Selasa, 01 Oktober 2019

Ceritaku: Di Rumah Sakit (2)


Apakah kau punya mimpi? Aku punya. Bagaimana jika mimpimu terbang ke negeri jauh yang tak mungkin kau capai? Kau akan mengejarnya? Jika kau cukup kuat, kejarlah. Tapi aku tidak. Bagaimana aku bisa mengejarnya, aku sedang dalam kondisi yang tidak baik. Aku akan cerita sedikit di sini. Cerita ini adalah kelanjutan postingan sebelumnya. Selamat membaca!

Terpuruk lagi. Itulah yang kualami. Akhir bulan Januari lalu aku mendapat undangan wawancara kerja. Bagi orang yang lama menganggur undangan itu bagai udara sejuk yang bertiup di tengah kekeringan. Cerita tentang 'tanpa pekerjaanku' pernah kutuliskan sebelumnya. Sebuah kisah di masa-masa sulit dan sebuah refleksi.

Aku mendapat pekerjaan yang sesuai dengan panggilan hatiku yaitu mengajar seperti sebelumnya. Pekerjaan baru ini membuatku pindah tempat tinggal. Meskipun berat namun harus dihadapi. Berbagai rencana telah kususun untuk dikerjakan dan cita-cita yang kuharap bisa kuraih di masa depan.

Tapi...

Baru saja aku mulai bekerja aku malah jatuh sakit. Dua minggu dirawat di rumah sakit menjadi pengalaman yang berarti buatku. Tidak hanya itu, aku pun memutuskan untuk berhenti bekerja karena kondisi tubuhku yang mudah lelah dan masih dalam pemulihan.

Tahun lalu keterpurukanku mungkin disebabkan olehku sendiri, karena salah mengambil keputusan, namun tahun ini karena penyakit yang kualami.

Tidak ada manusia yang merencanakan untuk sakit. Tidak ada yang ingin sakit. Selama aku berada di Cibinong, kurang lebih delapan tahun, aku tidak pernah sakit separah ini. Aku pun tidak pernah berpikir mempersiapkan diri untuk menghadapi penyakit yang membuatku masuk rumah sakit. Aku makan teratur, istirahat cukup, dan cukup rajin berolahraga. Oh ya, aku tidak terlalu suka rumah sakit.

Saat mengalami keterpurukan langit terasa sempit meskipun tiada awan menutupi. Aku ingin sekali keluar dan menikmati langit yang begitu luas. Sekarang bukanlah saatnya! Langit di atasku masih muram dan sempit.

Tepat saat memperingati hari kemerdekaan Indonesia, aku pulang kampung untuk menenangkan diri. Aku mundur dari pekerjaan agar aku fokus pada pemulihan tubuhku (sebenarnya sejak Juli, awal tahun pelajaran, aku hanya masuk kerja 4 hari). Lagipula aku masih melakukan kontrol ke dokter. Dokter menyarankan kateterisasi jantung untuk menegakkan diagnosis. Meskipun ini tergolong operasi kecil aku harus mempersiapkan diri dan tenang menghadapinya.

Aku naik pesawat ke kampung. Penerbangan langsung dari Soekarno-Hatta menuju Binaka Gunungsitoli. Durasi penerbangan dua jam tiga puluh menit dengan pesawat Garuda, pesawat yang terkenal dengan ketepatan waktu, dan aku telah merasakannya sendiri. Jadwal boarding hingga landing di Bandara Binaka semuanya sesuai dengan yang tertera di tiket. Hanya saja naik pesawat ini cukup memacu adrenalin karena mudah terguncang ketika berada di udara karena termasuk pesawat berukuran sedang.

Di kampung aku tinggal selama 13 hari sebelum melakukan kontrol berikutnya.

Tanggal 29 Agustus aku kembali ke Jakarta. Kembali menumpang pesawat Garuda dengan jadwal keberangkatan pukul 12.30 WIB. Saat di udara cuaca tidak begitu baik. Beberapa kali terdengar peringatan untuk tetap duduk dan memasang seat belt. Kuingat ada sekali guncangan kecil, pesawat terasa terhempas ke bawah seakan terjatuh. Memang tidak lama, tapi cukup membuat sebagian penumpang berteriak dan berdoa. Saat paling melegakan adalah ketika kaki pesawat sudah menyentuh landasan bandara.

Setiba di bandara aku sempat kebingungan mencari stasiun grabcar. Petugas yang kutanyai memberi arah yang salah. Memaksaku berjalan cukup jauh. Melelahkan.

Aku langsung menuju rumah sakit untuk pengecekan darah di lab. Namun, aku tiba di rumah sakit menjelang malam karena sempat menghadapi kemacetan di jalan. Petugas rumah sakit menyarankan agar kembali lagi keesokan hari.

Malam itu aku tidak balik ke kontrakanku di Serpong, tapi aku menuju kontrakan saudara yang ada di Cibodas, Tangerang. Cukup dekat dari rumah sakit ketimbang aku kembali ke Serpong malam itu. Besoknya aku ke Serpong. Tidak jadi ke rumah sakit lagi.

Seminggu kemudian aku konsultasi ke dokter penyakit dalam. Sambil menunjukkan hasil laboratorium. Kata dokter kondisi hipokalemiaku telah pulih. Dokter memberikan beberapa saran agar kalium tubuhku tidak kembali turun. Karena, katanya, ada kecenderungan bisa turun. Beliau juga setuju untuk tindakan kateterisasi dan berharap agar berjalan lancar.

Minggu depan, aku kembali ke rumah sakit untuk konsultasi ke dokter jantung. Beliau menanyakan keluhan yang kurasakan. Aku memberitahu bahwa keluhannya masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Dokter langsung menjadwalkan kateterisasi pada tanggal 17 september. Lalu aku mengurus beberapa hal di bagian pendaftaran.

Siang tanggal 16 september aku mendaftar rawat inap. Aku pikir masuk kamarnya malam. Ternyata jam 15.00 WIB aku masuk kamar di lantai 5, 5D06. Saat itu aku tidak membawa pakaian ganti dan alat mandi. Lalu aku minta izin ke perawat dan dokter. Aku diizinkan pulang dan kembali ke rumah sakit jam 18.30 WIB dengan membawa surat izin mirip anak sekolah. Memang begitu prosedurnya.

Di kamar rumah sakit aku sendirian. Sangat nyaman karena kamar kelas 1. Dua kali perawat memeriksa tekanan darahku. Normal tentu saja. Aku cukup tenang menghadapi kateterisasi. Walaupun dokter sudah menjelaskan risiko yang dihadapi. Malam itu aku tidur cukup nyenyak. Satu-satunya yang membuatku tidak nyaman adalah kebiasaanku buang air kecil yang cukup sering.

Jam 5 pagi aku sudah bangun. Seorang perawat datang dan mengukur tensi. Kemudian aku mandi. Jadwal kateterisasi pukul 7.30 WIB. Aku memakai pakaian untuk kamar bedah. Sesuai jadwal perawat mengantarku ke ruang kateter di gedung sebelah. Kami turun ke lantai dua, melewati lorong menuju gedung sebelah. Aku ke sana dengan kursi roda, padahal sebenarnya aku bisa jalan. Tapi perawat tidak mengizinkan.

Dan tibalah di tempat kateterisasi. Di sana sudah ada dokter dan perawat khusus ruang kateterisasi. Ruangannya cukup besar dan bersih. Banyak peralatan yang tidak kuketahui. Kelihatannya canggih semua. Di tengah ruang ada tempat tidur untuk bedah. Aku berbaring di sana. Dan...proses katerterisasi pun berjalan.

Kateterisasi jantung tidak lama. Hanya beberapa menit. Persiapannya saja yang lama. Bagaimana rasanya? Hmm... Aku coba cerita sedikit meskipun rasa sakit itu susah dijelaskan selain mengalaminya langsung (semoga pembaca sehat ya dan tidak mengalaminya).

Kateterisasi adalah tindakan medis dengan cara memasukkan selang kecil yang elastis ke dalam pembuluh darah besar. Mirip pemasangan infus. Rasanya sakit ketika jarum disuntikkan ke lengan bawah (dekat pergelangan tangan). Dokter memberikan aba-aba tiap tahapan. Setiap aba-aba itu artinya akan terasa sakit. Awalnya sangat sakit. Kemudian jantung terasa berdebar-debar selama proses.

Saat itu aku bernafas teratur saja sambil sesekali melihat ke monitor. Di atasku tergantung alat semacam scan yang berlengan seperti robot yang bisa diarahkan ke mana saja. Di sebelah scan itu tergantung juga layar monitor yang terdiri dari empat layar. Memunculkan grafik-grafik dan gambar jantung secara tiga dimensi. Di situ aku bisa melihat detak jantungku sendiri dan pembuluh-pembuluhnya.

Rasanya lega ketika dokter mengatakan sudah selesai dan tidak ada penyempitan. Perawat kemudian melepaskan alat-alat secara perlahan. Untuk melepas alat ternyata agak sakit juga. Kateterisasi dilakukan lewat tangan kananku.

Di pergelangan tanganku dipasang gelang khusus berupa balon untuk menutup bekas pemasangan kateter agar darah tidak keluar. Perawat menjelaskan bahwa aku tidak boleh menggerakkan pergelangan selama minimal 5 jam sampai perawat melepas gelang balonnya. Kemudian aku dibawa ke ruang sebelah. Di sana ada dokter menunggu. Dia menjelaskan hasil pemeriksaan jantungku; tidak ada penyempitan namun ada gangguan dengan aliran darah di pembuluh. Selanjutnya, aku harus kembali melakukan konsulitasi/kontrol ke dokter.

Aku kembali ke kamarku di lantai 5 tepat jam 9.00 WIB. Di sana aku istirahat sambil menonton. Harus sabar menunggu hingga gelang balon perlahan dilepas pada pukul 12.30 siang. Saat itu aku menelfon mama dan kakak untuk memberitahukan kondisi; kateterisasi sudah selesai dan berjalan lancar, aku baik-baik saja.

Jam 12.30 WIB setelah makan siang, perawat datang memeriksa tanganku. Dia mengeluarkan sedikit udara dari gelang balon. Ternyata masih terjadi pendarahan. Dia kembali meniupkan udara ke balon memakai suntik agar gelangnya kembali mengencang. Satu jam kemudian perawat datang lagi melonggarkan gelang. Sedikit demi sedikit, dalam hitungan jam, gelang balon pun dilepas, diganti dengan plester. Kalau tidak salah sekitar jam 3 atau 4 sore.

Masih terjadi pendarahan meskipun tidak begitu besar. Sehingga dokter menyarankan untuk tidak pulang dan menginap satu malam lagi. Baiklah... ini malam keduaku di kamar 5D06. Tidak masalah karena kamarnya nyaman, meskipun demikian tetap saja namanya kamar rumah sakit. Aku sebenarnya tidak mau berlama-lama di sana.

Tanggal 18 September aku kembali ke kontrakanku setelah mengurus beberapa hal di bagian rawat inap dan jadwal kontrol berikutnya. Kemudian aku pulang dengan ojek online menuju kontrakanku.

Seperti yang kuceritakan di awal bahwa selama delapan tahun di Cibinong aku tidak pernah sakit separah saat ini. Karenanya, ketika dirawat di rumah sakit, aku sempat menganggap sebenarnya aku baik-baik saja. Namun, seorang perawat pernah mengatakan padaku ketika di ICU, begini: kita boleh saja optimis, tapi kita harus jujur. Sebelumnya aku berkata pada perawat tersebut bahwa sebenarnya aku tidak terlalu sakit, aku bisa jalan, bisa bekerja seperti biasa. Setelah kurenungkan, perkataannya benar. Aku sedang tidak jujur dengan diri sendiri dan menolak kondisi yang kualami. Aku merasa diri kuat.

Aku belajar satu hal dari sini yaitu kita bukanlah pengamat yang baik terhadap diri sendiri. Pengamatan kita terhadap diri sendiri selalu dibiaskan oleh keinginan untuk terlihat hebat, kuat, pintar, bijak, dan sebagainya. Bisa dibilang kita selalu menganggap diri istimewa. Kesadaran ini muncul dalam diriku ketika aku dirawat di RS Hermina Sepong (awal Juli). Aku pernah membaca sebuah kalimat, kira-kira bunyinya seperti ini: tidak ada laki-laki yang benar-benar kuat. Dan kutambahkan begini: Dan akulah yang terlemah.

Ini mengingatkanku pada Firman Tuhan: Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Ini adalah kutipan perkataan Yesus di dalam Yohanes 15:5. Manusia tidak dapat berbuat apa pun di luar Yesus. Hanya di dalam Yesus kita baru istimewa, meskipun secara fisik kita lemah.

Pelajaran lain yang kudapatkan selama ini adalah kurasakan diriku menjadi berbeda setelah dirawat di rumah sakit. Mungkin hal ini dialami oleh semua orang yang pernah dirawat di rumah sakit. Terlebih bagi mereka yang melewati masa-masa kritis. Awalnya aku merasa bahwa aku tidak memiliki harapan. Tepatnya harapan hidup. Sebab tubuhku telah dijejali berbagai obat-obatan. Aku menjadi susah menceritakan penyakitku (sesuai diagnosis dokter) kepada orang lain.

Aku khawatir akan terus mengonsumsi obat sebagai “penopang” hidup. Aku khawatir hidupku akan tidak menyenangkan karena banyak hal menjadi pantangan untuk dimakan dan diminum. Takut mati muda! Memikirkan semua ini membuatku makin tidak bersemangat.

Namun secara perlahan, lewat saat teduh dan penguatan dari keluarga dan teman-teman aku mulai bangkit lagi. Ditambah lagi doa dan bimbingan rohani dari bagian kerohanian rumah sakit. Setelah kateterisasi aku didatangi oleh seorang konselor. Kemudian datang lagi dua orang hamba Tuhan. Kami membaca kitab Mazmur 139. Kekuatanku dipulihkan secara perlahan setelah membaca pasal ini. Aku mengucap syukur pada Tuhan.

Intinya adalah tetap pegang Firman Tuhan. Baca dan renungkan. Merenungkan Firman Tuhan membawa kepada kelegaan. Selain itu, merenungkan pemeliharaan Tuhan. Aku bisa melewati masa-masa sulit karena Tuhan memelihara aku. Wujud dari kekuatan Firman Tuhan ada pada pemeliharaan-Nya atas hidup kita. Ke depan pun aku seharusnya tidak perlu khawatir atau takut.

Setelah melakukan kateterisasi, kegiatanku sejauh ini hanyalah beristirahat. Penyakitku masih ada dan aku belum dinyatakan sembuh. Aku masih perlu melakukan kontrol ke dokter. Pergumulan baru pun muncul. Setelah ini aku harus ngapain? Jujur, aku masih bingung. Kalau kondisiku sudah lebih kuat dan dokter bilang sudah agak pulih, mungkin aku akan mencari pekerjaan baru. Atau akan pulang kampung dan menjadi berkat di sana. Aku siap ke mana Tuhan memimpinku. Semoga aku segera mendapatkan konfirmasi secara jelas melalui doa dan baca Alkitab.

Sebagai penutup. Waktu aku akan dikateter tekanan darahku normal. Padahal sebelumnya tensiku lebih sering di atas normal. Setelah kuingat lagi, selain doa dan Firman, aku mendapatkan pesan dari seseorang yang berbunyi: Semangat bang. Dalam nama Tuhan Yesus. Pesan ini singkat tapi kuat. Sangat kuat hingga membuatku tenang.

Baiklah sekian dulu ceritaku. Kalau lebih panjang lagi, orang gak mau baca hehehe


Dokpri: Beginilah penampakan setelah kateterisasi. Gelangnya terpasang sangat kencang untuk menutup luka. Di tengah ada udara. Untuk melonggarkannya, udara dikeluarkan pakai suntik. Itu tangan sudah pegal sebenarnya hehehe. 

Bagi yang mau baca: di rumah sakit (1)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar