Selasa, 06 Agustus 2019

Ceritaku: Di Rumah Sakit


Hai, Semua. 

Sebelumnya aku menulis tentang keterlibatanku jadi panitia KTA. Bagian akhir ceritaku mengenai kakiku yang sakit. Tepatnya kaki kiri. Hingga KTA berakhir, kaki kiriku masih sakit. Aku berjalan sambil menahan sakit.

Ibadah penutupan KTA selesai minggu siang. Sehabis penutupan, peserta masih makan siang. Kemudian menuju parkiran. Ada yang bawa kendaraan sendiri, ada pula yang pulang naik bus. Ketika peserta sudah pulang, panitia masih tinggal hingga jam 4 sore untuk membereskan perlengkapan dan menyelesaikan urusan dengan pihak kinasih. Dan masih sempat berfoto-ria di ruang makan dan lapangan parkir.

Saat itu aku sudah sulit berjalan hingga aku tidak terlalu banyak mengerjakan persiapan pulang. Termasuk mengangkat-angkat barang. Panitia akhirnya pulang. Aku gabung di mobil Pangeran. Kami menuju kantor Perkantas di Pintu Air untuk mengembalikan semua perlengkapan. Artinya, pekerjaan masih belum selesai. Lumayan banyak perlengkapan yang dibawa. Saat itu aku hanya membawa barang yang ringan saja.

Hari sudah malam, jam 8 malam, aku menumpang di mobil Pangeran untuk kembali ke Serpong. Jalanan lancar hingga waktu tempuh tidak lama. Selama di jalan kami tidak banyak berbicara. Mungkin karena sudah lelah. Pangeran mengantarku sampai depan gang tempat tinggalku, Gang Jati, Jelupang.

Aku masih harus berjalan kaki ke dalam sekitar 200 meter untuk menuju kontrakanku. Kakiku masih sakit. Sesampainya di kamarku, aku mandi dan mengeluarkan pakaian kotor lalu memasukkannya ke tempat biasa. Besok pagi aku harus berangkat kerja. Jadi aku meyiapkan pakaian yang akan kupakai besok.

Keesokan hari. Senin pagi. Aku berangkat kerja. Itu hari pertamaku bekerja di Sekolah Athalia. Aku cukup berjalan kaki menuju sekolah karena tidak terlalu jauh dari kontrakan (sekitar 300 meter). Kaki kiriku masih sakit, namun masih bisa berjalan dengan bertumpu pada kaki kanan. Aku langsung menuju aula gedung F seperti yang dijelaskan sebelumnya lewat email. Aula berada di lantai 4. Itu membuatku agak kesulitan.

Di aula aku bertemu rekan guru baru lain, baik guru SMA sepertiku maupun guru dari unit lain. Kami langsung akrab karena sesama guru baru. Guru-guru lama juga ramah. Mereka menyambut kami seperti sudah lama kenal. Sehingga kami merasa diterima sebagai anggota keluarga Athalia. Sambutan yang ramah dan hangat.

Pertemuan hari itu dibuka dengan ibadah, dengan pujian dan renungan Firman. Lalu disusul perkenalan guru baru setiap unit dan kata pengarahan dari para pimpinan. Kemudian pertemuan per unit masing-masing. Itulah hari pertama.



Hari kedua hingga seminggu berikutnya kegiatannya seputar seminar dan pelatihan secara gabungan maupun kegiatan di unit masing-masing. Acara ini semacam pembekalan dan sosialisasi. Serta hari jumat medical check up untuk guru lama. Aku mengikuti acara tanpa absen. Kondisi kakiku makin parah karena naik-turun tangga.

Masuk minggu kedua. Di sini guru-guru sudah berada di unit masing-masing. Dan seperti sekolah pada umumnya, ini saatnya membuat perangkat pembelajaran. Pekerjaan rutin guru sebelum tahun pelajaran baru dimulai. Kami dibagi ke dalam kelompok sesuai rumpun pelajaran. Aku berada di rumpun matematika bersama bu Galih, bu Feli, dan bu Jantini alias bu Nana.

Sampai di sini kakiku makin parah. Aku sudah ke dokter dan juga sudah ke tukang urut, namun tidak ada perubahan. Malah kaki kananku juga kena imbas. Ikut sakit. Hingga tanggal 4 Juli sore, sewaktu pulang sekolah, aku sudah sangat sulit jalan. Aku pulang naik grab. Malamnya aku ke tukang urut lagi ke Cibinong. Baru pulang pagi. Pulang-pergi naik grab.

Tanggal 5 Juli aku izin tidak masuk karena aku tidak bisa berjalan lagi. Di kontrakan aku hanya bisa merangkak. Seharian aku hanya tiduran dan kesulitan bergerak. Badanku juga kesemutan hingga tangan dan kakiku menjadi kejang dan kaku. Makin waktu berjalan, kondisiku makin parah. Aku sulit jalan dan tanganku sulit memegang benda. Aku terpaksa hubungi rekan-rekan untuk bantuan dengan susah payah. Malam itu sebenarnya Pangeran sudah tiba di kontrakanku, tapi dia tidak tahu di mana kamarku. Dia pulang. Sementara aku sudah tidur karena kelelahan.

Besok paginya, tanggal 6 Juli, aku kembali menelpon Pangeran untuk menolongku ke Puskesmas. Dia satu-satunya rekan yang dekat dan tahu arah tempatku. Dia datang jam 8.30. Karena aku tidak bisa jalan, dia mengusahakan dengan susah payah agar aku bisa dinaikkan ke atas motornya. Motor ditempatkan persis di depan pintu kosku. Pangeran mengangkat badanku dari belakang dan aku sekuat tenaga menaiki motor. Pangeran mengunci pintu dan kami pun berangkat ke Puskesmas Pondok Jagung, Serpong.

Kondisi yang kurasakan saat itu, sekujur tubuhku dari kaki hingga tangan bahkan wajahku kesemutan. Jari-jari tanganku kejang, gemetar dan sulit kugerakkan. Demikian juga dengan jari-jari kakiku. Aku pakai kursi roda dan menunggu, sedangkan Pangeran mengurus pendaftaran.

Dokter Puskesmas langsung merujuk ke spesialis saraf di RS Hermina Serpong. Pangeran kembali mengurus surat rujukan di bagian pendaftaran. Jam 11.30 kami berangkat ke RS Hermina. Aku naik grabcar. Ada seorang bapak membantu mengang
katku naik ke atas mobil (terima kasihku untuknya). Pangeran lebih dulu tiba di RS karena mengendarai motor. Sesampainya di sana kembali aku dinaikkan ke kursi roda dan menunggu pendaftaran selesai.

Hari sudah siang. Aku mendapat antrian nomor 30 dan dokter mulai praktek jam 2 siang. Artinya, kemungkinan aku mendapat giliran jam 4 atau lebih. Pangeran membeli makan siang. Dan kami makan siang di lobi rumah sakit. Saat itu kami juga menunggu kedatangan adik, Kornelius, seorang saudara/kerabat, untuk menggantikan Pangeran yang harus ke gereja karena ada pelayanan sore itu.

Namanya Kornelius, tapi dia dipanggil Si Ade (punya kembaran yang dipanggil Si Abang), pun tiba. Si Ade dan Pangeran kuminta untuk ke kontrakanku mengambil sedikit keperluan seperti jaket dan baju ganti. Karena waktu berangkat tadi pagi, aku tidak membawa apa-apa. Sementara aku menunggu antrian yang baru dipanggil jam 5 sore.

Kuceritakan riwayat sakitku yang dimulai dari kaki yang terasa seperti kram hingga rasa kesemutan dan jari yang gemetar dan kejang. Sang dokter pun menduga ini penyakit GBS. Saat itu aku belum tahu apa itu GBS. Dokter langsung menyarankan rawat inap agar bisa dikontrol secara intensif. Ia membuat catatan untuk rawat inap. Kembali aku menunggu pengurusan rawat inap. Tapi kali ini yang urus Si Ade. Itu pun masih menunggu hingga malam karena kamar penuh. Harus menunggu pasien yang akan keluar.

Akhirnya kami mendapat ruang  di lantai 3 kamar 304, hampir jam 10 malam. Ranjangnya persis dekat pintu. Infus sudah terpasang di tangan kiriku.

Hari itu aku tidak menyangka akan dirawat inap dan tinggal di RS selama seminggu ke depan. Sama halnya banyak rekan yang tidak percaya bahwa aku sakit dan dirawat inap. Karena sebelumnya aku terlihat sehat dan hanya kram di kaki saja yang bisa pulih dengan istirahat cukup.

Hari minggu, 7 Juli, aku masih juga belum bisa menggerakkan kaki. Sedangkan tanganku lemah. Untuk duduk saja aku harus dibantu. Apalagi berdiri, tidak bisa. Baru senin pagi aku mencoba untuk berdiri di pinggir ranjang. Dan berhasil. Aku akhirnya bisa berdiri meskipun harus berpegangan dan belum bisa jalan. Untuk ke toilet aku masih pakai kursi roda. Aku tidak menyukai kondisi ini dan harus segera sembuh, pikirku. Hal yang paling tidak enak adalah air minum terasa pahit di mulut.

Hari berganti. Sudah berapa banyak suntikan obat-obatan masuk ke tubuhku aku tidak ingat lagi. Tiap pagi, siang, dan malam secara teratur perawat menyuntikkan obat.

Selama seminggu itu bergantian teman dan sahabat datang menjenguk. Kehadiran mereka benar-benar menguatkanku. Terlebih ketika rekan-rekan guru datang. Mereka adalah keluarga baruku – yang kenal baru dua minggu. Entah bagaimana aku merasa sudah mengenal mereka lama. Terima kasih untuk doa dan dukungannya.

Hari jumat aku dinyatakan boleh pulang oleh dokter. Aku sudah bisa jalan meski belum terlalu kuat.  Paginya kukemasi barang, Si Ade mengurus surat keluar di kasir. Dan...kami pesan grabcar. Pulang. Jam 12 kami tiba di kontrakan.

Sesampainya di kontrakan, aku memesan makanan via grabfood. Sambil mengetik dan memilih menu tanganku kembali kebas. Lama-kelamaan makin kuat dan akhirnya kejang. Sampai-sampai aku meminta Si Ade yang memesan makanan. Makanan datang, aku sempat makan walau dengan kondisi tangan gemetaran. Hingga jam 2, tangan dan kakiku masih gemetaran, kesemutan, dan aku mulai berpikir untuk kembali ke RS.

Si Ade dan aku mulai panik. Kondisiku makin parah. Aku kembali kesakitan, kesemutan, gemetaran dan kejang. Kuminta Si Ade untuk memesan grabcar yang beberapa kali di-cancel – entah mengapa. Sambil juga menghubungi Bang Anton untuk meminjam mobil sekolah atau apalah. Entah mana mobil yang duluan datang, yang penting berangkat ke RS. Ternyata mobil sekolah yang duluan datang bersama Pak Edwin (rekan guru). Pak Edwin memapahku hingga ke mobil. Kami kembali ke RS pada sore hari itu juga.

Kemudian Bang Anton bersama Pak Reggy dan Pak Victor juga datang menyusul ke RS. Bang Anton itu kepala sekolahku, pak Reggy dan pak Victor adalah rekan guru. Aku panggil Bang Anton karena sudah kenal sebelumnya di pelayanan Perkantas (bukannya gak sopan sama kepsek hehehe). Malam harinya, Pak Tri (koord. SDM) juga datang bersama istri.

Aku dibawa ke IGD. Dan ternyata penanganannya sangat lambat. Aku ditempatkan di ruang tindakan dan beberapa jam menunggu tindakan dari dokter. Infus kembali dipasang dan beberapa suntikan obat diberikan. Kakiku kejang, tanganku mengepal rapat dan aku tidak bisa mengendalikannya. Sampai seorang dokter, kuduga dokter muda, memaksa membuka kepalan tanganku. Rasanya sangat sakit seperti seluruh lenganku dipelintir. Aku tidak tahu apakah tindakan itu sudah tepat atau benar.

Rasa kesemutan mulai berkurang, kakiku tidak kejang lagi, dan kepalan tanganku sudah bisa terbuka. Tetapi, rasanya telapak tanganku mati rasa. Tiap dikepal seperti lagi memegang gabus atau busa. Mungkin pengaruh obat pelemas otot. Singkatnya, tubuhku lemas seluruhnya. Herannya, dokter menyuruh pulang. Padahal dengan kondisiku yang seperti itu, butuh penanganan lebih lanjut. Rekan-rekan sudah mengusahakan untuk rawat inap, namun tetap disuruh pulang. Kami pulang dan tiba di kontrakanku sekitar pukul 10 malam.

Alhasil, besoknya kondisiku tidak membaik. Pihak sekolah mengirimkan makanan untuk pagi dan siang. Kornelius masih menemaniku. Mulai dari sabtu pagi hingga siang aku hanya bisa terbaring di kasur dan cuma berpindah tempat saat ke toilet. Aku memang sering buang air kecil karena banyak minum. Tidak ada perubahan kurasakan. Hingga kupikirkan untuk ke rumah sakit lagi, tapi RS yang berbeda. Ke RS Siloam Karawaci. Kembali kuhubungi Bang Anton untuk meminta bantuannya lagi. Dia datang bersama Pak Reggy dan Pak Victor lagi jam 5 sore.

Kami pun berangkat ke RS Siloam. Sesampainya di sana langsung dibawa ke ruang emergency gedung B. Dokter dan perawat langsung menyambut dan menanyakan kondisi. Kuceritakan bahwa aku baru saja keluar RS dengan diagnosis GBS. Ternyata RS Siloam tidak bisa menangani penyakit tersebut dan harus dirujuk ke RSU Kab. Tangerang. Karena jauh, teman-teman membawaku ke gedung A. Di sini lumayan mahal.

Karena aku bukan pasien rujukan, maka mesti bayar pribadi. Kalau tidak, ya, perlu urus rujukan dulu dari faskes tingkat I. Artinya, mesti ke puskesmas dulu. Itu perlu menunggu hari senin. Akhirnya, keluarga dihubungi dan kami bersedia dengan biaya pribadi. Saat di IGD, aku kaget beberapa rekan panitia KTA datang. Aku tidak sangka mereka datang jauh-jauh dari Jakarta (terima kasih, rekans).

Kuceritakan kondisiku yang lemah dan kesemutan serta rasa tertekan di dada yang sudah kualami sejak semiggu sebelumnya. Dokter dan perawat langsung bertindak karena penyakit GBS ternyata salah satu penyakit menakutkan. Mulai dari pemeriksaan fisik, darah, hingga rekam jantung. Hasilnya, kaliumku (elektrolit tubuhku) sangat rendah dan punya masalah di jantung. Rekam jantung sudah dilakukan dua kali untuk memastikan.

Dokter pun menyuruh membawaku ke ruang observasi untuk tindakan berikutnya. Terutama untuk mengoreksi kaliumku yang rendah. Di sana aku dipasangi alat yang tidak pernah kubayangkan akan dipasangkan di tubuhku. Alat asing yang tidak kuketahui dan tidak ingin tahu saat itu. Infus kembali masuk. Sekarang satu di lengan kiri, satu di lengan kanan. Hmmm.

Akhirnya, dokter Sp.JP yang menanganiku, menyuruh membawaku ke ICU tetapi di gedung B (karena di gedung A mahal ckckk). Kornelius, yang masih juga menemaniku bersama Bang Anton, mengurus kepindahan ruanganku. Sementara aku masih terbaring di tempat pesakitan. Kalau dilihat dari luar sih aku baik-baik saja. Namun, di dalamnya aku merasa kesemutan dan dadaku seperti ditekan beban berat. Aku masih sadar dan bisa bicara.

Di satu sisi aku tenang karena ternyata aku tidak memiliki penyakit GBS. Itu kata dokter spesialis saraf. GBS itu penyakit yang lumayan menakutkan karena berkaitan dengan saraf dan sistem imun tubuh. Di sisi lain, aku khawatir karena kondisi jantungku yang ternyata bermasalah. Jadi, ternyata diagnosis penyakitku dari dokter di RS ini adalah hipokalemi dan nstemi.

Aku akhirnya dirawat di ICU selama tiga hari. Mulai dari pegurusan administrasi hingga masuk kamar baru selesai sekitar jam 2 dini hari. Sekarang pengunjung atau keluarga tidak bebas masuk tanpa seizin perawat. Saat jam kunjungan pun hanya diperbolehkan satu pengunjung saja.

Hari selasa aku tidak menyangka mama datang. Mama tiba-tiba muncul di jam kunjungan. Aku senang, kaget, sedih. Aku tidak mau mama melihatku dalam kondisi seperti ini. Adikku yang bungsu juga datang. Hmm. Padahal aku baik-baik saja hehehe.

Malamnya dan malam berikutnya mereka menginap di kontrakan milik salah seorang alumni, Kak Melda - seniorku saat kuliah, tidak jauh dari RS Siloam. Tuhan sangat baik. Ia memakai Kak Melda untuk penginapan mama dan adikku tanpa mengeluarkan biaya. Aku tidak tahu berkat-berkat apa lagi yang kuterima meskipun aku sadar aku tidak layak mendapatkannya.

Di ICU aku melihat pasien yang sungguh menderita. Tubuh mereka terpasang peralatan medis untuk menopang kehidupan. Dan kuamati bahwa akulah pasien termuda di sana. Rata-rata pasien di ICU adalah orang tua paruh baya dan lanjut usia. Aku merasa kesepian selama berada di ICU. Selama di ICU tidak diperbolehkan membawa gadget atau smartpon.

Lupa entah hari apa, sore, akhirnya aku dipindahkan ke ruang rawat inap. Aku dipindahkan ke lantai 2 di bangsal 2G12. Aku merasakan kelegaan karena di sini lebih banyak orang. Baik pasien maupun pengunjung. Perawatan juga tidak jauh berbeda ketika di ICU. Perbedaannya hanyalah pada peralatan yang dipakai.

Aku diperbolehkan pulang pada hari Jumat, 19 Juli, pagi. Saat itu aku mengurus administrasi sendirian karena mama dan adikku belum datang. Mereka menginap di rumah saudara di Cibodas, Tangerang. Perawat menyerahkan semua rekam medis, rincian pembiayaan selama dirawat, obat-obatan, dan jadwal kontrol dokter. Ada tiga dokter yang menanganiku; spesialis jantung, penyakit dalam, dan saraf.

Sebenarnya aku masih melakukan kontrol rutin ke dokter. Kontrol pertama tanggal 22, 23, dan 24 Juli. Dari dokter saraf sih sudah selesai. Dari dokter penyakit dalam masih butuh observasi untuk mengatasi hipokalemi. Penyebabnya masih belum ditemukan. Dari dokter jantung menyarankan untuk katerisasi jantung. Suatu hal yang baru kudengar dan tampaknya mengerikan. Dia menyaranku mengurus BPJS karena biayanya mahal. Untuk urusan BPJS dan katerisasi akan kuceritakan di lain hari (kalau ada mood nulis ya...)
Kunjungan rekan-rekan guru. Terima kasih perhatiannya, Bu Bellina hehehe

Ki-Ka: Bu Lidia, Pak Bambang, Kak Diana (blkg), Bu Intan, Bu Bellina, Bu Atik, Bu Jantini, Bu Marta, aku, Kornelius.

Mama dan anaknya :)

Mama, aku, dan Pak Pramono

 
Ucapan terima kasih
Terima kasih kepada Kornelius yang telah menemani selama aku sakit. Dari hari pertama hingga aku masih kontrol atau rawat jalan. Aku tidak tahu bagaimana membalasnya, Kawan. Pangeran, yang malam hari datang mengunjungiku tapi aku tertidur. Kemudian besok paginya mengantarku ke puskesmas dan RS dengan susah payah. rekan-rekan guru, Jeki dengan membawa makanan spesial hehe, Lauren (kembaran Kornelius), Masda, Kak Lidia dan suami, Bang Anton atas segala bantuan dan perhatiannya, Yusak, Pak Tri dan istri. Terima kasih untuk doa dan kunjungannya selama berada di RS Hemina Serpong.

Pak Reggy, Pak Victor, Pak Edwin, supir sekolah (maaf aku lupa namanya), Bu Charlotte, Kak Luce dan Bang Hubert, rekan panitia KTA, Kak Fifi yang kehadirannya sangat menenangkanku, Kak Rosa yang ceria, Jundrei atas sharingnya dan juga sedang berjuang melawan kanker, Kesa Laia, Pak Pram yang mewakili rekan alumni magister pendidikan UKI angkatan 2014, suami dari/mewakili bu Join (rekan guru yang juga sedang dirawat di Siloam), Lena dan suami, dan Kak April (PKK-ku) yang melakukan panggilan video. Kepada Kak Melda atas kamar yang disediakan untuk mama dan adikku. Terima kasih untuk doa dan dukungannya selama aku dirawat di Siloam.

Terima kasih juga kepada seluruh teman dimana pun berada yang telah memberikan doa dan dukungan semangat melalui whatsap atau telepon. Terima kasih juga atas dukungan dana. Terima kasih juga kepada "seseorang" yang telah mengirim pesan dan tanpa menyadari bahwa pesannya sangat berarti bagiku (yang terakhir ini cuma khayalan belaka hahaha).

Kiranya Tuhan yang murah hati melimpahkan berkatnya kepada teman-teman semua. Bersambung... (klik di sini)

1 komentar:

  1. Sloty Casino - Mapyro
    Find Sloty 청주 출장안마 Casino, Slots, Bingo and Vegas Casino 서울특별 출장마사지 Hotels, Resorts, You will 거제 출장안마 find a 광양 출장샵 few slot games at one of 공주 출장안마 the few casinos in Nevada.

    BalasHapus