Siapa yang terserang demam piala dunia? Mungkin Anda salah satunya. Iya! Anda yang sedang membaca ini.
Aku menyesal tidak menonton siaran dan laga pembukaan yang katanya meriah itu. Tapi untung ada siaran berita. Meski cuma sepenggal, aku bisa menyaksikannya. Apalagi tim favoritku menang di laga pembuka. Waktu Spanyol ditaklukan Belanda, aku nonton. Juga saat Itali menang atas Inggris.
Sebenarnya buatku piala dunia cuma hiburan. Oleh karenanya kalau ada teman mengajak taruhan, aku tidak ikutan. Aku menonton siaran langsung dari tv kalau memang lagi ingin menonton. Kalau tidak, ya lebih baik tidur.
Dari dua laga yang kusaksikan, salah satu yang menarik bagiku adalah sesaat sebelum pertandingan dimulai. Bukan komentatornya yang membosankan itu, tapi biasanya di layar tv selalu dimunculkan arena pertandingan - tampak dari atas. Mungkin ada kameramen yang menyorot dari helikopter.
Kalau dilihat dari atas, arena pertandingan tampak seperti sarang semut dengan latar di sekitarnya adalah pemandangan kota yang luas. Dan penonton di dalam stadion terlihat hanya sebesar semut bahkan lebih kecil dari itu. Itu adalah kumpulan manusia.
Di tengah kumpulan manusia itu kalau dilihat dari atas, bisakah kita menentukan mana laki-laki mana perempuan? Yang mana yang rambutnya hitam atau pirang? Semua manusia terlihat sama. Di situlah menariknya, menurutku.
Semua manusia sama kalau dilihat dari sudut pandang yang benar atau dari "tempat tinggi". Dengan kata lain, orang yang menganggap sesamanya lebih rendah, menganggap diri sendiri paling hebat, menyombongkan diri, atau merasa rendah diri; mungkin orang tersebut memiliki cara pandang yang salah melihat sesamanya. Bagaimana kita bisa memiliki cara pandang yang benar? Dengan cara melihat seperti Tuhan melihat. Karena satu-satunya Pribadi yang melihat dari "tempat tinggi" adalah Tuhan. Di mata Tuhan manusia sama.
Bagaimana kita bisa melihat seperti Tuhan melihat? Dengan berserah diri di hadapan-Nya dan dengan rendah hati meminta-Nya mengubah cara pandang kita.
Mengapa ini penting? Karena Tuhan menginginkan kita saling mengasihi, sebab Dia telah lebih dulu mengasihi kita. Kalau kita memiliki cara pandang yang salah terhadap sesama, maka banyak masalah yang terjadi. Misalnya: merendahkan sesama, menghina sesama, menganggap diri hebat dari yang lain, menganggap pandangan sendiri lebih benar dari yang lain, bahkan bisa terjadi konflik antar sesama manusia. Atau sebaliknya merasa rendah diri dan pesimis. Kalau sudah begini, maka kita sudah tidak mengasihi sesama, karenanya kita juga tidak menghormati Tuhan yang telah mengasihi kita lebih dulu.
Di mata Tuhan kita sama. Hal ini sangat menguatkan dan menghibur hati kita.
Marilah kita saling mengasihi.
Ngomong-ngomong, negara mana ya yang akan jadi juara di piala dunia tahun ini?
Sabtu, 14 Juni 2014
Kamis, 12 Juni 2014
Kecewa?
Pernah
suatu hari aku menonton salah satu acara lawakan di tv. Di segmen terakhir
acaranya sebuah parodi pencarian bakat. Di sana tersedia juri dan para peserta
yang menunjukkan bakat mereka. Tentu semua pemainnya diperankan oleh para
pelawak itu. Acara pencarian pencarian bakat ala pelawak ini pastinya membuat penonton
tertawa. Para kontestan menunjukkan
bakat mereka. Di bagian akhir acara saat penentuan juara, ternyata hasil
penilaian juri adalah tidak ada yang juara. Pencarian bakatpun berakhir dengan
kekecewaan dari pihak kontestan.
Ada
yang menarik di acara ini. Meskipun hanya lawakan, tapi kita perlu belajar
suatu hal. Ketimbang menontonnya hanya untuk melepas stres sehabis lelah
bekerja. Parodi yang berakhir kekecewaan bisa jadi gambaran kehidupan kita
sehari-hari tanpa kita sadari. Coba kita renungkan setelah kita bekerja
seharian apa yang kita dapatkan? Atau setelah sebulan bekerja? Hanya dapat
gaji. Gaji tersebut habis digunakan. Lalu bekerja lagi. Lelah lagi. Kecewa lagi.
Begitulah
kalau kita memercayakan hidup pada dunia ini. Dunia ini, dengan segala hiburan
yang ia tawarkan pun, hanya memberikan kekecewaan. Usaha yang kita lakukan
untuk mencari kesenangan selalu tidak berhasil mendapatkan kesenangan sejati. Selalu
berakhir kecewa. Bila kita mendapatkan kesenangan, misalnya dalam musik, maka
kesenangan itu segera berakhir dengan membosankan. Musik yang kita dengarkan
setiap hari tentu bikin bosan. Atau kesenangan dalam harta. Siapa yang pernah
puas dengan harta? Tidak ada. Orang kaya sekalipun masih saja melakukan korupsi/pencurian.
Atau setidaknya orang kaya akan kuatir mengenai kekayaannya bisa habis. Kekayaan
membuatnya tidak tenang. Akhirnya kesenanganpun tidak jua datang.
Jadi
agar tidak kecewa dalam hidup ini, percayalah kepada Tuhan, sumber kebahagiaan
sejati. Hiduplah seturut apa yang Ia firmankan.
Minggu, 08 Juni 2014
Sedikit bicara banyak mendengar
Salah satu quote yang aku suka, "kalau kita bicara, kita hanya menyampaikan apa yang sudah kita tahu. kalau kita mendengarkan, kita mungkin mempelajari hal baru" (Dalai Lama). Intinya mungkin; sedikit bicara banyak mendengar.
Seorang anak kecil bermain. Kadang-kadang sang ibu menegur supaya bermain dengan benar. Tapi si anak kecil tidak mendengarkan nasihat si ibu gara-gara asyik bermain sampai ia terjatuh dan akhirnya menangis.
Seorang murid di kelas yang sedang asyik berbisik-bisik dengan temannya sementara sang guru mengajar. Tiba-tiba sang guru bertanya kepada si murid. Si murid tentu tidak bisa menjawab dengan benar. Malah kebingungan.
Kita mungkin pernah atau sedang mengalami kejadian seperti itu. Karena tidak mendengarkan, akhirnya kita mengalami masalah.
Barangkali Tuhan menciptakan kita dua telinga dan satu mulut dengan maksud supaya kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Ini bukan berarti juga kita tidak perlu bicara.
Dengan mendengarkan kita mendapat informasi lebih banyak. Dari informasi yang banyak itu kita bisa memilah dan memilih mana yang perlu kita percayai sebagai informasi yang baik dan benar. Dari situ kita bisa mengambil sikap dan akhirnya menyampaikan/berbicara dengan benar. Semoga saja kita tidak mendapatkan masalah hanya karena kita kurang mendengarkan dengan baik.
Oran bijak berkata: "Di dalam banyak bicara, pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19)
Seorang anak kecil bermain. Kadang-kadang sang ibu menegur supaya bermain dengan benar. Tapi si anak kecil tidak mendengarkan nasihat si ibu gara-gara asyik bermain sampai ia terjatuh dan akhirnya menangis.
Seorang murid di kelas yang sedang asyik berbisik-bisik dengan temannya sementara sang guru mengajar. Tiba-tiba sang guru bertanya kepada si murid. Si murid tentu tidak bisa menjawab dengan benar. Malah kebingungan.
Kita mungkin pernah atau sedang mengalami kejadian seperti itu. Karena tidak mendengarkan, akhirnya kita mengalami masalah.
Barangkali Tuhan menciptakan kita dua telinga dan satu mulut dengan maksud supaya kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Ini bukan berarti juga kita tidak perlu bicara.
Dengan mendengarkan kita mendapat informasi lebih banyak. Dari informasi yang banyak itu kita bisa memilah dan memilih mana yang perlu kita percayai sebagai informasi yang baik dan benar. Dari situ kita bisa mengambil sikap dan akhirnya menyampaikan/berbicara dengan benar. Semoga saja kita tidak mendapatkan masalah hanya karena kita kurang mendengarkan dengan baik.
Oran bijak berkata: "Di dalam banyak bicara, pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19)
Rabu, 04 Juni 2014
Cerita di Warung Kopi
Di sebuah warung kecil duduk seorang laki-laki berumur 52 tahun, si pemilik warung. Ia biasanya duduk di sebuah bangku menunggu pembeli datang. Ia menjual kopi, mie instan, bubur kacang ijo, serta rokok. Warungnya terletak di pinggir jalan kecil. Jalan kecil itu merupakan cabang dari jalan utama menuju perumahan warga. Warungnya terletak kira-kira 50 meter dari jalan utama. Kira-kira 50 meter lagi ke dalam ada sebuah sekolah swasta. Setiap hari warungnya dilewati oleh anak sekolah, guru, orang tua murid atau mobil jemputan, dan juga warga sekitar.
Aku kadang-kadang mampir ke warung si bapak untuk mengopi. Atau biasanya juga aku pesan mie rebus. Sore hari - menjelang malam - biasanya warung si bapak sepi. Pada jam-jam itulah aku biasanya mampir. Sekalian makan malam murah meskipun cuma mie instan. Aku selalu mengajak si bapak mengobrol. Awalnya aku bingung mencari bahan yang perlu kami bicarakan. Kadang kami bahas politik - politik warung kopi - kadang juga bahas hasil pertandingan bola, atau kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar. Tapi semuanya berakhir dalam hening. Aku memang tidak pandai membangun perbicangan.
Suatu sore aku mampir lagi ke warung si bapak. Warungnya kosong. Aku masuk saja dan duduk di bangku panjang. Kupanggil si bapak, ternyata dia sedang mandi. Kutunggu hingga ia selesai sekitar 10 menit. Kupesan mie rebus. Aku sedang ingin makan mi rebus, kataku pada si bapak. Si bapak cuma ketawa sambil memanaskan air. Sambil makan, aku mengajak si bapak mengobrol seperti biasa karena kelihatannya si bapak sering diam. Mungkin sedikit orang yang mengajaknya bicara. Ataupun kalau ada, ia hanya mengikuti saja pembicaraan orang, para pelanggan tetapnya. Pelanggan tetapnya merupakan para sopir jemputan anak sekolah. Si bapak pernah bilang orang-orang yang datang ke warungnya biasanya main catur atau bahas bola.
Kali ini aku ingin mendengar kisah hidup si bapak. Sepertinya aku berhasil membuat si bapak mau berbicara banyak. Karena yang dia bicarakan adalah tentang dirinya sendiri. Ia lahir tahun 1962. Setelah lulus sekolah dasar (SD) ia langsung bekerja sebagai penambang pasir di sungai untuk membantu perekonomian keluarganya saat itu. Tiga kakak kandungnya bahkan tidak lulus SD karena tidak cukup biaya. Pada saat umurnya 15, tahun 1977, ia pun mengikuti teman-temannya merantau ke ibukota. Beberapa teman sekolahnya malah sudah lebih dulu mengadu nasib ke Jakarta, kenangnya. Saat menceritakan itu, matanya mengarah entah ke mana seolah-olah ingin membangkitkan kenangan lama.
Di Jakarta ia mengadu nasib. Awalnya menjadi pedagang asongan. Berjalan menyusuri jalanan ibukota untuk menjajakan dagangannya. Aku tidak pernah jualan sebelumnya, kata si bapak. Tapi temannya memaksanya. Ia harus bisa bertahan hidup di Jakarta. Tidak bisa pulang ke kampung halaman - Jawa Barat - karena tidak punya uang cukup. Ongkos busnya saat berangkat ke Jakarta pun pinjaman dari tetangga padahal cuma Rp5.000. Saat itu rupiah cukup mahal. Di bandingkan sekarang apalah artinya Rp5.000 itu, kenangnya lagi.
Tiga belas tahun ia menjadi pedagang di Jakarta. Mulai dari pedagang keliling hingga akhirnya ia memiliki sebuah kios sewaan di dekat terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Beberapa kali sebelumnya ia berpindah-pindah. Pernah di Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan terakhir di Jakarta Selatan. Tahun 1989, si bapak menikah. Anak pertamanya lahir setahun kemudian. Pada saat itulah ia pindah ke daerah Bogor, warungnya sekarang. Kalau dihitung, sudah 24 tahun si bapak berjualan di warungnya ini. Waktu yang sangat lama.
Si bapak bercerita, kadang-kadang kalau ia sedang duduk-duduk di bangkunya dan ia melihat anak sekolah berlari-lari di depannya, ia terkenang akan masa kecilnya di kampung saat sekolah dulu; mereka berlari-lari tanpa sepatu dan seragam sekolah. Kenapa ya ada masa-masa itu, kenangnya. Lagi ia bercerita, waktu kecil mereka harus membagi jatah makanan. Satu mangkuk nasi jagung (sambil menunjuk mangkuk mie rebusku) harus di makan dua kali, pagi dan siang, tidak boleh dihabiskan sekaligus. Kalau tidak, maka jatah makan siangpun juga tidak ada. Terpaksa berangkat ke sekolah dengan perut masih lapar.
Kalau dihitung, sudah 37 tahun si bapak meninggalkan kampung halamannya. Bulan lalu ia pulang untuk memperbaiki rumah di desa. Selama dua minggu, ia menitipkan warung ke seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri dari (alm) temannya yang pertama kali mengajaknya merantau. Mereka sudah seperti keluarga. Senasib dan seperjuangan, katanya. Sekarang, si bapak memiliki tiga anak. Anak pertama bekerja di sebuah perusahaan tekstil sebagai ahli mekanik. Anak kedua juga sudah bekerja di salah satu toko di daerah Bogor. Dan anaknya perempuan, si bungsu, sudah kelas satu SMA.
Selain pengalaman hidup yang sudah dilewati dengan susah payah, hal menarik yang ia kisahkan adalah tentang cita-citanya. Si bapak berkata bahwa dulu kakak-kakaknya tidak lulus SD dan ia sendiri hanya lulus SD, maka kelak anak-anaknya harus melebihi dirinya. Setidaknya ketiga anaknya lulus sekolah menengah pertama (SMP). Satu tingkat lebih dari dirinya. Hidup saya begini-begini terus, tapi saya mau anak-anak saya sukses, kata si bapak. Ternyata, cita-cita si bapak melampaui yang ia harapkan. Bahkan kedua anaknya sekarang (si bungsu menyusul) bisa lulus sekolah menengah atas (SMA). Alhamdulillah, kata si bapak sambil menarik nafas panjang.***
Ketika kisah hidup yang panjang diceritakan dalam waktu kira-kira 90 menit (membaca kisah inipun tidak sampai 5 menit) membuat kita merenung betapa hidup ini singkat.. Gunakan waktu yang ada semaksimal mungkin. Lakukan apa yang bisa dilakukan hari ini. Dengan kata lain jangan suka menunda.
Aku kadang-kadang mampir ke warung si bapak untuk mengopi. Atau biasanya juga aku pesan mie rebus. Sore hari - menjelang malam - biasanya warung si bapak sepi. Pada jam-jam itulah aku biasanya mampir. Sekalian makan malam murah meskipun cuma mie instan. Aku selalu mengajak si bapak mengobrol. Awalnya aku bingung mencari bahan yang perlu kami bicarakan. Kadang kami bahas politik - politik warung kopi - kadang juga bahas hasil pertandingan bola, atau kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar. Tapi semuanya berakhir dalam hening. Aku memang tidak pandai membangun perbicangan.
Suatu sore aku mampir lagi ke warung si bapak. Warungnya kosong. Aku masuk saja dan duduk di bangku panjang. Kupanggil si bapak, ternyata dia sedang mandi. Kutunggu hingga ia selesai sekitar 10 menit. Kupesan mie rebus. Aku sedang ingin makan mi rebus, kataku pada si bapak. Si bapak cuma ketawa sambil memanaskan air. Sambil makan, aku mengajak si bapak mengobrol seperti biasa karena kelihatannya si bapak sering diam. Mungkin sedikit orang yang mengajaknya bicara. Ataupun kalau ada, ia hanya mengikuti saja pembicaraan orang, para pelanggan tetapnya. Pelanggan tetapnya merupakan para sopir jemputan anak sekolah. Si bapak pernah bilang orang-orang yang datang ke warungnya biasanya main catur atau bahas bola.
Kali ini aku ingin mendengar kisah hidup si bapak. Sepertinya aku berhasil membuat si bapak mau berbicara banyak. Karena yang dia bicarakan adalah tentang dirinya sendiri. Ia lahir tahun 1962. Setelah lulus sekolah dasar (SD) ia langsung bekerja sebagai penambang pasir di sungai untuk membantu perekonomian keluarganya saat itu. Tiga kakak kandungnya bahkan tidak lulus SD karena tidak cukup biaya. Pada saat umurnya 15, tahun 1977, ia pun mengikuti teman-temannya merantau ke ibukota. Beberapa teman sekolahnya malah sudah lebih dulu mengadu nasib ke Jakarta, kenangnya. Saat menceritakan itu, matanya mengarah entah ke mana seolah-olah ingin membangkitkan kenangan lama.
Di Jakarta ia mengadu nasib. Awalnya menjadi pedagang asongan. Berjalan menyusuri jalanan ibukota untuk menjajakan dagangannya. Aku tidak pernah jualan sebelumnya, kata si bapak. Tapi temannya memaksanya. Ia harus bisa bertahan hidup di Jakarta. Tidak bisa pulang ke kampung halaman - Jawa Barat - karena tidak punya uang cukup. Ongkos busnya saat berangkat ke Jakarta pun pinjaman dari tetangga padahal cuma Rp5.000. Saat itu rupiah cukup mahal. Di bandingkan sekarang apalah artinya Rp5.000 itu, kenangnya lagi.
Tiga belas tahun ia menjadi pedagang di Jakarta. Mulai dari pedagang keliling hingga akhirnya ia memiliki sebuah kios sewaan di dekat terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Beberapa kali sebelumnya ia berpindah-pindah. Pernah di Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan terakhir di Jakarta Selatan. Tahun 1989, si bapak menikah. Anak pertamanya lahir setahun kemudian. Pada saat itulah ia pindah ke daerah Bogor, warungnya sekarang. Kalau dihitung, sudah 24 tahun si bapak berjualan di warungnya ini. Waktu yang sangat lama.
Si bapak bercerita, kadang-kadang kalau ia sedang duduk-duduk di bangkunya dan ia melihat anak sekolah berlari-lari di depannya, ia terkenang akan masa kecilnya di kampung saat sekolah dulu; mereka berlari-lari tanpa sepatu dan seragam sekolah. Kenapa ya ada masa-masa itu, kenangnya. Lagi ia bercerita, waktu kecil mereka harus membagi jatah makanan. Satu mangkuk nasi jagung (sambil menunjuk mangkuk mie rebusku) harus di makan dua kali, pagi dan siang, tidak boleh dihabiskan sekaligus. Kalau tidak, maka jatah makan siangpun juga tidak ada. Terpaksa berangkat ke sekolah dengan perut masih lapar.
Kalau dihitung, sudah 37 tahun si bapak meninggalkan kampung halamannya. Bulan lalu ia pulang untuk memperbaiki rumah di desa. Selama dua minggu, ia menitipkan warung ke seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri dari (alm) temannya yang pertama kali mengajaknya merantau. Mereka sudah seperti keluarga. Senasib dan seperjuangan, katanya. Sekarang, si bapak memiliki tiga anak. Anak pertama bekerja di sebuah perusahaan tekstil sebagai ahli mekanik. Anak kedua juga sudah bekerja di salah satu toko di daerah Bogor. Dan anaknya perempuan, si bungsu, sudah kelas satu SMA.
Selain pengalaman hidup yang sudah dilewati dengan susah payah, hal menarik yang ia kisahkan adalah tentang cita-citanya. Si bapak berkata bahwa dulu kakak-kakaknya tidak lulus SD dan ia sendiri hanya lulus SD, maka kelak anak-anaknya harus melebihi dirinya. Setidaknya ketiga anaknya lulus sekolah menengah pertama (SMP). Satu tingkat lebih dari dirinya. Hidup saya begini-begini terus, tapi saya mau anak-anak saya sukses, kata si bapak. Ternyata, cita-cita si bapak melampaui yang ia harapkan. Bahkan kedua anaknya sekarang (si bungsu menyusul) bisa lulus sekolah menengah atas (SMA). Alhamdulillah, kata si bapak sambil menarik nafas panjang.***
Ketika kisah hidup yang panjang diceritakan dalam waktu kira-kira 90 menit (membaca kisah inipun tidak sampai 5 menit) membuat kita merenung betapa hidup ini singkat.. Gunakan waktu yang ada semaksimal mungkin. Lakukan apa yang bisa dilakukan hari ini. Dengan kata lain jangan suka menunda.
Selasa, 27 Mei 2014
Semuanya Amat Sederhana
"Ketika kupandangi keberhasilan-keberhasilanku, semuanya amat sederhana. Amat sederhana"
Kalimat di atas merupakan kutipan dari buku yang baru saja selesai kubaca. Di balik kalimat itu tersimpan banyak perjuangan yang tidak mudah bahkan mustahil dicapai oleh tokoh dalam buku yang mengucapkan kalimat tersebut. Buku tersebut adalah kisah nyata antara cinta dan perang, yang judul bukunya tidak mau kusebut.hehehe
Salah satu bagiannya menceritakan kisah dua pasang kekasih, dari dua negara yang berbeda, yang terpisah selama enam tahun karena konflik negara mereka. Pertunangan mereka pun ikut tertunda. Selama berpisah, mereka berkomunikasi dengan surat dan telepon yang cukup mahal. Visa kedua pasangan ini ditahan oleh negaranya masing-masing. Upaya untuk bertemu sudah diperjuangkan mati-matian bahkan nyaris putus asa. Hingga akhirnya, setelah enam tahun, akhirnya perjuangan mereka berhasil dan pasangan kekasih ini pun menikah. Ini baru bagian kecil kisah mereka. Belum lagi kisah keluarga masing-masing, masa kecil mereka dan kisah-kisah lain yang mereka lewati selama perang.***
Aku jadi teringat sewaktu mengerjakan tugas akhir atau skripsi saat kuliah dulu. Mulai dari mencari objek penelitian, rasanya hampir semua hal sudah diteliti oleh orang (lalu apa yang harus kuteliti?), menentukan judul, berhadapan dengan dosen untuk mengajukan judul yang belum tentu diterima. Memulai penulisan skripsi, membaca banyak buku sebagai landasan teori. Aku ingat sewaktu dosen menyuruhku mengulang membuat landasan teori dengan benar. Ditambah lagi banyak koreksi mengenai cara menulis yang baik. Membuat kerangka penelitian, membuat hipotesis, mengadakan penelitian yang memakan banyak waktu dan tenaga, menganalisis hasil penelitian yang belum tentu sesuai harapan. Dan terakhir membuat kesimpulan. Semua proses tidak mudah. Bahkan di tengah jalan rasanya ingin berhenti. Apalagi sewaktu sidang skripsi. Nah lho, dosen penguji pasti menanyakan ini itu banyak sekali. Belum tentu bisa kujawab dengan benar karena sudah gugup duluan. Sekali pun hasil penelitianku sudah kukuasai sepenuhnya karena itu hasil kerjaku sendiri, tapi aku tetap gugup. Alhasil, aku dinyatakan lulus dengan hasil baik.
Beberapa bulan kemudian aku bergumam dalam hati; ternyata semua sangat sederhana.***
Begitulah hidup. Perjuangan yang sedang kita alami kadang terasa berat bahkan tak tertanggungkan. Namun, setelah kita berhasil melewatinya, cara pandang kita pun berubah; semuanya amat sederhana. Kuncinya, menurutku, adalah yakin dan percaya Tuhan tidak akan memberi ujian hidup melebihi kemampuan kita. Semakin berat beban hidup, semakin kuat kita, dan semakin kita mampu menguatkan orang lain.
Kalimat di atas merupakan kutipan dari buku yang baru saja selesai kubaca. Di balik kalimat itu tersimpan banyak perjuangan yang tidak mudah bahkan mustahil dicapai oleh tokoh dalam buku yang mengucapkan kalimat tersebut. Buku tersebut adalah kisah nyata antara cinta dan perang, yang judul bukunya tidak mau kusebut.hehehe
Salah satu bagiannya menceritakan kisah dua pasang kekasih, dari dua negara yang berbeda, yang terpisah selama enam tahun karena konflik negara mereka. Pertunangan mereka pun ikut tertunda. Selama berpisah, mereka berkomunikasi dengan surat dan telepon yang cukup mahal. Visa kedua pasangan ini ditahan oleh negaranya masing-masing. Upaya untuk bertemu sudah diperjuangkan mati-matian bahkan nyaris putus asa. Hingga akhirnya, setelah enam tahun, akhirnya perjuangan mereka berhasil dan pasangan kekasih ini pun menikah. Ini baru bagian kecil kisah mereka. Belum lagi kisah keluarga masing-masing, masa kecil mereka dan kisah-kisah lain yang mereka lewati selama perang.***
Aku jadi teringat sewaktu mengerjakan tugas akhir atau skripsi saat kuliah dulu. Mulai dari mencari objek penelitian, rasanya hampir semua hal sudah diteliti oleh orang (lalu apa yang harus kuteliti?), menentukan judul, berhadapan dengan dosen untuk mengajukan judul yang belum tentu diterima. Memulai penulisan skripsi, membaca banyak buku sebagai landasan teori. Aku ingat sewaktu dosen menyuruhku mengulang membuat landasan teori dengan benar. Ditambah lagi banyak koreksi mengenai cara menulis yang baik. Membuat kerangka penelitian, membuat hipotesis, mengadakan penelitian yang memakan banyak waktu dan tenaga, menganalisis hasil penelitian yang belum tentu sesuai harapan. Dan terakhir membuat kesimpulan. Semua proses tidak mudah. Bahkan di tengah jalan rasanya ingin berhenti. Apalagi sewaktu sidang skripsi. Nah lho, dosen penguji pasti menanyakan ini itu banyak sekali. Belum tentu bisa kujawab dengan benar karena sudah gugup duluan. Sekali pun hasil penelitianku sudah kukuasai sepenuhnya karena itu hasil kerjaku sendiri, tapi aku tetap gugup. Alhasil, aku dinyatakan lulus dengan hasil baik.
Beberapa bulan kemudian aku bergumam dalam hati; ternyata semua sangat sederhana.***
Begitulah hidup. Perjuangan yang sedang kita alami kadang terasa berat bahkan tak tertanggungkan. Namun, setelah kita berhasil melewatinya, cara pandang kita pun berubah; semuanya amat sederhana. Kuncinya, menurutku, adalah yakin dan percaya Tuhan tidak akan memberi ujian hidup melebihi kemampuan kita. Semakin berat beban hidup, semakin kuat kita, dan semakin kita mampu menguatkan orang lain.
Kamis, 22 Mei 2014
kepada lampu
mati lampu di tempatku
o lampu, menyalalah
lilinku dari panjang hingga habis
hingga tulisan ini kutulis
lampu masih mati.
o lampu, menyalalah
mengapa kau biarkan lilin
mengakhiri hidupnya
untuk menerangi kamarku?
o lampu, menyalalah
lilinku dari panjang hingga habis
hingga tulisan ini kutulis
lampu masih mati.
o lampu, menyalalah
mengapa kau biarkan lilin
mengakhiri hidupnya
untuk menerangi kamarku?
Selasa, 20 Mei 2014
Terkenang Mainan Masa Kecil
"Aku ingin punya mainan itu," gumam seorang anak dalam hatinya. Dia tahu ayahnya tak akan membeli mainan seperti punya teman-temannya. Entah mobil-mobilan, robot-robotan, atau mainan yang bisa bergerak sendiri itu. Setiap kali bermain bersama teman-temannya, dia merasa iri. Semua temannya pelit. Dia tidak pernah diperbolehkan menyentuh mainan mereka. Jadi terpaksa dia harus menahan diri.
Pernah suatu hari dia berkata kepada ayahnya, "Pa, beliin mainan seperti punya si Putra." Putra adalah salah satu temannya. Jawaban sang ayah selalu sama, "Bapak belum punya uang. Nanti kalau sudah punya, akan kita beli yang lebih bagus." Sampai dia dewasa mainan yang ia inginkan itu tidak pernah dibelikan oleh ayah.
Untungnya si anak memiliki seorang paman yang baik. Sang paman -adik ibu- masih lajang saat itu, selalu menyediakan waktu bersama keponakannya. Suatu hari sang paman membuatkan mobil-mobilan dari kayu dan papan. Mobil kayu buatan pamannya cukup besar sehingga bisa dinaiki. Tapi mainan punya temannya bisa bergerak sendiri tanpa perlu ditarik dengan tali seperti punyanya. Mainan teman masih terlihat lebih keren. Tak apa, pikirnya, yang penting sekarang dia punya mobil kayu yang bisa jalan meski harus ditarik-tarik. Lagi pula mobilnya lebih besar, bahkan kalau bisa semua mainan temannya bisa diangkut sama mobil kayunya itu.***
Masa bermain mobil-mobilan sudah lama berlalu. Kini dia sudah dewasa. Bekerja sendiri. Sudah mandiri. Terkadang sesekali ia teringat masa kecilnya khususnya saat dia ingin sekali memiliki mainan yang keren. Ia cuma tersenyum mengenang semuanya. Kadang dia merenung untuk apa semua itu. Mengapa dulu ia begitu ingin memiliki mainan mobil atau robot. Sekarang setelah punya uang sendiri, keinginan membeli mobil-mobilan hilang sama sekali. Entah ke mana perginya keinginan itu. Padahal dia sempat berjanji bila punya uang kelak, ia akan membeli dengan uangnya sendiri.
Selamat tinggal masa kecil(ku)
Pernah suatu hari dia berkata kepada ayahnya, "Pa, beliin mainan seperti punya si Putra." Putra adalah salah satu temannya. Jawaban sang ayah selalu sama, "Bapak belum punya uang. Nanti kalau sudah punya, akan kita beli yang lebih bagus." Sampai dia dewasa mainan yang ia inginkan itu tidak pernah dibelikan oleh ayah.
Untungnya si anak memiliki seorang paman yang baik. Sang paman -adik ibu- masih lajang saat itu, selalu menyediakan waktu bersama keponakannya. Suatu hari sang paman membuatkan mobil-mobilan dari kayu dan papan. Mobil kayu buatan pamannya cukup besar sehingga bisa dinaiki. Tapi mainan punya temannya bisa bergerak sendiri tanpa perlu ditarik dengan tali seperti punyanya. Mainan teman masih terlihat lebih keren. Tak apa, pikirnya, yang penting sekarang dia punya mobil kayu yang bisa jalan meski harus ditarik-tarik. Lagi pula mobilnya lebih besar, bahkan kalau bisa semua mainan temannya bisa diangkut sama mobil kayunya itu.***
Masa bermain mobil-mobilan sudah lama berlalu. Kini dia sudah dewasa. Bekerja sendiri. Sudah mandiri. Terkadang sesekali ia teringat masa kecilnya khususnya saat dia ingin sekali memiliki mainan yang keren. Ia cuma tersenyum mengenang semuanya. Kadang dia merenung untuk apa semua itu. Mengapa dulu ia begitu ingin memiliki mainan mobil atau robot. Sekarang setelah punya uang sendiri, keinginan membeli mobil-mobilan hilang sama sekali. Entah ke mana perginya keinginan itu. Padahal dia sempat berjanji bila punya uang kelak, ia akan membeli dengan uangnya sendiri.
Selamat tinggal masa kecil(ku)
Langganan:
Postingan (Atom)