisa mengejarnya, aku sedang dalam kondisi yang tidak baik. Aku akan cerita sedikit di sini. Cerita ini adalah kelanjutan postingan sebelumnya. Selamat membaca!

Terpuruk lagi. Itulah yang kualami. Akhir bulan Januari lalu aku mendapat undangan wawancara kerja. Bagi orang yang lama menganggur undangan itu bagai udara sejuk yang bertiup di tengah kekeringan. Cerita tentang 'tanpa pekerjaanku' pernah kutuliskan sebelumnya. Sebuah kisah di masa-masa sulit dan sebuah refleksi.

Aku mendapat pekerjaan yang sesuai dengan panggilan hatiku yaitu mengajar seperti sebelumnya. Pekerjaan baru ini membuatku pindah tempat tinggal. Meskipun berat namun harus dihadapi. Berbagai rencana telah kususun untuk dikerjakan dan cita-cita yang kuharap bisa kuraih di masa depan.

Tapi...

Baru saja aku mulai bekerja aku malah jatuh sakit. Dua minggu dirawat di rumah sakit menjadi pengalaman yang berarti buatku. Tidak hanya itu, aku pun memutuskan untuk berhenti bekerja karena kondisi tubuhku yang mudah lelah dan masih dalam pemulihan.

Tahun lalu keterpurukanku mungkin disebabkan olehku sendiri, karena salah mengambil keputusan, namun tahun ini karena penyakit yang kualami.

Tidak ada manusia yang merencanakan untuk sakit. Tidak ada yang ingin sakit. Selama aku berada di Cibinong, kurang lebih delapan tahun, aku tidak pernah sakit separah ini. Aku pun tidak pernah berpikir mempersiapkan diri untuk menghadapi penyakit yang membuatku masuk rumah sakit. Aku makan teratur, istirahat cukup, dan cukup rajin berolahraga. Oh ya, aku tidak terlalu suka rumah sakit.

Saat mengalami keterpurukan langit terasa sempit meskipun tiada awan menutupi. Aku ingin sekali keluar dan menikmati langit yang begitu luas. Sekarang bukanlah saatnya! Langit di atasku masih muram dan sempit.

Tepat saat memperingati hari kemerdekaan Indonesia, aku pulang kampung untuk menenangkan diri. Aku mundur dari pekerjaan agar aku fokus pada pemulihan tubuhku (sebenarnya sejak Juli, awal tahun pelajaran, aku hanya masuk kerja 4 hari). Lagipula aku masih melakukan kontrol ke dokter. Dokter menyarankan kateterisasi jantung untuk menegakkan diagnosis. Meskipun ini tergolong operasi kecil aku harus mempersiapkan diri dan tenang menghadapinya.

Aku naik pesawat ke kampung. Penerbangan langsung dari Soekarno-Hatta menuju Binaka Gunungsitoli. Durasi penerbangan dua jam tiga puluh menit dengan pesawat Garuda, pesawat yang terkenal dengan ketepatan waktu, dan aku telah merasakannya sendiri. Jadwal boarding hingga landing di Bandara Binaka semuanya sesuai dengan yang tertera di tiket. Hanya saja naik pesawat ini cukup memacu adrenalin karena mudah terguncang ketika berada di udara karena termasuk pesawat berukuran sedang.

Di kampung aku tinggal selama 13 hari sebelum melakukan kontrol berikutnya.

Tanggal 29 Agustus aku kembali ke Jakarta. Kembali menumpang pesawat Garuda dengan jadwal keberangkatan pukul 12.30 WIB. Saat di udara cuaca tidak begitu baik. Beberapa kali terdengar peringatan untuk tetap duduk dan memasang seat belt. Kuingat ada sekali guncangan kecil, pesawat terasa terhempas ke bawah seakan terjatuh. Memang tidak lama, tapi cukup membuat sebagian penumpang berteriak dan berdoa. Saat paling melegakan adalah ketika kaki pesawat sudah menyentuh landasan bandara.

Setiba di bandara aku sempat kebingungan mencari stasiun grabcar. Petugas yang kutanyai memberi arah yang salah. Memaksaku berjalan cukup jauh. Melelahkan.

Aku langsung menuju rumah sakit untuk pengecekan darah di lab. Namun, aku tiba di rumah sakit menjelang malam karena sempat menghadapi kemacetan di jalan. Petugas rumah sakit menyarankan agar kembali lagi keesokan hari.

Malam itu aku tidak balik ke kontrakanku di Serpong, tapi aku menuju kontrakan saudara yang ada di Cibodas, Tangerang. Cukup dekat dari rumah sakit ketimbang aku kembali ke Serpong malam itu. Besoknya aku ke Serpong. Tidak jadi ke rumah sakit lagi.

Seminggu kemudian aku konsultasi ke dokter penyakit dalam. Sambil menunjukkan hasil laboratorium. Kata dokter kondisi hipokalemiaku telah pulih. Dokter memberikan beberapa saran agar kalium tubuhku tidak kembali turun. Karena, katanya, ada kecenderungan bisa turun. Beliau juga setuju untuk tindakan kateterisasi dan berharap agar berjalan lancar.

Minggu depan, aku kembali ke rumah sakit untuk konsultasi ke dokter jantung. Beliau menanyakan keluhan yang kurasakan. Aku memberitahu bahwa keluhannya masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Dokter langsung menjadwalkan kateterisasi pada tanggal 17 september. Lalu aku mengurus beberapa hal di bagian pendaftaran.

Siang tanggal 16 september aku mendaftar rawat inap. Aku pikir masuk kamarnya malam. Ternyata jam 15.00 WIB aku masuk kamar di lantai 5, 5D06. Saat itu aku tidak membawa pakaian ganti dan alat mandi. Lalu aku minta izin ke perawat dan dokter. Aku diizinkan pulang dan kembali ke rumah sakit jam 18.30 WIB dengan membawa surat izin mirip anak sekolah. Memang begitu prosedurnya.

Di kamar rumah sakit aku sendirian. Sangat nyaman karena kamar kelas 1. Dua kali perawat memeriksa tekanan darahku. Normal tentu saja. Aku cukup tenang menghadapi kateterisasi. Walaupun dokter sudah menjelaskan risiko yang dihadapi. Malam itu aku tidur cukup nyenyak. Satu-satunya yang membuatku tidak nyaman adalah kebiasaanku buang air kecil yang cukup sering.

Jam 5 pagi aku sudah bangun. Seorang perawat datang dan mengukur tensi. Kemudian aku mandi. Jadwal kateterisasi pukul 7.30 WIB. Aku memakai pakaian untuk kamar bedah. Sesuai jadwal perawat mengantarku ke ruang kateter di gedung sebelah. Kami turun ke lantai dua, melewati lorong menuju gedung sebelah. Aku ke sana dengan kursi roda, padahal sebenarnya aku bisa jalan. Tapi perawat tidak mengizinkan.

Dan tibalah di tempat kateterisasi. Di sana sudah ada dokter dan perawat khusus ruang kateterisasi. Ruangannya cukup besar dan bersih. Banyak peralatan yang tidak kuketahui. Kelihatannya canggih semua. Di tengah ruang ada tempat tidur untuk bedah. Aku berbaring di sana. Dan...proses katerterisasi pun berjalan.

Kateterisasi jantung tidak lama. Hanya beberapa menit. Persiapannya saja yang lama. Bagaimana rasanya? Hmm... Aku coba cerita sedikit meskipun rasa sakit itu susah dijelaskan selain mengalaminya langsung (semoga pembaca sehat ya dan tidak mengalaminya).

Kateterisasi adalah tindakan medis dengan cara memasukkan selang kecil yang elastis ke dalam pembuluh darah besar. Mirip pemasangan infus. Rasanya sakit ketika jarum disuntikkan ke lengan bawah (dekat pergelangan tangan). Dokter memberikan aba-aba tiap tahapan. Setiap aba-aba itu artinya akan terasa sakit. Awalnya sangat sakit. Kemudian jantung terasa berdebar-debar selama proses.

Saat itu aku bernafas teratur saja sambil sesekali melihat ke monitor. Di atasku tergantung alat semacam scan yang berlengan seperti robot yang bisa diarahkan ke mana saja. Di sebelah scan itu tergantung juga layar monitor yang terdiri dari empat layar. Memunculkan grafik-grafik dan gambar jantung secara tiga dimensi. Di situ aku bisa melihat detak jantungku sendiri dan pembuluh-pembuluhnya.

Rasanya lega ketika dokter mengatakan sudah selesai dan tidak ada penyempitan. Perawat kemudian melepaskan alat-alat secara perlahan. Untuk melepas alat ternyata agak sakit juga. Kateterisasi dilakukan lewat tangan kananku.

Di pergelangan tanganku dipasang gelang khusus berupa balon untuk menutup bekas pemasangan kateter agar darah tidak keluar. Perawat menjelaskan bahwa aku tidak boleh menggerakkan pergelangan selama minimal 5 jam sampai perawat melepas gelang balonnya. Kemudian aku dibawa ke ruang sebelah. Di sana ada dokter menunggu. Dia menjelaskan hasil pemeriksaan jantungku; tidak ada penyempitan namun ada gangguan dengan aliran darah di pembuluh. Selanjutnya, aku harus kembali melakukan konsulitasi/kontrol ke dokter.

Aku kembali ke kamarku di lantai 5 tepat jam 9.00 WIB. Di sana aku istirahat sambil menonton. Harus sabar menunggu hingga gelang balon perlahan dilepas pada pukul 12.30 siang. Saat itu aku menelfon mama dan kakak untuk memberitahukan kondisi; kateterisasi sudah selesai dan berjalan lancar, aku baik-baik saja.

Jam 12.30 WIB setelah makan siang, perawat datang memeriksa tanganku. Dia mengeluarkan sedikit udara dari gelang balon. Ternyata masih terjadi pendarahan. Dia kembali meniupkan udara ke balon memakai suntik agar gelangnya kembali mengencang. Satu jam kemudian perawat datang lagi melonggarkan gelang. Sedikit demi sedikit, dalam hitungan jam, gelang balon pun dilepas, diganti dengan plester. Kalau tidak salah sekitar jam 3 atau 4 sore.

Masih terjadi pendarahan meskipun tidak begitu besar. Sehingga dokter menyarankan untuk tidak pulang dan menginap satu malam lagi. Baiklah... ini malam keduaku di kamar 5D06. Tidak masalah karena kamarnya nyaman, meskipun demikian tetap saja namanya kamar rumah sakit. Aku sebenarnya tidak mau berlama-lama di sana.

Tanggal 18 September aku kembali ke kontrakanku setelah mengurus beberapa hal di bagian rawat inap dan jadwal kontrol berikutnya. Kemudian aku pulang dengan ojek online menuju kontrakanku.

Seperti yang kuceritakan di awal bahwa selama delapan tahun di Cibinong aku tidak pernah sakit separah saat ini. Karenanya, ketika dirawat di rumah sakit, aku sempat menganggap sebenarnya aku baik-baik saja. Namun, seorang perawat pernah mengatakan padaku ketika di ICU, begini: kita boleh saja optimis, tapi kita harus jujur. Sebelumnya aku berkata pada perawat tersebut bahwa sebenarnya aku tidak terlalu sakit, aku bisa jalan, bisa bekerja seperti biasa. Setelah kurenungkan, perkataannya benar. Aku sedang tidak jujur dengan diri sendiri dan menolak kondisi yang kualami. Aku merasa diri kuat.

Aku belajar satu hal dari sini yaitu kita bukanlah pengamat yang baik terhadap diri sendiri. Pengamatan kita terhadap diri sendiri selalu dibiaskan oleh keinginan untuk terlihat hebat, kuat, pintar, bijak, dan sebagainya. Bisa dibilang kita selalu menganggap diri istimewa. Kesadaran ini muncul dalam diriku ketika aku dirawat di RS Hermina Sepong (awal Juli). Aku pernah membaca sebuah kalimat, kira-kira bunyinya seperti ini: tidak ada laki-laki yang benar-benar kuat. Dan kutambahkan begini: Dan akulah yang terlemah.

Ini mengingatkanku pada Firman Tuhan: Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Ini adalah kutipan perkataan Yesus di dalam Yohanes 15:5. Manusia tidak dapat berbuat apa pun di luar Yesus. Hanya di dalam Yesus kita baru istimewa, meskipun secara fisik kita lemah.

Pelajaran lain yang kudapatkan selama ini adalah kurasakan diriku menjadi berbeda setelah dirawat di rumah sakit. Mungkin hal ini dialami oleh semua orang yang pernah dirawat di rumah sakit. Terlebih bagi mereka yang melewati masa-masa kritis. Awalnya aku merasa bahwa aku tidak memiliki harapan. Tepatnya harapan hidup. Sebab tubuhku telah dijejali berbagai obat-obatan. Aku menjadi susah menceritakan penyakitku (sesuai diagnosis dokter) kepada orang lain.

Aku khawatir akan terus mengonsumsi obat sebagai “penopang” hidup. Aku khawatir hidupku akan tidak menyenangkan karena banyak hal menjadi pantangan untuk dimakan dan diminum. Takut mati muda! Memikirkan semua ini membuatku makin tidak bersemangat.

Namun secara perlahan, lewat saat teduh dan penguatan dari keluarga dan teman-teman aku mulai bangkit lagi. Ditambah lagi doa dan bimbingan rohani dari bagian kerohanian rumah sakit. Setelah kateterisasi aku didatangi oleh seorang konselor. Kemudian datang lagi dua orang hamba Tuhan. Kami membaca kitab Mazmur 139. Kekuatanku dipulihkan secara perlahan setelah membaca pasal ini. Aku mengucap syukur pada Tuhan.

Intinya adalah tetap pegang Firman Tuhan. Baca dan renungkan. Merenungkan Firman Tuhan membawa kepada kelegaan. Selain itu, merenungkan pemeliharaan Tuhan. Aku bisa melewati masa-masa sulit karena Tuhan memelihara aku. Wujud dari kekuatan Firman Tuhan ada pada pemeliharaan-Nya atas hidup kita. Ke depan pun aku seharusnya tidak perlu khawatir atau takut.

Setelah melakukan kateterisasi, kegiatanku sejauh ini hanyalah beristirahat. Penyakitku masih ada dan aku belum dinyatakan sembuh. Aku masih perlu melakukan kontrol ke dokter. Pergumulan baru pun muncul. Setelah ini aku harus ngapain? Jujur, aku masih bingung. Kalau kondisiku sudah lebih kuat dan dokter bilang sudah agak pulih, mungkin aku akan mencari pekerjaan baru. Atau akan pulang kampung dan menjadi berkat di sana. Aku siap ke mana Tuhan memimpinku. Semoga aku segera mendapatkan konfirmasi secara jelas melalui doa dan baca Alkitab.

Sebagai penutup. Waktu aku akan dikateter tekanan darahku normal. Padahal sebelumnya tensiku lebih sering di atas normal. Setelah kuingat lagi, selain doa dan Firman, aku mendapatkan pesan dari seseorang yang berbunyi: Semangat bang. Dalam nama Tuhan Yesus. Pesan ini singkat tapi kuat. Sangat kuat hingga membuatku tenang.

Baiklah sekian dulu ceritaku. Kalau lebih panjang lagi, orang gak mau baca hehehe


Dokpri: Beginilah penampakan setelah kateterisasi. Gelangnya terpasang sangat kencang untuk menutup luka. Di tengah ada udara. Untuk melonggarkannya, udara dikeluarkan pakai suntik. Itu tangan sudah pegal sebenarnya hehehe. 

Bagi yang mau baca: di rumah sakit (1)